NovelToon NovelToon
Balasan Seorang Istri Untuk Suami Dan Mertua Jahat

Balasan Seorang Istri Untuk Suami Dan Mertua Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.

Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.

Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.

Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

satu

Pagi-pagi sekali, sebelum adzan Subuh terdengar, Shafira sudah berdiri di dapur. Di tangannya, selembar uang dua puluh ribu sudah terkepalm. Tatapan matanya penuh perhitungan, seolah sedang mengira-ngira.

"Dua puluh ribu. Buat lima orang. Tiga kali makan. Bukan tantangan, ini namanya ujian hidup." gumamnya lirih, tapi senyum tipis tetap menggantung di bibirnya.

Setahun sudah ia menjadi istri Aris. Dan selama itu pula ia tinggal di rumah mertuanya. Bu Ratna_si ratu nyinyir sejagat raya, dan Tia_adik ipar yang memiliki lidah lebih tajam dari silet. Satu-satunya yang tidak terlalu banyak bicara adalah Pak Agus, ayah mertuanya.

Sementara Aris, suaminya sendiri bisa dibilang pelit akut. Bahkan dompet warteg pinggir jalan mungkin lebih dermawan.

Pagi ini, seperti biasa, Shafira sudah mulai memasak. Telur dadar dua butir, sambal terasi, sayur bening bayam, dan tempe goreng tipis-tipis. Semua harus cukup untuk lima orang dewasa.

Belum sempat nasi diangkat dari dandang, suara cempreng sudah menggema dari arah ruang makan.

"Lho, ini doang lauknya? Serius, Mbak?"

Tia muncul, masih mengenakan baju tidur dengan rambut bak singa.

Shafira menoleh sekilas, tetap tenang.

"Kalau kamu mau menu resto, coba kamu yang belanja sendiri. Duitnya cuma segitu. Atau kamu mau patungan?" ujarnya santai.

Tia mendengus.

"Yah, alesannya selalu uang! Mbak tuh istri, tugasnya mikir, bukannya ngeluh!"

Belum sempat ia menimpali, Bu Ratna pun ikut masuk ke dapur.

"Ra, kamu tuh makin ke sini makin males.

Cuma lauk begini, nggak malu apa sama mertua? Ibu zaman dulu masak buat enam orang juga bisa, nggak pakai ngeluh!"

Shafira menaruh sendok sayur, lalu berdiri dengan tubuh tegak. Matanya menatap keduanya bergantian.

"Zaman Ibu dulu, harga cabe belum lima puluh ribu sekilo, harga telur masih bisa dibeli pakai koin. Dan zaman dulu juga, kayaknya belum ada suami yang kasih istrinya dua puluh ribu per hari buat masak."

Tia terkekeh sinis.

"Halah, ngeluh terus. Kalau nggak sanggup, ya kerja aja. Jangan ngandelin suami."

"Kalau kamu mau ikut campur urusan rumah tangga orang, minimal udah punya rumah tangga sendiri dulu. Nggak usah sibuk komen, kayak netizen." cetus Shafira mendengus.

"Kamu tuh ya, ngomong suka nyelekit! Gimana sih Ibu kamu dulu ngajarin kamu?" semprot Bu Ratna sambil melotot.

Shafira menatap Bu Ratna dengan kepala sedikit miring.

"Ibu saya ngajarin saya jadi perempuan kuat, Bu.

Bukan perempuan yang suka nyinyirin menantu tiap pagi."

Suasana langsung sunyi sejenak. Hanya terdengar suara minyak yang masih menggoreng tempe. Bu Ratna langsung melengos keluar sambil menggerutu, disusul Tia yang ikut kesal.

Baru saja suasana mereda, Aris muncul dari kamar. Wajahnya kusut dengan langkah malas.

"Lauk udah siap, Ra? Mas buru-buru ini."

Shafira langsung menyodorkan sepiring nasi beserta telur dadar.

"Udah. Tapi Mas, gas tinggal sedikit. Kalau besok meledak, berarti itu kode semesta supaya Mas mulai nambahin uang belanja."

Aris mengerutkan dahi.

"Kamu tuh ya, uang dua puluh ribu juga cukup kalau bisa ngatur. Jangan boros-boros."

Shafira menatap suaminya dengan malas.

"Aku bukan boros, Mas. Kalau mau tahu gimana rasanya ngatur uang dua puluh ribu buat lima orang, Mas gantian yang belanja, biar aku yang masak.

Gimana?"

Aris mendengus, lalu mengambil piring dan mulai duduk menyuap makanannya.

Shafira langsung melengos ke dapur, senyum kecil mengembang di bibirnya. Bukan senyum bahagia. Tapi senyum perempuan kuat yang tak bisa dikalahkan oleh nyinyiran mertua, adik ipar, atau bahkan suaminya sendiri.

Aris Permana bekerja di sebuah pabrik sebagai karyawan biasa, dengan gaji 2.5 juta perbulannya. Aris hanya memberi jatah belanja pada sang istri sebesar 20 ribu sehari. Beberapa bulan ini jabatannya naik sebagai kepala pengawas dengan gaji 8 juta. Dan tentu saja tanpa sepengetahuan sang istri. Yang tahu jabatan naik hanya keluarganya saja.

Sudah setahun pernikahan, tetapi mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Membuat ibu mertua nya mengira kalau Sharifa mandul. Berbeda dengan sang suami yang tidak terlalu memikirkan, karena Aris memang sangat mencintai Shafira.

Teringat betapa susahnya dulu ia menaklukkan hati sang istri. Banyak sekali lelaki yang mencoba mendekati Shafira. Dari yang berprofesi sebagai guru, dokter, pekerja kantoran. Aris sempat insecure karena dia hanyalah seorang buruh pabrik biasa. Tetapi, Shafira tetap memilihnya.

Shafira sendiri anak yatim piatu. Punya Bibi tapi karena tempat tinggal yang jauh, membuat Shafira tidak tinggal dengan bibinya. Shafira mempunyai rumah peninggalan orang tuanya, rumah gubuk yang masih memakai kayu, dan beralaskan semen. Membuat mertuanya dari awal tidak pernah menyukai Shafira. Karena melihat Shafira hanya wanita miskin yang akan menjadi beban bagi anaknya.

Setelah semua pekerjaannya selesai, Shafira pun mulai melanjutkan pekerjaan sampingannya, yaitu menulis novel online dan berjualan online disebuah aplikasi.

Penghasilannya mencapai 15 sampai 20 juta lebih perbulannya. Tapi tentu saja tanpa sepengetahuan suami dan keluarga suaminya.

Uangnya ia tabung dan untuk keperluan dirinya sendiri. Setelah selesai mengecek beranda penjualannya, dan menulis bab baru untuk novel onlinenya. Ia pun mengistirahatkan tubuhnya sejenak.

Tring!

"Halo, Ra. Keluar yuk, ngebakso." seru Vinna diseberang telepon.

"Ngebakso mulu prasaan, gak ada bosen-bosennya lo." jawab Shafira heran pada sahabatnya itu.

"Iyalah, kalau masalah perpentolan, gak ada yang namanya bosan. Hahaha..." seru Vinna tertawa.

"Kuy lah, lo jemput ya."

"Oke, gue otw langsung nih!"

"Iya!"

Tutt!

Shafira pun segera bersiap dan mengambil tas selempangnya yang sudah lusuh. Tas yang ia beli sewaktu masih gadis dulu.

"Heh, mau kemana kamu." ketus Bu Ratna ketika melihat menantunya keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapih.

"Mau ketemu Vinna, Bu. Udah janjian. Lagian semua pekerjaan sudah beres. Masak udah, nyapu, nyuci juga udah semua."

Bu Ratna menggeleng pelan sambil mendengus.

"Ibu tuh ya heran. Cewek zaman sekarang, dikit-dikit healing. Dikit-dikit keluar. Apa susahnya sih diem di rumah jagain rumah tangga?"

"Aku jaga rumah tangga, Bu. Jadi selama semua kewajiban udah aku beresin, nggak ada salahnya kalau keluar sebentar. Lagian aku ini bukan pembantu, Bu. Tapi menantu."

Bu Ratna mengangkat alis, hendak membalas, tapi mulutnya hanya terbuka tanpa suara.

Shafira langsung berjalan santai menuju pintu, meninggalkan ibu mertuanya yang masih terdengar misuh-misuh.

"Lo tuh beneran masih dikasih uang dua puluh ribu per hari buat masak orang satu rumah?Gue nggak habis pikir gimana cara mereka mikir." ujar Vinna sambil menggeleng tak percaya.

Shafira mengangguk, sambil mengunyah baksonya.

"Dan itu pun masih diprotes pula, kalau lauknya nggak sesuai ekspektasi mereka."

Vinna menggeleng sambil mencibir.

"Lo tuh mentalnya baja. Gue kalau jadi lo, udah gue lempar pakai centong itu kepala si Aris!"

"Gue juga maunya, gitu. Tapi keburu centongnya gue pakai buat goreng telur." ujar Shafira sambil tertawa. Sementara Vinna hanya bisa menggeleng, melihat sahabatnya itu yang masih bisa tertawa. Padahal setiap hari dibuat pusing oleh keluarga suaminya.

1
Desi Belitong
aku suka dia melawan bukan hanya bisa nangis💪💪
Aisyah Sabilla
THOR KAPAN UPDATE
Iry: kemungkinan bsk aku update langsung banyak yah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!