desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28: Kedatangan Lita ke Jakarta
Tiga bulan sudah sejak Lita melaporkan Dika dan Andre ke polisi. Tiga bulan sejak ia memilih jalan terang. Hidup di kampung berjalan normal. Warung kecilnya ramai, ibunya sehat, dan ia mulai punya teman-teman baru di sekitar.
Tapi ada satu undangan yang mengubah segalanya.
"Lita, kami ingin mengundangmu ke Jakarta. Untuk arisan keluarga. Sekaligus silaturahmi. Pelangi ingin bertemu tantenya. - Aira"
Lita membaca pesan itu berkali-kali. Tangannya gemetar. Jakarta. Kota yang penuh kenangan pahit. Kota di mana ia berbuat jahat, menyakiti orang, dan hampir menghancurkan hidupnya.
Tapi juga kota di mana ia bisa memulai lagi. Bertemu Aira, Raka, Arka, dan Pelangi. Bertemu dengan orang-orang yang sudah ia sakiti, tapi memaafkannya.
"Lit, kamu mau?" tanya ibunya.
Lita menghela nafas. "Aku tak tahu, Bu. Takut."
Ibunya duduk di sampingnya. "Takut itu wajar. Tapi jangan biarkan ketakutan menghentikanmu. Ini kesempatan, Nak. Kesempatan untuk menutup masa lalu dengan baik."
Lita memandangi ibunya. Wanita tua yang setia menemaninya selama ini.
"Bu, Ibu mau ikut?"
Ibunya tersenyum. "Ibu mau. Ibu juga ingin bertemu Aira. Wanita baik yang sudah maafkan anak Ibu."
Lita menangis. Memeluk ibunya.
"Baik, Bu. Aku mau."
---
Seminggu kemudian, Lita dan ibunya tiba di Jakarta. Naik kereta dari kampung, lalu taksi ke apartemen The Rosewood. Sepanjang perjalanan, jantung Lita berdebar kencang. Gedung-gedung tinggi yang dulu akrab, kini terasa asing.
"Kita sampai, Bu," kata sopir taksi.
Lita membayar. Mereka turun. Apartemen mewah itu masih sama. Penjagaan ketat, lobby ber-AC dingin, wangi semerbak.
"Bu Lita?" seorang wanita paruh baya menyambut. "Saya Bi Inah. Disuruh jemput."
Lita tersenyum canggung. "Iya, Bi. Terima kasih."
Mereka naik lift. Lantai 29. Pintu terbuka. Di depan pintu apartemen, Aira sudah menunggu.
Dua wanita itu saling pandang. Lama. Udara terasa berhenti.
Aira melangkah maju. Memeluk Lita.
"Selamat datang, Lita."
Lita membeku. Lalu menangis. Memeluk Aira erat-erat.
"Maaf... Aira... maafkan aku..."
Aira mengusap punggungnya. "Sudah, sudah. Tidak apa-apa. Kau di sini sekarang."
Ibu Lita ikut menangis melihatnya. Bi Inah terharu di belakang.
Aira melepas pelukan. Memegang wajah Lita.
"Kurusan. Tapi cantik."
Lita tertawa di tengah tangis. "Kamu tambah cantik, Aira."
Mereka tertawa bersama.
---
Di dalam, Raka duduk di sofa. Wajahnya datar, tak terbaca. Lita menatapnya takut.
"Raka... aku..."
Raka berdiri. Mendekat. Lita bersiap menerima amarah. Tapi Raka mengulurkan tangan.
"Selamat datang, Lita. Terima kasih sudah mau datang."
Lita terkejut. Ia menyalami Raka dengan gemetar.
"Raka, aku minta maaf untuk semuanya."
Raka menghela nafas. "Sudah berlalu, Lita. Yang penting sekarang kau sudah berubah. Aira sering cerita tentangmu."
Lita menunduk. "Aira terlalu baik padaku."
"Bukan baik. Tapi dia percaya orang bisa berubah. Dan kau buktikan itu."
Arka keluar dari kamar. Melihat Lita, ia berhenti. Matanya membelalak.
"Mama Lita?"
Lita menoleh. Hatinya hancur. Arka, anaknya, memanggilnya "Mama Lita" dengan nada asing. Bukan "Mama", tapi "Mama Lita". Seperti memanggil orang lain.
"Ark... halo, Nak."
Arka mendekat pelan. Ia memandangi Lita lama.
"Arka kangen Mama Lita," katanya lirih.
Lita menangis. Ia berlutut, memeluk Arka.
"Maaf, Nak. Mama minta maaf. Mama pergi lama."
Arka membalas pelukannya. "Nggak apa-apa. Mama udah pulang kan?"
Lita terisak. "Iya, Nak. Mama pulang."
Aira dan Raka saling pandang. Tersenyum.
---
Pelangi keluar dari kamar, digendong Ibu Rosmini. Matanya membulat melihat orang baru.
"Lita, ini Pelangi," kata Aira.
Lita mendekat. Pelangi bersembunyi di pundak Ibu Rosmini.
"Hi, Pelangi. Aku Lita. Tantemu."
Pelangi mengintip. Lalu tersenyum. "Ta... ta..."
Lita terharu. "Dia lucu sekali."
Ibu Rosmini mengulurkan Pelangi. "Mau sama Tante Lita?"
Pelangi mengangguk. Lita menggendongnya hati-hati. Pelangi menatapnya dengan rasa ingin tahu.
"Ci... canti..." celotehnya.
Semua tertawa. "Dia bilang Lita cantik," kata Aira.
Lita tersipu. "Makasih, Pelangi."
---
Malam itu, mereka makan malam bersama. Suasana hangat. Lita bercerita tentang kehidupannya di kampung, tentang warung kecilnya, tentang ibunya. Aira bercerita tentang butik, tentang Arka yang juara kelas, tentang Pelangi yang lucu.
Raka lebih banyak diam, tapi sesekali tersenyum. Ia masih butuh waktu untuk sepenuhnya nyaman dengan Lita. Tapi ia berusaha.
Setelah makan, Lita membantu Aira membereskan meja.
"Aira, aku tak tahu harus berkata apa. Terima kasih. Terima kasih banyak."
Aira menggeleng. "Kau tak perlu berkata apa-apa. Kau keluarga. Itu sudah cukup."
Lita menangis lagi. "Aku tak pantas."
"Siapa pun pantas dapat kesempatan kedua, Lita. Termasuk kau."
Mereka berpelukan.
---
Malam semakin larut. Lita dan ibunya diantar ke kamar tamu. Kamar yang sama tempat dulu Lita menginap, saat ia masih jadi musuh. Kini, semuanya berbeda.
Lita duduk di tepi tempat tidur. Memandangi sekeliling.
"Bu, ini mimpi?"
Ibunya tersenyum. "Ini nyata, Nak. Kau sudah pulang."
Lita menangis dalam diam. Tapi kali ini tangis bahagia.
---
Keesokan paginya, Lita dibawa berkeliling oleh Aira. Mereka ke butik, bertemu Maya dan tim. Maya awalnya kikuk, tapi akhirnya hangat juga. Mereka ke taman, ke mal, ke tempat-tempat yang dulu Lita lewati tapi tak pernah benar-benar lihat.
Sore harinya, mereka duduk di kafe. Sendirian.
"Aira, aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Apa kau benar-benar memaafkanku? Tanpa syarat?"
Aira menatapnya serius. "Lita, aku sudah memaafkanmu sejak lama. Bukan karena kau minta maaf. Tapi karena aku tak mau hidup dengan dendam. Dendam itu berat. Dan aku memilih untuk melepaskannya."
Lita menunduk. "Aku iri padamu, Aira. Kau begitu kuat."
"Bukan kuat. Tapi aku punya orang-orang yang mendukungku. Raka, Arka, Pelangi, Ibu Rosmini. Mereka alasanku untuk terus maju."
Lita mengangguk. "Aku juga ingin begitu. Punya keluarga."
"Kau punya, Lita. Ibumu. Dan kami. Kami juga keluargamu sekarang."
Lita tersenyum. Senyum tulus pertama dalam waktu lama.
---
Hari terakhir Lita di Jakarta tiba. Sebelum berangkat, ia minta waktu sendiri dengan Raka.
Mereka duduk di balkon. Berdua.
"Raka, aku tahu kau masih sulit percaya padaku. Itu wajar."
Raka diam.
"Tapi aku ingin kau tahu. Aku benar-benar berubah. Aku tak akan sakiti Aira atau Arka lagi. Mereka terlalu berharga. Untukmu, untukku, untuk semua."
Raka menatapnya. Lama.
"Aku percaya, Lita. Tapi butuh waktu. Untukku, untuk benar-benar nyaman."
Lita mengangguk. "Aku paham. Aku akan tunggu. Sekuat yang diperlukan."
Raka mengulurkan tangan. "Terima kasih sudah datang."
Lita menjabatnya. "Terima kasih sudah menerimaku."
Mereka berjabat tangan. Awal baru.
---
Di stasiun, Aira, Raka, Arka, dan Pelangi mengantar Lita dan ibunya. Arka memeluk Lita erat.
"Mama Lita, jangan lupa dateng lagi ya."
Lita menangis. "Janji, Nak. Mama akan sering-sering dateng."
Pelangi melambai. "Ta... ta..."
Lita mencium pipi Pelangi. "Daa, Cantik."
Aira memeluk Lita. "Jaga diri. Kabari terus."
"Iya. Kalian juga."
Kereta masuk. Lita dan ibunya naik. Dari jendela, mereka melambai.
Aira melambai balik. Raka mengangkat tangan. Arka melompat-lompat. Pelangi meniup cium.
Kereta berlalu. Membawa Lita kembali ke kampung. Tapi kali ini, dengan hati yang ringan. Dengan masa lalu yang telah dimaafkan. Dengan masa depan yang terbuka.
---
Di dalam kereta, Lita memandangi pemandangan yang berlalu. Sawah, gunung, desa-desa kecil.
"Bu, aku bahagia."
Ibunya tersenyum. "Ibu juga, Nak."
"Akhirnya aku punya keluarga. Keluarga yang utuh."
Ibunya menggenggam tangannya. "Iya, Nak. Keluarga yang utuh."
Di Jakarta, keluarga kecil itu kembali ke apartemen. Dengan satu anggota baru di hati mereka. Lita. Mantan musuh, kini saudara.
Kisah ini mengajarkan bahwa cinta sejati mampu mengubah segalanya. Bahkan musuh terbesar, bisa jadi sahabat terbaik.
Karena cinta, sejatinya, adalah pelindung yang tak tergoyahkan.
---
ayooo sebelum dia tmbah nyaman dgn ulat bulu itu