Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Judul Episode 30: "Perjuangan di Dasar Laut dan Waktu yang Mulai Berbalik"
Hari sudah mulai menyingsing di ufuk timur pantai Pasuruan ketika kapal Pak Darmo berlayar kembali menuju Pulau Cemara Kecil. Kali ini mereka tidak sendirian—beberapa nelayan berpengalaman dari desa yang mendengar cerita tentang misi Laras juga ikut bergabung, membawa peralatan penyelaman tradisional yang telah digunakan oleh nenek moyang mereka selama berabad-abad. Di atas dek kapal, peta kuno yang ditemukan Jaka tersebar rapi, dengan tanda merah yang menunjukkan lokasi tepat tumbuhnya bunga bakung laut.
“Kita harus masuk saat air pasang rendah dan arus masih tenang,” ucap Pak Darmo sambil memeriksa kompas kayu yang sudah dia gunakan selama puluhan tahun. “Biasanya hanya ada waktu satu jam saja di mana jalur menuju dasar laut itu aman untuk dilewati—kalau terlambat, arus akan mengirim kita kemana saja dan mungkin tidak bisa kembali lagi.”
Laras sedang memeriksa kalung perak kuno di tangannya, yang kini sudah mulai bersinar dengan lebih terang dari sebelumnya. Di sekitar lehernya juga sudah dibalut tali dengan manik-manik kerang yang dipercaya bisa melindungi penyelam dari kekuatan gaib di laut dalam. Jaka berdiri di sebelahnya, memegang kotak kayu yang berisi alat-alat yang akan mereka butuhkan—termasuk sebuah wadah khusus yang dibuat dari kulit ikan paus untuk menyimpan bunga bakung laut agar tidak layu.
Setelah kapal menginjak di lokasi yang tepat, empat orang penyelam terbaik termasuk Laras dan Jaka siap menyelam. Sebelum masuk air, Pak Darmo memberikan nasihat terakhir sambil menyemburkan air laut ke wajah masing-masing penyelam: “Ingat, bunga bakung laut hanya tumbuh di bawah reruntuhan kapal kuno bernama ‘Sri Kemuning’. Jangan menyentuh apa-apa di sekitar reruntuhan kecuali bunga itu. Setiap barang yang ada di sana memiliki cerita dan kekuatan sendiri.”
Sesaat kemudian, mereka menyelam ke dalam laut yang jernih namun dalam. Suara ombak dan suara manusia di atas permukaan perlahan hilang, digantikan oleh kedalaman yang penuh dengan kehidupan laut yang memukau. Ikan-ikan warna-warni berenang keliling mereka, sementara terumbu karang yang indah membentuk lorong-lorong alami yang harus dilewati. Laras merasakan kalungnya semakin panas, seolah sedang membimbingnya ke arah yang benar.
Setelah sekitar sepuluh menit menyelam, mereka melihatnya—reruntuhan kapal kayu besar yang sudah tertutup oleh terumbu karang dan lumut laut, namun bentuk dasarnya masih jelas terlihat. Di bagian tengah reruntuhan, tepat di bawah tiang utama kapal yang masih berdiri kokoh, tumbuh sebuah rumpun bunga bakung laut dengan warna putih kemerah-merahan yang sangat mencolok. Cahaya dari matahari yang menerobos permukaan laut membuat kelopak bunga itu tampak seperti bersinar sendiri.
Namun ketika mereka hendak mendekat, seekor arwana laut berukuran sangat besar muncul dari balik reruntuhan. Kulitnya berwarna keperakan dengan pola seperti aksara kuno yang sama dengan yang ada di pilar batu Pulau Cemara Kecil. Ikan itu menghentikan langkah mereka dengan menyemburkan gelembung udara besar yang membentuk kata-kata di dalam air: “Hanya mereka yang membawa cinta dan kebaikan di hati yang berhak mengambil bunga ini. Bukalah hatimu dan tunjukkan bahwa kamu datang bukan untuk mengambil, tapi untuk menyelesaikan.”
Laras memutuskan untuk menjauh dari teman-temannya dan mendekat sendirian ke arah arwana laut. Dia melepaskan tali manik-manik di lehernya dan membuka tasnya, menunjukkan catatan neneknya yang berisi cerita tentang bagaimana kutukan tersebut telah menyakitkan banyak orang selama bertahun-tahun. Kalung di lehernya mulai bersinar dengan sangat terang, dan secara perlahan-lahan, arwana laut itu mulai bergerak ke samping, membuka jalan menuju bunga bakung laut.
Saat Laras merentangkan tangan untuk mengambil salah satu tangkai bunga, seluruh reruntuhan kapal mulai bersinar. Dinding kayu yang sudah lapuk perlahan terbuka, mengungkapkan sebuah ruangan tersembunyi di dalamnya. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah peti kayu besar yang dihiasi dengan ukiran bunga bakung laut, dan di atasnya terletak sebuah surat kuno yang tertulis dengan tinta dari getah pohon cemara.
Jaka dan teman-teman penyelam segera mendekat, dan mereka bersama-sama membawa peti kayu serta bunga bakung laut ke atas kapal. Ketika mereka keluar dari air, matahari sudah berada di tengah langit, dan secara mengejutkan, arus yang seharusnya sudah mulai kuat justru menjadi sangat tenang. Pak Darmo melihat ke arah reruntuhan kapal yang kini mulai terlihat lebih jelas dari permukaan laut, lalu mengangguk dengan wajah penuh kagum.
Di atas kapal, mereka membuka surat kuno tersebut bersama-sama. Isinya adalah cerita tentang Ratu Kemuning, seorang putri dari kerajaan bawah laut yang jatuh cinta dengan seorang nelayan dari Pasuruan bernama Ki Ageng Suroto. Mereka berjanji akan menyatukan dunia darat dan dunia laut dengan cinta, namun sebuah kesalahpahaman membuat keluarga Ki Ageng Suroto menyerang kapal kerajaan bawah laut, yang akhirnya tenggelam dan menyebabkan Ratu Kemuning mengeluarkan kutukan yang tidak dia inginkan sendiri.
“Kutukan ini bukan untuk menyakiti,” bacaan Laras dengan suara bergetar. “Melainkan untuk mengingatkan kita semua bahwa cinta tanpa pengertian hanya akan membawa penderitaan. Hanya ketika seseorang datang dengan hati yang bersih dan siap untuk menyelesaikan kesalahpahaman tersebut, kutukan itu akan hilang.”
Saat itu juga, kalung perak Laras menyatu dengan bunga bakung laut yang mereka bawa, menghasilkan cahaya keemasan yang menyebar ke seluruh laut sekitar mereka. Di kejauhan pantai Pasuruan, penduduk desa melihat sebuah pelangi besar muncul di atas laut—pelangi yang tidak hanya memiliki tujuh warna, tapi sembilan warna dengan warna keemasan sebagai yang paling terang di tengahnya.
Malam itu, mereka kembali ke Pulau Cemara Kecil untuk meletakkan peti kayu dan bunga bakung laut di makam karam yang sebenarnya. Saat pilar batu besar mulai terbuka perlahan, mereka melihat sosok seorang wanita cantik dengan rambut seperti rumput laut dan gaun dari kain kerang yang berdiri di dalamnya. Dia adalah Ratu Kemuning, yang selama ini telah menunggu seseorang yang bisa membawa kedamaian.
“Terima kasih telah menyelesaikan cerita yang terhenti,” ucapnya dengan suara yang seolah datang dari angin dan ombak sekaligus. “Sekarang laut Pasuruan akan kembali menjadi tempat yang penuh berkah. Tapi ingatlah selalu—laut adalah teman dan juga guru kita. Hargailah dia, dan dia akan menjaga kamu.”
Setelah itu, sosoknya menghilang bersama dengan makam karam yang perlahan tenggelam kembali ke dalam tanah. Ketika mereka kembali ke desa, seluruh nelayan melihat bahwa laut yang selama ini seringkali ganas kini sudah tenang dengan ombak yang lembut. Di pantai, banyak ikan yang terdampar dengan kondisi masih segar—seolah sebagai hadiah dari dunia bawah laut untuk rakyat Pasuruan.
Laras, Jaka, dan Pak Darmo berkumpul di depan rumah nenek Laras, dengan catatan-catatan yang kini sudah lengkap dengan cerita dari surat kuno. Mereka berjanji akan menyebarkan cerita tentang Ratu Kemuning dan Ki Ageng Suroto agar kesalahpahaman tidak terulang lagi, serta mengajak seluruh desa untuk menjaga laut Pasuruan dengan cinta dan rasa hormat. Di langit malam yang penuh bintang, mereka melihat sebuah bintang baru yang bersinar terang di atas laut—bintang yang dipercaya adalah Ratu Kemuning yang kini sedang menjaga keselamatan setiap orang yang berlayar di laut Pasuruan…