Bayangin kalo kamu jadi Aku?
Aku punya sepupu di pesantren namanya Fattah!? dia itu populer banget di pondok guys! tapi anehnya Aku dan Fattah begitu terikat sampai banyak mata melihat ngiranya kita adalah pasangan Sah?
penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camamutts_Sall29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seruan Bareng
Di tengah perjalanan...
Mama dan Adik tidur di depan.
Aku mulai mengantuk mencium aroma Parfum Suamiku yang bikin tenang itu di bahunya.
"Sayang kamu tidur aja? masih sedikit lama sampe rumah Abi?"
"Ga mau di gendong, Aku malu."
Hamdan tertawa kecil.
"Kan udah biasa Mas Gendong di rumah? ngapain malu Ri?"
"Mas Jari kamu di belakangku nanti Mama bangun."
Hamdan masih sibuk mencolek pinggangku karna Aku belum tidur selama 20 menit perjalanan.
Alhasil Aku ga kuat Mau tidur dikedua paha Hamdan tapi Malu.
"Mas?"
"Hmm?" dengan suara beratnya.
"Angkat tangannya jangan mainin hidung Aku ya. Janji?"
"Iya Aku janji."
Hamdan tau Aku mau tidur karna udah ga kuat banget.
Ragu ragu membuatku terlalu lama dan Akhirnya menidurkan kepalaku di kedua paha Hamdan, miring menghadap perutnya dan menutup wajah di sana.
"Kalah juga dia sama Egonya mirip sama Mamanya." Kata Ayah di depan.
"Ayah ih! mirip mama ya suka iseng."
kataku mendengar ledekan itu.
Ayah tertawa kecil dan Hamdan ikut tertawa juga tapi ini ketawa gemas melihatku.
Aku menutup wajahku lagi di bagian perut hamdan ketutup baju Koko.
"Mas kalo ngantuk merem aja."
"Mas kalo tidur maunya meluk Riana, kalo kamunya di pangkuan Mas tuh kurang nyaman-- kurang Anget."
"Ih modus mulu Masnya."
Hamdan tertawa kecil.
Setibanya Memasuki Pesantren.
Mobil mewah hitam masuk ke Area lapangan dan ter-parkir disana.
"Sayang bangun udah sampe?"
Tak lama mataku mengerjap.
Rehan di oper ke gendongan Ayah di bahunya, Mama masih mengumpulkan nyawa dengan duduk sedikit lama.
Aku terkejut --pusing.
"Gendong Mas." lirihku.
Hamdan diam dan bersiap dengan mengambil perintahku.
"Nunggu bangun Riananya?" Kata mama.
"Nanti Hamdan gendong Tante."
"Aihh Manjanya Anak Mama."
kekeh Mama dengan gelengan.
Mobil udah berhenti dan mesinnya lalu Abi Rehandi datang membuka Pagar mungkin mendengar mobil udah sampai.
Mama dan Ayah masuk membawa Adik, Hamdan membawaku Brydel style dan menutup Pintu mobil dengan Lutut kirinya.
Hamdan berjalan dengan sekuat tenaga menggendongku yang tak sadarkan diri--- Alias KEBO.
"Masya allah Hamdan... Suami siaga." respon Abi.
"Riana yang minta Abi."
"Eleh elehh Anak Abi Manjanya..."
Hamdan melewati Abi dan melihat Fattah sedang duduk dengan Es Kopi caramelnya.
"Dulu Gua gendong dia kaya gitu, sekarang -- Gua ga bisa gendong lagi."
"Diem Fattah!" jawabku tak sadar mendengar suaranya memancing emosi.
"Lah pura puran tidur? dasar bucin!"
"Biarin! -- Hamdan cepet bawa masuk Aku, nanti Abi liat."
Hamdan mengangguk dan Aku membuka pintu dengan bantuan tanganku.
...
di kamar Fattah Aku menginap dengan Hamdan.
Tidur dengan Suami sendiri kan nyaman kan wkwk bukan gosip lagi udah halal!!
"Mas? Ac nya matiin."
Hamdan mengambil Remot dari bawah bantalku.
"Kipas Angin di nyalain ga?"
"Iya nyalain aja jangan ke arah Aku."
Hamdan mengangguk mengarahkan kipas anginnya ke ujung pintu.
"Mas Sini katanya mau di peluk?"
Hamdan melepas sarung dan naik ke tempat tidur.
Hamdan masuk ke dalam selimut dan menenggelamkan wajahnya di dalam tubuhku.
Di balik Hamdan di dalam tubuhku Aku tersenyum dan mengusap surai rambutnya dari luar selimut karna suami seperti dia masih malu malu dan masih perlu dibujuk.
...
Paginya di pesantren, seperti biasa cukup ramai ada Santriwan olahraga dengan gurunya di lapangan badminton, Santriwati yang jalan jalan pagi mengelilingi lapangan rumah Abi.
Lalu pukul 07:40 kita sarapan pagi di ruangan depan.
Terlihat Rehan baru bangun di gendongan Ayahku, Namun Ayah dan Mama udah bangun sejak subuh tadi.
Aku yang memang terbiasa bangun jam 4 karena Abi rehadi yang mendidikku dan Hamdan juga dulu mantan murid Santri Abi --jadi udah bangun sebelum subuh.
"Kemana Riana istri kamu?" kata Bunda Syana.
"Lagi di kamar mandi Bunda."
balas Hamdan lalu melihatku dengan sayup sayup baju longgar yang aku pakai milik Bunda Syana saat hamil Fattah.
"Nah nih dia anak terlama di tunggu datang juga?" ledek Fattah.
"Masih pagi lho Fatt?" jelasku memutar bola mata karena sebal.
"Biarin si!"
Aku berjalan dan menyubitnya gemas.
"Kok nyubit? Abi liat nih Ri datang langsung nyubit?"
"Udah Fattah... masih saja sikap jengkelmu seperti anak anak."
"Iya Abi,"
"Kan meski Aku udah nikah yang di omelin tetep kamu."
"Terserah Aku mah anak tiri." datarnya.
"Ya allah Kamu baper Fatt?"
Fattah menitikkan air mata.
"Shtt diem Ri. nanti Bunda liat," sebalnya.
"Jangan nangis Fatt, nanti Aku ga bisa cerita kalo kamu nangis."
Fattah mengangguk.
"Udah sono makan bareng Hamdan ngapain nempel sama Aku?"
"Sayur ayam kuningnya di depan kamu justru mau makan paling banyak!"
Fattah terkekeh juga,"pantesan nempel ke Aku bun, Ayam kuningnya terlalu deket nanti di abisin Riana.
Aku jadi malu Fattah bicara gitu.
"FATTAH !!" omelku.
"Fattah makanlah Riana sini deket deket Mama." kata Hanifah tersenyum.
"Mau deket Hamdan tapi dia di hempit Ayah sama Abi."
"Ya ampun Sayang..." hamdan menggeleng geleng gemas liat tingkahku.
"Makan aja samping Aku dan kali ini Aku diem."
Aku melirik ke Fattah mulai curiga.
Apakah drama pagi ini selesai?
.
.
"Besok udah Nisfu ya?" ucap Mama membuka topik.
"Iya Kak, besok nisfu bareng di masjid banyak yang hadir nanti di luar jama'ah." jawab Abi.
"Ri? sakit ga?"
bisik Fattah.
"Maksudnya?" kataku sedang mengunyah ketupat.
"Malam pertama kalian di rumah kamu sama Hamdan di kamarku atau---?"
"Sial*n kamu Fatt?" bisikku dengan darah mendidih.
"Jangan marah Ri. nanya doang."
"Ga patut ih Fattah."
"Tinggal jawab dikit." kekehnya.
"Ga mauu personal."
"Yang namanya gairah perempuan pasti tenaga laki laki kelepasankan ya ga sakit dong?"
"Sakitlah Fattah!" pekikku dengan suara angin.
"Nah jujur juga kamu." Fattah tertawa menyebalkan.
"Dasar Fattah, puas kan?" datarku.
"Ternyata udah lebih sebulan yaa kalo udah garis 2 Aku harus tau duluan dari pada Hamdan gimana?"
Flashbck...
"Tespek siapa nih?" Fattah mengambilnya ada garis 2 dan syok.
Melihatku lupa ambil tespek dan habis pipis lalu ke kamar lagi tidur.
Flaschback off.
"Fattah? kamu -- tau?"
"Apaan?" tanya Fattah pura pura bingung.
"Aku belum ngasih tau Hamdan." lirihku.
"Apanya?"
"Tespeknya ilang... blom liat hasilnya Aku mulai ngerasa pusing doang tiap makan."
"Kamu Hamil Ri, tespeknya ada sama Aku nanti kamu kasih ya." melirik ke arah lain.
Aku terkejut dan mencari sesuatu di kantong Fattah lalu ketemu (tespeknya) dan meninggalkan sarapanku disana.
Berlari masuk kamar menutup pintu.
"MAMA! BUNDA! ABI! MAS! INI BERCANDA KAN!" jeritku.
...
"Aku yang bawain piring Riana ke kamar ya Abi? maaf dengan sikap Riana meninggalkan makannya." Fattah mengambil piringku dan memberikannya ke Hamdan.
Di kamar Hamdan masuk tepatmya pintu ga di kunci.
"Sayang?"
Aku masih bergelut di dalam selimut masih syok.
"Mas jangan tanya dulu."
Hamdan bingung."iya engga di tanya apa apa, ini makannya habisin dulu."
"Oh ya lupa?" kataku bodohnya memegangi perut reflek.
Hamdan menatap ke perutku.
"Kamu?"
"Jangan di tanya dulu Mas?" lirihku.
"Oke oke nih makan. mau di suapin Aku ga?"
Aku merespon dengan Anggukan dan sendok melayang di mulutku dan akhirnya aku makan di supain suami sendiri.
Reflek megang perut lagi.
Tiba tiba Hamdan mengelus perutku,"jangan buat Bunda khawatir ya? Ayah akan jaga kamu sama Bunda baik baik sampai kamu keluar kedunia."
Aku syok Hamdan bicara begitu, Air mataku pecah.
memeluk Hamdan erat erat.
"Dari mana kamu -- ehh Mas tau Aku??"
"Itu korek Api yang kamu bawa."
"Nih Tespek kamu di Aku."
Hamdan tersenyum.
"Hah?" kataku bingung benar saja Dasar Fattah semprul.
Flasbck ...
"Hamdan, Riana hamil."
"Udah tau, semalam di pasar malam Riana ga nafsu makan, dia bilang setiap makan pusing Gua curiga dia hamil. 2 hari lalu beliin dia tespek. Gua takut dia kenapa kenapa mangkanya gua ikutin terus tiap ke kamar mandi, tanpa dia tau. gua denger dia bilang Hah Aku hamil? di situ Gua senyum sambil nangis ga kuat rasanya bahagia di campur allah menitipkan 2 kesayangan sekaligus yang gua pertanggung jawabkan. pas pintu di buka Riana keluar kan... Gua ngumpet. ehh lu masuk deh ke kamar mandi. pas gua tungguin --lu pegang tespek istri gua."
"Gua tau kedua ternyata,"
flashbck Off...
"Mas..." kataku menangis.
"Kita jalanin berdua ya? kalo kamu ga bisa tidur Aku temenin begadang sampai tidur."
Aku merasa menjadi istri yang beruntung memiliki Hamdan.
"Makan dulu Riana cantikku, Istrinya Mas Hamdan. nanti kalo gemuk pasti ga akan pusing lagi, hmm?"
Aku mengangguk.
"Ayo buka mulutnya. oh ya sayang Fattah bicara apa aja? Aku sempat curiga lho."
"Dia cuma mau tau Aku udah -- yang intinya mengarah kesana."
"Dasar Fattah, lalu kamu jawab apa?" balas Hamdan menunggu mulutku habis.
"Aku bilang Sakit itu doang,"
"Gimana?" kata Hamdan ingin di perjelas lagi.
"Bukan, anu gini Awalnya... kaya memancing Aku buat respon pointnya aja gitu?"
"Dia mengatakan apa Ayo Ri? aku mau tau?"
"Yaudah jangan marahin Fattah ya?"
"Engga,"
balas Hamdan lembut.
"Gairah perempuan lebih kuat dan ... tenaga laki laki kalo kelepasan ga sakit katanya dia."
"Astagfirullah Fattah ngomongin apa dia."
"Kan itu udah kepo dia?" Aku minta pembelaan intinya aku ga salah.
"Aku jawab Ya Sakitlah."
"Aturan kamu kunci mataku saat dia bicara aneh aneh Aku bantuin sebisaku."
"Maaf Mas.."
"Kata Sakit bilang ke laki laki yang bukan Aku orangnya itu mengundang syahwat dia Sayang. tapi Aku percayakan Fattah ga akan berlebihan kaya tadi ya?
Aku mengangguk ternyata makanku Habis.
"Mas? Aku mau jus melon dingin."
"Masih pagi Sayang?" larangnya.
"Siang beli yuk pake motor Abi. Ga tahan!" pekikku maksa.
Hamdan cukup bersabar dengan segala sikapku.
Hamdan terdiam.
"Mas mau marah ya?"
"Bukan..." jawabnya cepat.
hamdan memejamkan matanya.
Aku melihat sesuatu menonjol dari bawah balik celana kokonya.
"Aku ke kamar mandi dulu?"
"Ihh Mas kenapa." kataku meledeknya sambil tertawa.
Mungkin suara manjaku membuat suamiku ga tahan.
"Jangan bercanda Riana. ga lama tungguin di kamar ya? minum tuh airnya habisin."
"Mau di bantu Mas?" ucapku nakal.
"Riana?? jangan mancing aku."
Hamdan keluar kamar menyabet handuk dan menahannya.
Aku minum dan kuhabiskan airnya dan niatku nakal akhirnya ku samperin saja Hamdan ke kamar mandi.
...
Next?
semangat tor