Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proyek Roro Jonggrang
Kembali ke pembibitan tanaman di Lembang.
Pak Dadang, pemilik pembibitan, menatap Banyu dengan tatapan ragu.
"Den Banyu, bukan saya nggak mau jual. Tapi sekarang ini musim kemarau panjang. Panasnya ngetang-ngetang (menyengat banget). Kalau dipindah sekarang, risiko mati di jalan atau pas ditanam itu 90%," jelas Pak Dadang jujur. "Saran saya, mending DP dulu, barangnya diambil pas musim hujan bulan depan."
Banyu tersenyum santai. Dia tahu kekhawatiran Pak Dadang itu logis untuk petani normal. Tapi Banyu adalah petani cheat.
"Tenang aja, Pak Dadang. Niat baik Bapak saya hargai. Tapi saya butuh barangnya sekarang. Kalau ada yang mati, itu tanggung jawab saya sepenuhnya. Bapak nggak usah ganti rugi."
Melihat Banyu bersikeras (dan sudah melunasi pembayaran di muka), Pak Dadang akhirnya luluh.
"Ya sudah kalau Aden maksa. Malam ini saya suruh anak buah lembur gali 500 bibit. Besok subuh bisa diangkut."
"Siap, nuhun Pak. Saya nunggu di sini aja sekalian ngawasin."
Malam itu, saat para pekerja sedang memindahkan bibit ke atas truk, Banyu melakukan aksi rahasianya. Dia menyiapkan dua drum air besar di dekat truk. Diam-diam, dia meneteskan beberapa tetes Cairan Ajaib ke dalam drum itu.
Setiap bibit yang naik ke truk, akarnya disiram dulu dengan "Air Sakti" racikan Banyu.
Pak Dadang yang melihat itu cuma geleng-geleng kepala. Disiram air biasa mana mempan lawan panas besok siang, pikirnya. Dia tidak tahu kalau air itu adalah doping kehidupan level dewa.
---
Keesokan harinya, truk pengangkut bibit tiba di Lahan Mustika Farm, Desa Sukamakmur.
Suasana di lahan Banyu sedang sibuk luar biasa.
Di area sawah, kerangka Greenhouse bambu sudah berdiri kokoh. Beberapa pekerja sedang memanjat, memasang plastik UV sebagai atap. Plastik transparan itu berkilauan ditimpa matahari, membuat lahan itu terlihat modern dan profesional.
Mang Ujang, sang mandor, sedang berteriak-teriak memberi komando dengan toa kecil.
"Woy! Yang di ujung! Plastiknya tarik kenceng! Jangan kendor kayak kolor bekas! Itu aset mahal, jangan sampe sobek!"
Banyu turun dari mobil dan menghampiri Mang Ujang sambil tertawa. "Galak bener, Mang. Kayak sersan pelatih aja."
Mang Ujang menoleh kaget, lalu nyengir kuda. "Eh, Bos Banyu udah balik! Ya harus galak Bos, biar kerjanya bener. Takut Bos rugi."
"Mantap, Mang. Lanjutkan," puji Banyu. Dia menunjuk truk di belakangnya. "Tuh, oleh-oleh dari Bandung udah dateng. 500 bibit Blueberry. Suruh anak-anak tanem di bukit sekarang juga ya."
Mang Ujang melongo. "Hah? Sekarang, Bos? Ini jam 12 siang! Matahari lagi di atas kepala! Bibitnya pasti stress, layu semua nanti!"
"Udah, percaya aja sama saya. Bibit ini 'spesial'. Tahan banting," Banyu mengedipkan mata.
Meski ragu, Mang Ujang tetap patuh. Dia mengerahkan pasukannya untuk menurunkan bibit.
Dan saat terpal truk dibuka... Jeng jeng!
Semua orang ternganga.
500 pohon Blueberry itu sama sekali tidak layu. Daunnya hijau segar, tegak, dan berkilau seolah-olah baru saja habis mandi hujan. Padahal sudah perjalanan 4 jam dan kepanasan.
"Buset... ini bibit pake susuk apaan, Bos? Kok seger bener?" tanya salah satu pekerja takjub.
Mang Ujang langsung menepuk punggung temannya. "Udah jangan banyak tanya! Bos kita kan emang pakar teknologi pertanian! Ini bibit rekayasa genetika, anti-panas! Ayo kerja, kerja!"
Banyu hanya tersenyum simpul mendengar teori "rekayasa genetika" itu. Biarlah itu jadi alibi yang sempurna.
---
Sambil mengawasi penanaman, Banyu tidak diam saja. Dia menelepon kontraktor alat berat.
Rencananya: Eskalasi Total.
-Gali Kolam Ikan: Banyu menyewa dua ekskavator untuk menggali dua kolam besar di sisa lahan kosong. Satu untuk ikan konsumsi premium (Gurame/Nila), satu lagi khusus ikan hias mahal (Koi/Arwana). Eksperimen ikan koi di kolam kecil kemarin membuktikan potensi cuan yang besar.
-Jalan Beton: Akses jalan dari jalan raya desa ke gerbang lahan Banyu masih tanah merah yang becek kalau hujan. Banyu memutuskan mengecor jalan itu dengan beton ready mix selebar 4 meter, biar truk bisa masuk lancar. Biayanya mahal, sekitar Rp 200 juta per kilometer. Tapi ini investasi jangka panjang.
-Renovasi Rumah: Rumah tua (Basecamp) itu butuh perbaikan. Atap bocor, cat mengelupas, kamar mandi jorok. Banyu ingin menyulapnya jadi villa yang nyaman. Dia kan sekarang orang kaya baru, masa tidur ditemani kecoa?
"Halo, Pak Mandor Proyek? Iya, saya mau upgrade rumah juga. Pasang AC, ganti keramik, bikin kamar mandi hotel style," perintah Banyu lewat telepon.
Uang Enam Ratus Juta hasil jual ginseng mulai mengalir keluar seperti air keran yang bocor.
Bayar bibit, bayar Greenhouse, sewa ekskavator, beli beton, bayar tukang...
Dalam hitungan hari, saldo Banyu yang tadinya gendut kembali langsing. Diperkirakan setelah semua proyek ini selesai, dia bakal balik jadi sobat miskin lagi.
Tapi Banyu tidak khawatir.
"Duit itu kayak air, harus ngalir biar nggak jadi sumber penyakit. Nanti juga balik lagi lebih deres," filosofinya.
---
Suasana di Lahan Mustika Farm benar-benar hidup.
Suara deru mesin ekskavator menggali tanah, suara palu para tukang kayu, dan teriakan semangat para petani Mang Ujang menciptakan simfoni pembangunan.
Warga desa yang lewat sering berhenti menonton. Mereka kagum. Lahan yang dulunya semak belukar angker, kini berubah jadi perkebunan modern yang rapi. Para pekerja lokal merasa bangga bekerja di tempat sekeren ini.
Di bukit belakang, penanaman Blueberry selesai dalam waktu dua hari.
Banyu melakukan ritual terakhir: Menyiram ulang setiap pohon dengan air campuran Cairan Ajaib dosis rendah.
Hasilnya instan. Pohon-pohon itu langsung beradaptasi dengan tanah baru. Tunas-tunas daun baru mulai bermunculan hanya dalam beberapa jam. Mang Ujang sampai geleng-geleng kepala melihat keajaiban "pupuk" racikan Bosnya.
Dan akhirnya...
Saat proyek renovasi rumah baru dimulai, kabar gembira datang dari sektor pertanian.
Sayuran Sawi dan Bayam Jepang yang ditanam gelombang pertama (yang benihnya direndam air dimensi) sudah siap panen.
Daunnya lebar, warnanya hijau glowing, dan ukurannya dua kali lipat sayuran pasar.
"Bos! Panen perdana siap dieksekusi!" lapor Mang Ujang lewat Walkie Talkie (gaya banget).
Banyu tersenyum lebar.
"Oke. Siapkan pasukan. Besok kita serbu pasar Jakarta lagi."