Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Malam setelah makan malam keluarga Lin Qing terasa seperti mimpi buruk yang belum usai. Xiao Han duduk di pinggir kasur tipis di kontrakan, lampu neon kuning redup menyinari wajahnya yang pucat. Kata-kata “sampah jalanan” dari Lin Xue masih bergema di kepalanya, seperti duri yang menusuk berulang-ulang. Dia memandang tangannya sendiri—tangan yang biasa menggenggam setir Mercedes mewah, tapi juga tangan yang dulu mengantar surat demi recehan.
“Apa aku memang cuma sampah?” gumamnya pelan. Pikirannya berputar: ibu yang masih lumpuh, Xiao Mei yang semakin pendiam akhir-akhir ini, Hua Ling’er yang menunggu pesan yang semakin jarang dia balas, dan Lin Qing yang menawarkan dunia baru tapi sekaligus menjebaknya di dalamnya. Semuanya terasa berat, seperti beban yang semakin menumpuk tanpa ada tempat untuk meletakkannya.
Pagi berikutnya, Xiao Han memutuskan untuk keluar sebentar—hanya ingin bernapas udara segar sebelum shift mengantar Lin Qing dimulai. Dia berjalan tanpa tujuan ke Taman Danau Biru, tempat yang dulu pernah membawanya bertemu Aria. Duduk di bangku yang sama, memandang bebek-bebek berenang, pikirannya masih kusut.
Tiba-tiba suara lembut menyapa dari belakang.
“Kak Han? Lagi sendirian?”
Xiao Han menoleh. Aria berdiri di sana, mengenakan kaus oversized biru langit lagi, celana jogger abu-abu, dan sepatu running. Rambut hitam kecoklatannya diikat ponytail tinggi, matanya biru abu-abu itu berbinar seperti dulu. Dia tersenyum lebar, seperti matahari yang tiba-tiba muncul di tengah langit mendung.
“Aria…” Xiao Han terkejut, tapi senyum kecil muncul di bibirnya tanpa sadar. “Kamu lagi jogging?”
“Iya, pagi-pagi biar segar. Eh, Kak Han kok sendirian? Xiao Mei mana?”
“Di rumah. Lagi belajar.”
Aria duduk di sebelahnya tanpa diminta, jaraknya cukup dekat tapi tidak mengganggu. “Kamu kelihatan capek banget. Ada masalah?”
Xiao Han menggeleng pelan, tapi matanya tidak bisa bohong. Aria tidak memaksa. Dia hanya mengeluarkan botol air dari tas kecilnya dan menawarkan.
“Minum dulu. Kalau nggak mau cerita, ya udah. Tapi kalau mau jalan-jalan bareng, aku free hari ini. Deadline tugas udah selesai kemarin.”
Xiao Han menatap gadis itu lama. Di tengah pikiran yang kacau, Aria terasa seperti hembusan angin segar—sederhana, tulus, tanpa beban status atau uang. Seperti bunga kecil yang tiba-tiba mekar di hamparan sampah kumuh yang selama ini mengelilinginya.
“Ayo,” katanya akhirnya. “Jalan-jalan aja.”
Mereka berjalan tanpa rencana. Dari taman danau, ke jalur pejalan kaki yang ramai anak muda joging dan orang tua membawa anak kecil. Aria bercerita tentang kuliahnya—tugas desain grafis yang bikin stres, teman-teman yang lucu, mimpi ingin buka studio kecil setelah lulus. Xiao Han mendengar dengan tenang, sesekali menimpali. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, dia merasa bisa bernapas tanpa beban.
Siang berganti sore. Mereka lanjut ke pasar malam yang baru buka di pinggir kota. Lampu warna-warni berkelap-kelip, aroma sate ayam dan jagung bakar menggoda. Aria antusias sekali—dia beli cotton candy pink besar, memaksa Xiao Han mencicipi, tertawa saat kapas gula menempel di hidungnya.
“Kak Han harus coba naik bianglala kecil itu! Katanya view-nya bagus malam-malam.”
Mereka naik bianglala tua yang goyang-goyang. Di atas sana, kota Golden Core terlihat seperti permadani lampu yang berkelap-kelip. Aria bersandar di bahu Xiao Han, matanya berbinar.
“Indah ya, Kak…”
Xiao Han mengangguk. “Iya. Lama nggak lihat kota dari atas.”
Aria menoleh, matanya bertemu mata Xiao Han. Ada sesuatu yang berubah di tatapannya—lembut, hangat, dan sedikit malu-malu. Jantung Xiao Han berdegup lebih cepat, tapi kali ini bukan karena tekanan atau rasa bersalah. Hanya… kehangatan biasa.
Malam semakin larut. Mereka berjalan pelan menuju halte bus terdekat. Angin malam bertiup sejuk, membawa aroma makanan pasar yang mulai tutup.
“Terima kasih hari ini, Aria. Aku… lama nggak merasa segini ringan.”
Aria tersenyum, pipinya sedikit merona. “Aku juga senang, Kak. Kalau boleh… besok-besok lagi ya?”
Xiao Han berhenti di depan halte. Dia menatap Aria lama, lalu berkata pelan, suaranya hampir berbisik.
“Aria… boleh gak besok aku jemput kamu di kampus?”
Aria terdiam sesaat, matanya melebar, lalu senyumnya mekar lebar—seperti bunga yang baru saja mendapat sinar matahari setelah hujan panjang.
“Boleh banget, Kak. Jam 4 sore aku selesai kelas. Tunggu di gerbang utama ya?”
Xiao Han mengangguk, senyum kecil muncul di wajahnya—senyum yang tulus, tanpa beban.
“Janji.”
Mereka berpisah di halte. Aria naik bus pertama yang datang, melambai dari jendela sampai bus menghilang di tikungan. Xiao Han berdiri sendirian di sana, memandang langit malam yang penuh bintang.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa hangat lagi.
Tapi di kejauhan, ponselnya bergetar pelan—pesan dari Lin Qing:
"Besok pagi jam 7. Jangan telat. Kita ada meeting penting."
Xiao Han menatap pesan itu, lalu mematikan layar. Malam ini, dia ingin menikmati kehangatan yang baru saja dia rasakan.
Besok… baru dia pikirkan.