NovelToon NovelToon
KULTIVATOR 5 ELEMEN

KULTIVATOR 5 ELEMEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Spiritual / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: roni alex saputra

Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan

Body Tempering

Qi Gathering

Qi Foundation

Core Formation

Soul Realm 2 pengikut nya

Earth Realm

Sky Realm cici

Nirvana Realm arkan

Dao Initiate

Dao Master Dao arkan& cici

Sovereign

Divine

Universal (Kaisar Drak)

Eternal Ruin (Puncak Arkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cakrawala Aether: Daratan di Atas Bintang

[Bagian 1: Pendaratan yang Menghancurkan]

Lubang cacing itu tertutup dengan ledakan vakum yang memekakkan telinga. Arkan, Liem, Srikandi, dan Cici terlempar keluar dari celah dimensi, menghantam permukaan sebuah daratan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

BOOM!

Liem-Banyu adalah yang pertama menghantam tanah. Namun, bukannya debu yang berterbangan, lantai yang ia pijak—sebuah hamparan kristal heksagonal berwarna perak—justru mengeluarkan dentingan logam yang nyaring. Liem mencoba bangkit, tapi dadanya langsung terasa sesak.

"Ugh... paru-paruku... seperti diisi oleh timah cair!" Liem terbatuk, darah hitam sisa evolusinya muncrat ke atas kristal perak.

"Jangan bernapas dengan paru-parumu, Liem!" teriak Arkan yang mendarat dengan anggun, jubah hitamnya berkibar tenang melawan angin kosmik yang tajam. "Gunakan pori-porimu untuk menyaring esensi di sini. Jika kau menghirupnya secara langsung, pembuluh darahmu akan meledak karena kepadatan energi Aether ini!"

Srikandi-Tan berdiri dengan susah payah. Tubuh Indestructible Void-nya berdengung hebat. Gravitasi di sini setidaknya seratus kali lipat lebih berat daripada di Planet Bawah. Setiap langkah yang ia ambil membuat sendi-sendinya berderit keras. Namun, matanya berbinar; baginya, ini adalah tempat latihan paling sempurna.

Cici melayang pelan, api ungunya membentengi tubuhnya dari radiasi bintang yang menyengat. Di depan mereka, pemandangan Dunia Tengah terbentang luas: Bukan hutan, bukan samudera air, melainkan pulau-pulau raksasa yang melayang di atas nebula berwarna emas. Di langit, tujuh buah matahari kecil berputar mengelilingi sebuah menara hitam raksasa yang puncaknya menghilang di balik awan dimensi.

"Itu... Menara Leluhur?" tanya Cici dengan suara bergetar.

"Bukan," jawab Arkan, matanya menyipit menatap menara itu. "Itu hanya pos penjagaan untuk budak-budak seperti Yun-Tian. Menara Leluhur yang asli berada di pusat galaksi ini."

[Bagian 2: Pertemuan dengan Penjaga Dimensi]

Kehadiran mereka yang "kasar" tidak luput dari perhatian penguasa lokal. Tiba-tiba, ruang di atas mereka bergetar. Tiga buah kereta perang yang ditarik oleh binatang buas menyerupai naga tanpa sayap—Void Drakes—meluncur turun dari pulau melayang di atas mereka.

Di atas kereta itu berdiri para prajurit dengan zirah perak mengkilap. Di dahi mereka terdapat simbol mata merah yang bersinar—tanda bahwa mereka adalah bawahan langsung dari Leluhur Planet yang tadi menantang Arkan.

"Pelarian dari Planet Benih!" salah satu prajurit berteriak, suaranya mengandung getaran frekuensi yang mampu merontokkan gigi. "Bagaimana mungkin sampah dari dunia sampah bisa menembus dinding dimensi tanpa izin?!"

Prajurit itu melompat turun, memegang tombak panjang yang ujungnya terus-menerus memuntahkan api putih. Ia menatap Arkan dengan jijik. "Tingkat Dao Master? Di dunia bawah kau mungkin dewa, tapi di sini, kau tak lebih dari bahan bakar untuk mesin energi kami!"

Liem-Banyu menarik pedangnya, kilatan petir hitam menyambar-nyambar. "Arkan, biarkan aku mencoba kekuatan baruku pada anjing ini."

"Mundur, Liem," ucap Arkan datar. "Lawanmu bukan dia. Dia terlalu... berisik."

[Bagian 3: Dominasi Sang Pembawa Kehampaan]

Prajurit zirah perak itu merasa terhina. Ia menghentakkan tombaknya ke tanah kristal, menciptakan gelombang api putih yang melesat ke arah Arkan. "Matilah, Semut!"

Arkan bahkan tidak mengangkat tangannya. Saat api putih itu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, api itu mendadak berhenti. Bukan padam, tapi terhisap ke dalam sebuah titik hitam kecil yang muncul di depan mata Arkan.

"Api yang lemah," bisik Arkan.

Dalam sekejap, Arkan sudah berada di depan prajurit itu. Kecepatannya melampaui logika ruang dan waktu. Tangan Arkan mencengkeram leher prajurit itu, dan seketika, zirah perak yang sangat kuat itu mulai mengerut, hancur seperti kertas yang diremas.

"Kau bilang aku sampah?" Arkan menatap langsung ke dalam mata prajurit itu. "Leluhurmu baru saja kehilangan satu tangan karena mencoba menyentuhku. Dan kau... kau akan kehilangan segalanya."

[Teknik Kosmik: Kompresi Singularitas]

Tanpa ada suara ledakan, tubuh prajurit itu mendadak mengecil. Tulang-tulangnya remuk, organ-organnya menyatu, hingga akhirnya ia berubah menjadi bola daging berukuran kelereng di tangan Arkan. Arkan menjentikkan bola itu ke arah dua kereta perang lainnya yang masih di udara.

BOOM!

Bola daging itu meledak dengan energi gravitasi yang masif, menelan dua kereta perang beserta naga-naganya ke dalam lubang hitam kecil yang menghilang dalam sekejap.

[Bagian 4: Ancaman dari Kota Terapung]

Keheningan kembali menyelimuti hamparan kristal perak itu. Liem, Srikandi, dan Cici hanya bisa terdiam melihat betapa jauhnya jarak kekuatan mereka dengan Arkan, bahkan setelah mereka berevolusi.

"Kita tidak punya banyak waktu," ucap Arkan sambil menatap ke arah Kota Terapung di kejauhan. "Kematian mereka akan memicu alarm di seluruh Sektor Aether. Ribuan penjaga akan datang."

"Lalu apa rencana kita, Kak?" tanya Cici.

Arkan menatap tangannya yang masih memancarkan aura ungu gelap. "Kita tidak akan bersembunyi. Kita akan menuju kota itu. Aku butuh peta bintang Dunia Tengah, dan aku butuh energi dari inti kota itu untuk menstabilkan pondasi kalian."

Srikandi-Tan mengepalkan tinjunya. "Jika mereka ingin perang, kita berikan mereka neraka."

Arkan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada kemarahannya. "Neraka? Tidak, Srikandi. Neraka terlalu baik untuk mereka. Kita akan memberikan mereka Kehampaan."

Tolong support ya kakak jangan lupa like ♥️

1
RYUU
keren
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
etdah nama guru gurunyaa
RYUU: kalau aku gass dan trobos aja nanti rame sendiri orang bisa masa iya kita ngak 🤣
total 22 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!