Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pameran seni
Pagi yang tenang itu berlanjut dengan persiapan yang jauh dari kesan buru-buru. Di dalam kamar mereka yang luas, Gia berdiri di depan lemari pakaian besar yang pintunya terbuat dari kaca patri. Ia masih memandangi barisan gaun-gaun indah yang sebenarnya masih terasa asing baginya. Namun, kali ini tangannya tidak lagi gemetar. Ia memilih sebuah gaun midi berbahan katun berwarna biru langit yang sederhana namun elegan, dipadukan dengan flat shoes berwarna putih. Tidak ada perhiasan berlebihan, hanya kalung tipis pemberian Ares yang selalu melingkar di lehernya.
Ares muncul dari ruang ganti dengan gaya yang sangat santai. Ia mengenakan kemeja linen berwarna krem dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangan kekarnya. Penampilannya hari ini sama sekali tidak mencerminkan seorang CEO bertangan besi yang ditakuti di papan atas bursa saham.
"Sudah siap, Gia?" tanya Ares sambil memasukkan kunci mobil ke dalam sakunya.
"Sudah, Mas. Tapi, apa Mas yakin nggak bawa sopir? Gia agak khawatir kalau Mas harus menyetir sendiri di tengah kemacetan kota!"
Ares terkekeh, ia menghampiri Gia dan meraih tas tangan istrinya.
"Gia, menyetir itu salah satu cara Mas untuk melepas stres. Dan hari ini, Mas tidak ingin ada orang ketiga di antara kita, bahkan seorang sopir sekalipun. Kita butuh privasi!"
Mereka berjalan menuju garasi bawah tanah mansion yang berisi deretan mobil mewah. Ares melewati barisan sedan hitam formal dan berhenti di depan sebuah mobil convertible klasik berwarna perak yang tampak sangat terawat.
"Kita pakai yang ini?" tanya Gia takjub.
"Ini mobil favorit Mas. Dulu Papa yang membelikannya saat Mas lulus kuliah. Masuklah!" Ares membukakan pintu untuk Gia dengan gerakan yang sangat sopan, lalu ia memutari mobil dan duduk di kursi kemudi.
Begitu mesin mobil dinyalakan, suara gerumannya terdengar halus namun bertenaga. Ares tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia menoleh ke arah Gia yang tampak masih kaku duduk di kursinya.
"Gia, kamu tahu nggak? Dulu Mas Siska selalu protes kalau Mas ajak naik mobil ini karena rambutnya bisa berantakan kena angin!" Ares bercerita dengan nada santai, seolah nama Siska bukan lagi hantu yang menakutkan bagi mereka.
"Tapi Mas rasa, kamu bukan tipe yang khawatir soal rambut, kan?"
Gia tertawa kecil, rasa canggungnya perlahan mencair.
"Rambut saya bisa disisir lagi, Mas. Tapi kesempatan naik mobil keren ini mungkin nggak datang dua kali!!"
Mobil itu perlahan meluncur keluar dari gerbang mansion. Angin pagi yang segar mulai menerpa wajah mereka saat Ares membuka atap mobil. Gia memejamkan matanya sejenak, menikmati sensasi kebebasan yang jarang ia rasakan. Selama bertahun-tahun ia hidup dalam bayang-bayang rumah Sarah, merasa seperti tawanan yang harus selalu siap melayani. Kini, jalanan luas di depannya seolah menjadi simbol hidup barunya.
"Gia," panggil Ares saat mereka berhenti di lampu merah.
"Iya, Mas?"
"Kamu mau kuliah nggak?"
"Kuliah Mas? Gia? Mana mungkin, Mas. Gia nggak punya biaya untuk sekolah lagi!" Gia tersenyum masam.
Mungkin Ares malu memiliki istri hanya tamatan sekolah menengah. Sedangkan Ares berpendidikan tinggi seperti Siska.
Ares tersenyum jenaka, tangannya tetap santai di atas kemudi.
"Siapa juga yang meminta kamu membayar uang kuliah sendiri? Mas tanya sama kamu, karena Mas mau kamu mewujudkan impian kamu. Mas nggak mau kamu berhenti bermimpi setelah menjadi istri Mas. Kalau kamu mau, Mas akan mengurus semuanya!"
"Beneran Mas?" Mata Gia berbinar namun mengkilap karena merasa haru. Ares benar-benar seperti oase bagi Gia. Ares adalah hujan di saat Gia sudah kehausan di tengah gurun.
"Mas tidak pernah main-main sana ucapan Mas!"
"Tapi gimana sama Mama Mas?" Gia masih sedikit takut pada Nyonya besar yang mengatur segalanya.
"Mama tidak akan keberatan. Bukannya Mama bilang kamu harus jadi kuat dan tidak lemah untuk menghadapi orang-orang di luar sana. Dengan kuliah, Mas yakin itu bisa meningkatkan kepercayaan diri kamu!"
Benar, salah satu hal yang membuat Gia tak percaya diri adalah pendidikannya. dia punya Ayah, untuk masalah keuangan tentunya Ayahnya lebih dari cukup. Tapi Ayahnya sama sekali tidak peduli dengan pendidikannya karena pengaruh Sarah.
"Mau ya?" Bujuk Ares.
Gia mengangguk meski dia masih sedikit ragu karena sudah tiga tahun iki dia lepas dari dunia pendidikan dan pasti itu akan membuatnya merasa asing.
"Pintar!" Ares mengusap pucuk kepala Gia.
Perjalanan itu diisi dengan obrolan ringan yang mendalam. Ares bercerita tentang masa kecilnya yang penuh tekanan untuk menjadi sempurna, sementara Gia mulai berani menceritakan tentang ibunya. Gia bercerita betapa ibunya dulu sangat suka melukis, sebuah bakat yang ternyata menurun pada Gia namun sempat terkubur karena keadaan.
"Ibu saya dulu bilang, melukis itu seperti bernapas di atas kertas" Ucap Gia dengan nada nostalgia.
"Tapi setelah Ibu sakit, Gia harus menjual semua alat lukisnya untuk biaya pengobatan. Sejak saat itu, Gia nggak pernah berani menyentuh kuas lagi"
Ares mendengarkan dengan seksama, jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi. Di dalam hatinya, ia mencatat setiap kata yang keluar dari bibir istrinya. Ia ingin mengembalikan semua hal yang telah dirampas dari hidup Gia.
Mereka sampai di sebuah galeri seni kontemporer yang terletak di gedung tua yang sudah direnovasi dengan gaya industrial. Suasananya tenang, hanya ada beberapa pengunjung yang berjalan pelan mengamati karya-karya yang terpajang. Ares tidak membiarkan Gia berjalan di belakangnya; ia menggenggam tangan Gia, membawa istrinya itu berjalan beriringan.
Di depan sebuah lukisan abstrak dengan perpaduan warna biru dan emas yang dramatis, Gia berhenti cukup lama. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Indah sekali ya, Mas. Rasanya seperti melihat laut di tengah malam" Gumam Gia.
Ares berdiri di sampingnya, memandangi Gia lebih dari ia memandangi lukisan itu.
"Kamu tahu apa yang lebih indah dari lukisan ini?"
Gia menoleh, mendapati Ares sedang menatapnya dengan intensitas yang membuat napasnya tertahan.
"Apa, Mas?"
"Caramu melihat dunia ini. Meskipun kamu sudah melalui banyak hal pahit, matamu tetap terlihat murni" Ares merangkul pinggang Gia, menariknya lebih dekat.
"Jangan pernah biarkan siapa pun merusak binar itu lagi, Gia. Mas akan pastikan pameran seni berikutnya, salah satu lukisan di dinding ini adalah hasil karyamu"
"Mas, itu mimpi yang terlalu tinggi buatku!" Gia tertegun dengan ucapan Ares namun di dalam hatinya sangat jauh berharap.
"Nggak ada yang terlalu tinggi buat istri seorang Ares Ardiansyah. Kita akan beli semua peralatan lukis yang kamu mau setelah ini. Mas mau kamu melukis lagi. Bukan karena kamu harus, tapi karena itu adalah bagian dari jiwamu yang sempat hilang."
Gia tidak bisa menahan dirinya lagi. Di sudut galeri yang sepi itu, ia memberanikan diri untuk memeluk Ares erat, menyandarkan wajahnya di dada bidang suaminya. Tapi itu hanya sebuah pelukan dari Gia untuk pelindungnya. Sama sekali bukan pelukan atas dasar cinta yang mendalam.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah menjadikan aku Gia yang baru!"
Ares membalas pelukan itu, mencium puncak kepala Gia dengan penuh kasih. Hari itu bukan hanya sekadar kencan biasa, itu adalah proses penyembuhan bagi Gia, dan bagi Ares, itu adalah momen di mana ia menyadari bahwa menikahi Gia adalah keputusan terbaik yang pernah ia ambil dalam hidupnya.
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus