Dituduh Cinta karena kesalahan. Rama membuktikan kalau cintanya bukan kesalahan, murni rasa dari mata turun ke hati. Usaha mendapatkan cintanya seolah didukung oleh jagat raya meski berawal dari kesalahpahaman.
“Nggak masalah nikah karena digrebek, yang penting sah.”
“Siapa kamu, berani mencintai seorang Bimantara.”
“Di dunia ini, Rama jodohnya Gita.”
Kisah cinta Rama Purwangga dan Gita Putri Bimantara, jadilah saksi seberapa darurat cinta mereka.
Spin off Bosku Perawan Tua dan Diam-diam Cinta
=== Mohon dengan sangat agar tidak baca dengan melompat bab dan ikuti sampai akhir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Prolog
Prolog
“Git, mama sakit sekarang di UGD. Harus dirawat, papa lagi urus kamar. Kamu di mana?”
Gita berlari di sepanjang koridor, pikirannya penuh membayangkan kondisi Mama Sarah. Akhir-akhir ini kondisi beliau memang tidak baik, sering terlihat pucat dan … lemah.
Meski sakit, kepedulian pada keempat anaknya tidak berkurang. Terutama untuknya. Si bungsu yang manja dan penyakitan. Huft. Kadang ia kesal dengan dirinya yang begitu ringkih hingga mama harus begitu aware terhadapnya. Ia sempat menunda pendidikan satu tahun dan fokus pada kesehatan setelah lulus SMA.
“Kuliah masih bisa nanti, sehat harus sekarang.” Alasan mama Sarah kala itu.
Ia masih di kampus saat Moza--kakaknya menghubungi. Tidak menunggu nanti apalagi sampai kuliahnya selesai. Bergegas menuju rumah sakit, diantar supir yang selalu menemani kemanapun dia beraktivitas. Sudah aturan Papa Arya yang tidak bisa diganggu gugat.
“VIP 3, dimana itu,” gumamnya menatap sekeliling. Penunjuk arah yang dia ikuti menuntunnya untuk terus. Berlari kecil tidak menduga saat berbelok ….
Bugh
“Wow, santai dong.”
Ia hampir terjungkal karena menabrak seseorang, beruntung tangan itu menahan pinggangnya.
“Maaf mas,” ujarnya masih dengan nafas terengah dan melepaskan tangan pria itu.
“Ini jalan sibuk, sebaiknya hati-hati.”
Ia mengangguk. “Sekali lagi, maaf.” Kembali melangkah bergegas, tapi belum jauh langkahnya terhenti lalu berbalik. Pria itu masih menatapnya. Balas menatap dari atas ke bawah, bisa disimpulkan kalau pria cukup tampan. Ralat, memang tampan dan agak tinggi.
Please, Gita. Fokus.
Pria itu mengenakan setelan nakes.
“Masnya kerja di sini ‘kan?”
“I-ya.”
“Rawat inap VIP 3, di mana?”
“VIP di …. “ Pria tampan itu menatap sekeliling lalu menunjuk dan menjelaskan arah menuju VIP 3.
“Makasih.” Ia kembali berlari setelah mendengar penjelasan itu dari si tampan.
Sampai di depan pintu kamar VIP 3, ia agak membungkuk mengatur nafas sambil mengus4p dada. Keringat sudah membasahi pelipis dan lehernya. Terdengar suara berbincang pelan dari dalam, suara papa dan Moza.
“Tisue aku mana sih.” Mengaduk tas ranselnya tidak menemukan tisu, akhirnya ia usap keringat dengan punggung tangan lalu ….
“Mah.”
Bergegas menuju ranjang di mana Mamanya berbaring.
“Hai sayang, kok udah kemari. Bukannya hari ini kuliah sampai sore.”
Itulah mama Sarah. Sampai jadwal kuliahnya pun sangat hafal.
“Eh, cuci tangan dulu. datang langsung peluk mama.” Moza menariknya menjauh.
“Mama sakit apa? Pah, kok bisa begini?”
Arya tersenyum, memegang gelas dengan sed0tan diarahkan pada bibir Sarah. “Minum dulu.”
Gita meletakan ransel di atas sofa, lalu mencuci tangan dan membasuh wajahnya. mengambil tisu untuk menyeka. “Mama sakit apa? Tadi pagi nggak ada tanda-tanda sakit,” ujarnya masih menatap cermin di wastafel
“Nggak pa-pa, mama oke kok. Papa kamu yang berlebihan, padahal bisa berobat jalan.”
“Sementara kita nginep di sini, anggap aja hotel. Ah, gimana kalau udah sehat kita honeymoon lagi, Gita kita titip Edric atau Ares aja-lah.”
“Ish, nggak bisa gitu. Aku ikut.”
“Aku juga ikut, sama anak-anak. Mas Dewa pasti ngizinin kok,” sahut Moza tidak mau kalah.
“Kalian semua ikut judulnya bukan honeymoon, tapi family gathering.” Arya menggeleng pelan, meski fokusnya pada Sarah yang terbaring di ranjang. Lemah dan berpura-pura kuat. “Tidurlah, istirahat. Kamu sana di sofa.” Arya mengusir Gita, padahal baru saja bok0ngnya mendarat di tepi ranjang.
“Ish, nanti. Mah ….”
“Sudah makan belum? Ini udah siang, obat kamu dibawa?” cecar Sarah.
“Sayang, untuk sementara fokus dengan kesehatan kamu. Gita biar urusan aku, dia sudah besar.”
“Sudah mah. Aku udah makan. Mama kenapa? Dokter bilang apa?” Masih penasaran kenapa sang mama sampai harus dirawat, belum ada yang menjelaskan apapun.
“Mama capek karena anak gadisnya ini mulai nakal, tidak nurut.” Arya menarik ujung hidung Gita membuat gadis itu meringis dan menjerit.
“Papa, ih.”
“Papa yang bawa mama kamu ke UGD, panik nggak usah ditanya. Rasanya kayak dunia mau runtuh. Yang ditanya sudah makan apa belum malah kamu, ck. Cemburu papa,” seru Arya.
“Ish, lebay. Kebucinan ya kayak gitu,” ejek Moza. Sudah berbaring di sofa sambil fokus dengan ponselnya berkirim kabar dengan Dewa dan sang mertua karena kedua anaknya ia tinggal.
“Bukan bucin, tapi cinta mati. Ya pah,” ucap Gita lalu memeluk Arya dan pandangan ayah dan anak itu tertuju pada wanita yang tersenyum di atas ranjang.
Pintu kamar terbuka dan …
“Mah.” Mada yang datang. Sepertinya berlari menuju kamar ini, terlihat dari kemeja belakangnya agak basah. “Mama gimana, pah?” Mada meraih tangan Sarah dan mengusapnya.
“Mama nggak pa-pa, kalian jangan pada panik gini dong. Pah, kamu sih, anak-anak jadi khawatir.”
“nggak pa-pa sampai dirawat,” keluh Mada. Tatapannya masih tertuju pada wajah Sarah.
“Kak, kamu lari ya?”
“Iya, mana sempet kesasar,” sahut Mada, anak kedua Sarah dan Arya. Saudara kembar Moza.
“Aku juga tadi kesasar. Padahal udah ikutin penunjuk arah, untung ada cowok ganteng tempat aku bertanya.”
“Nggak sekalian jadiin tempat bersandar,” ejek Mada.
“Boleh,” sahutnya lalu terkekeh.
“Loh, anak gadis papa udah mulai centil nih. Lebih ganteng mana sama papa?”
“Ganteng cowok itu-lah. Mana tinggi. Pokoknya Papa, Kak Gilang, Kak Mada dan Mas Dewa lewat semua.”
“Penasaran deh. Kamu ketemu di sini?” Moza sampai beranjak dari sofa.
“Kayaknya kerja di rumah sakit ini. Aku lihat dia pake scrub nurse.”
“Pah, anak gadisnya udah dewasa. Udah kenal cowok,” ucap Sarah lalu terkekeh.
“Cuma laki-laki bermental baja yang bisa dekat sama kamu. Dia harus taklukan dulu cowok-cowok ganteng klan Bimantara. Iya nggak pah,” ujar Mada dan diangguki oleh Arya.
\=\=\=\=\=
Hai ketemu lagi dengan aku 🤭🥰
Masih ingat Sarah dan Arya, di mana perbedaan umur mereka 6 atau 9 tahun (lupa aku) lebih tua Sarah, di sini Sarah sekitar 60 an dan Arya 50 an. Untuk Mada anaknya baru 1 dan masih baby, biar gita nggak ketuaan.
yg ditunggu-tunggu tentu saja Tim Pencari Kitab Suci dan Geng Pria terkutuk, teman lakn4t si Rama
Selamat membaca, semoga suka. Love you all 😍❤️
dah tau pake nanya 🤭
orang tua kalian juga kalau tau kelakuan kalian begitu pasti kecewa 😔
denger arlan orang baik mah pasangannya sama orang baik, nah situ maniak cewe dapetnya juga tar yang sama kaya kamu 😏
Kalian yang jomblo & dokter vampire duda tambah ngiri aja ya, jangan sampe nganan itu lampu shein hatinya, ngiri aja 😜
ndak jujur az kalo ketangkep basah ma Camer???
hadew....