Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Kejujuran
Matahari pagi di Ciwidey menembus kabut tipis yang masih menggantung di kebun teh. Yasmin duduk di bangku kayu di teras rumah, menyeruput teh hangat dari gelas porselen. Hatinya masih bergetar setelah percakapan malam sebelumnya dengan Ragnar. Hatinya campur aduk antara lega dan cemas, antara kepercayaan dan keraguan.
Ia tahu satu hal: pertemuan perempuan ke perempuan dengan Clara telah memberinya wawasan baru. Clara memang belum melepaskan Ragnar. Namun, melihat ketenangan Yasmin, ia menyadari satu hal penting: Clara tidak bisa memaksakan kehendaknya. Dan itu memberinya sedikit kekuatan—kekuatan untuk tetap tegar menghadapi ujian selanjutnya.
________________________________________
Di Jakarta, Ragnar duduk di kantornya yang sepi. Pagi itu teleponnya berdering, tapi ia tidak segera mengangkatnya. Ia tahu siapa yang menelepon. Clara.
“Rag, kita harus bicara,” suara Clara terdengar di telepon.
Ragnar menelan ludah. Ia sudah tahu nada bicara itu: penuh tekanan, tapi dibalut kepolosan yang membuat siapa pun merasa bersalah.
“Aku tidak bisa sekarang,” jawab Ragnar pelan.
Clara mendesah panjang. “Kamu selalu lari dari apa yang belum selesai. Tapi aku tidak akan berhenti. Aku tahu kamu masih memikirkan aku.”
Ragnar menghela napas. “Aku tidak memikirkanmu dengan cara itu lagi. Aku punya hidup baru, Clara. Aku punya rencana baru.”
Namun Clara tak menyerah. “Rencana baru itu? Perempuan desa itu? Kamu pikir dia akan mengerti masa lalu kamu sepenuhnya? Kamu pikir dia bisa menerima semua yang tersembunyi dari mata dunia?”
Ragnar memejamkan mata. Ia tahu Clara benar: masa lalunya berat, dan rahasia yang belum tersingkap bisa menjadi ujian besar bagi hubungan ta’aruf mereka.
“Aku memilih Yasmin karena aku ingin menjadi lebih baik,” katanya tegas. “Bukan karena aku ingin menebus kesalahan. Aku ingin dia tahu semuanya dari awal. Semua masa laluku.”
Clara terdiam. Sejenak. Lalu suara di telepon menurun. “Aku tunggu, Rag. Jangan pikir kamu bisa lepas begitu saja. Aku akan selalu ada di sudut hatimu, bahkan jika kamu menolak mengakuinya.”
Ragnar menutup telepon dan menatap jendela. Hujan tipis mulai turun di Jakarta. Air yang jatuh perlahan seolah mencerminkan perasaannya sendiri: jernih tapi berat.
________________________________________
Di Ciwidey, Yasmin mendapatkan pesan dari Rafi.
“Kamu benar-benar pergi bertemu Clara? Hati-hati, Fi. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu.”
Yasmin menatap pesan itu lama. Ia tahu Rafi masih menyimpan perasaan yang sama. Namun, ia menahan diri untuk tidak membalas dengan nada emosional. Ia membalas singkat:
“Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.”
Rafi menatap layar ponselnya, merasa tidak berguna. Ia ingin melindungi Yasmin, tapi pada saat yang sama, ia sadar bahwa keberanian Yasmin lebih besar daripada yang pernah ia pikirkan.
________________________________________
Siang itu, Ragnar mengirim pesan kepada Yasmin.
“Aku akan ke Ciwidey besok. Aku ingin kita bicara langsung tentang semua hal.”
Yasmin membaca pesan itu, merasakan campuran antara kegembiraan dan ketakutan. Ia menatap langit, berdoa agar Allah memberinya kekuatan.
Besok berarti mereka akan menghadapi ujian lain: ujian kejujuran yang lebih dalam.
________________________________________
Keesokan harinya, mobil mewah Ragnar melaju pelan di jalanan Ciwidey yang basah. Kabut tebal masih menyelimuti kebun teh, membuat suasana seolah berada di dunia yang berbeda.
Yasmin menunggu di depan rumah. Ia mengenakan gamis hijau lembut dan jilbab cokelat. Ketika Ragnar turun dari mobil, ia melihat pria itu dengan sorot mata yang lebih serius dari biasanya. Tidak ada senyum hangat seperti biasanya. Ada ketegangan. Ada beban.
“Assalamu’alaikum, Fi,” sapa Ragnar.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Yasmin.
Mereka berjalan ke arah kebun teh yang masih basah oleh embun. Hening menyelimuti keduanya. Hanya suara langkah di atas tanah basah yang terdengar.
“Kita perlu bicara tentang sesuatu yang lebih penting dari sekadar masa lalu atau Clara,” kata Ragnar akhirnya. “Ini tentang aku… dan kejujuranku.”
Yasmin menatapnya dengan seksama. “Aku mendengarkan.”
Ragnar menarik napas panjang. “Ada hal yang belum pernah aku ceritakan… bahkan pada keluargaku sendiri. Malam kecelakaan itu… aku tidak sendirian. Tapi bukan Clara yang duduk di sampingku. Ada seorang teman yang aku kenal saat kuliah di Belanda. Dia ada di mobil karena… dia yang memaksa aku ikut ke pesta itu malam itu. Aku tidak menyadari akibatnya sampai semuanya terjadi.”
Yasmin terkejut. “Siapa?”
Ragnar menggeleng pelan. “Aku tidak ingin menyebutkan namanya sekarang. Tapi aku ingin kamu tahu… aku bukan satu-satunya yang memikul beban malam itu. Ada banyak hal yang tersembunyi dari pandangan orang. Dan aku yang memutuskan untuk berubah, untuk mencari jalan yang benar, bukan karena aku ingin lari… tapi karena aku ingin menanggung semua ini dengan tanggung jawab.”
Hening lagi. Hanya suara angin yang menyapu daun teh basah.
“Aku… aku menghargai kejujuranmu, Kang,” Yasmin akhirnya berkata. “Tapi… rasanya beban itu terlalu besar. Untuk seorang manusia. Dan aku takut… takut kalau aku tidak mampu memikulnya bersamamu.”
Ragnar menatapnya dengan mata lembut. “Fi, aku tidak minta kamu memikul semuanya. Aku hanya ingin kamu tahu. Agar jika suatu saat ada hal yang mengganggu hubungan kita, kamu tahu… itu bukan karena aku menyembunyikan sesuatu. Aku ingin membangun ta’aruf ini dengan pondasi kejujuran. Seberat apapun masa laluku.”
Yasmin menunduk. Air matanya jatuh. “Aku… aku ingin percaya, Kang. Tapi aku juga takut.”
Ragnar menggenggam tangannya perlahan. “Aku tidak akan membiarkanmu menanggung rasa takut itu sendiri. Kita hadapi semuanya bersama. InsyaAllah.”
Mereka duduk di bangku kayu, di antara hijaunya kebun teh dan kabut yang menutupi langit. Suasana damai, tapi hati mereka penuh pertarungan batin masing-masing.
“Fi… ada hal lain yang harus aku ceritakan,” kata Ragnar. Suaranya lebih berat. “Saat aku mulai berubah, aku meninggalkan beberapa teman lama. Ada satu yang tidak bisa aku lupakan… yang kini masih ada di Jakarta. Dia mengetahui semua rahasiaku… dan aku takut… jika dia muncul, dia bisa mengguncang hubungan kita lagi.”
Yasmin menatapnya, hatinya bergetar. “Siapa?”
Ragnar menggeleng. “Aku belum bisa bilang. Tapi aku ingin kamu tahu, apapun yang terjadi, aku akan melindungimu dari masa laluku. Aku ingin kamu menjadi yang pertama melihat siapa aku sekarang. Bukan yang lama, bukan yang penuh kesalahan, tapi yang sedang belajar menjadi baik.”
Yasmin menelan ludah. “Aku… aku ingin percaya, Kang. Tapi aku juga ingin waktu. Untuk menenangkan hati, memahami semua yang kau ceritakan. Aku takut kalau aku terlalu cepat, aku malah terluka.”
Ragnar tersenyum tipis. “Aku mengerti. Tidak ada yang terburu-buru. InsyaAllah, waktu akan menguatkan kita.”
Di saat yang sama, Rafi berdiri di kejauhan, mengamati keduanya dari balik pohon teh. Ia merasakan perasaan campur aduk: cemburu, kecewa, dan takut. Cemburu karena Yasmin sedang berada di sisi Ragnar, kecewa karena ia belum bisa melakukan apapun, dan takut bahwa rahasia lain dari masa lalu Ragnar akan mengubah segalanya.
Namun yang paling membuat Rafi sadar adalah satu hal: Yasmin tidak perlu dipaksa. Keputusan ada di tangannya sendiri. Dan itu membuatnya sedikit lega, meski hatinya sakit.
Kabut Ciwidey semakin menipis, menyisakan sinar matahari yang hangat. Di kebun teh itu, dua hati duduk berdampingan, menghadapi masa lalu, ketakutan, dan rahasia yang belum selesai.
Yasmin tahu, perjalanan ta’aruf ini belum selesai. Masih banyak ujian yang harus mereka lewati.
Namun satu hal terasa jelas: kejujuran, seberat apapun, adalah pondasi yang akan membuat mereka mampu melangkah bersama.
Dan di kejauhan, di kota yang jauh dari kebun teh ini, Clara menatap layar ponselnya dengan senyum tipis. Ia menyadari sesuatu: Ragnar bukan lagi miliknya.
Tapi rencana-rencana masa lalunya belum selesai… dan badai yang sebenarnya belum berhenti.
Di antara sinar matahari Ciwidey yang hangat, Yasmin menutup matanya, menarik napas panjang, dan berdoa:
“Ya Allah… tuntunlah hatiku, kuatkan imanku, dan satukan aku dengan yang benar-benar baik untukku. Apapun yang terjadi, aku pasrah pada-Mu.”
Dan di sana, di bawah langit biru yang mulai cerah, dua hati belajar bahwa cinta dan ta’aruf bukan hanya soal perasaan, tapi soal keberanian, kejujuran, dan kesabaran.