NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Action / Fantasi / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GAUN PUTIH

11:30 PM. Kamar Utama, Analogue Heart.

Bulan di atas langit Yunani malam ini tampak seperti potongan perak yang menggantung rendah, memantulkan cahaya pucatnya ke atas permukaan laut yang tenang. Di dalam rumah, keheningan hanya dipecah oleh suara jangkrik dan dengkur halus Bimo yang tidur di sofa ruang tengah lantai bawah setelah sebelumnya bersikeras menceritakan teori konspirasi tentang hantu digital hingga mulutnya berbusa.

Raka berdiri di dekat jendela balkon yang terbuka, membiarkan angin laut yang sejuk menyentuh kulit dadanya yang polos. Ia hanya mengenakan celana kain panjang, berdiri mematung menatap cakrawala. Namun, tangannya yang bersandar pada kusen jendela sesekali bergetar halus.

Kilatan memori itu datang lagi. Bukan sebagai ingatan, melainkan sebagai sensasi fisik. Bau mesiu yang menyengat, suara besi yang beradu, dan dinginnya air Arktik yang seolah masih merayap di sumsum tulangnya. Setiap kali suasana terlalu sunyi, otaknya secara otomatis memindai kegelapan, mencari ancaman yang sebenarnya sudah lama musnah.

Sebuah bayangan lembut bergerak di pantulan kaca jendela. Liana berdiri di belakangnya, mengenakan gaun tidur satin putih tipis yang ia beli di pasar lokal minggu lalu. Gaun itu hanya bertumpu pada dua tali sutra di bahunya, jatuh dengan anggun mengikuti lekuk tubuhnya yang feminin.

"Kau sedang kembali ke sana lagi, kan?" suara Liana terdengar seperti aliran air yang menenangkan badai di kepala Raka.

Raka tidak menoleh, tapi bahunya yang tegang perlahan mulai turun. "Hanya sedikit sinkronisasi data lama, Li. Bukan masalah besar."

Liana melangkah mendekat, menyusupkan tangan rampingnya di bawah lengan Raka, lalu melingkarkannya di perut pria itu. Ia menyandarkan wajahnya di antara tulang belikat Raka, menghirup aroma sabun pinus yang kini bercampur dengan sedikit keringat dingin.

"Masalah besar bagiku jika suamiku sedang berada di Arktik sementara tubuhnya ada di Yunani," bisik Liana nakal namun tulus. Ia mulai mengecup titik titik sensitif di punggung Raka, tepat di atas bekas luka sayatan yang melintang dari misi di masa lalu.

Raka berbalik, menatap mata Liana yang bersinar lembut di bawah cahaya bulan. Ia bisa melihat rahasia di balik gaun putih itu bukan sekadar gairah, tapi keinginan murni untuk menariknya kembali ke dunia nyata.

"Li, terkadang aku merasa... aku tidak pantas mendapatkan kedamaian ini," kata Raka jujur, suaranya parau. "Tangan ini... kau tahu apa yang pernah dilakukannya."

Liana meraih tangan Raka, membawa telapak tangan yang besar dan kasar itu ke wajahnya. Ia mencium telapak tangan itu dengan penuh pengabdian. "Tangan ini menyelamatkanku, Raka. Tangan ini membangun toko buku kita. Dan tangan ini..." Liana menarik tangan Raka ke bawah, ke atas kain sutra gaunnya yang halus. "...tangan ini yang membuatku merasa menjadi wanita paling diinginkan di dunia."

Liana menarik tali gaunnya perlahan, membiarkan kain putih itu jatuh ke lantai tanpa suara, menumpuk di atas kayu gelap seperti kelopak bunga yang gugur. Di bawah sinar bulan, Liana tampak seperti mahakarya yang hidup rapuh namun kuat, menantang kegelapan Raka dengan cahaya miliknya sendiri.

Raka menelan ludah. Rasa sakit dan trauma yang tadi menghantuinya seolah menguap, digantikan oleh gairah yang membakar namun penuh rasa hormat. Ia menarik Liana ke dalam pelukan, mencium bibirnya dengan rasa haus yang hanya bisa dipadamkan oleh wanita ini.

Ciuman itu bukan hanya tentang nafsu; itu adalah dialog tanpa kata. Setiap lumatan dan desahan adalah cara mereka berkata, "Aku di sini, aku hidup, dan kau milikku."

Raka mengangkat Liana dengan mudah, membawanya ke tempat tidur yang seprainya masih berbau lavender. Di sana, di bawah selimut tipis, mereka menanggalkan semua beban masa lalu.

Gairah mereka malam ini terasa lebih intens, lebih mendalam. Liana adalah peretas yang ulung, dan malam ini ia meretas setiap inci pertahanan Raka. Jemarinya menelusuri setiap bekas luka di tubuh Raka, bukan dengan rasa kasihan, tapi dengan ciuman yang seolah ingin menghapus memori perih di balik luka-luka tersebut.

"Rasakan aku, Raka," desah Liana di telinga pria itu, suaranya bergetar karena sensasi yang menjalar. "Jangan pikirkan kode, jangan pikirkan Yudha. Hanya ada aku. Di sini. Sekarang."

Raka bergerak dengan kekuatan yang terkendali, sebuah kontras yang indah antara kekasaran prajurit dan kelembutan seorang kekasih. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan Liana, membiarkan sensasi fisik ini menjadi jangkar yang mengikatnya pada realitas. Dalam setiap gerakan, Raka merasa seolah olah lapisan lapisan hantu dalam dirinya mulai luruh, digantikan oleh detak jantung yang nyata dan panas yang memabukkan.

Sentuhan mereka menjadi semakin nakal dan berani, sebuah eksplorasi tanpa batas yang dipicu oleh rasa syukur karena masih memiliki waktu bersama. Liana tidak takut untuk memandu, untuk menggoda, dan untuk meminta lebih, sementara Raka memberikan segalanya, seolah setiap hembusan napasnya adalah pengabdian untuk Liana.

Saat mereka mencapai puncak bersama, itu bukan sekadar pelepasan fisik. Itu adalah ledakan cahaya yang mengusir semua bayang bayang trauma. Di titik itu, Raka tidak lagi melihat salju Arktik atau kilatan peluru ia hanya melihat wajah Liana yang bersimbah keringat kebahagiaan.

Beberapa saat kemudian, suasana kamar kembali tenang. Mereka berbaring berdampingan, tubuh mereka masih bersentuhan, terengah engah dalam kesunyian yang manis. Raka memeluk Liana dari belakang, menyatukan tubuh mereka di bawah selimut, sementara tangannya mengusap perut Liana dengan gerakan melingkar yang menenangkan.

"Masih di Arktik?" tanya Liana pelan, suaranya terdengar sangat puas.

Raka mencium bahu Liana yang terbuka. "Tidak. Aku sudah mendarat di Yunani. Dan kurasa aku ingin menetap di sini selamanya."

Liana berputar di dalam pelukan Raka, menyandarkan dagunya di dada pria itu. "Kau tahu, Bimo tadi bilang dia ingin memasang sistem keamanan laser di sekitar toko kita besok. Dia bilang dia takut ada saingan bisnis yang iri."

Raka terkekeh, suara tawa yang benar-benar lepas dari dadanya. "Katakan padanya, sistem keamanan terbaik di toko ini adalah aku yang sedang memegang kemoceng. Tidak ada yang berani mendekat jika aku sedang dalam mode bersih bersih."

Liana tertawa lebar, sebuah tawa yang sangat manis hingga membuat Raka merasa seluruh dunianya sudah lengkap. "Aku suka saat kau mulai bisa bercanda tentang dirimu sendiri, Sayang."

Liana memejamkan matanya, menikmati detak jantung Raka yang kini melambat dan stabil ritme yang paling ia sukai di dunia. "Selamat tidur, Kapten Hantu ku."

Raka mengecup kening Liana, memeluknya semakin erat seolah olah wanita itu adalah harta paling berharga yang pernah ia curi dari tangan takdir. "Selamat tidur, Ratu ku."

Di luar, laut Mediterania terus berbisik pada garis pantai, menjaga rahasia yang tersimpan di balik dinding rumah batu itu. Bahwa di balik setiap bekas luka, ada kesembuhan yang ditemukan dalam sentuhan. Dan di balik setiap bayang bayang masa lalu, ada cahaya putih dari sebuah gaun yang jatuh, menandakan dimulainya kehidupan yang benar benar nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!