EDISI SPESIAL RAMADHAN
Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.
Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.
Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!
Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menguji Keteguhan Janji Zunaira
Saat sampai di kamarnya, ia segera menutup pintu dan bersandar di baliknya, ia menghirup oksigen dalam-dalam mencoba menetralkan ritme jantungnya yang berantakan.
"Ya Allah... jaga hati ini." bisiknya pelan.
Di sisi lain, di dalam perpustakaan yang kini kembali sepi Azlan masih berdiri di tempat yang sama.
Ia menatap ke arah pintu keluar di mana bayangan Zunaira baru saja menghilang.
Ia perlahan menghela napas panjang, sebuah senyum tipis yang sangat samar muncul di wajahnya yang biasanya kaku.
Ia membuka kitab yang ia pegang namun pikirannya tidak sedang berada pada teks-teks klasik tersebut.
Pikiran Azlan melayang kembali ke masa tujuh tahun lalu.
Saat ia memutuskan berangkat ke Kairo, ada satu alasan tersembunyi mengapa ia belajar dengan begitu giat hingga jarang sekali pulang ke Indonesia.
Ia ingin memantaskan diri, ia tahu statusnya sebagai putra kedua akan memberikan tanggung jawab besar dan ia tidak ingin menjadi sekadar "anak Kyai" tanpa isi.
Namun di balik itu ada memori tentang seorang santriwati yatim piatu yang selalu tekun belajar di bawah lampu neon masjid yang redup.
Sosok yang diam-diam selalu ia perhatikan dari balik jendela lantai dua kamarnya.
Kini, setelah tujuh tahun sosok itu tumbuh menjadi wanita yang luar biasa anggun dalam kesederhanaannya.
Tatapan matanya yang selalu tertunduk justru memancarkan kekuatan karakter yang luar biasa.
Siang harinya suasana pesantren terasa lebih sibuk dari biasanya, kabar bahwa Gus Azlan mulai turun tangan mengurus manajemen pesantren membuat para pengurus bergerak lebih cepat.
Zunaira mencoba tetap fokus pada tumpukan lembar jawaban ujian santriwati di hadapannya, namun fokusnya pecah saat seorang santri utusan mengetuk pintu kantor ustadzah.
"Ustadzah Zunaira dipanggil Kyai ke kediaman sekarang nggih." lapor santri tersebut.
Zunaira merapikan jilbabnya sejenak sebelum berangkat, perasaan waswas mulai muncul.
Biasanya Kyai memanggilnya jika ada urusan penting mengenai santri yang bermasalah atau urusan administrasi besar.
Namun saat ia sampai di ruang tamu kediaman Kyai yang luas ia tidak hanya melihat Kyai Hamid dan Ummi Salamah, tetapi juga Azlan yang duduk di sofa seberang dengan laptop dan beberapa tumpukan berkas.
"Sini nduk duduk." panggil Kyai Hamid dengan suara kebapakannya yang berat.
Zunaira duduk bersimpuh di atas karpet tebal, tidak berani duduk di sofa yang sama dengan para majikannya itu, ia menunduk khidmat.
"Begini Zunaira.." lanjut Kyai Hamid.
"Gus Azlan ini membawa banyak pemikiran baru dari Mesir, dia ingin mengubah metode pengajaran bahasa Arab di sini agar lebih aplikatif bukan hanya teori nahwu sharaf saja. Dan saya melihat selama ini kamu adalah pengajar yang paling telaten dan punya kedekatan emosional yang baik dengan para santriwati." ucap Kyai Hamid.
Zunaira mendengarkan dengan saksama, perasaannya mulai tidak enak atau lebih tepatnya mulai merasa terancam oleh kedekatan yang mungkin akan terjadi.
"Jadi Abah memutuskan agar kamu menjadi pendamping Azlan dalam menyusun kurikulum ini, kamu yang paling tahu kondisi lapangan di asrama putri sedangkan Azlan yang membawa standarisasi dari Al-Azhar. Bagaimana? Kamu bersedia kan?" tawar kyai Hamid.
Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi Zunaira, ia melirik sekilas ke arah Azlan.
Pria itu nampak tenang seolah sudah mengetahui keputusan ini sebelumnya, tatapan mata Azlan yang tadinya fokus pada layar laptop kini beralih pada Zunaira dan menantikan jawaban.
"Tapi Abah... saya merasa ilmu saya masih jauh di bawah Gus Azlan, takutnya saya malah menghambat kerja beliau." Zunaira mencoba mencari alasan diplomatis.
"Ilmu bisa dipelajari Zunaira tapi ketulusan dalam mengabdi itu yang sulit dicari, saya butuh orang yang mengerti hati pesantren ini dan itu adalah kamu." sahut Kyai Hamid mantap.
Zunaira tidak punya pilihan lain, menolak perintah Kyai sama saja dengan tidak hormat.
"Nggih Abah, saya sam'an wa tha'atan (mendengar dan taat)."
"Alhamdulillah." ucap Ummi Salamah sambil tersenyum lebar.
"Kalau begitu kalian bisa mulai berdiskusi sore ini di serambi masjid atau di kantor pengurus, cari tempat yang terbuka agar tidak menimbulkan fitnah."
Zunaira mengangguk pelan, ia tidak menyadari bahwa di hadapannya Azlan sedikit memperbaiki posisi duduknya, menyembunyikan rasa lega yang amat sangat di balik wajah datarnya.
Bagi Azlan ini adalah langkah awal dari sebuah perjalanan panjang yang sudah ia rencanakan sejak di negeri para nabi.
...****************...
Sore itu, saat Zunaira berjalan kembali menuju asramanya, ia merasa beban di pundaknya bertambah.
Bukan beban pekerjaan melainkan beban untuk terus menjaga hatinya yang kini dipaksa berada di dekat api.
Ia tahu bermain dengan api bisa membakar tapi ia juga tahu bahwa di balik api itu ada kehangatan yang selama ini ia rindukan dalam kesendiriannya sebagai seorang yatim piatu.
Di atas langit pesantren awan-awan berarak perlahan seolah sedang menata skenario pertemuan-pertemuan berikutnya yang akan menguji keteguhan janji Zunaira pada dirinya sendiri yaitu untuk tetap mencintai dalam diam ataukah akhirnya menyerah pada takdir yang sedang diuntai oleh sang pemilik semesta.
Zunaira menghela napas, jemarinya kembali memutar butiran tasbih di dalam saku gamisnya.
La haula wala quwwata illa billah... Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu, ya Allah.
Matahari mulai condong ke arah barat, menciptakan bayangan panjang dari tiang-tiang masjid yang megah.
Angin sore berhembus membawa aroma tanah dan melati yang tumbuh subur di halaman kediaman Kyai.
Bagi Zunaira sore ini terasa berbeda, ada beban yang lebih berat dari sekadar menyiapkan materi hafalan santri.
Ia harus melangkah menuju serambi masjid bagian utara, tempat yang telah disepakati untuk memulai diskusi kurikulum bersama Gus Azlan.
Zunaira berjalan dengan langkah yang sengaja diperlambat, ia menggenggam erat sebuah buku catatan bersampul cokelat dan beberapa lembar silabus lama.
Di dalam hatinya ia terus merapalkan doa agar Allah menjaga lisan dan hatinya.
Baginya bertemu dengan Azlan dalam jarak dekat dan membicarakan hal serius adalah sebuah ujian konsentrasi yang luar biasa.
Sesampainya di serambi ia mendapati Azlan sudah duduk di sana.
Pria itu duduk bersila di atas permadani tipis, menghadap ke arah taman.
Di depannya terdapat sebuah meja kayu kecil yang dipenuhi dengan kitab-kitab referensi dari Mesir dan sebuah laptop yang terbuka.
Azlan tampak begitu fokus kacamatanya bertengger di pangkal hidung memberikan kesan intelektual yang semakin kental pada raut wajahnya yang teduh.
"Assalamu’alaikum Gus, mohon maaf jika saya terlambat." sapa Zunaira dengan suara rendah tetap menjaga pandangannya pada lantai pualam yang dingin.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...