Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.
Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.
“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:
mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Hujan yang semalam membasahi kota London sudah reda, menyisakan udara dingin menusuk tulang. Pramana berdiri di depan kaca kamar mandi, menatap wajah sendiri dari pantulan kaca yang tampak kusam. Lingkar hitam di bawah mata, pipi sedikit cekung, dan tatapan kosong membuatnya seolah lebih tua dari usia yang sebenarnya.
Air mengalir di wastafel, membasahi jemarinya, tapi dingin itu tak sanggup membangunkan. Ia mengucek wajah, berharap rasa segar datang, tapi yang muncul justru gema suara itu lagi. Kalimat Aaliyah, tajam, menusuk, seperti bisikan yang tak mau hilang.
Ia memukul dinding kamar mandi, mengerang pelan. “Cukup…”
Namun kata itu tidak pernah cukup.
---
Hari di kantor berjalan seperti biasa. Laporan keuangan menumpuk, presentasi harus ia siapkan, angka-angka menari di layar laptop. Rekan-rekannya sibuk dengan urusan masing-masing. Dari luar, Pramana masih terlihat tenang, rapi, dan profesional seperti biasa.Tapi di dalam, pikirannya hancur berantakan.
" Pram... aku lihat beberapa hari ini kamu sangat berbeda... Apa kamu baik - baik saja ? " ucap teman satu ruangan Pramana yang beberapa hari ini terus memperhatikan Pramana yang sangat berbeda.
Pramana tersentak kaget dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Vale, teman satu ruangannya. Bagaimana dia bisa tahu kalo aku tidak baik - baik saja ?
" Ya... aku baik - baik saja, Val. Hanya saja kepala ku sedikit pusing, karena tumpukan pekerjaan akhir - akhir ini. " jawab Pramana sedikit gugup pada gadis di sampingnya itu.
" Pekerjaan tak perlu di pikirin, Pram. Pasti setiap harinya terus menumpuk kalo tidak di kerjakan. " ujur Vale sambil bercanda.
Wanita bertubuh subur itu selalu suka bercanda dengan teman kerjanya agar suasana tidak terlalu tegang. Selain suka bercanda, Vale juga cukup perhatian pada rekan satu ruangannya. Jika ada rekan kerja yang sedang menghadapi masalah, dia langsung tahu dan memberikan nasihat yang membuat orang tersebut merasa lebih lega setelah mendengarnya.
" Aku itu juga tahu... " ucap Pramana sambil tersenyum.
" Kalo kau mempunyai masalah segera selesai kan lah... Jangan kau simpan sendiri, nanti malah membuat kepala mu berasap. "
Mendengar perkataan Vale barusan membuat Pramana berfikir. Benar juga ia harus segera menyelesaikan masalah ini secepatnya pada Aaliyah. Dan ia juga akan berusaha menebus dosa - dosa yang telah ia perbuat selama ini.
" Vale.... Thank You. Kau sudah membuka jalan pikiran ku. Kau memang teman terbaik. "
Pramana memeluk tubuh gempal Vale dengan erat menyalurkan rasa Terimakasih yang terdalam. Atas nasihat yang di berikan Vale padanya.
Vale membalas pelukan tersebut sambil menepuk punggung Pramana dengan lembut.
******
Di tempat lain, Aaliyah baru saja menyelesaikan desain interior untuk perpustakaan yang akan dibangun di rumah salah satu sahabatnya.
Pintu ruang kerjanya terbuka menampilkan sosok seketarisnya. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebuah Ipad di tangannya.
" Permisi, Nona. " ucap Sang seketaris dengan sopan sambil menunduk.
" Ada apa, Fel ? " tanya Aaliyah sambil menatap Felicia dengan senyum tipis di bibirnya.
" Saya hanya ingin menanyakan, hari ini Nona ingin makan siang dengan apa ? "
" Oh... Apa saja, Fel... Tapi hari ini saya pingin sekali minum jus Stroberi di mix pisang. "
Felicia mengerutkan kening saat mendengar permintaan dari atasannya itu. Tumben sekali sang atasan ingin minum jus stroberi yang dicampur pisang. Biasanya, Aaliyah tidak begitu menyukai kedua buah tersebut.
" Baik, Nona. Akan saya beli kan permintaan Nona. " ucap Felicia dengan sopan.
" Terimakasih. " ucap Aaliyah sambil tersenyum lembut pada Felicia.
Usai berpamitan Felicia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Aaliyah. Ia bergegas memesan minuman yang di minta oleh Aaliyah barusan.
Aaliyah menunduk menatap layar komputer yang penuh dengan desain-desain kliennya. Jari-jarinya bergerak cekatan, mencoba mengalihkan pikirannya yang berputar tak karuan.
Sebenarnya, semua desain itu masih beberapa bulan lagi harus diserahkan, tapi dia sengaja sudah membuat desain tersebut sekarang. Lebih baik tenggelam dalam pekerjaan dari pada menghadapi kenyataan yang terus menghantuinya.
Sudah hampir sebulan ini, tidur Aaliyah selalu tidak nyenyak. Matanya sering kosong menatap langit-langit kamar, lalu ingatan tentang malam itu datang menggulung dengan kasar.
Wajah Pramana, dengan tatapan memelas yang menyakitkan, tiba-tiba muncul jelas di layar komputer, seolah menghancurkan ketenangannya
"Brengs*k !!" gumamnya sambil menepuk-nepuk pipinya keras, berusaha mengusir bayangan itu. Tapi semakin ia berusaha, semakin kuat rasa muak menyelimuti dadanya.
Malam kelam itu—saat pria itu menyentuhnya tanpa ampun dan tanpa belas kasih—terus berulang di kepala, membakar setiap sudut pikirannya dengan rasa jijik yang dalam. Aaliyah menelan ludah, napasnya tercekat. Dalam hati, dia mengutuk.
" Eyah lah dari pikiran ku, Sialan!! " pekik Aaliyah frustasi sambil terus memukuli kepalanya pelan. Supaya bayang - bayang pria itu pergi dalam pikirannya.
****
Malam hari...
Usai menyelesaikan semua pekerjaannya
yang menumpuk, Pramana bergegas meninggalkan meja kerjanya. Sore ini ia akan makan malam bersama dengan Ethan di restaurant favorite mereka berdua.
Awalnya Pramana sudah ingin menolak ajakan dinner sang kekasih. Tapi apa boleh buat, ia tidak mau membuat Ethan kecewa pada dirinya. Dan Pramana juga tidak mau Ethan sampai tahu dengan masalah yang sedang ia hadapi saat ini.
Melihat wajah bahagia Ethan, menyambut kedatangannya. Membuat Pramana merasa sedih, ia sudah mengecewakan sang kekasih dengan cara mengkhianati janji cinta yang mereka buat dulu.
Baru saja Pramana mengingat pertama kali ia dan Ethan jadian dulu. Kata - kata yang di lontarkan Aaliyah kembali terdengar di telinganya.
Kata - kata itu seperti tamparan yang sangat menyakitkan untuk Pramana. Bagiaman tidak menyakitkan belasan tahun tinggal di negeri orang Pramana sudah salah jalan.
Meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim. Di tambah penyimpangan yang ia lakukan ini membuat dosanya berlipat ganda. Kalo kedua orang tuanya tahu, terutama sang ayah. Sudah di pastikan Pramana akan habis di tangan ayahnya itu.
" Hai... ko bengong sih " ucap Ethan sambil menjentikan jarinya di depan Pramana. " Sini duduk. Kamu mau pesan apa ? "
" Americano aja. " jawab Pramana singkat sambil melempar senyum kecil pada Ethan.
Ia menatap secangkir Americano yang baru saja di sajikan pelayan. Tangannya gemetar sedikit saat mencoba menggenggam cangkir itu. Ia bahkan tidak sadar Ethan sudah berduduk di depannya, menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca.
“Hey,” sapa Ethan perlahan, berusaha tersenyum. " Kenapa sih kamu dari tadi bengong terus ? Ada yang sedang kamu pikir-kan ? "
Pramana mendonga pelan. Menatap wajah Ethan yang tersenyum lembut padanya. " Maaf " jawab Pramana singkat. " Aku lagi kepikiran orang tua ku saja. "
Ethan menatap wajah Pramana dengan lekat mencari ke jujuran di bola mata legam milik sang kekasih. Ia bisa melihat kalo perkataan Pramana barusan berupa ke bohongan belakang. Pasti ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Pramana.
" Mungkin kamu kengen sama mereka. Apa lagi kamu sudah lama tidak pulang kesana, kan ? " ucap Ethan. Ia tidak mau menyudutkan Pramana dengan pertanyaan yang lain tentang ke bohong Pramana tadi.
Pramana kembali diam sambil menatap keluar jendela. Ketika Ethan berusaha menggenggam tangannya, Pramana langsung buru - buru menepis pelan tangan sang kekasih.
Mendapatkan penolakan dari Pramana membuat Ethan keheran. Biasanya Pramana akan langsung menyambut genggaman tersebut dengan senyum lembut padanya. Kenapa kali ini Pramana malah menolak genggaman tersebut.
Apa pria itu sudah tak mencintainya lagi ? Apa Ethan sudah tidak semenarik itu lagi di mata Pramana ?
Ethan menatap lekat - lekat wajah Pramana yang terlihat lesu dari beberapa minggu ini. Tidak ada gurat kebahagian, tatapan penuh cinta dan kehangatan seperti dulu lagi, ketika mereka berkencan.
" Pram, apa kamu masih sangat mencintai ku seperti dulu ? " tanya Ethan.
Bersambung.....
Hai... Jangan lupa like, komen dan vote ya. Terimakasih 🙏🏻☺️☺️