NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Runtuhnya Istana Pasir

Pesawat yang membawa Hana kembali dari Singapura mendarat di Jakarta saat senja mulai memerah. Namun, Hana tidak pulang ke apartemennya untuk beristirahat. Di tangannya, ia menggenggam sebuah map hitam berisi dokumen penyitaan aset dan bukti tindak pidana pencucian uang.

Ternyata, Aris tidak hanya mencuri uang perusahaan. Ia menggunakan identitas ayah Hana, Hardiman, untuk membuka rekening penampung dana gelap. Aris memanfaatkan keluguan mertuanya di desa untuk menandatangani berkas-berkas yang dikira surat bantuan sosial, padahal itu adalah dokumen perusahaan cangkang.

"Anda sudah siap, Hana?" tanya Adrian yang berdiri di sampingnya di area parkir bandara. Adrian datang bersama tim hukum dan dua petugas juru sita.

Hana menatap lurus ke depan. "Saya sudah menunggu momen ini selama lima tahun, Mr. Adrian. Bukan untuk melihat mereka menderita, tapi untuk memastikan ayah saya tidak lagi menanggung beban dosa yang bukan miliknya."

Pukul delapan malam, mobil-mobil itu berhenti tepat di depan rumah Aris. Rumah dengan teras keramik Italia yang dulu begitu dibanggakan Ibu Salma kini tampak suram. Lampu terasnya redup, dan rumput di halaman mulai meninggi karena tak terurus.

Begitu Hana turun dari mobil, beberapa tetangga mulai keluar dari rumah mereka, berbisik-bisik melihat rombongan orang berseragam yang datang.

Hana mengetuk pintu dengan mantap. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi rasa takut.

Pintu terbuka, menampilkan wajah Maya yang kusam dan penuh kecemasan. Saat melihat Hana, matanya membelalak. "Hana? Mau apa kamu ke sini? Mas Aris masih di penjara! Kamu mau pamer kesuksesanmu di sini?!"

Hana tidak menjawab. Ia memberikan jalan bagi petugas juru sita untuk maju. "Kami dari pengadilan, membawa surat penyitaan aset atas nama Aris Putranto terkait kasus penggelapan dana dan pencucian uang. Rumah ini dan seluruh isinya akan dipasangi garis sita malam ini."

"Apa?! Tidak bisa!" teriak Ibu Salma yang muncul dari dalam rumah dengan langkah tertatih. Wajahnya pucat pasi. "Ini rumah anakku! Ini rumah yang dibangun dengan keringat Aris! Kamu tidak punya hak, Hana!"

Hana melangkah maju, masuk ke dalam ruang tamu yang dingin. Ia menunjuk ke arah lantai. "Rumah ini dibangun dengan uang yang dicuri dari Pak Baskoro, dan sebagian besar dana transaksinya menggunakan nama ayah saya secara ilegal. Ibu bilang ini keringat Aris? Tidak, Bu. Ini adalah air mata ayah saya yang difitnah oleh suami Ibu tiga puluh tahun lalu, dan kini dilanjutkan oleh anak Ibu."

Ibu Salma tertegun. Gemetar di tangannya semakin hebat. "Kamu... kamu tahu soal itu?"

"Saya tahu semuanya. Saya tahu kenapa Ibu sangat membenci saya. Karena Ibu takut kejujuran ayah saya akan membongkar kebusukan keluarga ini," suara Hana terdengar berat namun stabil. "Malam ini, semua kepura-puraan ini berakhir."

Petugas mulai menempelkan stiker penyitaan di beberapa sudut ruangan. Maya menangis histeris, mencoba menghalangi petugas yang mencatat inventaris barang. Sementara itu, tetangga di luar mulai berkerumun di pagar, menyaksikan bagaimana keluarga yang selama ini sombong itu kini dipermalukan di depan umum.

"Hana, tolong... Ibu harus tinggal di mana kalau rumah ini disita?" tangis Ibu Salma pecah. Ia mencoba memegang tangan Hana, namun Hana menarik tangannya perlahan.

"Dulu, saat aku pergi membawa Gilang di tengah malam, Ibu tidak pernah bertanya kami akan tinggal di mana. Ibu justru sibuk membahas keramik baru," ucap Hana dingin. "Saya sudah menyiapkan sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran kota untuk Ibu dan Maya. Itu adalah sisa kebaikan hati saya sebagai manusia. Selebihnya, biarkan hukum yang bekerja."

Di tengah kekacauan itu, Adrian berdiri di ambang pintu, memperhatikan Hana. Ia melihat bagaimana wanita itu tetap tenang meski dihadapkan pada histeria mantan mertuanya. Tidak ada kilat dendam yang membabi buta di mata Hana, yang ada hanyalah ketegasan untuk menegakkan kebenaran.

Hana berjalan ke arah teras, tempat keramik Italia itu terpasang. Ia menatap lantai itu untuk terakhir kalinya.

"Mr. Adrian," panggil Hana tanpa menoleh.

"Ya?"

"Dulu saya pikir, saya akan merasa sangat bahagia saat melihat mereka hancur. Tapi ternyata... saya hanya merasa lega. Rasanya seperti baru saja meletakkan batu yang sangat besar dari pundak saya."

Adrian mendekat, berdiri di sisi Hana. "Itu karena kamu melakukan ini untuk keadilan, bukan untuk kebencian. Orang yang didorong oleh kebencian tidak akan pernah merasa cukup, tapi orang yang mencari keadilan akan menemukan kedamaian."

Tiba-tiba, seorang petugas mendekat membawa sebuah kotak kecil yang ditemukan di kamar Aris. Di dalamnya terdapat buku tabungan atas nama Hardiman dengan saldo yang cukup besar, namun juga tumpukan surat kuasa palsu.

"Ini adalah bukti terakhir yang kita butuhkan untuk membersihkan nama ayah Anda di kepolisian, Ibu Hana," ujar petugas tersebut.

Hana menerima kotak itu. Ia memeluknya erat di dada. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, namun ini adalah air mata kemenangan. Nama ayahnya akan bersih. Gilang tidak akan pernah malu mengakui siapa kakeknya.

Malam itu, Hana meninggalkan rumah tersebut untuk selamanya. Di dalam mobil, ia melihat dari kaca spion Ibu Salma dan Maya berdiri di pinggir jalan dengan tas-tas besar, sementara rumah megah itu kini gelap dan terkunci rapat dengan garis kuning melintang di pintunya.

Hana mengambil ponselnya dan menelepon ibunya di desa.

"Halo, Bu? Bilang pada Bapak... besok Hana pulang. Hana membawa kabar baik. Bapak tidak perlu lagi bersembunyi dari siapa pun. Kita sudah menang."

Suara tangis haru ibunya di seberang telepon menjadi melodi terindah yang pernah Hana dengar. Ia menyandarkan kepalanya di jok mobil, menatap lampu-lampu jalanan Jakarta yang berkilauan. Kesabarannya memang sudah selesai, namun hidupnya yang sebenarnya baru saja dimulai.

Di penjara, Aris mendapatkan kabar bahwa rumahnya telah disita. Ia berteriak histeris, menghantamkan kepalanya ke jeruji besi sampai petugas harus mengamankannya. Ia kehilangan segalanya: hartanya, keluarganya, dan yang paling menyakitkan, ia kehilangan satu-satunya wanita yang pernah dengan tulus mau membasuh kakinya di setiap senja.

1
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!