Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.
Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.
Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.
Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.
Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.
Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Bayangan itu terus mengusik kepala Reza sejak siang tadi. Wajah Azalea yang menjadi cantik. Bukan wajah yang ia kenal tiga tahun belakangan ini, yang selalu tampak lelah, sederhana, dan nyaris tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Melainkan wajah Azalea hari ini yang cantik, bercahaya, dan mulus. Ada cahaya lembut di pancaran matanya. Walau begitu, sang pria enggan mengakui lewat mulutnya.
Reza juga kepikiran saat wanita itu berjalan di lobi KAISER GROUP dengan menggandeng putri atasannya terasa begitu pantas. Rasanya tak pantas untuk sekadar disebut pengasuh.
Reza duduk di ruang kerjanya, menatap layar komputer tanpa benar-benar membaca apa pun. Angka-angka laporan berkelebat, tetapi pikirannya melayang. “Cantik sekali dia sekarang,” batinnya tak ingin mengakui.
Dulu, Reza jatuh cinta pada Azalea bukan hanya karena parasnya. Azalea dikenal sebagai perempuan yang sopan, tutur katanya halus, dan pekerja keras. Di kampung, namanya sering disebut sebagai contoh perempuan baik-baik—tidak banyak bicara, tetapi selalu siap membantu. Mengurus orang sakit, menyiapkan keperluan warga, bahkan membantu tetangga yang kesulitan tanpa pamrih.
Azalea sudah yatim-piatu sejak kecil. Namun, dia tidak tumbuh menjadi perempuan yang rapuh atau putus asa. Ia punya kakak—Jasmine—yang selalu berdiri di sisinya. Kakak yang bekerja keras, melindungi, dan membesarkannya dengan penuh cinta.
Reza dulu bangga memperistri Azalea. Sangat bangga sampai kebanggaan itu kalah oleh hitung-hitungan.
Pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Nadia masuk dengan langkah yakin, mengenakan rok ketat dan kemeja berkerah rendah. Wajahnya cantik, riasannya sempurna, dan aroma parfumnya memenuhi ruangan.
“Kamu bengong dari tadi,” ujar Nadia sambil duduk di tepi meja, memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus. “Mikirin apa, sih, Yang?”
Reza tersentak, lalu menghela napas. “Enggak.”
Nadia menyipitkan mata. “Bohong.”
Reza diam terlalu lama.
“E, Azalea, kan?” tebakan Nadia meluncur tajam.
Reza menoleh cepat. “Kenapa bawa-bawa dia?”
“Karena sejak pulang makan siang, kamu kayak orang kehilangan fokus,” sahut Nadia ketus. “Dan namanya keluar dari mulut kamu lebih dari sekali.”
Reza bersandar di kursinya. “Dia berubah.” Nada suaranya datar, tapi justru itulah yang membuat dada Nadia terasa panas.
“Berubah?” Nadia tertawa kecil, sinis. “Maksud kamu, dia jadi cantik karena kerja sama orang kaya?”
Nadia tadi sempat melihat Azalea. Awalnya dia tidak mengenalinya. Setelah diberi tahu oleh salah seorang teman kerjanya.
Reza tidak menjawab. Dan diamnya itu adalah jawaban paling menyakitkan.
“Kamu masih mikirin dia?” Suara Nadia menegang. “Padahal kamu yang buang dia dulu!”
Reza menatap Nadia dingin. “Jaga omonganmu.”
Nadia terkekeh pahit. “Lucu, ya. Aku ini partner kerja kamu. Aku juga tidur sama kamu. Tapi kamu masih saja sebut nama Azalea di depanku.”
Reza berdiri. “Jangan lebay.”
Nadia tahu, dirinya sedang cemburu. Cintanya kepada Reza itu sungguhan, bukan rekayasa. Kini, Reza malah membahas mantannya. Bukan karena cinta Azalea yang belum padam sepenuhnya, tapi karena Azalea kini tampak menang di depannya.
Dan Reza, untuk pertama kalinya, merasakan sesuatu yang tidak ia suka. Yaitu,.kehilangan yang baru terasa setelah segalanya terlambat.
Tak seorang pun di kantor tahu alasan sebenarnya Reza menceraikan Azalea. Bukan hanya soal tuduhan mandul. Bukan hanya soal gengsi. Akan tetapi karena Reza merasa keberatan. Keberatan berbagi uang hasil kerja kerasnya..Ibunya sudah meninggal. Tak ada lagi alasan “pengabdian”. Maka Azalea baginya berubah dari istri setia menjadi beban. Beban yang tidak lagi memberinya keuntungan.
Lebih mudah menceraikan. Jadi, dia merasa ringan hidupnya. Begitulah pikir Reza dulu. Kini, pikiran itu terasa pahit. Sementara itu, di rumah besar yang megah, suasana jauh berbeda.
Sementara itu di sebuah rumah besar, mewah, dan megah, Azalea duduk di meja makan, menemani Erza mengerjakan tugas menggambar dari sekolah. Kertas putih terbentang, krayon warna-warni berserakan.
“Gambarnya apa hari ini?” tanya Azalea lembut.
“Rumah,” jawab Erza sambil menggambar garis-garis tegas. “Tapi rumah aku jelek.”
“Tidak,” Azalea tersenyum. “Setiap rumah indah kalau ada orang yang saling sayang di dalamnya.”
Erza terdiam, lalu melanjutkan menggambar dengan lebih hati-hati.
Di pangkuan Azalea, Elora tertidur pulas. Napasnya teratur, pipinya hangat menempel di dada Azalea. Tangan kecilnya mencengkeram ujung baju, seolah takut kehilangan.
Pemandangan itu terasa sangat tenang, hangat, penuh kasih. Namun, suara langkah keras memecahnya.
“Anak laki-laki kok gambarnya begitu,” celetuk Mami Elsa dari arah ruang tengah. “Tidak rapi. Tidak tegas. Dari kecil sudah tidak dididik dengan benar.”
Azalea mengangkat wajahnya, tetap tenang. “Ini proses belajar, Nyonya.”
“Proses?” Mami Elsa tersenyum miring. “Anak-anak di kalangan kami sejak kecil sudah ikut kursus ini-itu. Bukan main gambar di rumah seperti ini.”
Erza menunduk. Jika dulu, dia akan mengamuk, melemparkan benda yang ada di dekatnya. Namun, dia sudah berjanji kepada ibu sambungnya itu, enggak akan pernah mengamuk lagi secara berlebihan.
Azalea meletakkan krayon perlahan, memastikan Elora tetap nyaman di pangkuannya.
“Setiap anak punya waktunya sendiri untuk berkembang,” ucap Azalea dengan suara lembut tapi jelas. “Tidak semua kecerdasan diukur dari kursus mahal.”
Mami Elsa mendengus. “Kamu sok pintar sekarang?”
Azalea berdiri perlahan, tetap menopang Elora dengan hati-hati. “Saya tidak sok pintar,” katanya tenang. “Saya hanya tidak ingin Erza tumbuh dengan merasa dirinya selalu kurang.”
Mami Elsa terdiam sesaat. Namun, wajahnya terlihat marah.
Azalea melanjutkan, masih dengan nada yang sopan, tanpa meninggi. “Kalau Nyonya ingin menegur saya, silakan. Tapi jangan merendahkan anak-anak di depan mereka.”
Erza menoleh, matanya berkaca-kaca. Dia merasa kini ada yang membelanya.
Azalea tersenyum kecil ke arahnya. “Lanjutkan gambarnya, Kak.”
Mami Elsa tercekat. Ia ingin marah. Ingin membalas dengan kata-kata tajam. Tapi cara Azalea berdiri tenang, tegak, penuh kendali, membuatnya kalah tanpa pertarungan.
Tidak ada teriakan. Tidak ada makian. Yang ada hanya martabat yang berdiri utuh.
Azalea mengelus kepala Erza dengan lembut. “Tidak apa-apa kalau garisnya belum lurus. Yang penting kamu mencoba.”
Erza mengangguk pelan.
Di pangkuannya, Elora bergerak kecil, lalu bergumam dalam tidurnya, “Mommy ....”
Azalea menunduk, matanya berkaca-kaca. Dia tidak lagi berdiri sebagai perempuan yang bisa diinjak-injak. Ia berdiri sebagai wanita yang memilih tenang, karena ia tahu orang yang meremehkan, selalu kalah oleh mereka yang tidak perlu membalas dengan kebencian.
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.
Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi