NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Kota Karang Hitam dan Perjamuan yang Berbahaya

Perahu Bayangan meluncur membelah air laut yang kini berubah warna menjadi ungu pekat, meninggalkan kabut putih yang telah lama menyembunyikan eksistensi Benua Timur.

Di hadapan mereka, menjulang dinding-dinding karang raksasa yang tampak seperti susunan gigi naga yang sedang menganga. Di celah-celah karang tersebut, cahaya lampu-lampu kristal berwarna merah darah berkedip-kedip, menandai keberadaan Kota Karang Hitam, benteng terluar dari kedaulatan Ras Naga Laut.

Sinar merah dari menara pengawas menyapu dek perahu, membuat bayangan mereka memanjang secara ganjil di atas kayu hitam. Elara segera menghentikan petikan kecapinya, membuat kapal tersebut melambat hingga hanya mengapung mengikuti arus.

"Jangan ada yang mengeluarkan hawa murni atau sihir jenis apa pun," bisik Elara dengan nada yang sangat mendesak.

"Naga Laut tidak melihat dengan mata, mereka merasakan 'niat'. Jika kalian terlihat seperti pejuang, mereka akan menghancurkan kapal ini tanpa peringatan."

Sastro, yang sedang memegang erat kendinya, mendadak gemetar hebat hingga gigi-giginya bergemulutuk.

"Den Ranu, niat hamba saat ini cuma satu, yaitu ingin selamat dan makan kenyang. Apa itu dianggap mengancam oleh para naga itu?"

Ranu hanya tersenyum tipis, meski wajahnya masih tampak pucat setelah memberikan sebagian energinya kepada para Siren tadi.

"Niatmu adalah yang paling aman di antara kita semua, Sastro. Tetaplah lapar, itu akan menyelamatkan kita."

Tiba-tiba, permukaan laut di depan mereka meledak. Empat sosok raksasa muncul dari kedalaman.

Mereka adalah prajurit Naga Laut, sosok makhluk setinggi tiga meter dengan kulit bersisik biru legam, memiliki sirip-sirip tajam di punggung, dan memegang tombak yang terbuat dari tulang hiu purba. Mata mereka yang besar dan kuning menatap tajam ke arah perahu.

"Berhenti, penyusup dari Benua Tengah!" suara salah satu prajurit itu menggelegar, menciptakan ombak kecil yang menggoyang perahu mereka.

"Bau udara kalian sangat busuk. Bau debu, bau daratan, dan... bau busuk dari langit yang sombong."

Elara melangkah maju, ia menanggalkan jubah hijaunya untuk menunjukkan tanda khusus di pundaknya, sebuah tato berbentuk akar pohon yang bersinar hijau redup.

"Aku adalah Elara, Utusan dari Lembah Keabadian Hijau. Aku membawa tamu yang akan membantu kita mengatasi Bencana Kristal yang kini mulai menyentuh terumbu karang kalian."

Prajurit itu mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Elara. Ia mendengus, mengeluarkan uap laut yang asin dari lubang hidungnya.

"Lembah Hijau sudah lama kehilangan suaranya. Mengapa kalian membawa manusia-manusia lemah ini ke wilayah kami? Terutama yang satu itu..."

Prajurit itu menunjuk ke arah Ranu yang duduk dengan tenang di sudut dek.

"Dia terlihat seperti sampah, tapi rasanya seperti badai yang sedang bersembunyi."

Ranu berdiri perlahan, ia tidak menatap prajurit itu dengan pandangan menantang, melainkan dengan tatapan lelah seorang pengembara.

"Aku bukan badai, Tuan Naga. Aku hanyalah seorang pemuda yang sawahnya berubah jadi kaca. Jika kalian ingin membunuhku, silakan. Tapi setelah aku mati, tidak akan ada yang bisa membaca Prasasti Tanpa Nama, dan kota karangmu ini akan menjadi kuburan kristal yang indah."

Prajurit naga itu terdiam sejenak. Ia bertukar pandang dengan rekan-rekannya sebelum akhirnya menurunkan tombaknya.

"Ikut kami. Raja Naga Biru ingin melihat apakah manusia ini hanya bermulut besar atau benar-benar memiliki kunci penyelamat."

Perahu Bayangan ditarik oleh para naga tersebut menuju pintu gerbang bawah air yang besar. Begitu masuk, mereka disambut oleh pemandangan kota bawah laut yang menakjubkan.

Bangunan-bangunan di sana terbuat dari karang hidup yang dibentuk melalui sihir air, menciptakan arsitektur yang meliuk-liuk tanpa sudut tajam. Namun, pemandangan indah itu ternoda oleh garis-garis kristal putih yang mulai menjalar di dasar kota, membekukan ikan-ikan kecil dan tumbuhan laut menjadi patung tak bernyawa.

Mereka digiring menuju Aula Utama yang berada di dalam gua kristal raksasa. Di sana, di atas singgasana yang terbuat dari cangkang kerang purba, duduklah Raja Naga Biru, Varuna. Tubuhnya dipenuhi bekas luka perang lama, dan mahkotanya terbuat dari taring monster laut yang paling ditakuti.

"Selamat datang, Elara. Dan selamat datang... Wira Candra," ucap Varuna, suaranya terdengar seperti gemuruh di dasar samudra.

Ranu tersentak kecil karena sang raja langsung mengetahui identitas aslinya.

"Kau mengenalku, Raja Varuna?"

Raja Varuna tertawa dingin, sebuah tawa yang tidak mengandung kegembiraan sama sekali.

"Bagaimana aku bisa melupakan wajah dewa yang ribuan tahun lalu memimpin pasukan langit untuk membantai leluhurku hanya karena kami menolak untuk tunduk pada Hukum Sembilan Langit? Baumu, meski sekarang tertutup oleh debu petani, tetaplah bau matahari yang membakar."

Lingga segera memegang hulu pedangnya, sementara Nara sudah bersiap melompat ke posisi menyerang.

"Tenanglah, teman-temanku," potong Ranu dengan cepat.

"Raja Varuna, aku tidak datang ke sini untuk membicarakan masa lalu yang kelam. Jika kau ingin membalas dendam, lakukanlah setelah dunia ini aman. Saat ini, kita punya musuh yang sama, yaitu kematian yang membeku."

Raja Varuna menatap Ranu dengan mata kuningnya yang berkedip pelan.

"Kau benar. Aku benci padamu, tapi aku lebih benci melihat rakyatku berubah menjadi batu. Namun, untuk mendapatkan dukunganku, kau harus melewati satu ujian tradisi kami: Perjamuan Kesetiaan."

Varuna memberi isyarat, dan beberapa pelayan naga membawa nampan berisi makanan-makanan aneh yang masih bergerak-gerak. Di tengah-tengah nampan itu, terdapat seekor ikan kecil berwarna pelangi yang memancarkan cahaya suci.

"Ikan ini adalah Ikan Cahaya Abadi, peliharaan kesayanganku yang kini terinfeksi kristal," ucap Varuna.

"Jika kau bisa menyembuhkannya dan memakannya sebagai bentuk penyatuan sukma dengan laut kami tanpa mati karena racun kristalnya, maka aku akan menganggapmu sekutu."

Sastro, yang sejak tadi sudah kelaparan, matanya berbinar melihat ikan pelangi itu. Ia tidak mendengar penjelasan Varuna dengan lengkap.

"Wah, Den Ranu, ikannya bagus sekali! Kelihatannya enak kalau dibakar pakai bumbu kecap pedas!"

Tanpa menunggu aba-aba, Sastro yang memang sudah ahli dalam urusan dapur lapangan, mengambil ikan itu dari nampan sebelum siapa pun sempat mencegahnya.

"Sastro! Jangan!" teriak Ranu.

Tapi terlambat. Sastro sudah mengeluarkan botol kecil bumbu rahasianya dan—dengan gerakan tangan yang sangat cepat—ia sudah mematikan saraf ikan itu, membersihkannya, dan membakarnya menggunakan sedikit sisa energi dari tongkat bambu Ranu yang ia pinjam diam-diam.

Seluruh aula terdiam membeku. Para prajurit naga mengangkat tombak mereka dengan wajah pucat karena ngeri. Raja Varuna berdiri dari singgasananya, wajahnya berubah menjadi biru gelap karena amarah yang luar biasa.

"Manusia busuk! Kau baru saja memasak simbol kesucian naga laut!" raung Varuna.

Sastro yang sedang meniup-niup daging ikan yang harum itu mendadak tersadar. Ia menatap ke arah naga-naga yang marah, lalu ke arah ikan di tangannya.

"Eh... maksud Baginda, ikan ini tidak boleh dimakan? Tapi baunya sudah enak begini..."

Ranu menepuk dahinya sendiri dengan keras.

"Sastro, kau benar-benar akan menjadi penyebab kiamat kedua kita."

Nara segera membidikkan panahnya ke arah jantung Raja Varuna, sementara Lingga sudah berdiri di depan Sastro yang masih memegang ikan bakar pelangi itu.

"Baginda Varuna, ini sebuah ketidaksengajaan! Temanku ini hanya terlalu bersemangat dalam hal kuliner!" teriah Lingga mencoba bernegosiasi.

Raja Varuna tidak peduli. Ia mengangkat tangannya, dan seluruh air di dalam aula mulai berputar membentuk pusaran raksasa yang siap menghancurkan mereka semua.

"Ketidaksengajaan atau bukan, nyawa harus dibayar dengan nyawa!"

Namun, sebelum pusaran itu melahap mereka, Sastro yang panik mendadak menyodorkan potongan ikan bakar itu ke arah Raja Varuna.

"Tunggu, Baginda! Coba rasakan dulu! Kalau tidak enak, silakan bunuh hamba! Tapi ini ikan paling harum yang pernah hamba buat!"

Bau ikan bakar yang dicampur dengan bumbu desa rahasia Sastro memenuhi hidung Raja Varuna. Secara mengejutkan, sang raja terhenti. Aroma itu... adalah aroma yang belum pernah ada di Benua Timur. Aroma yang membawa kehangatan dari tanah yang subur.

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!