Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cakra yang nekat dan Hana yang menggila
Dari kejauhan, di dalam mobilnya yang terparkir di seberang gedung Global Energi, Cakra menyaksikan pemandangan yang menghancurkan harga dirinya. Petugas keamanan membawa tumpukan anggrek bulan yang ia pilih dengan penuh harapan, lalu mencampakkannya ke tempat sampah lobi.
Amarah dan rasa tidak terima membakar dadanya. Tanpa pikir panjang, ia turun dari mobil. Cakra tahu jika lewat lobi utama, ia pasti akan dicegat oleh protokol keamanan yang ketat. Maka, ia memilih jalur gila, yakni tangga darurat.
Cakra menaiki anak tangga satu per satu dengan langkah lebar. Napasnya mulai memburu, namun pikirannya hanya tertuju pada satu nama. "Apakah si brengsek Tama telah membuatmu menutup hati untukku, Hana?" gerutunya di antara deru napas yang tersengal.
"Aku tahu betul betapa kamu sangat mencintaiku dulu... Aku memang bodoh karena tidak peka saat kau ditindas ibuku. Tapi kali ini, aku tidak akan melepaskan mu. Kau harus menjadi milikku lagi!"
Di lantai sepuluh. Cakra mendorong pintu besi itu perlahan. Beruntung, koridor sedang sepi karena Indah sedang sibuk di ruang rapat. Di saat yang bersamaan, Hana membuka pintu ruangannya, berniat menyusul Indah.
"Mas Cakr...!"
Belum sempat Hana menyelesaikan panggilannya, Cakra bergerak secepat kilat. Ia membekap mulut Hana dan mendorong tubuh wanita itu kembali masuk ke dalam ruangan, lalu mengunci pintu dari dalam.
Hana gemetar hebat. Sorot mata Cakra yang biasanya dingin kini tampak liar dan penuh obsesi yang menakutkan. Tanpa kata, Cakra merengkuh tubuh Hana. Rasa rindu yang ia bendung selama enam tahun meledak dalam tindakan impulsif yang kasar. Ia mencium Hana secara paksa, mengabaikan rontaan dan air mata yang mulai mengalir di pipi wanita itu.
"Lepas Mas, lepas! Aku sudah bukan lagi istrimu!" teriak Hana setelah berhasil memalingkan wajah, suaranya parau karena isak tangis.
Cakra justru semakin kalap. Ia mengunci kedua pergelangan tangan Hana di atas kepala dan menghimpit tubuh mungil itu ke dinding dingin. Hana menangis sejadinya, merasa terhina dan dilecehkan oleh pria yang dulu sangat ia muliakan.
Melihat kehancuran di wajah Hana, kesadaran Cakra seolah tersiram air es. Ia melepaskan cengkeramannya dan mundur dua langkah dengan napas tersengal.
"Maaf... Maafkan aku Hana, aku keluar kendali!" ucap Cakra dengan nada menyesal yang terlambat.
Hana mengatur napasnya yang sesak. Ia membetulkan hijabnya yang berantakan dengan tangan gemetar. Lipstik di bibirnya tersapu kasar, menciptakan gurat merah yang berantakan di wajahnya yang pucat. Ia menatap Cakra dengan tatapan paling dingin yang pernah ada.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi kanan Cakra, meninggalkan bekas kemerahan yang kentara.
"Aku benci padamu, sangat benci! Pergi dari sini!" bentak Hana dengan suara melengking yang pecah.
Cakra terpaku. Perih di pipinya tak sebanding dengan perih melihat tatapan benci di mata Hana. Tanpa berkata-kata lagi, ia berbalik dan keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, mengusap pipinya yang terasa panas.
Tepat saat Cakra keluar, Indah melintas membawa berkas. Ia terbelalak melihat CEO Ardiwinata Group keluar dari ruangan atasannya dengan wajah berantakan. Indah segera berlari masuk ke dalam.
"Bu Hana! Ya Tuhan, Ibu kenapa?" pekik Indah melihat kondisi Hana yang berantakan di pojok ruangan.
Hana tidak menjawab, ia hanya merosot ke lantai dan memeluk lututnya, menangis tersedu-sedu di balik meja kebesarannya. Keamanan yang ia bangun selama enam tahun seolah runtuh dalam sekejap oleh tindakan kasar Cakra.
Pertemuan yang seharusnya berlangsung siang itu dibatalkan secara sepihak. Hana merasa jiwanya kosong, sementara tubuhnya menggigil meski pendingin ruangan sudah dimatikan. Ia memutuskan untuk pulang lebih awal, meninggalkan kantor dengan langkah gontai dan wajah yang masih menyisakan trauma.
.
.
Di kediaman Sutoyo, Pak Sutoyo baru saja tiba setelah bermain golf. Ia mengernyitkan kening saat melihat mobil Hana sudah terparkir di garasi. Saat ia masuk, ia melihat Hana berjalan cepat menaiki tangga tanpa menyapa, langsung mengunci diri di kamar.
Tak lama, Indah datang mengantarkan beberapa berkas yang tertinggal. Pak Sutoyo langsung menghadangnya di ruang tamu.
"Indah, ada apa dengan Hana? Kenapa wajahnya pucat sekali dan dia pulang lebih awal?" tanya Pak Sutoyo dengan nada menuntut.
Indah sempat ragu, namun ia tahu Pak Sutoyo berhak tahu. "Tuan... tadi Tuan Cakra menyelinap masuk ke ruangan Ibu lewat tangga darurat. Saya melihat Tuan Cakra keluar dengan wajah merah bekas tamparan, dan saat saya masuk, Ibu Hana sedang menangis dalam keadaan berantakan."
Brak!
Pak Sutoyo memukul meja jati di depannya. "Kurang ajar! Apa yang sudah si brengsek itu lakukan terhadap putriku? Dia pikir dia masih punya hak? Dia masuk ke sana seperti pencuri!"
Di dalam kamarnya yang gelap, Hana meringkuk di atas tempat tidur. Ia mengirim pesan singkat kepada Tama, meminta pria itu menjemput El di sekolah karena ia tidak sanggup bertemu siapa pun saat ini. Beruntung, Tama baru saja selesai piket sejak semalam di Mabes Polri dan langsung meluncur memenuhi permintaan Hana.
Bayangan ciuman paksa Cakra terus menghantui pikirannya, membuatnya merasa mual sekaligus marah. Hana bangkit, menatap pantulan dirinya di cermin rias. Ia menghapus sisa lipstik yang berantakan dengan kasar.
"Aku tidak bisa diam begini saja. Aku harus membalasnya," gumam Hana dengan suara rendah yang tajam. Matanya yang sembap kini berubah menjadi dingin dan penuh ambisi balas dendam. "Mas Cakra pantas mendapatkan semua ini. Penderitaanku selama enam tahun harus terbayarkan oleh rasa sakit yang sebentar lagi akan ia rasakan!"
Ia tersenyum menyeringai. Sebuah rencana ekstrem mulai terbentuk di kepalanya, sesuatu yang akan menghancurkan ego Ardiwinata selamanya.
Malam pun tiba. El Barack sudah masuk ke kamarnya, pura-pura tidur namun sebenarnya sibuk berbisik dengan smartwatch-nya, menceritakan pada Cakra bahwa Bundanya tampak sakit hari ini.
Cakra pun terdiam, ia merasa bersalah dan menyesal karena telah bertindak bodoh.
Sementara itu, di balkon yang menghadap taman belakang, Hana duduk bersama Tama. Suasana sunyi, hanya ada suara jangkrik dan embusan angin malam. Hana menceritakan detail kejadian di kantor tadi pagi.
Tama mengepalkan kedua tangannya hingga buku jarinya memutih. "Ini sudah tidak bisa diampuni lagi! Pria brengsek itu sudah lancang menyentuhmu yang sudah bukan lagi miliknya!" Dada Tama serasa terbakar. Sebagai polisi dan sebagai pria yang mencintai Hana dalam diam, ia merasa gagal melindungi wanita itu.
"Oleh sebab itu Mas, kita lanjutkan rencana kita selanjutnya," ucap Hana tenang, terlalu tenang hingga membuat Tama waspada.
Tama mengernyitkan keningnya. "Rencana apalagi, Han?"
"Kita akan menikah secepatnya, Mas!"
"Apa? Menikah?" Tama terperanjat, matanya membelalak tak percaya. "Kau... kau tidak salah dengan keputusan gila mu ini?"
"Tidak, Mas. Toh kita tidak memiliki ikatan darah, kan? Lagian Mas Tama sudah berjanji akan membantuku!" Hana menatap Tama dengan penuh permohonan sekaligus tekad.
Tama menghela napas panjang. Jantungnya berdegup kencang antara rasa senang karena ia memang mencintai Hana, namun juga bingung. Menikah dengan adik tirinya sendiri, meski tidak sedarah, akan menjadi skandal dan dianggap tak beradab oleh norma masyarakat.
Namun, sebelum Tama sempat menjawab, sebuah suara berat menginterupsi dari arah pintu balkon.
"Lakukan."
Hana dan Tama tersentak. Mereka menoleh berbarengan dan mendapati Pak Sutoyo berdiri di sana dengan wajah yang sangat serius.
"Papah!" ucap keduanya serentak.
Pak Sutoyo melangkah maju ke arah mereka. "Papah sudah mendengar semuanya. Jika itu satu-satunya cara untuk membentengi Hana dari gangguan Cakra dan memberikan El perlindungan hukum yang kuat, maka Papah merestui kalian. Menikahlah, dan biarkan dunia tahu bahwa Hana sudah memiliki pelindung yang jauh lebih baik daripada seorang Ardiwinata."
Bersambung...