Mengisahkan seorang Perwira Angkatan Darat bernama Lucas Abner yang sangat mencintai pekerjaannya. Pengabdiannya sebagai seorang tentara tidak bisa di ragukan. Dia bisa berada di korps pasukan khusus karena kelincahannya. Jatuh cinta kepada seorang perempuan yang dia temui dirumah sakit waktu menjengguk sahabatnya. Apakah Lucas bisa memikat hati perempuan itu ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bentuk Bahagia
Selesai makan malam, dalam rangka hari ulang tahun papanya. Lucas pamit kembali kesatuannya. Setelah memeluk mama dan antie juga papanya.
"Antie, salam ya sama dokter Joy bilang dari keponakan antie yang ganteng."
"Entar dokter Joy muntah lagi."
"Heee kenapa bisa mama. Tetapi aku serius antie. Sampaikan salamku kepada dokter Joy."
"Oke keponakan ganteng antie."
Dua minggu sudah Joy bekerja satu rumah sakit dengan dokter Rebeca Mony antienya Lucas. Dan setiap pagi ketika bertemu selalu menyampaikan salam dari Lucas. Namun ketika bertemu dengan Lucas , Joy tidak perna membahas tentang salamnya. Kecurigaan Lucas, bahwa Joy pasti tidak berterus terang kepada antienya bahwa dia itu pacarnya Lucas. Dan dia tersenyum melihat kepada Joy yang sedang memasak. Hati Lucas berkata awas kamu ya sayang.
"Sayang aku masak sayur sup dan ayam rica - rica. Kamu mau makan kan?"
" Iya dong." Lucas baru saja membatu Joy membaca beberapa profil panti jompo yang di kirim Bella pada email Joy. Seperti niatnya ingin menyumbang ke dua panti jompo itu untuk membantu administrasi mereka mengurus orang- orang tua dalam rangka setahun pengucapan syukur atas meninggal maminya. Semua kesiapan sudah selesai di rampung tinggal harinya saja.
Sekarang Joy juga sedang diskusi tentang rencananya membeli kendaraan sebagai mobilisasinya ke tempat kerja. Joy ingin membeli motor, namun Lucas tidak menyetujuinya karena mengingat pekerjaannya yang bisa saja tengah malam atau subuh keluar dari rumah sakit. Dan keputusan bulat mereka saat makan malam bersama bahwa akan membeli mobil.
"Sayang lauk ayam rica - ricanya banyak, aku siapin buat kamu bawa ke mess ya. Biar pagi bisa di panasi buat sarapan." Lucas tersenyum.
"Perhatian banget sih. Memang sudah cocok jadi ibu persit."
"Ya itu kalau sayang suka. Kalau ngak juga tidak masalah." Lucas mendekat dan mencium bibirnya.
"Apa yang kamu buat aku suka dan aku mau jadi siapkan ya sayang."
"Kenapa sih harus pakai di cium segala."
"Biar tutup mulut cerewet kamu."
Ternyata lauk ayam yang di masak Joy Debora di bawa pulang ke rumah orangtuanya.
"Bawa apa dek?? Tumben baik banget."
"Lauk ayam rica - rica."
"Apa rica - rica nyong??"
"Ayam papa, bukan danging haram itu."
"Kalau daging haram pasti enak."
"Kamu masak nyong?? Tumben kok enak ya."
"Iya ya ma, enak sekali."
"Benaran loh nyong ini enak mama suka. Sering - sering masak ya dan bawa kesini."
"Benaran???"
"Iya. Nyong seperti bukan kamu yang masak deh??" Lucas tertawa.
"Itu masakan pacar Lucas."
"Kok nyong ngak bawa kenalin ke mama dan papa sih."
"Papa lihat dulu fotonya, cantik tidak??" Lucas melihatkan foto kebersamaan Lucas bersama dokter Joy di tempat tugas dan di apartemen Joy.
"Weh cantik dan manis nyong. Dokter ya???"
"Mama juga mau lihat???" Mamanya Lucas langsung merebut handphone anaknya dari tangan suami.
"Ini kan dokter Joy Debora. Nyong dokter Joy pacar kamu???" Lucas hanya tersenyum.
"Nyong bungkus bawa ke mama dan papa. Calon menantu idaman itu. Bagaimana ma?"
"Anaknya ramah dan murah senyum.Mama kenal baik dengan anak itu, dulu di rumah sakit mama sudah mengangapnya seperti anak sendiri. Waktu mama tahu maminya meninggal mama sedih sekali."
"Joy tidak tahu, kalau lauk yang di masak adek bawa buat mama dan papa makan. Itu sebenarnya lauk buat ade sarapan besok."
"Pantas jarang pulang ke rumah. Ternyata sudah ada yang bantu mama ngurus." Lucas langsung memeluk mamanya. Semalam Lucas tidak pulang ke markas, dia bermalan di rumahnya. Dia tidak tahu, kalau mama sudah memberitahu kepada antienya, bahwa dokter Joy itu pacarnya Lucas.
Pagi hari di rumah sakit, seperti biasa Joy Debora akan bertemu dengan dokter Rebeca Mony. Mereka bertegur sapa. Namun ada hal yang membuat Joy sedikit berpikir dengan kata - kata dokter Beca.
"Terima kasih dok, Ayam rica - ricanya enak, tadi pagi aku kebagian menikmatinya untuk sarapan pagi. mama dan papa Lucas juga menikmatinya." Seketika mukanya merah. Dokter Beca tersenyum dan meninggalkan Joy dengan pikirannya.
Joy langsung menghubungi Lucas namun tidak di angkat, pasti ada apel dan kegiatan. Siang hari waktu jam istirahat siang Lucas baru bisa menghubungi Joy. Karena mereka ada briefing penting.
"Hallo."
" Maaf sayang, tadi ada briefing penting jadi baru bisa hubungi kamu."
"Its oke."
"Kamu dimana?"
"Di kantin mau makan siang. Sayang jawab jujur ya aku mau tanya, janji."
"Iya. Ada apa??"
"Semalam lauk buat sarapan kamu bawa kemana??" Lucas tertawa.
"Orang tuaku sudah tahu sayang kalau dokter Joy Debora spesialis bedah adalah pacar anak mereka Kapten Lucas Abner Gosal." Muka Joy seketika sudah merah, sementara diseberang Lucas hanya tertawa.
"Baru dari mana dokter Beca tahu??"
"Sepertinya waktu pamit mau ke markas pagi tadi, mama ada telephone dengan antie. Pasti antie mampir sarapan dirumah dengan lauk yang kamu buat."
"Jangan begitu dong sayang tadi hampir saja aku pingsan di depan dokter Beca." Lucas semakin tertawa.
"Mereka suka loh sayang. Papa malah minta yang daging haram di masakin seperti itu."
Joy hanya bisa pasrah, sudah terlanjur masakannya di makan oleh orangtua dan antienya Lucas.
Karena hari libur dan tidak ada jadwal piket. Joy rencana mau pergi membeli mobil, karena ini waktunya Lucas sebelum dia menjalankan tugas lagi bersama tim elite dari pasukan khusus ini.
Lucas datang bersama Daniel. Untung Joy menyiapkan sarapan yang banyak. Mereka bertiga pun menikmati sarapannya. Lucas membawa Daniel , agar dia bisa membawa mobilnya pulang kembali ke markas.
Karena Lucas akan menemani dokter cantik ini di mobil baru yang dia beli. Agar Joy terbiasa dengan mobilnya. Karena sudah lama Joy tidak menyetir mobil. Mobil mamanya di jual waktu oleh papanya karena memang mobil itu yang beli papa. Dan mobilnya juga sudah tua.
Setelah dilihat - lihat.Joy membeli mobil honda keluaran terbaru berwarna kuning telur. Daniel sudah pulang ke markas dengan mobil Lucas. Sekarang Lucas bertugas sebagai co pilot bagi Joy. Setelah satu jam berkendara, Joy sudah sangat lincah.
Mereka sekarang sedang makan bersama di sebuah mall. Joy tidak keberatan makan di cafe papanya. Setelah pesanan makanannya di pesan, Joy sedikit membantu papanya dan Baskara adiknya mengantar pesanan, karena mama sambungnya katanya sedang membawa keluar mengantar orangtuanya berobat ke rumah sakit. Jadi di cafe hanya ada papa dan Erick adik laki- lakinya.
Joy tersenyum kepada Baskara. Dia tahu bahwa Erick tidak salah, mereka hadir karena kesalahan papa dan mama mereka. Informasi yang Joy dapat, bahwa Erick anak yang baik dan penurut. Dia juga tahu status mama dan papanya juga status Joy sebagai kakaknya.
"Terima kasih kakak." Joy tersenyum dan mengusap kepala adiknya. Joy menuju ke meja mereka disana sudah ada Lucas yang menunggu.
"Kamu tidak membenci mereka?"
"Awal - awal tahu dia ada di dunia, aku marah, karena papa tidak memperhatikanku. Namun mama selalu berkata biar bagaimana pun itu adik kamu." Lucas mengusap kepala Joy.
"I love you. Kamu hebat sayang. Bangga aku." Selesai makan, Joy sengaja ke toilet karena dia melihat Erick baru keluar dari sana.
"Kakak Joy." Hanna tersenyum padanya.
"Kenapa tadi Erick tidak sekolah??
"Erick tadi pusing disekolah kak, makanya Erick diijinkan pulang oleh guru."
"Kenapa tidak langsung kerumah sakit bersama ibu??"
"Ibu sudah keluar mengantar oma dan opa periksa."
"Bilang papa besok bawa kamu berobat ke rumah sakit. Kakak Joy tunggu di rumah sakit ya."
Sebelum Joy pulang dia mengirim uang kedalam rekening adeknya. Erick begitu kaget melihat nominal uang yang kakaknya berikan dua puluh juta. Dan tak lama ada pesan dari Joy.
"Ini buat Erick beli kebutuhan sekolah atau jajan. Jangan boros ya. Kalau kakak ada berkat, nanti kakak berbagi lagi bersama kamu."
Erick yang membaca pesan kakaknya langsung menangis. Dan menyampaikan kepada papanya.
"Kakak kirim uang buat Erick, dua puluh juta papa." Alfons menangis sambil memeluk Erick anaknya.