Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batasan di malam pertama
Malam yang panjang dan penuh emosi itu akhirnya sampai pada penghujungnya. Resepsi telah usai, menyisakan keheningan yang sedikit canggung di dalam kamar pengantin yang luas dan harum semerbak bunga mawar. Di ruang tengah, Pak Sutoyo sempat membisikkan harapan besarnya agar Hana dan Tama bisa segera memberikan cucu sebagai teman bermain El, sebuah harapan yang hanya bisa dibalas dengan senyum tipis oleh Hana.
Sementara itu, di kamar sebelah, El tampak sangat bahagia. Ia berhasil membujuk Bude Minah dan Aunty Rahma untuk menginap di Jakarta selama beberapa hari. Meskipun awalnya Bude Minah merasa tidak enak hati, rengekan El yang merindukan suasana Bangorejo akhirnya meluluhkan hatinya.
Di dalam kamar pengantin, Hana berdiri di depan cermin besar, jemarinya tampak kesulitan melepaskan hiasan konde dan jarum yang tertanam kuat di atas hijabnya. Tama, yang baru saja melepas jasnya, memperhatikan gerak-gerik Hana dari pantulan cermin.
"Maaf Han, aku hanya ingin membantumu saja," ucap Tama lembut sambil melangkah mendekat.
Hana menoleh sedikit, napasnya agak tertahan melihat Tama yang sudah berada tepat di belakangnya. "Iya Mas Tama, tidak apa-apa. Terimakasih karena mau membantuku."
Tama mulai bergerak perlahan. Jemarinya yang biasanya memegang senjata kini terasa sangat hati-hati dan lembut saat melepaskan satu per satu hiasan logam yang mengait di hijab Hana. Jarak mereka sangat dekat, begitu dekat hingga Hana bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan parfum mahal dari tubuh suaminya. Ada getaran aneh yang mulai merayap di hati Hana, sesuatu yang selama enam tahun ini telah ia lupakan.
Setelah beberapa menit yang terasa lambat, hiasan terakhir berhasil dilepas. Hana mendesah lega, merasakan beban di kepalanya menghilang. "Kepalaku rasanya jauh lebih ringan sekarang. Aku mandi dulu ya, Mas."
Tama hanya mengangguk pelan dan tersenyum. Begitu pintu kamar mandi tertutup, Tama langsung mengusap dadanya dan membuang napas perlahan. Jantungnya berdegup kencang seolah habis melakukan pengejaran kriminal kelas kakap. Berada sedekat itu dengan wanita yang dicintainya adalah ujian mental yang luar biasa bagi Tama.
Tiga puluh menit kemudian, Hana keluar dengan mengenakan kimono handuk berwarna krem. Rambutnya yang setengah basah tergerai di bahu, menciptakan pemandangan yang membuat Tama terpaku sejenak. Dengan telaten, Hana mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.
Tama, yang ingin selalu ada di sisi Hana, berinisiatif mengambil hair dryer dari atas meja rias. "Sini, biar aku keringkan rambutmu, Han. Supaya kamu tidak pusing kalau langsung tidur."
Hana mendongak, menatap mata Tama yang tulus. Namun, ia kembali teringat akan janjinya sendiri bahwa ini adalah pernikahan kontrak. Ia tidak ingin terlalu terbawa perasaan.
"Tidak usah Mas, aku bisa sendiri," tolak Hana halus sambil mengambil alih alat tersebut. "Mendingan sekarang Mas Tama mandi gih, pasti capek kan seharian berdiri menyapa tamu?"
Tama tertegun sebentar, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kikuk. "Ah, iya juga. Baiklah, aku mandi dulu ya."
Tama pun bergegas menuju kamar mandi dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Hana yang kini duduk termenung di depan meja rias. Hana menatap pantulan dirinya, menyentuh rambutnya yang masih basah, dan membatin tentang betapa baiknya pria yang sekarang menjadi suaminya itu.
Uap air hangat masih tersisa saat Tama melangkah keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan kaos dalam tipis berwarna putih dan celana panjang. Kaos yang melekat di tubuhnya memperlihatkan dengan jelas otot dada dan lengan yang kokoh hasil latihan keras di kepolisian.
Hana yang sedang merapikan selimut seketika tertegun. Matanya tak berkedip menatap sosok atletis di depannya. Selama ini ia hanya melihat Tama dalam balutan seragam dinas yang kaku atau kemeja rapi. Ini adalah sisi Tama yang paling mentah dan maskulin yang pernah ia lihat.
"Duduklah, Mas," perintah Hana dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menetralisir kegugupannya. Ia menepuk sisi kasur yang kosong di sebelahnya.
Tama mendekat dengan langkah ragu. Jantungnya berdebar jauh lebih kencang daripada saat menghadapi penggerebekan gembong nark*ba. Baginya, Hana adalah cinta pertama yang ia simpan dalam diam saat ini. Ia tak pernah menjalin kasih dengan wanita manapun, karena saat ini hatinya sudah terkunci pada adik tirinya ini.
Begitu Tama duduk, suasana mendadak canggung. Tama menunduk menatap jemarinya, sementara Hana justru memberanikan diri menatap suaminya dari samping.
"Mas, maaf sebelumnya jika aku mengatakan hal ini," buka Hana pelan. "Aku tahu ini adalah malam pertama kita, tapi kau tahu kan pernikahan ini seperti apa sedari awal?"
Tama mengangguk kecil, ada binar kecewa yang berusaha ia sembunyikan. "Ya, aku tahu Hana. Pernikahan kita hanya sebatas pernikahan di atas kertas."
"Itu sebabnya aku ingin menjelaskan sedari awal, bahwa tidak ada sentuhan fisik di antara kita. Aku ingin Mas Tama bisa menjaga jarak dan tahu batasannya. Mungkin Mas Tama paham apa yang aku maksud," tegas Hana.
Tama menghela napas panjang, menelan pahitnya kenyataan bahwa status 'suami' yang ia sandang hanyalah sebuah tameng hukum. "Iya Han, aku paham dan mengerti soal batasan. Kau tidak perlu khawatir."
Hana merasa beban di pundaknya terangkat. Karena kelelahan yang luar biasa, ia segera merebahkan tubuhnya. Namun, ia tidak lupa menaruh sebuah guling besar tepat di tengah tempat tidur sebagai pembatas antara mereka. "Selamat tidur, Mas."
"Selamat tidur, Han."
.
.
Malam berlalu dengan sunyi. Namun, saat fajar mulai menyingsing, suhu udara yang dingin di dalam kamar membuat alam bawah sadar bekerja di luar kendali. Guling pembatas itu entah bagaimana sudah merosot ke lantai.
Hana perlahan membuka matanya dan merasakan kehangatan yang luar biasa menyelimuti tubuhnya. Ia tersentak saat menyadari wajahnya terkubur di dada bidang Tama, dan sebuah tangan kekar melingkar erat di pinggangnya. Rupanya, dalam tidurnya yang lelap, Hana-lah yang mencari sumber kehangatan dan berakhir dalam pelukan suaminya.
Hana buru-buru menjauh, wajahnya memanas dan merona merah padam. Di saat yang sama, Tama terbangun karena pergerakan tiba-tiba itu. Ia mengucek matanya dan melihat ekspresi Hana yang tampak panik.
"Han, kamu kenapa? Wajahmu merah sekali," tanya Tama dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"T.... tidak Mas! Aku mau ke kamar mandi dulu!" jawab Hana gugup setengah mati. Ia hampir tersandung kakinya sendiri saat berlari menuju kamar mandi.
Pintu tertutup rapat. Tama terdiam sejenak, lalu tangannya meraba sisi kasur yang masih hangat bekas tubuh Hana. Ia tersenyum sangat lebar, sebuah senyum kemenangan yang manis.
'Bukankah semalam kau sendiri yang mengatakan tak ada sentuhan fisik? Tapi kenyataannya, kau sendiri yang melompat ke arahku dan memelukku begitu erat,' batin Tama bahagia.
Ia merebahkan kembali tubuhnya sesaat, menghirup sisa aroma parfum Hana yang tertinggal di bantalnya.
'Aku tidak akan melupakan peristiwa semalam, Han. Aku senang kau merasa nyaman berada dalam pelukanku, meski kau gengsi mengakuinya.'
Bersambung...
salam laros mania