Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.
Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Penyelamat di Tengah Kekacauan
Luminar tampak seperti sebuah kristal memancarkan cahaya keemasan yang lembut namun tegas, bentuknya menyerupai bintang yang melebur menjadi satu dengan aliran energi yang berdenyut seiring detak jantung Heras. Ia melayang di udara, mengeluarkan kilauan yang menenangkan namun juga penuh dengan kekuatan purba, seolah menjadi jembatan antara dunia fisik dan kekuatan magis yang tersimpan di dalam diri Heras.
Heras masih terlihat bingung dan heran. Ia mencoba menggerakkan kakinya, merasakan apakah ia bisa berjalan dan bergerak lincah seperti dulu. Rasa ragu masih menyelimuti hatinya, namun kebingungan itu seketika lenyap saat ia mendengar suara teriakan panik di sekitarnya. Kumpulan monster kepiting merah yang besar dan ganas mulai mendekat, membuatnya tersadar sepenuhnya dari lamunan.
Tanpa berpikir panjang, Heras melesat dengan kecepatan yang membuat udara berdesir di sekitarnya. Matanya dengan cepat memindai kerumunan warga yang terperangkap kepanikan. Di sana, ada sekelompok gadis yang saling berpegangan tangan erat, tubuh mereka gemetar hebat sementara air mata mengalir deras di pipi, tak sanggup melangkah karena ketakutan yang melumpuhkan. Tak jauh dari mereka, beberapa orang tua berusaha berjalan dengan langkah tertatih-tatih, kaki mereka yang rapuh tampak sulit mengimbangi laju kepanikan, napas mereka tersengal-sengal seiring setiap langkah yang diambil. Di sudut lain, seorang nenek terjatuh, kain kerudungnya terurai dan tangannya meraba-raba tanah berusaha bangkit, sementara bekal yang ia bawa berserakan di dekatnya.
Yang paling menarik perhatian Heras adalah seorang pria buta yang berdiri terpaku di tengah kekacauan. Ia memakai kacamata hitam khas yang menutupi matanya, dan di lengannya tergantung sebuah kantong makanan yang terbuat dari anyaman bambu yang sedikit penyok. Tangannya yang bebas meraba udara dengan gelisah, mencoba mencari pegangan atau arah yang benar, sementara mulutnya berbisik memohon pertolongan dengan suara yang bergetar.
Heras langsung bertindak. Dengan satu gerakan lincah, ia mengulurkan tangan dan mengangkat nenek itu dengan lembut namun kuat, menempatkannya di tempat yang lebih tinggi dan aman di balik tumpukan batu. Kemudian, ia berputar cepat, meraih lengan pria buta itu dengan hati-hati. "Ikuti suara saya, saya akan bawa Anda keluar," bisik Heras tegas. Pria itu mengangguk cepat, menggenggam lengan Heras dengan erat seolah itu adalah satu-satunya tali penyelamat di tengah badai. Sambil menuntun mereka, Heras tidak lupa mengayunkan tangannya, mengeluarkan serangan energi yang menghancurkan cangkang kepiting-kepiting kecil dan lemah yang berusaha mendekat. Suara krak kering dari cangkang yang pecah terdengar bertubi-tubi, sementara ia terus mendorong dan menuntun para warga menuju jalan keluar yang lebih aman, memastikan tidak satu pun dari mereka yang tersentuh oleh cakar tajam para monster.
Di tengah keramaian yang bergerak menuju keselamatan, mata Heras tertuju pada seorang gadis kecil yang berjalan tertatih di belakang kelompoknya. Rambutnya yang berantakan dan wajahnya yang pucat karena ketakutan itu seketika mengingatkan Heras pada dirinya sendiri di masa lalu—saat ia juga berdiri tak berdaya di tengah kehancuran, kehilangan segalanya dan tidak tahu ke mana harus pergi. Perasaan campur aduk menyergap dadanya; rasa sedih, iba, dan juga rasa sakit dari kenangan lama yang terkuak kembali, membuat langkahnya sejenak terhenti. Namun, seolah merasakan tatapan Heras, gadis kecil itu menoleh. Meski matanya masih basah oleh air mata, ia tiba-tiba mengukir senyum kecil yang tulus dan penuh rasa syukur ke arah Heras. Senyum itu sederhana, namun entah mengapa, senyum itu seolah menyebarkan ketenangan yang aneh ke dalam hati Heras, meredakan gejolak emosi yang baru saja muncul dan membuatnya merasa lebih damai, seolah beban di pundaknya sedikit terangkat.
Sementara para warga lainnya terus bergerak cepat menuju tempat evakuasi yang telah ditentukan, memastikan diri mereka berada di zona aman, Heras membiarkan pandangannya tertinggal sejenak pada gadis kecil itu sebelum akhirnya ia kembali memusatkan perhatiannya. Setelah memastikan semua orang yang ia bantu sudah berada di tempat yang jauh dari jangkauan musuh, Heras kembali berlari, matanya mencari tanda-tanda kehidupan yang tersisa di tempat itu. Namun, apa yang ia temukan justru membuat perutnya mual—berbagai sisa tubuh yang telah terpotong atau hanya tersisa sebagian, berserakan di tanah yang berlumuran darah. Rasa penyesalan yang mendalam menyelimuti hatinya, ia merasa bersalah karena tidak bisa hadir lebih cepat. Namun, perasaan itu terhenti saat Luminar tiba-tiba bergetar hebat, memancarkan cahaya yang lebih terang seolah memberi peringatan. Heras tersadar kembali, merasakan aura monster yang jauh lebih kuat dan berbahaya yang tengah mengintai dari belakangnya, menunggu saat yang tepat untuk menyerang.