NovelToon NovelToon
THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Dunia Masa Depan / Mata Batin
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

​"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
​Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
​Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
​Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 The Reconciliation

Pagi di kediaman Kim biasanya diawali dengan kicauan burung yang hinggap di dahan pohon ek tua, namun pagi ini, suasana terasa begitu berat dan kaku. Sisa-sisa amarah Jungkook semalam masih menggantung di udara paviliun.

Jungkook terbangun dengan posisi duduk di kursi samping ranjang Shine. Matanya merah karena kurang tidur, dan buku-buku jarinya lecet, membiru akibat hantaman ke tembok aula musik semalam. Ia menatap Shine yang masih terlelap dengan napas yang mulai teratur, namun pucat di wajah gadis itu seolah mengejek ego Jungkook.

Aku hampir kehilangan dia karena amarahku sendiri, batin Jungkook pahit.

Ia menyadari bahwa cemburu butanya hampir saja memutus koneksi energi yang dibutuhkan Shine untuk pulih. Jungkook berdiri, otot-ototnya kaku. Ia melangkah menuju dapur paviliun. Ia tidak akan meminta maaf dengan kata-kata—itu bukan gayanya. Ia akan meminta maaf melalui satu-satunya bahasa yang ia kuasai dengan sempurna: Rasa.

Jungkook mulai bekerja di dapur sejak jam lima pagi. Ia menyiapkan Juk (bubur Korea) yang lembut dengan gurita dan abalone untuk Shine—makanan yang mampu memulihkan vitalitas tanpa membebani pencernaan. Namun, fokus utamanya kali ini adalah sesuatu yang berbeda. Sebuah hidangan yang ia ingat pernah diceritakan V dalam sebuah wawancara lama: Japchae dengan resep khusus yang menggunakan banyak jamur kuping dan minyak wijen pilihan.

Di gedung utama, V duduk di balkon kamarnya, menatap kosong ke arah paviliun. Ia merasa seperti pecundang. Ia hampir membunuh adiknya sendiri dengan traumanya, dan ia dihina habis-habisan oleh seorang koki di depan kakak-kakaknya.

Ketukan di pintu kamarnya membuyarkan lamunan V. Ia mengira itu Jin atau Suga yang datang untuk menceramahinya. Namun, aroma yang masuk melalui celah pintu membuatnya tertegun. Bau minyak wijen yang gurih dan aroma manis dari tumisan sayuran.

"Masuk," ucap V lirih.

Pintu terbuka, dan Jungkook berdiri di sana membawa nampan perak. Tidak ada tatapan membunuh seperti semalam. Yang ada hanyalah wajah datar koki yang sedang menjalankan tugasnya.

"Aku tidak butuh makan," gumam V, membuang muka.

Jungkook tidak peduli. Ia meletakkan nampan itu di meja kopi depan V. "Aku tidak memasak ini untukmu. Aku memasak ini karena Shine memintanya begitu dia bangun tadi."

V menoleh cepat. "Shine sudah bangun?"

"Dia bangun, dan hal pertama yang dia katakan adalah bertanya apakah kau sudah makan," Jungkook duduk di kursi seberang V, sebuah tindakan yang cukup lancang namun terasa benar saat itu. "Dia bilang, kau selalu kehilangan nafsu makan jika sedang sedih. Dia tidak mau energinya yang baru pulih terbuang hanya untuk mengkhawatirkan perutmu yang kosong."

V menatap piring Japchae itu. Warnanya begitu cerah, kontras dengan dunianya yang abu-abu. Ia mengambil sumpit dengan tangan gemetar. Saat suapan pertama masuk ke mulutnya, rasa hangat seolah menjalar ke dadanya. Itu bukan sekadar makanan; itu adalah bentuk pengampunan dari Shine yang disalurkan melalui tangan Jungkook.

"Aku minta maaf," ucap Jungkook tiba-tiba. Suaranya rendah. "Semalam aku kehilangan kendali. Aku... aku tidak terbiasa melihatnya terluka. Dan aku benci kenyataan bahwa dia rela mati untuk kalian, sementara aku hanya bisa berdiri di sana dan menonton."

V meletakkan sumpitnya, matanya berkaca-kaca. "Kau benar, Jungkook. Aku egois. Aku membiarkannya masuk ke dalam kegelapanku."

"Dia masuk ke sana karena dia tahu kau adalah musiknya," balas Jungkook. "Shine bilang padaku tadi pagi, tanpa musikmu, rumah ini tidak punya jiwa. Dan tanpa jiwa, dia tidak punya alasan untuk tetap kuat."

Jungkook berdiri, menepuk bahu V—sebuah gestur antara pria yang akhirnya mengakui satu sama lain. "Makanlah sampai habis. Setelah ini, datanglah ke paviliun. Shine menunggumu. Tapi jangan gunakan kekuatan batin lagi. Bicara saja sebagai kakak dan adik."

Satu jam kemudian, V melangkah masuk ke paviliun. Di sana, Shine sudah duduk bersandar di bantal, wajahnya jauh lebih segar. Di sampingnya, Jungkook sedang mengupas apel dengan telaten.

"Oppa!" Shine merentangkan tangannya.

V menghambur, memeluk adiknya dengan hati-hati seolah Shine terbuat dari porselen mahal. "Maafkan aku, Shine. Maafkan Oppa."

"Ssh... aku sudah melihatnya, Oppa. Aku melihat betapa kau mencintai Ibu," bisik Shine. "Dan aku tahu Ibu tidak ingin musiknya mati bersamanya. Piano itu bukan musuhmu, itu adalah suaranya yang tertinggal untukmu."

V melepaskan pelukannya, menatap Shine lalu melirik Jungkook yang masih sibuk dengan apelnya. "Koki ini... dia bilang kau yang memintanya memasak untukku."

Shine tersenyum manis, melirik ke arah Jungkook yang telinganya mulai memerah. "Sebenarnya, dia yang mengusulkannya. Dia bilang, 'V-Hyung butuh sesuatu yang manis agar otaknya tidak melulu memikirkan hal pahit'. Dia hanya terlalu gengsi untuk mengakuinya."

Jungkook mendengus, meletakkan potongan apel di piring Shine. "Makan saja apelmu, jangan banyak bicara."

Suasana yang tadinya tegang kini mencair. V duduk di ujung ranjang, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mulai bercerita tentang melodi-melodi yang selama ini tersangkut di tenggorokannya. Tidak ada mantra, tidak ada penglihatan paksa. Hanya komunikasi manusiawi yang tulus.

Namun, di tengah tawa kecil mereka, Shine tiba-tiba mematung. Pandangannya lurus ke arah jendela paviliun yang menghadap ke rumah tetangga baru di seberang tembok tinggi keluarga Kim.

Zapp!

Sebuah kilasan singkat muncul. Bukan tentang V, melainkan tentang seorang wanita yang sedang menangis di balik tirai rumah seberang, menutupi lebam di lengannya saat seorang pria tinggi mendekat dengan ikat pinggang di tangan.

"Shine?" Jungkook segera menyadari perubahan itu. Ia menangkap bahu Shine. "Jangan lagi. Kau baru saja pulih!"

Shine menggeleng, mencoba mengusir penglihatan itu, namun rasa perih di hatinya tidak mau hilang. "Jungkook... tetangga baru itu... ada jeritan yang tidak terdengar dari sana. Melodi yang lebih rusak dari milik V Oppa."

Jungkook menatap V, lalu menatap Shine dengan tatapan posesif yang kembali bangkit. Ia tahu, masa tenang mereka telah berakhir. Kasus baru telah datang mengetuk pintu, dan kali ini, ia harus memastikan Shine tidak hancur saat mencoba menjadi pahlawan bagi orang lain.

"Kita akan mengurusnya," ucap Jungkook tegas, mencium punggung tangan Shine. "Tapi kali ini, dengan caraku. Kau hanya boleh melihat, dan aku yang akan bergerak. Mengerti, Nona Oracle?"

Shine mengangguk, merasa aman dalam kungkungan dua pria hebat di sampingnya. Musik di kediaman Kim mungkin belum sepenuhnya pulih, tapi hari ini, sebuah harmoni baru telah tercipta di antara mereka.

...****************...

1
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
army v nya jadi apa, JHope sama jimin blm kluar y
sabana: v jadi sepupunya shine, belum pada keluar lagi🤭. semoga berkenan
total 1 replies
sabana
ini fanfiction tentang BTS ya tapi fokus pada Jungkook semoga suka
sabana: mungkin fokusnya lebih ke Jungkook🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!