(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kambing Hitam Suci
"ARGH!" Su Qingxue menjerit, darah segar muncrat menodai lantai giok putih. Dia jatuh berlutut, memegangi bahunya yang terkoyak. "BAJINGAN! APA YANG KAU LAKUKAN?!"
"Menyelamatkan nyawamu, sekaligus memberikanmu sekte ini," jawab Han Luo cepat.
Han Luo membuang pedang berlumuran darah itu dan token Sekte Langit Suci ke lantai, tepat di samping genangan darah Su Qingxue.
Dia kemudian menembakkan Tarian Naga Merah tingkat rendah, membakar beberapa dinding dan pilar dengan teknik elemen Api yang murni dan lurus—teknik yang sangat identik dengan gaya bertarung kultivator ortodoks.
"Rencananya begini," Han Luo berjongkok di depan Su Qingxue yang sedang menahan sakit dan amarah. "Sekte Langit Suci menyusup ke Penjara Es Abadi. Mereka menculikmu dan memaksamu membuka gerbang ini karena mereka butuh darah iblismu."
Mata Su Qingxue yang tadinya penuh amarah kini membelalak saat otaknya mulai menyatukan kepingan rencana Han Luo.
"Setelah kau membuka gerbang, mereka mencoba membunuhmu," lanjut Han Luo, menunjuk luka di bahu gadis itu. "Tapi kau melawan dengan sisa tenagamu. Sayangnya, mereka berhasil membawa lari Teratai Es Tulang Iblis. Dan yang lebih penting..."
Han Luo tersenyum mengerikan di balik keriput palsunya.
"...merekalah yang meledakkan Xue Mochen di arena untuk melemahkan Sekte Iblis Langit sebelum melakukan pencurian ini. Kau bukanlah pembunuh Xue Mochen. Kau adalah pahlawan tragis yang bertahan melawan invasi musuh."
Su Qingxue menahan napasnya. Rencana ini... terlalu sempurna. Bukti fisik, luka di tubuhnya, dan motif yang sangat logis bagi Sekte Langit Suci (melemahkan sekte iblis dan mencuri harta). Ketua Sekte Iblis Langit tidak akan punya pilihan selain mempercayainya, atau setidaknya mengarahkan murkanya ke luar.
"Kau benar-benar iblis," bisik Su Qingxue, campuran antara ketakutan dan kekaguman.
"Aku adalah Tabib. Aku menyembuhkan penyakit sosial," Han Luo berdiri, merapikan jubah bungkuknya.
Suara ledakan udara terdengar dari luar gua. Ketua Sekte dan para Tetua yang marah sedang melesat kemari.
"Aku akan menghilang dari sini. Tinggallah di sini, menangislah dengan meyakinkan, dan biarkan sekte ini berperang melawan Sekte Langit Suci." Han Luo menepuk pipi Su Qingxue yang pucat. "Dan ingat, Tuan Putri... di mana pun kau berada, parasit di jantungmu adalah mataku."
Han Luo mengaktifkan Langkah Hantu Tanpa Jejak. Dia melebur ke dalam bayang-bayang kegelapan terdalam tepat saat pintu gua didobrak masuk oleh Ketua Sekte Iblis Langit yang murka.
"SIAPA YANG BERANI?!" raungan Ketua Sekte mengguncang gua.
Ketua Sekte melihat para Penegak Hukum yang tertidur di luar, dan kemudian melihat Su Qingxue terkapar berlumuran darah di dekat altar teratai yang kini kosong. Di sebelahnya, tergeletak pedang dan token dari musuh bebuyutan mereka.
"Qingxue!" Ketua Sekte mendarat di sampingnya. "Apa yang terjadi di sini?!"
Su Qingxue membatukkan darah. Dia menatap Ketua Sekte dengan air mata yang mengalir deras, memainkan peran pahlawan yang diinstruksikan oleh sang dalang.
"Ketua... maafkan aku..." Su Qingxue menangis tersedu-sedu. "Mereka... Sekte Langit Suci... mereka menyiksaku... mereka membunuh Mochen... dan mereka merampas Teratai Suci kita..."
Mata Ketua Sekte memerah. Urat-urat di pelipisnya menonjol seperti cacing. Niat membunuh yang bisa menenggelamkan satu kota meledak dari tubuhnya.
"SEKTE LANGIT SUCI! AKU AKAN MEMBANTAI KALIAN SAMPAI KE AKAR-AKARNYA!"
Di atap menara kejauhan, menembus dinginnya malam, Kakek Tua bungkuk yang memegang tongkat kayu melihat pilar energi iblis yang meledak dari arah Kolam Suci.
"Dan dengan demikian, layar telah dibuka," kekeh Tabib Qiu (Han Luo).
Dia menepuk dadanya, merasakan kotak giok yang berisi umurnya yang akan kembali. Han Luo melompat dari atap, menghilang ke dalam jalanan Kota Jinling, meninggalkan dua sekte raksasa yang kini saling mengarahkan pedang ke leher satu sama lain karena kebohongannya.
tpi gw demen....