NovelToon NovelToon
Aku Tidak Sengaja Menyatu Dengan Artefak Dan Sekarang Semua Orang Ingin Membunuhku!!

Aku Tidak Sengaja Menyatu Dengan Artefak Dan Sekarang Semua Orang Ingin Membunuhku!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Perperangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: celvinworks

Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi Pertama

Pagi datang dengan kebisingan jalanan—pedagang berteriak menawarkan dagangan, gerobak berderit di atas batu-batu jalan, anak-anak berlari dan tertawa. Aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa nyeri dari pertarungan kemarin, tapi setidaknya itu jauh lebih baik dari tidur di lantai hutan.

Mira sudah menyiapkan sarapan ketika aku turun—roti hangat, sup kental dengan potongan daging dan sayuran, bahkan telur rebus. Lebih banyak makanan dari yang pernah kuhabiskan dalam satu dudukan sejak meninggalkan Ashfall.

"Makan yang banyak," katanya sambil menyendok sup ke dalam mangkuk. "Kamu terlalu kurus untuk usiamu. Kakekmu tidak memberimu makan dengan benar?"

Dadaku terasa sesak saat Kakek disebut, tapi aku memaksakan senyum. "Ia memberi cukup. Aku saja yang... terlalu banyak berlatih, terlalu sedikit makan."

Torin duduk di meja dengan Ellie yang masih setengah tertidur, bersandar di bahunya. Ia menatapku dengan ekspresi yang lebih serius dari semalam. "Kael, aku tidak ingin mencampuri urusanmu—tapi sebagai seseorang yang dulu adalah petualang sebelum menetap di sini, aku bisa melihat kamu membawa beban yang berat."

Aku berhenti mengunyah, menatapnya dengan waspada.

"Aku tidak akan bertanya apa itu," lanjutnya, mengangkat satu tangan. "Tapi aku akan memberimu saran: jika kamu serius ingin mencapai Academy, kamu butuh sumber daya. Emas untuk perjalanan, perlengkapan yang layak, mungkin pengawal atau kafilah untuk keselamatan. Dan cara tercepat untuk mendapatkan semua itu adalah—"

"Hunter's Guild," aku memotong, memahami ke mana arah pembicaraannya.

Ia mengangguk. "Tepat. Millhaven punya cabang kecil di alun-alun utama. Mereka selalu mencari orang untuk menangani quest-quest lokal—penaklukan monster, misi pengawalan, pengumpulan barang langka. Bayarannya lumayan, dan jika kamu mengumpulkan cukup poin kontribusi, kamu bisa mendapatkan surat rekomendasi untuk ujian masuk Academy."

Aku sudah tahu tentang Hunter's Guild dari buku-buku Kakek—organisasi independen yang beroperasi di seluruh Avalon, menerima semua ras tanpa diskriminasi, menangani pekerjaan yang tidak mau atau tidak bisa ditangani pemerintah atau militer. Sempurna untuk seseorang sepertiku: tidak ada pertanyaan tentang latar belakang, pembayaran berdasarkan kinerja, dan akses ke informasi yang sulit ditemukan di tempat lain.

"Aku akan pergi hari ini," kataku. "Terima kasih atas sarannya."

Mira tersenyum, menuangkan lebih banyak sup ke mangkukku meski yang pertama belum habis. "Hati-hati di Guild. Banyak petualang di sana yang kasar. Jangan cari masalah."

Aku berjanji tidak akan, meski jauh di dalam aku tahu janji itu mungkin akan pecah lebih cepat dari yang kuharapkan.

Hunter's Guild Millhaven menempati alun-alun utama—bangunan dua lantai yang lebih besar dari kebanyakan toko di sekitarnya, dengan papan besar bergambar dua pedang bersilang di atas perisai. Bahkan dari luar aku sudah bisa mendengar kegaduhan di dalamnya—orang-orang berbicara keras, tertawa, kadang berdebat.

Aku menarik napas dalam, memeriksa pedang di punggungku untuk memastikannya terpasang dengan benar, lalu mendorong pintu masuk.

Bagian dalamnya lebih ramai dari yang kubayangkan. Ruangan besar dengan langit-langit tinggi, puluhan meja dan kursi berserakan ke mana-mana dan dipenuhi orang-orang dengan berbagai perlengkapan—baju zirah kulit, pelat besi, jubah dengan tongkat sihir, bahkan beberapa yang berpakaian kasual membawa senjata-senjata eksotis. Manusia, elf, kurcaci, beberapa beastfolk, bahkan satu orc bertubuh besar yang duduk di sudut dengan kapak bermata dua di punggungnya.

Di dinding kiri tergantung papan besar yang dipenuhi perkamen—papan quest, rupanya, dengan berbagai pekerjaan yang terpasang di sana. Di kanan terdapat meja panjang dengan tiga resepsionis yang tampak kewalahan melayani antrean petualang.

Dan di tengah ruangan, satu meja besar dikelilingi lima orang yang sedang... bertengkar.

"SUDAH KUBILANG AKU YANG DAPAT PUKULAN TERAKHIR!" seorang pria besar dengan baju zirah yang penyok meraung, menghantam meja dengan kepalan tangan cukup keras hingga mug bir di atasnya tumpah. "JADI BONUS HADIAHNYA HARUSNYA MILIKKU!"

"OMONG KOSONG!" seorang perempuan dengan busur di punggungnya membalas, berdiri dalam posisi agresif. "Kamu cuma menghabisi monster yang SUDAH SEKARAT karena aku menembak titik vitalnya! Hadiah itu MILIKKU!"

Yang lain di meja itu ikut berteriak, suara-suara bertumpuk menjadi kekacauan yang membuat kepalaku berdenyut.

Aku memutuskan untuk mengabaikan mereka dan langsung menuju meja pendaftaran, bergabung dengan antrean yang untungnya hanya ada tiga orang.

Petualang di depanku—seorang elf tinggi berambut hijau dengan busur yang elegan—melirik ke belakang dan mempelajariku sebentar. Matanya berhenti di pedang di punggungku, lalu beralih ke wajahku, dan ia mengangkat satu alis. "Baru?"

"Ya," aku menjawab singkat, tidak ingin percakapan panjang.

Ia tersenyum tipis—tidak ramah, tapi juga tidak bermusuhan. Lebih seperti... geli. "Semoga beruntung. Para resepsionis di sini... demanding." Kemudian ia berbalik lagi, mengabaikanku sepenuhnya.

Antrean bergerak cepat. Lima menit kemudian aku berdiri di meja, berhadapan dengan seorang resepsionis—perempuan paruh baya dengan kacamata tebal dan ekspresi yang dengan jelas mengatakan ia sudah bosan dengan pekerjaannya.

"Nama, tujuan, peringkat saat ini," katanya tanpa mengangkat pandangan dari berkas di depannya, suara monoton.

"Kael. Pendaftaran baru. Belum punya peringkat."

Kini ia mendongak, menatapku melewati kacamatanya dengan pandangan skeptis. "Umur?"

"Tujuh belas."

"Tujuh belas," ia mengulang, suara datar. Ia meletakkan penanya, bersandar ke belakang di kursinya dengan tangan bersilang. "Anak muda, kamu tahu ini Hunter's Guild, bukan klub petualangan untuk anak-anak yang bosan, kan? Orang mati di sini. Banyak. Setiap minggu ada yang tidak kembali dari quest."

"Aku tahu," aku menjawab, suara lebih keras dari yang kumaksudkan. "Dan aku tetap ingin mendaftar."

Ia mempelajariku cukup lama, seperti berusaha memutuskan apakah aku serius atau hanya anak bodoh yang berdelusi tentang kepahlawanan. Akhirnya ia menghela napas, mengambil penanya lagi. "Baiklah. Nama lengkap?"

"Cukup Kael."

Satu alis terangkat. "Nama keluarga?"

"Tidak punya."

Ekspresinya berubah sedikit—dari kesal menjadi penasaran. Ia menulis sesuatu di perkamen. "Pelatihan tempur?"

"Dari kakekku. Pedang dan kemampuan bertahan hidup dasar."

"Afinitas sihir?"

Aku ragu. Jika menyebut sihir void, itu akan memicu terlalu banyak pertanyaan. "Belum yakin. Masih menjajaki."

Ia menulis lagi. "Perlengkapan?"

"Pedang, jubah perjalanan, perbekalan dasar."

"Surat rekomendasi dari siapa?"

"Tidak ada. Pendaftaran mandiri."

Ia berhenti menulis, menatapku dengan tatapan yang lebih tajam. "Pendaftaran mandiri berarti kamu mulai di peringkat F. Quest tingkat paling bawah, bayaran minimal, dan jika kamu mati di quest pertama, Guild tidak akan menyelidiki atau memberikan kompensasi kepada keluargamu. Yakin?"

Aku mengangguk. "Yakin."

Ia menghela napas lagi—lebih dalam kali ini, seperti lelah melihat anak-anak idealistis yang datang silih berganti dan sebagian besar tidak pernah kembali. "Baiklah. Biaya pendaftaran lima koin perak. Kamu akan mendapat Guild Card peringkat F, akses ke papan quest untuk quest F dan E, dan prioritas layanan di toko-toko mitra Guild untuk perlengkapan dan ramuan."

Aku mengeluarkan lima koin perak dari kantong yang Kakek siapkan—bagian dari kekayaan kecil yang ia tinggalkan. Meletakkannya di meja.

Sang resepsionis mengambilnya, memasukkannya ke dalam laci, lalu mengambil sesuatu dari bawah meja—kartu logam tipis seukuran telapak tangan, kosong tanpa tulisan apa pun. Ia meletakkan kartu itu di atas perkamen yang sedang diisinya, bergumam dalam bahasa yang tidak kukenal—mantra, rupanya—dan kartu itu bersinar sebentar.

Ketika cahaya memudar, teks muncul di permukaan kartu:

NAMA: Kael

PERINGKAT: F

AFILIASI: Hunter's Guild - Cabang Millhaven

TERDAFTAR: [Tanggal hari ini]

QUEST SELESAI: 0

POIN KONTRIBUSI: 0

Ia menyerahkan kartu itu padaku. "Jangan hilangkan. Kalau hilang, biaya penggantian sepuluh koin emas. Papan quest ada di sana—peringkat F hanya bisa mengambil quest dengan penanda putih atau hijau muda. Jika kamu cukup nekat mengambil quest peringkat lebih tinggi dan mati, itu urusanmu."

"Mengerti," aku berkata, menyimpan kartu ke dalam kantongku. "Terima kasih."

"Ya, ya." Ia sudah kembali ke berkasnya, melambai sekenanya. "Berikutnya!"

Aku berjalan ke papan quest, memeriksa puluhan perkamen yang terpasang di sana. Sebagian besar memiliki penanda berwarna berbeda di sudut atas—putih, hijau muda, hijau tua, biru, ungu, merah. Peringkat F hanya bisa mengambil yang putih dan hijau muda.

Aku membaca beberapa di antaranya.

[PUTIH - PERINGKAT F]

Quest: Kumpulkan 20 Bunga Moonbell

Lokasi: Hutan Silverwood - Tepian Selatan

Hadiah: 5 Koin Perak

Kesulitan: Mudah

Catatan: Tanpa pertempuran. Bunga mekar malam hari, memancarkan cahaya biru samar.

[PUTIH - PERINGKAT F]

Quest: Antar Paket ke Peternakan

Lokasi: 10km Timur Millhaven

Hadiah: 3 Koin Perak

Kesulitan: Mudah

Catatan: Harus tiba sebelum matahari terbenam. Isi mudah pecah.

[HIJAU MUDA - PERINGKAT E]

Quest: Taklukkan Kelinci Bertanduk (5-10 ekor)

Lokasi: Padang Rumput Utara Kota

Hadiah: 10 Koin Perak + Bonus untuk Kulit Utuh

Kesulitan: Mudah-Menengah

Catatan: Monster tingkat rendah, tapi agresif saat terpojok.

Aku hampir mengambil quest pengiriman paket—sederhana, aman, uang mudah—tapi sesuatu membuat tanganku berhenti.

Terlalu mudah. Dan aku tidak datang ke sini untuk bermain aman.

Mataku beralih ke quest lain di bagian hijau muda:

[HIJAU MUDA - PERINGKAT E]

Quest: Selidiki Domba yang Hilang

Lokasi: Peternakan Pak Geld - 8km Barat

Hadiah: 15 Koin Perak + Bonus jika Pelaku Ditemukan

Kesulitan: Menengah

Catatan: 12 domba hilang selama 3 hari terakhir. Tidak ada jejak. Kemungkinan keterlibatan monster.

Lebih menarik. Quest investigasi, bukan sekadar mengumpulkan atau mengantarkan. Hadiahannya pun lebih besar.

Aku melepas perkamen itu dari papan dan membawanya ke meja.

Sang resepsionis menatapku dengan ekspresi terkejut. "Sudah pilih? Cepat sekali."

"Quest investigasi ini," aku berkata, meletakkan perkamen di depannya. "Aku ambil."

Ia membacanya sebentar, lalu menatapku dengan pandangan skeptis yang sudah kuhapal. "Anak muda, ini peringkat E. Kamu baru saja daftar peringkat F. Secara teknis kamu bisa mengambilnya karena ini hijau muda, tapi aku sangat menyarankan kamu ambil yang lebih mudah untuk quest pertama."

"Aku ambil yang ini," aku mengulang, suara mantap.

Ia menghela napas untuk ketiga kalinya—rupanya sudah jadi kebiasaan. "Baiklah. Tapi ingat: jika kamu mati, bukan tanggung jawab Guild." Ia mengambil Guild Card-ku, meletakkannya di atas perkamen, dan mengucapkan mantra lagi. Kartu itu bersinar, dan informasinya diperbarui:

QUEST SELESAI: 0 → 0 (Sedang Berjalan: 1)

Ia mengembalikan kartu itu. "Peternakan Pak Geld ada di jalan barat, ikuti tanda penunjuk arah dari kayu. Kamu punya tiga hari untuk menyelesaikan quest ini—jika melewati batas tanpa melapor, quest dianggap gagal dan kamu mendapat catatan penalti di riwayatmu."

"Tiga hari cukup," aku berkata, menyimpan kartu lagi.

"Uh-huh." Suaranya tidak terdengar yakin. "Semoga beruntung. Kamu pasti membutuhkannya."

Aku baru saja berbalik untuk pergi ketika seseorang menghadang jalanku—pria besar dari tadi yang bertengkar di tengah ruangan, masih mengenakan baju zirah penyok itu dengan ekspresi kesal. Di belakangnya, dua rekan—satu dengan tombak, satu dengan busur panah—berdiri dalam postur yang jelas mengintimidasi.

"Hei, anak muda," pria itu berkata, suara dalam dan kasar. "Dengar kamu ambil quest investigasi domba hilang. Kebetulan, kami juga tertarik dengan itu."

Aku menatapnya dengan waspada, tangan tidak jauh dari pedang. "Quest sudah diambil. Cari yang lain."

Senyumnya melebar—sama sekali tidak ramah. "Kamu belum mengerti, anak muda. Ini bukan permintaan. Kamu peringkat F, quest itu terlalu sulit buatmu. Jadi kamu akan berbagi quest itu sama kami—kamu dapat bagian kecil dari hadiahnya, dan kami tidak akan—"

"Tidak," aku memotong, suara dingin. "Quest sudah terdaftar atas namaku. Kalau kamu tertarik, seharusnya lebih cepat mengambilnya."

Ekspresinya berubah—dari kesal menjadi benar-benar marah. "Anak sombong—"

"Marcus."

Suara baru memotong—tenang, tapi dengan ketegasan yang langsung membuat Marcus diam. Seorang pria muncul dari samping, berjalan santai namun entah bagaimana semua orang di sekitarnya otomatis memberi jalan.

Ia lebih tua dari Marcus—mungkin awal tiga puluhan—dengan rambut cokelat pendek, bekas luka di pipi kiri, dan mata yang tampak sudah terlalu banyak melihat pertempuran. Baju zirahnya sederhana tapi terawat, pedang di pinggangnya tidak mewah tapi jelas merupakan senjata seorang profesional.

Marcus mundur selangkah, ekspresinya berubah dari marah menjadi waspada. "Gareth. Ini bukan urusanmu."

"Jadi urusanku ketika kamu mulai mengintimidasi pendaftar baru di tengah aula Guild," Gareth membalas—suara masih tenang, tapi dengan nada ancaman yang jelas. "Kamu tahu aturannya: quest yang sudah diambil tidak bisa dipaksa dibagi. Kalau kamu punya masalah dengan itu, complain ke resepsionis—jangan ancam anak yang baru saja mendaftar."

Marcus mengertakkan giginya, menatap Gareth dengan permusuhan yang nyata, tapi tidak melawan. Setelah beberapa detik, ia mundur dengan gestur kasar. "Terserah. Tapi anak ini bakal mati di quest itu. Quest peringkat E bukan mainan."

Ia pergi bersama dua rekannya, meninggalkan aku dan Gareth berdiri di aula Guild yang tiba-tiba menjadi sedikit lebih sunyi—banyak yang menyaksikan interaksi tadi dengan penasaran.

Gareth berbalik padaku, tersenyum tipis. "Kael, kan? Aku dengar kamu mendaftar tadi."

"Ya," aku berkata, masih waspada meski ia jelas baru saja membantuku. "Terima kasih."

Ia mengangkat bahu. "Marcus memang menyebalkan, tapi tidak sepenuhnya salah. Quest E-rank untuk pemula memang berisiko. Kamu yakin bisa menanganinya?"

"Tidak akan kuambil kalau tidak yakin," aku menjawab, mungkin sedikit defensif.

Senyumnya sedikit melebar—tulus kali ini. "Percaya diri. Aku suka itu." Ia mengulurkan tangan. "Gareth Stone. Hunter peringkat D, sudah lima tahun bersama Guild."

Aku menjabat tangannya—genggaman yang kuat tapi tidak menyakitkan. "Kael."

"Hanya Kael?"

"Hanya Kael."

Ia mengangguk, tidak memaksa lebih lanjut. "Baiklah, Kael. Saran dari senior: quest investigasi itu rumit. Bukan hanya soal membunuh monster, tapi mencari tahu monster apa dan di mana. Kalau butuh bantuan atau saran, aku biasanya ada di sini siang hari. Konsultasi gratis."

"Kenapa membantu?" aku bertanya, curiga. "Kamu tidak mengenalku."

Gareth tertawa—suara yang tulus hingga beberapa orang di sekitarnya ikut tersenyum. "Karena aku ingat pendaftaran pertamaku di Guild. Sendirian, tidak tahu apa-apa, hampir mati di quest pertama karena terlalu keras kepala untuk minta bantuan. Kalau bisa mencegah anak lain melakukan kesalahan yang sama, kenapa tidak?"

Ada sesuatu di matanya—kejujuran yang terasa nyata, tidak seperti keramahan palsu yang sering kulihat. Aku masih belum sepenuhnya mempercayainya, tapi... ia tidak tampak seperti ancaman yang langsung.

"Aku akan ingat itu," kataku. "Terima kasih."

"Tidak masalah." Ia menepuk bahuku sekali, lalu berjalan kembali ke mejanya di sudut. "Semoga beruntung, anak muda. Jangan mati."

Aku meninggalkan aula Guild dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, aku sudah mendapat quest pertama dan sekutu potensial dalam diri Gareth. Di sisi lain, aku sudah membuat musuh dalam diri Marcus dan kelompoknya.

Tapi yang lebih penting—aku punya tiga hari untuk memecahkan misteri domba yang hilang dan membuktikan bahwa aku mampu.

Azure Codex berdenyut pelan di dadaku, ritmenya stabil seperti detak jantung kedua.

"Mari kita lihat apa yang bisa kamu lakukan," aku bergumam pada batu itu sambil menuju jalan barat, menuju peternakan Pak Geld.

Quest pertamaku sebagai hunter dimulai sekarang.

Di atap gedung di seberang aula Guild, sesosok berpakaian gelap berdiri tak bergerak seperti patung, mata terpaku pada anak laki-laki berambut hitam yang berjalan menuju jalan barat.

"Target mengambil quest E-rank. Tipe investigasi," sosok itu berbisik ke dalam kristal komunikasi. "Pilihan yang menarik untuk pemula."

Suara Cassius menjawab, dengan sedikit nada geli. "Anak itu entah jenius atau bodoh. Kita lihat yang mana." Jeda sebentar. "Ada hal lain?"

"Gareth Stone—hunter peringkat D, mantan militer—menawarkan dukungan. Sekutu potensial untuk target."

"Hmm. Stone... aku kenal nama itu. Mantan prajurit dari Front Utara, dicopot setelah insiden yang dirahasiakan. Kemampuan tempur tinggi, kompas moral yang kuat. Bisa menjadi... komplikasi."

"Apakah aku harus—"

"Tidak. Biarkan berkembang secara alami. Jika anak itu bisa merekrut sekutu sendiri, itu pertanda baik." Jeda lagi. "Tapi terus pantau Gareth. Jika ia terlalu dekat atau mulai mengajukan pertanyaan yang salah, laporkan segera."

"Dipahami."

Sosok itu menghilang ke dalam bayangan, meninggalkan atap yang kosong.

Tapi dari sudut yang berbeda—jendela lantai tiga di gedung seberang—sepasang mata amber mengamati dengan senyum kecil.

"Menarik," Lyra bergumam pada dirinya sendiri. "Anak itu memilih jalan yang sulit sejak awal. Entah ia punya keinginan untuk mati, atau ia lebih cerdas dari penampilannya."

Ia menutup jendela, berbalik ke dalam ruangan yang gelap.

"Mari kita lihat, Kael. Mari kita lihat apakah Azure Codex akan membimbingmu—atau menelanmu."

1
NightShadeス
Review novelnya sampe chapter 27, sejauh ini ceritanya cukup seru dan agak santai, mungkin dibeberapa chapter awal emang agak dark sih pengenalan ceritanya. Terus sepertinya world buildingnya agak luas soalnya ada beberapa part yang ngebandingin tempat tempat gitu, yah karena ini masi awal awal jadinya belum bisa review terlalu banyak, intinya mc bisa pake sihir void sama make pedang. Rekomen buat yang suka mc zero to hero👍 mc nya ga langsung op dari awal, ada perkembangan karakternya
celvin: makasi kak udah mau review novelnya, semoga betah ya disini, perjalanan kita masi panjang/Shhh/
total 1 replies
NightShadeス
Temennya turu
Dzakyyy
up min
Dzakyyy: semangattt minnn
total 2 replies
Dzakyyy
ibunya se op apa tuh
Dzakyyy
wkwkwk adaa matematika😭
NightShadeス: ga ekspek/Skull/
total 1 replies
Dzakyyy
badut
Dzakyyy
kekk😭😭 siapa yang naroh bawang sini woyy/Sob/
Dzakyyy
feeling ku ga enak..
Dzakyyy
SERUU BANGETTTT, alurnya ga terlalu cepet, mc nya ga langsung op di awal/Doge/
anggita
ikut ng👍like, sama kasih iklan saja.
celvin: jangan lupa dikasi rating ya kalo suka👀
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!