Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Lembah Kabut Beracun
Paviliun Tugas (Mission Hall) adalah jantung ekonomi Sekte Awan Hijau.
Bangunan megah tiga lantai itu penuh sesak. Ribuan murid luar berdesakan di depan papan pengumuman raksasa yang terbuat dari batu giok, tempat misi-misi baru muncul dengan tulisan cahaya magis.
"Cari 10 Kulit Rusa Roh! Hadiah 5 Poin Kontribusi!"
"Bantu Penatua Alkimia mengipasi tungku api selama 3 hari! Hadiah 8 Poin!"
"Buru Babi Hutan Bertaring Besi! Hadiah 15 Poin!"
Suasana di sana lebih mirip pasar hewan daripada tempat suci kultivasi. Murid-murid berebut misi yang "mudah dan mahal", seringkali berujung pada adu mulut atau perkelahian kecil.
Poin Kontribusi adalah segalanya. Dengan poin, murid bisa menukar Teknik Kultivasi lanjutan, Pil, Senjata, atau waktu meditasi di Ruang Roh. Tanpa poin, kau hanyalah sampah yang menunggu diusir.
Lin Xuan berdiri di belakang kerumunan, matanya memindai papan giok dengan dingin.
"Misi tingkat rendah terlalu membuang waktu," gumam Lin Xuan. "Lima poin untuk berburu rusa? Aku butuh 100 poin hanya untuk menukar satu botol Pil Pengumpul Qi."
"Cari yang berbahaya," suara Gu Tianxie berbisik di kepalanya. "Bahaya artinya sedikit kompetisi. Sedikit kompetisi artinya banyak darah untukku."
Mata Lin Xuan berhenti pada sebuah gulungan misi berwarna merah kusam di pojok bawah papan, yang sepertinya diabaikan semua orang.
[Misi Pengumpulan: Rumput Darah Ular]
Lokasi: Lembah Kabut Beracun (Sisi Utara).
Target: 10 Batang.
Hadiah: 50 Poin Kontribusi.
Bahaya: Racun Miasma Tingkat 2. Disarankan Qi Condensation Lapisan 5 atau memiliki Pil Anti-Racun.
Lima puluh poin. Sepuluh kali lipat misi biasa.
Lin Xuan berjalan maju, membelah kerumunan dengan aura dinginnya, lalu mencabut gulungan itu.
Seorang murid senior yang menjaga meja pendaftaran mendongak kaget. "Hei, junior. Kau yakin? Misi itu sudah dipajang tiga bulan. Tidak ada yang mau ambil."
"Kenapa?" tanya Lin Xuan singkat.
"Karena biaya beli Pil Anti-Racun lebih mahal daripada hadiah misinya," senior itu tertawa mengejek. "Kecuali kau mau paru-parumu meleleh di sana."
"Aku ambil," kata Lin Xuan datar, melemparkan token identitasnya.
Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk bahunya.
"Saudara Mu! Kau gila?!"
Itu Zhao Yun. Dia baru saja selesai mendaftar misi mengantar surat, wajahnya pucat melihat gulungan di tangan Lin Xuan.
"Lembah itu kuburan, Mu Chen! Kabut ungunya bisa membunuh murid Lapisan 4 dalam satu jam!"
Lin Xuan menepis tangan Zhao Yun pelan. "Aku butuh poin. Dan aku punya metode sendiri menangani racun."
Ini bukan bohong. Tulang Asura membuat tubuhnya sangat tahan terhadap racun. Dan jika racunnya terlalu kuat, Cincin Jiwa Kuno bisa menyaringnya.
"Kalau begitu aku ikut!" kata Zhao Yun tegas.
Lin Xuan mengerutkan kening. "Jangan bodoh. Kau elemen Angin, pertahananmu tipis. Kau akan mati."
"Aku punya ini!" Zhao Yun mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya. "Pil Penahan Racun. Ibuku memberikannya sebelum aku berangkat. Cukup untuk 4 jam."
Lin Xuan menatap mata Zhao Yun. Ada kekhawatiran tulus di sana. Zhao Yun benar-benar takut Lin Xuan mati sendirian.
"Kau benar-benar merepotkan," desah Lin Xuan. "Baiklah. Tapi jika pilmu habis, kau lari. Aku tidak akan menggendong mayatmu pulang."
"Sepakat!" Zhao Yun menyeringai lebar.
Dua jam kemudian.
Mereka berdiri di bibir Lembah Kabut Beracun. Pemandangannya mengerikan. Pepohonan di sini berwarna hitam hangus, tanahnya becek dan berbau belerang. Kabut ungu tebal menggantung rendah, membatasi jarak pandang hanya lima meter.
"Ugh, baunya seperti telur busuk dicampur mayat," Zhao Yun menutup hidungnya, segera menelan satu butir pil. Lapisan cahaya hijau tipis menyelimuti tubuhnya penghalang racun.
Lin Xuan melangkah masuk tanpa pil. Dia hanya menahan napas dan membiarkan pori-pori kulitnya tertutup rapat menggunakan kontrol otot Tulang Asura.
"Kita berpencar sedikit, tapi tetap dalam jarak pandang," instruksi Lin Xuan. "Cari rumput yang daunnya merah seperti darah segar. Jangan sentuh apapun yang berwarna cerah."
Mereka bergerak perlahan ke dalam kabut.
Suasana sangat sunyi. Tidak ada suara burung atau serangga. Hanya suara langkah kaki mereka yang becek di lumpur.
Sepuluh menit berlalu.
"Dapat satu!" seru Zhao Yun girang, mencabut sebatang rumput merah dari sela akar pohon mati.
Lin Xuan juga sudah mendapatkan tiga batang. Insting darah dari cincinnya membantunya mendeteksi tanaman yang mengandung energi 'Darah' itu dengan mudah.
Namun, semakin dalam mereka masuk, Lin Xuan merasakan sesuatu yang aneh.
"Gu, kau merasakannya?" tanya Lin Xuan dalam hati.
"Ya," jawab Gu. "Ada bau darah yang... tidak wajar. Bukan darah binatang buas. Ini darah manusia."
"Zhao Yun, berhenti," perintah Lin Xuan tajam.
"Kenapa? Aku baru lihat ladang rumput di depan sana!" Zhao Yun menunjuk ke arah gundukan tanah di depan.
"Jangan bergerak."
Lin Xuan melempar sebuah batu ke arah gundukan itu.
SPLAT!
Gundukan itu bukan tanah. Itu tumpukan mayat.
Zhao Yun terlonjak mundur, wajahnya memucat. "I-itu..."
Ada tiga mayat murid sekte lain (dilihat dari seragam kuning mereka Sekte Pedang Besi). Tubuh mereka kering kerontang, seolah-olah seluruh cairan tubuhnya telah disedot habis. Kulit mereka menempel pada tulang, wajahnya membeku dalam ekspresi horor.
"Mereka bukan mati karena racun atau binatang buas," gumam Lin Xuan, memeriksa leher salah satu mayat.
Ada dua lubang kecil di leher. Rapi. Bedah.
"Mayat hidup?" bisik Zhao Yun gemetar.
"Bukan. Di dunia ini tidak ada yang seperti dongeng makhluk hidup," kata Lin Xuan. "Ini teknik kultivasi jahat. Seni Pengurasan Darah."
"Hati-hati!" teriak Gu tiba-tiba. "Di atas!"
SHRAAAK!
Sesuatu jatuh dari pepohonan di atas mereka. Bayangan hitam besar.
Lin Xuan bereaksi instan. Dia mendorong Zhao Yun ke samping hingga jatuh ke lumpur.
Sebuah cakar raksasa menghantam tempat Zhao Yun berdiri sedetik yang lalu, menciptakan kawah sedalam setengah meter.
Makhluk itu mendarat dengan berat.
Itu adalah seekor Laba-laba Muka Manusia (Human-Faced Spider). Ukurannya sebesar kerbau. Kakinya berbulu tajam seperti tombak. Tapi yang paling mengerikan adalah pola di punggungnya yang menyerupai wajah manusia yang sedang menjerit.
Dan matanya... merah menyala, penuh dengan kegilaan yang tidak alami.
"Monster Tingkat 1 Puncak! Setara Qi Condensation Lapisan 6!" teriak Zhao Yun, mencabut pedangnya dengan tangan gemetar. "Kenapa monster sekuat ini ada di pinggiran?!"
"Dia bermutasi," kata Lin Xuan dingin. Dia melihat urat-urat hitam berdenyut di tubuh laba-laba itu. "Seseorang memberinya makan darah kultivator."
Laba-laba itu mendesis, menyemburkan jaring lengket ke arah Lin Xuan.
Lin Xuan melompat mundur, menggunakan Langkah Hantu. Jaring itu mengenai pohon di belakangnya, dan pohon itu langsung mendesis meleleh karena asam.
"Zhao Yun! Alihkan perhatiannya! Gunakan kecepatanmu!" perintah Lin Xuan. "Jangan biarkan dia fokus padaku!"
"Kau gila! Aku bisa mati!" protes Zhao Yun, tapi kakinya bergerak.
Teknik Langkah Angin!
Zhao Yun melesat mengelilingi laba-laba itu, menebaskan pedangnya ke kaki-kaki monster itu.
TANG! TANG!
Pedang besi Zhao Yun hanya memercikkan api. Kulit laba-laba itu sekeras baja.
"Kulitnya terlalu keras!" teriak Zhao Yun panik saat satu kaki laba-laba itu hampir menusuk perutnya.
Monster itu meraung marah, berputar mengejar Zhao Yun yang lincah seperti lalat.
Ini kesempatan Lin Xuan.
Saat punggung laba-laba itu terbuka, dia mengepalkan kedua tangannya. Tulang-tulang jarinya bergeser, memadat, berubah menjadi hitam kelam di bawah kulit. Tulang Asura: Cakar Besi Hitam.
Lin Xuan melompat ke udara, menerjang langsung ke arah "wajah manusia" di punggung laba-laba itu titik terlemahnya.
"MATI!"
CRASH!
Tangan kosong Lin Xuan menembus cangkang keras di punggung laba-laba itu seperti pisau panas memotong mentega.
Cairan hijau muncrat. Laba-laba itu menjerit memilukan, tubuhnya mengejang hebat, mencoba melempar Lin Xuan.
Tapi Lin Xuan tidak melepas. Dia justru menanamkan tangannya lebih dalam, mencari inti jantungnya, lalu menyalurkan Qi Merah dari cincinnya.
LEDAKAN QI!
BOOM!
Bagian dalam tubuh laba-laba itu hancur berantakan.
Makhluk itu ambruk ke tanah, mati seketika.
Lin Xuan melompat turun, napasnya sedikit berat. Tangannya berlumuran darah hijau dan lendir.
Zhao Yun merangkak bangun dari lumpur, matanya terbelalak menatap bangkai raksasa itu, lalu beralih ke tangan kosong Lin Xuan.
"Saudara Mu..." suara Zhao Yun tercekat. "Kau... kau membunuhnya dengan tangan kosong? Itu monster Lapisan 6!"
Lin Xuan menyeka tangannya ke jubah laba-laba itu, wajahnya kembali datar. "Dia sudah terluka sebelumnya. Cangkangnya retak. Aku cuma beruntung menusuk lukanya."
Kebohongan yang buruk. Tapi Zhao Yun yang naif atau mungkin memilih untuk percaya hanya mengangguk pelan. "Benar... pasti begitu. Kau nekat sekali."
Tiba-tiba, Gu Tianxie berbicara lagi.
"Lin Xuan. Belah perutnya. Ada sesuatu di dalamnya yang bukan organ tubuh."
Lin Xuan mengerutkan kening. Dia mengambil pedang Zhao Yun yang tergeletak.
"Pinjam sebentar."
"Eh? Mau apa?"
Lin Xuan membelah perut laba-laba itu. Di antara usus dan organ dalam yang hancur, ada sebuah benda logam yang bersinar redup.
Lin Xuan memungutnya.
Sebuah token hitam. Terbuat dari besi dingin. Di atasnya terukir satu huruf kuno berwarna merah darah.
Dan di balik token itu, ada lambang kecil yang sangat familiar bagi setiap murid Sekte Awan Hijau.
Lambang Awan... tapi dengan tetesan darah di bawahnya.
"Ini..." Zhao Yun mendekat, matanya menyipit. "Ini lambang sekte kita? Tapi kenapa warnanya merah?"
Lin Xuan menggenggam token itu erat-erat.
"Ada yang memelihara monster ini," kata Lin Xuan dingin. "Ada yang sengaja memberi makan murid sekte lain ke monster ini untuk percobaan."
"Dan pelakunya..." Lin Xuan menatap ke arah puncak Gunung Awan Hijau yang tertutup kabut. "...ada di dalam sekte kita sendiri."
Lembah ini bukan sekadar tempat misi berbahaya. Ini adalah laboratorium rahasia seseorang.
"Kita harus laporkan ini ke Tetua!" seru Zhao Yun polos.
"JANGAN!" bentak Lin Xuan.
Zhao Yun tersentak.
"Pikirkan, bodoh," desis Lin Xuan. "Siapa yang punya kuasa menyembunyikan monster seperti ini di wilayah sekte? Pasti Tetua atau orang berkuasa. Jika kita lapor membawa token ini, kita akan dibunuh malam ini juga untuk menutup mulut."
Zhao Yun menelan ludah, wajahnya menjadi pucat pasi. Realitas dunia kultivasi baru saja menamparnya keras.
"Lalu... apa yang harus kita lakukan?"
Lin Xuan menyimpan token itu ke dalam sakunya sendiri.
"Kita ambil rumputnya. Kita selesaikan misinya. Kita pura-pura tidak pernah melihat monster ini atau mayat-mayat itu."
"Dan token itu?"
"Aku yang simpan," kata Lin Xuan. "Anggap saja jaminan nyawa."