Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.
Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.
Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.
Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.
Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELARIAN DARI SANGKAR EMAS
POV Maria Joanna
Jam di dinding kamarku berdentang menunjukkan pukul dua dini hari. Suasana istana Palacio de la Zarzuela begitu sunyi, hanya menyisakan suara embusan angin yang menyapu taman labirin di bawah balkonku. Namun, kesunyian ini menipu. Aku tahu bahwa di balik dinding-dinding batu tua ini, ratusan sensor gerak dan kamera inframerah sedang mengawasi setiap inci pergerakanku.
Aku sudah mengganti gaun sutra mahalku dengan pakaian pelayan dapur yang diberikan Lucia tadi sore. Aku mengikat rambutku tinggi-tinggi dan menutupi wajahku dengan topi rajut kusam. Di dalam tas kecil yang kusampirkan, hanya ada ponsel cadangan, paspor darurat, dan liontin singa emas milik Ibu.
"Maafkan aku, Ayah," bisikku pada bayanganku di cermin. "Tapi aku tidak bisa hidup dalam kebohongan yang kau ciptakan."
Aku melangkah perlahan menuju pintu rahasia di balik lemari besar, jalur pelayan yang Lucia tunjukkan padaku. Lorong itu sempit, gelap, dan berbau debu kuno. Jantungku berdegup begitu kencang hingga aku takut suaranya akan memicu alarm. Aku harus sampai ke gerbang belakang sebelum pergantian giliran jaga tim Sebastian dalam sepuluh menit ke depan.
Sebastian duduk di depan deretan monitor ruang kendali keamanan istana. Matanya yang tajam tidak pernah lepas dari layar yang menampilkan koridor sayap kanan istana. Ia menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin, merasa ada kegelisahan yang tidak biasa malam ini.
"Status Sayap Kanan?" tanya Sebastian melalui radio komunikasi.
"Lapor, Komandan. Semua aman. Putri Maria terdeteksi berada di kamarnya melalui sensor panas tubuh," jawab seorang petugas keamanan.
Sebastian menyipitkan mata. Ia melihat layar sensor termal. Memang benar, ada sumber panas di atas tempat tidur Maria. Namun, Sebastian adalah seorang ahli yang pernah bekerja untuk Badan Intelijen CNI. Ia merasa ada yang salah dengan pola napas dari sumber panas tersebut.
"Perbesar layar sensor termal di kamar Putri," perintah Sebastian tegas.
Begitu gambar diperbesar, Sebastian mengumpat keras. Sumber panas itu tidak bergerak secara alami. Itu adalah pemanas elektrik yang sengaja diletakkan di bawah selimut untuk menipu sistem.
"Sial! Putri melarikan diri! Tutup semua gerbang! Aktifkan protokol Red Eagle!" teriak Sebastian sambil melompat dari kursinya dan berlari menuju lorong istana.
POV Maria Joanna
Aku berhasil keluar dari gerbang belakang tepat saat lampu darurat berwarna merah mulai berputar di seluruh penjuru istana. Suara sirine meraung-raung membelah kesunyian malam, membuat burung-burung di taman terbang berhamburan.
"Cepat, Maria! Jangan menoleh!" aku memacu kakiku menuju jalan raya utama di luar kompleks istana.
Sebuah taksi tua yang sudah kupesan melalui aplikasi anonim sudah menunggu di bawah pohon besar yang redup. Begitu aku masuk, taksi itu langsung melesat menuju Stasiun Atocha Madrid. Rencanaku adalah naik kereta cepat AVE menuju Sevilla. Aku harus menghilang di tengah keramaian sebelum Sebastian melacak lokasiku melalui jaringan GPS kota.
Di dalam taksi, aku terus memantau ponselku. Aku melihat berita utama di portal berita Spanyol mulai bermunculan: "Putri Mahkota Maria Joanna Menghilang dari Istana". Berita ini akan segera menjadi skandal internasional. Ayah pasti sedang murka sekarang.
Arthur berdiri di balkon kamar Maria yang kini kosong. Ia meremas kertas laporan medis yang tadi Maria sembunyikan namun tertinggal karena terburu-buru. Wajah Arthur tampak hancur, bukan karena marah, tapi karena rasa takut yang mendalam.
"Dia tahu, Sebastian..." suara Arthur bergetar. "Dia tahu tentang Julia di rumah sakit jiwa itu."
Sebastian berdiri di belakangnya dengan kepala tertunduk. "Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba gagal menjaganya. Hamba akan segera mengerahkan seluruh unit untuk menjemput Putri di stasiun."
"Jangan gunakan kekerasan!" bentak Arthur. "Jika dia sampai tahu siapa sebenarnya pria bernama 'El Halcon' itu sebelum aku menjelaskannya, dia tidak akan pernah mau kembali ke istana ini selamanya."
Arthur menatap langit malam Madrid dengan tatapan kosong. "Dua puluh tahun aku membangun kebohongan ini untuk melindunginya dari kemarahan kakeknya di China dan keluarga permaisuri lama di sini. Tapi sepertinya, naga kecilku lebih memilih untuk membakar dirinya sendiri demi mencari kebenaran."
POV Maria Joanna
Aku tiba di Stasiun Atocha yang sangat luas. Dengan topi yang ditarik rendah, aku berjalan di antara kerumunan turis pagi. Aku berhasil membeli tiket secara tunai dan masuk ke dalam gerbong kereta menuju Sevilla.
Saat kereta mulai bergerak meninggalkan Madrid, aku menghela napas lega untuk pertama kalinya. Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama. Di kursi seberangku, seorang pria bertopi fedora dengan koran di tangannya terus memperhatikanku.
Saat ia menurunkan korannya sedikit, aku melihat tato kecil di pergelangan tangannya—berbentuk Kepala Burung Elang.
El Halcon.
Pria itu tersenyum tipis, seolah ia sudah menungguku sejak tadi. Ia berbisik pelan, hampir tak terdengar di antara deru kereta, "Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Putri Maria. Ibumu sudah menunggu."
Jantungku hampir melompat keluar. Apakah pria ini kawan atau lawan? Dan apa maksudnya Ibu sudah menunggu? Apakah Ibu benar-benar masih hidup dan menungguku di Sevilla?
Pria bertato Elang itu membungkuk ke arahku, lalu membisikkan sesuatu yang membuat seluruh duniaku serasa berhenti berputar.
"Jangan menoleh, Putri. Tapi pria yang duduk tepat di belakangmu sejak dari stasiun tadi... dia bukan orang Ayahmu. Dia membawa racun saraf di sakunya, dan dia memiliki perintah untuk memastikan kau tidak pernah sampai ke Sevilla hidup-hidup."
Aku membeku. Aku merasa sebuah benda dingin menyentuh punggungku dari sela-sela kursi. Itu adalah ujung jarum suntik.