NovelToon NovelToon
Academy Of Fallen Marks

Academy Of Fallen Marks

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percikan yang Membara

Cahaya matahari yang hangat dari Hutan Noxara seolah terputus dengan garis tegas saat mereka bertiga melangkahkan kaki melewati perbatasan Hutan Abyss. Udara seketika berubah menjadi dingin dan lembap, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa energi magis yang membusuk. Pepohonan di sini tidak memiliki daun; dahan-dahannya yang hitam dan meliuk tampak seperti jemari raksasa yang mencoba menggapai langit yang selalu tertutup kabut abu-abu.

Baru saja sepuluh langkah mereka masuk ke dalam zona terlarang itu, semak-semak berduri di depan mereka bergoyang hebat. Seekor monster melompat keluar dengan suara groooar yang parau, namun bukannya ketakutan, langkah mereka justru terhenti karena kebingungan.

Monster itu memiliki tubuh bulat seperti babi hutan, namun kaki-kakinya panjang dan kurus seperti laba-laba, dengan wajah yang menyerupai topeng kayu retak yang menangis. Bentukannya yang tidak proporsional dan gerakannya yang canggung saat mencoba menyeimbangkan tubuh bulatnya di atas kaki kerempeng itu terlihat sangat absurd.

"Pffft... Hahahaha!" Daefiel meledak dalam tawa, memegangi perutnya sembari menunjuk mahluk malang itu. "Serius? Ini yang menghalangi jalan kita? Abyss benar-benar punya selera humor yang buruk hari ini!"

Meskipun Daefiel tertawa, Vivienne tidak menurunkan kewaspadaannya. "Jangan meremehkan apa pun di sini, Daefiel! Bentuknya mungkin konyol, tapi energinya tidak stabil."

Monster itu tampaknya tersinggung oleh tawa Daefiel. Ia memekik nyaring dan melesat maju dengan kecepatan yang tak terduga. Namun, sebelum monster itu sempat menyentuh ujung sepatu mereka, atmosfer di sekitar Daefiel berubah.

Semangat Daefiel yang meledak-ledak seolah memicu inti mana aslinya. Dalam sekejap, pusaran api oranye yang murni dan terang membumbung tinggi, menyelimuti seluruh tubuhnya. Api itu berkobar dengan dahsyat, menjilat-jilat udara, namun anehnya, seragam akademi Arcanova yang ia kenakan tidak terbakar sedikit pun. Bahkan helai rambutnya pun tetap utuh meski dikelilingi lidah api yang panas. Ini bukan kekuatan iblis yang gelap; ini adalah sihir api murni tingkat tinggi yang menjadi bakat alami keluarga Daefiel.

"Lihat ini, kalian berdua!" seru Daefiel dengan seringai lebar yang mengerikan di tengah kobaran api. "Aku tidak butuh 'iblis' itu hanya untuk mengurus serangga sepertimu!"

Lucien dan Vivienne terpaku sejenak. Mereka terkejut bukan karena kekuatan apinya, melainkan karena kontrol Daefiel yang begitu liar namun presisi. Daefiel melayangkan satu tinju kosong ke arah monster itu. Gelombang panas yang luar biasa melesat maju, menghantam tubuh monster bulat itu hingga terpental ke batang pohon hitam.

BOOM!

Begitu terkena kontak dengan api oranye Daefiel, monster itu tidak berdarah atau hancur berkeping-keping. Sesuai dengan hukum alam Hutan Abyss, tubuh mahluk itu seketika memudar, berubah menjadi abu hitam yang halus yang kemudian tertiup angin dan menghilang tanpa sisa.

"Mudah sekali!" Daefiel tertawa mengejek, memadamkan apinya sembari menatap tangannya yang masih mengeluarkan uap panas. "Bagaimana, Lucien? Apa kau masih mau pamer petir hitammu, atau biarkan aku yang membakar jalan kita sampai ke jantung hutan ini?"

Lucien hanya menyipitkan mata, merasakan bahwa kemenangan kecil ini hanyalah pembukaan dari sesuatu yang jauh lebih gelap yang sedang menunggu mereka di balik kabut.

Tawa Daefiel belum benar-benar reda saat tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar pelan. Tidak ada raungan, tidak ada hawa keberadaan yang tajam. Namun, permukaan tanah yang semula tampak seperti tanah hitam biasa mendadak berubah menjadi cair dan pekat.

"A-apa?!" pekik Vivienne.

Tanpa sempat menghindar, kaki Vivienne amblas ke dalam sebuah kubangan lumpur hidup yang muncul secara instan. Lumpur itu seolah memiliki kesadaran; ia melilit kaki Vivienne dan menariknya ke bawah dengan kekuatan yang mengerikan. Dalam hitungan detik, tubuhnya sudah terbenam hingga sepinggang.

"Vivienne! Jangan bergerak!" teriak Lucien. Ia hendak merapalkan sihir petirnya, namun ia segera mengurungkan niatnya. Jika ia melepaskan petir ke arah lumpur itu, aliran listriknya justru akan menyetrum Vivienne melalui media cair tersebut.

Daefiel pun panik. "Aku akan membakarnya sampai kering!"

"Jangan, bodoh!" bentak Lucien sembari menepis tangan Daefiel. "Jika kau mengeringkan lumpur itu dengan apimu, lumpur itu akan mengeras dan menjepit Vivienne hidup-hidup di dalamnya! Dia akan hancur bersama tanah itu!"

Vivienne mencoba merapalkan sihir airnya untuk mengencerkan lumpur, namun lumpur itu justru seolah menyedot mananya dan semakin cepat menariknya turun. "Sial... sihir airku tidak berguna! Dia memakan manaku!"

Lucien dan Daefiel segera berlutut di tepi kubangan, masing-masing menyambar satu tangan Vivienne. Mereka menarik dengan sekuat tenaga, namun tarikan lumpur itu jauh lebih kuat. Wajah Vivienne mulai memucat saat lumpur kini sudah mencapai dadanya.

"Lepaskan aku!" seru Vivienne, matanya berkilat antara ketakutan dan keputusasaan. "Kalian berdua hanya akan ikut terseret ke dalam jika terus memegangku!"

"Kami tidak akan melepaskanmu, Vivienne!" geram Daefiel, meski kakinya mulai ikut tergelincir.

"Aku bilang LEPASKAN!"

Vivienne memejamkan matanya rapat-rapat. Ia bisa merasakan simbol Bulan Hitam yang berada di lehernya mulai berdenyut panas, menyebarkan sensasi dingin yang aneh ke seluruh sarafnya. Ia tidak punya pilihan lain. Daripada mati terkubur sebagai manusia biasa, ia akan menggunakan kegelapan itu.

BOOM!

Tiba-tiba, dari balik punggung Vivienne, sebuah tangan bayangan raksasa berwarna hitam legam muncul membelah permukaan lumpur. Tangan itu begitu besar dan kuat, ia mencengkeram bahu Vivienne dan mengangkat tubuh gadis itu keluar dari dalam lumpur dengan satu gerakan sentakan yang sangat mudah, seolah-olah Vivienne hanya seringan kapas.

Vivienne terlempar ke daratan yang keras, mendarat dengan napas tersengal. Tangan bayangan itu menghilang ke dalam bayangannya sendiri secepat ia muncul.

"Gila... itu tadi apa?" Daefiel melongo, menatap tempat di mana tangan raksasa itu tadi muncul.

Vivienne bangkit berdiri, namun wajahnya langsung berubah menjadi masam saat melihat jubah Arcanova ungu miliknya kini tertutup lumpur hitam yang menjijikkan. "Jubah kesayanganku... kotor semua!" gerutunya kesal. Ia segera merapalkan sihir air murninya, menyiram seluruh tubuhnya untuk membasuh sisa-sisa lumpur tersebut tanpa mempedulikan dirinya yang kini basah kuyup.

Lucien mendekat, menatap leher Vivienne dengan saksama. "Kau baik-baik saja? Tidak ada rasa sakit? Bayaran apa yang kau rasakan?"

Vivienne terdiam sejenak, meraba lehernya dan mencoba merasakan aliran mananya. "Aneh... aku tidak merasakan sakit sama sekali. Tidak seperti saat di Abyss pertama kali. Rasanya... justru sangat ringan. Seperti kekuatan itu memang bagian dari tanganku sendiri."

Mereka bertiga saling pandang. Jika penggunaan kekuatan kutukan ini mulai tidak menimbulkan rasa sakit, apakah itu pertanda mereka sudah mulai menguasainya, ataukah itu pertanda bahwa 'iblis' di dalam diri mereka sudah mulai menyatu dengan jiwa mereka?

1
gempi
h
Sean Sensei
/Shame/ Vivienne baru saja kena 'mental' dua kali: pertama karena tanda misterius di tulang selangkangannya, kedua karena disindir soal nilai ujian sama Daefiel. Suka banget sama dinamika karakternya, Daefiel kelihatan tipe cowok yang menyebalkan tapi bikin nagih. Semangat nulisnya!
REY ASMODEUS
aku suka 💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!