Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4 Pulang
Happy reading
Rama membuktikan ucapannya. Ia tak sekadar membuntuti mobil yang membawa Hawa dari kejauhan, melainkan memacu motor tuanya hingga sejajar dengan kendaraan itu.
Di sepanjang jalan, Hawa meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, mencoba meredam gelisah.
Rumah yang dulu menjadi tempat ternyaman untuk pulang, kini justru terasa seperti muara luka yang ingin ia hindari.
Hawa takut jika kakinya melangkah masuk, rasa sakit yang tadi memenuhi rongga dada akan kembali menyergap dan mengoyak jiwa.
Namun, ketakutan terbesarnya adalah... jika rasa sakit itu membuat hatinya menggelap, hingga yang tersisa hanyalah amarah dan kebencian.
Sejenak, ia pejamkan mata, memegang dadanya, dan mengingat kembali ucapan Rama.
"...Langitkan semua yang kamu mau. Dan jangan lupa... minta hati yang lapang, ikhlas, ridho."
Hawa mengamini kata-kata itu. Menautkan pikirannya pada Illahi. Membisikkan pinta dengan sepenuh hati.
Allah, lapangkan dadaku. Basuh rasa sakitku dengan cinta-Mu. Jangan biarkan aku membenci keluarga yang selama ini menghujaniku dengan cinta...
Damai, itu yang kini dirasa. Tapi mungkin hanya sesaat. Entah nanti.
Tujuh menit berlalu, mobil yang mengantarnya pulang telah melewati Jalan Teratai. Itu berarti, sebentar lagi ia akan sampai di tempat tujuan.
Hawa meminta driver GoCar untuk menghentikan mobil beberapa meter dari gerbang rumah.
Ia sengaja turun di sana agar kedatangannya tak terendus oleh ayah, bunda, dan kakaknya--Hanum.
Hawa tidak ingin dihujani pertanyaan. Apalagi menerima amarah ayahnya, sebab ia pergi tanpa berpamitan.
"Rama, makasih," ucapnya begitu Rama menghentikan vespa tepat di depannya.
Rama mengulas senyum, menatap sekilas wajah Hawa.
"Santai aja. Lain kali jangan jalan sendiri di tempat sepi, apalagi di malam hari. Bahaya."
Hawa tersenyum tipis, lalu membuang napas pelan. "Iya, Ram. Besok-besok aku akan minta Bi Ijah untuk menemani. Kalau perlu, aku menelepon mu, biar kamu juga ikut menemani dan mentraktir mie rebus lagi."
"Siap, aku tunggu teleponmu."
Tawa kecil mengudara, keakraban kembali tercipta seperti beberapa tahun lalu--saat mereka menjalani masa ospek.
"Oya, Ram... aku boleh pinjam hp mu sebentar untuk menghubungi Bi Ijah? Aku kelupaan nggak bawa hp."
"Boleh." Rama menyahut cepat.
Tanpa membuang waktu, ia mengeluarkan gawai dari dalam saku kemeja, kemudian mengulurkannya pada Hawa.
Setelah mengucap kata terima kasih, Hawa mengetik dua belas digit nomor yang diingatnya di luar kepala, lalu menekan ikon panggil.
Ia menahan napas. Terpaku pada nada sambung yang terus berulang, berharap suara itu segera tergantikan oleh sapaan Ijah di ujung sana.
"Assalamu'alaikum... Maaf, ini siapa ya?"
Hawa tersenyum lega begitu mendengar suara khas Ijah.
"Wa'alaikumsalam... ini Hawa, Bi," jawabnya pelan.
"Masya Allah, Non Hawa..."
"Jangan keras-keras, Bi! Tolong buka gerbang belakang ya. Jangan sampai ayah, bunda, dan Kak Hanum tahu."
"Njih, Non. Siap. Bibi segera buka gerbangnya."
"Aku tunggu, Bi."
Selanjutnya, Hawa memutus panggilan telepon. Mengembalikan gawai yang dipinjamnya pada Rama.
"Nomormu belum ganti kan, Ram?" ujarnya seraya bertanya.
"Belum. Masih sama, seperti hati orangnya."
"Sok sweet." Hawa terkekeh. Sakit yang dirasa seolah menguap ketika berbincang dengan Rama.
"Nanti, aku TF ya. Minta nomor rekeningmu."
Rama mengerutkan dahi, seakan tak paham.
"Buat apa?"
"Mengganti ongkos Go-Car."
"Udah, nggak usah."
"Tapi..."
"Buruan masuk. Pasti Bi Ijah udah menunggu."
Hawa mengejapkan mata, mengindahkan perintah sekaligus ucapan Rama.
Setelah memastikan Hawa masuk ke dalam gerbang kecil yang berada di belakang rumah, Rama menggeber sepeda motornya sembari menatap sekilas bangunan mewah yang kelak ingin disinggahinya untuk menjemput cinta dan mewujudkan mimpi.
.
.
"Tadi, Non Hawa jadi pergi ke mini market?" tanya Ijah begitu ia dan Hawa berada di dalam kamar.
Hawa menggeleng pelan. Mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Tadi, aku ke Taman Bakung, Bi."
"Loh, tempat itu kan sepi, Non. Apalagi di malam hari. Kadang banyak pemuda mabuk yang nongkrong di sana."
"Aku ditemani Rama, Bi. Jadi aman."
"Rama? Teman Non Hawa?" tanya Ijah menuntut jawaban.
"Iya, Bi. Teman semasa ospek dulu."
"Owh... Non Hawa sengaja janjian sama Mas Rama atau..."
"Bibi kepo," pangkas Hawa diiringi tawa kecil.
"Jujur, Bibi khawatir, Non. Bibi takut, Non Hawa nekat pergi dari rumah." Wajah Ijah menyendu dengan sepasang mata yang terbingkai embun.
Hawa meraup udara dalam-dalam, kemudian mengembuskan perlahan. Menarik pelan tangan Ijah, menuntunnya duduk di sisi.
"Bi, dia melamar Kak Hanum, bukan aku," bisiknya lirih, lantas membawa kepalanya rebah di pangkuan Ijah. Coba temukan sentosa di sana.
"Aku bodoh, Bi. Sangat bodoh. Salah mengartikan kebaikan dan perhatian Damar sebagai sinyal cinta."
Ketegaran Hawa runtuh. Air mata mengalir deras tanpa permisi. Lara yang tadi menguap kini kembali memenuhi ruang rasa.
Ulu hati Ijah bagai diremas kuat ketika mendengar rangkaian kata yang diucapkan oleh Hawa.
Sakit... bahkan, teramat sakit.
Baginya, Hawa bukan sekadar nona yang harus dilayani. Hawa adalah detak jantung yang ia rawat dengan separuh nyawanya.
Jika kasih Janu dan Gistara adalah samudra, maka cintanya untuk Hawa adalah langit yang memeluk tanpa batas.
"Non Hawa tidak bodoh," ucapnya pelan menekankan kata tidak, sembari mengusap lembut kepala Hawa.
"Kebaikan dan perhatian Den Damar memang sinyal cinta, tapi mungkin..."
"Tapi apa, Bi?"
Ijah menghela napas. Sesaat terdiam. Memilih kata-kata yang tepat dan sekiranya tidak melukai perasaan Hawa.
"Tapi... mungkin ada hal yang belum bisa dijelaskan. Atau... Den Damar hanya takut Non Hawa tidak menerima cintanya. Bisa jadi, Den Damar tidak ingin persahabatan yang sudah dijalin lama... hancur karena cinta sepihak."
"Jika memang karena itu, kenapa dia malah melamar Kak Hanum? Kenapa nggak bertanya langsung, bagaimana perasaanku padanya? Dia tega! Jahat! Bukan hanya menyakiti aku, tapi juga menghancurkan hidup Kak Hanum, karena membelenggunya tanpa cinta."
Lidah Ijah terasa kelu. Bibirnya tak kuasa membalas setiap kata yang mengalir begitu saja dari bibir Hawa. Biarkan sang nona menumpahkan lara lewat tangis.
Hening turun.
Tak ada lagi tanya.
Tak ada lagi kata-kata penguat.
Diambil alih isakan dan kidung malam.
Di tempat lain...
Sudah satu jam Damar duduk menyendiri di balkon sambil memandangi hamparan langit malam.
Wajahnya muram. Sepasang matanya memanas.
Bukan bahagia, bukan juga kelegaan yang didapat setelah melamar Hanum. Tapi, hati yang remuk redam.
Sejak lama Damar tahu... ada harga mahal yang harus ia tebus untuk tetap bisa dekat dengan Hawa--sahabat sekaligus gadis yang dicinta.
"Hawa, maaf..." lirih, sakit, Damar mengucap kata itu.
Ia kalah sebelum berjuang.
Ia harus rela hancur, supaya tetap bisa bersama.
🍁🍁🍁
Bersambung
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
upps..belum apa² dah komen