Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Bayangan yang mulai mendekat
Udara malam terasa lebih dingin ketika Raka dan Nadira keluar dari rumah sakit.
Langkah mereka terdengar pelan di lantai parkiran yang hampir sepi. Lampu-lampu putih menerangi deretan mobil yang terparkir rapi, menciptakan bayangan panjang di tanah.
Nadira masih memikirkan kata-kata Vanessa.
Tentang seseorang bernama Arman.
Tentang ancaman.
Dan tentang masa lalu Raka yang tampaknya jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Raka membuka pintu mobilnya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya sambil menoleh pada Nadira.
Nadira terdiam sebentar sebelum menjawab.
“Aku hanya sedang berpikir.”
“Memikirkan apa?”
Nadira menatapnya.
“Orang bernama Arman itu.”
Raka menghela napas pelan lalu bersandar pada pintu mobilnya.
Seolah dia tahu pertanyaan itu akan datang.
“Kamu tidak perlu terlalu memikirkan dia,” kata Raka.
“Tapi Vanessa bilang dia mengancammu.”
“Dia memang pernah melakukan hal seperti itu.”
Jawaban Raka terdengar datar, tapi Nadira bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata itu.
“Dia siapa sebenarnya?” tanya Nadira lagi.
Raka menatap langit malam sebentar sebelum menjawab.
“Dia dulu partner bisnisku.”
Nadira mengernyit.
“Dulu?”
Raka mengangguk.
“Beberapa tahun lalu kami mendirikan perusahaan bersama.”
“Lalu?”
“Ada masalah.”
Raka berhenti sejenak.
Tatapannya berubah menjadi lebih dingin.
“Dia mengkhianatiku.”
Nadira menatapnya kaget.
Dia mencoba mengambil alih perusahaan dengan cara kotor.”
“Apa yang kamu lakukan?”
“Aku melawannya.”
Raka tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak mengandung kehangatan.
“Dan dia kalah.”
Nadira mulai mengerti.
“Sejak itu dia membencimu.”
Raka membuka pintu mobil.
“Benci saja tidak cukup untuk menjelaskan apa yang dia rasakan.”
Mereka masuk ke dalam mobil.
Mesin mobil dinyalakan.
Beberapa detik mereka hanya duduk dalam diam.
Nadira akhirnya berkata pelan,
“Kalau dia benar-benar kembali… apa kamu tidak khawatir?”
Raka menoleh padanya.
“Aku tidak takut pada Arman.”
“Tapi dia mengancam orang yang kamu cintai.”
Kata-kata Nadira membuat Raka terdiam.
Dia memandang Nadira beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Karena itu aku tidak akan membiarkan dia mendekat.”
Mobil Raka akhirnya keluar dari area rumah sakit.
Jalanan kota mulai sepi karena malam semakin larut.
Lampu-lampu jalan menyinari jalan panjang di depan mereka.
Namun tanpa mereka sadari—
Sebuah mobil hitam berada tidak jauh di belakang mereka.
Mobil itu mengikuti mereka dengan jarak yang cukup jauh.
Di dalam mobil hitam itu, seorang pria duduk di kursi belakang.
Wajahnya sebagian tertutup bayangan.
Matanya tajam menatap mobil Raka di depan.
“Jadi… itu Nadira.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Menarik.”
Sopir di depan bertanya,
“Kita lanjut mengikuti mereka, Tuan?”
Pria itu menyilangkan kakinya.
“Tidak perlu terlalu dekat.”
“Biarkan saja mereka merasa aman.”
Dia menatap lagi mobil Raka yang semakin menjauh.
“Permainan ini baru saja dimulai.”
Sementara itu, di dalam mobil Raka.
Nadira menatap keluar jendela Pikirannya masih penuh dengan berbagai pertanyaan.
“Raka.”
“Ya?”
“Kenapa Vanessa mengatakan kamu lebih rapuh dari yang terlihat?”
Raka tertawa kecil.
“Dia terlalu banyak bicara.”
“Tapi itu terdengar seperti dia mengenalmu dengan sangat baik.”
Raka tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu sebelum dia berkata,
“Kami pernah sangat dekat.”
Jawaban itu membuat Nadira merasa aneh.
Dia tidak tahu kenapa.
Mungkin karena itu adalah kenyataan yang sulit diabaikan.
Raka pernah hampir menikahi Vanessa.
Hubungan mereka pasti tidak sederhana.
“Apakah kamu masih peduli padanya?” tanya Nadira tiba-tiba.
Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, Nadira langsung menyesal.
Raka menoleh padanya.
“Kamu cemburu?”
Nadira cepat menggeleng.
“Tidak.”
“Benarkah?”
“Aku hanya bertanya.”
Raka tersenyum kecil.
“Vanessa adalah bagian dari masa laluku.”
Dia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“Tapi masa laluku sudah selesai.”
Nadira tidak tahu kenapa, tapi jawaban itu membuat hatinya sedikit lebih tenang.
Mobil mereka akhirnya berhenti di depan apartemen Nadira.
Raka mematikan mesin mobil.
Nadira membuka pintu.
Namun sebelum dia keluar, Raka memanggilnya.
“Nadira.”
Nadira menoleh.
“Ada apa?”
Raka menatapnya dengan serius.
“Mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati.”
“Karena Arman?”
“Iya.”
Nadira tersenyum tipis.
“Aku tidak takut.”
“Aku yang takut.”
Jawaban Raka membuat Nadira terdiam.
Raka melanjutkan,
“Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu.”
Suasana di dalam mobil tiba-tiba terasa berbeda.
Lebih hangat.
Lebih dekat.
Nadira menatap Raka beberapa detik sebelum berkata pelan,
“Aku akan baik-baik saja.”
Dia akhirnya keluar dari mobil.
Sebelum masuk ke dalam gedung apartemen, Nadira menoleh lagi.
Raka masih duduk di dalam mobil, menatap ke arahnya.
Nadira mengangkat tangan kecil sebagai salam.
Raka membalas dengan senyum tipis.
Namun saat Nadira masuk ke dalam gedung.
Senyum Raka perlahan menghilang.
Dia menatap kaca spion.
Mobil hitam yang tadi mengikuti mereka sekarang berhenti tidak jauh dari sana.
Mata Raka menyipit.
Dia mengenali mobil itu.
Tanpa ragu, Raka menyalakan kembali mesin mobilnya dan keluar dari parkiran Mobil hitam itu langsung bergerak mengikuti.
Beberapa menit kemudian kedua mobil itu berada di jalan raya yang hampir kosong.
Raka mempercepat mobilnya.
Mobil hitam itu juga mempercepat.
Permainan kejar-kejaran dimulai.
Raka tersenyum dingin.
“Jadi kamu sudah mulai bergerak, Arman.”
Mobilnya melaju lebih cepat lagi.
Beberapa tikungan dilewati dengan kecepatan tinggi.
Akhirnya mobil hitam itu berhenti mengejar.
Raka menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Dia menghela napas panjang.
“Sepertinya malam ini tidak akan tenang.”
Sementara itu—
Di dalam mobil hitam yang sudah berhenti jauh dari sana.
Pria di kursi belakang tersenyum.
“Dia masih sama seperti dulu.”
Sopir menoleh lewat kaca spion.
“Tuan Arman, apakah kita akan langsung bertindak?”
Pria itu—Arman—menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
Arman menatap ke luar jendela.
Lampu-lampu kota berkilauan di kejauhan.
“Balas dendam tidak menyenangkan kalau terlalu cepat selesai.”
Dia tersenyum perlahan.
“Aku ingin melihat Raka kehilangan satu per satu hal yang dia cintai.”
Sopir itu terdiam.
Arman melanjutkan dengan nada dingin,
“Mulai dari Nadira.”
Sementara itu—
Di apartemennya, Nadira sedang bersiap tidur.
Dia mengganti pakaian dan duduk di tepi tempat tidur.
Pikirannya masih dipenuhi kejadian malam ini.
Vanessa.
Rumah sakit.
Dan ancaman Arman.
Nadira menghela napas panjang “Kenapa semuanya tiba-tiba menjadi rumit seperti ini…”
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Dari nomor yang tidak dikenal.
Nadira membuka pesan itu.
Dan seketika wajahnya berubah pucat.
Pesan itu hanya berisi satu kalimat.
"Jauhi Raka kalau kamu ingin tetap selamat."
Jantung Nadira berdetak sangat cepat.
Tangannya gemetar.
Beberapa detik kemudian pesan lain masuk.
"Kalau tidak… kamu akan menyesal."
Nadira menelan ludah.
Dia langsung mencoba menelepon nomor itu.
Namun nomor tersebut sudah tidak aktif.
Nadira menatap layar ponselnya dengan perasaan tidak tenang.
Firasat buruk kembali muncul.
Dan untuk pertama kalinya—
Dia benar-benar merasa takut.
Di suatu tempat di kota itu, seseorang sedang mengawasinya.
Seseorang yang ingin menghancurkan hidup Raka.
Dan sekarang—
Dia juga menjadi bagian dari permainan berbahaya itu.
Nadira memegang ponselnya erat.
Dalam hati dia bertanya—
Apakah dia harus memberitahu Raka?
Atau justru menjauh darinya demi keselamatan?
Namun Nadira tahu satu hal.
Apa pun yang terjadi—
Hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini.
Dan ancaman itu…
Baru saja dimulai.
Bersambung…