Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang di Balik Berlian
Aula dansa Grand Astoria malam itu diselimuti kemewahan yang memuakkan. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit membiaskan cahaya ke arah deretan gaun desainer dan jas pesanan khusus yang dikenakan oleh elit-elit paling berbahaya di negeri ini. Di antara denting gelas sampanye dan alunan musik klasik yang membosankan, Rebecca Moretti melangkah masuk dengan gaun sutra berwarna zamrud yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Di lehernya, safir biru legendaris Moretti tetap bertengger sebagai pernyataan perang yang bisu.
Maximilian berjalan di sampingnya, satu tangannya memegang punggung bawah Rebecca dengan protektif. Meskipun luka di perutnya masih terasa berdenyut, Max menolak untuk terlihat lemah di hadapan para pemangsa sosial ini. Ia tahu, di ruangan ini, musuh bukan menyerang dengan peluru, melainkan dengan fitnah dan penghinaan.
"Jangan lepaskan genggamanku," bisik Maximilian, suaranya rendah dan memberikan ketenangan yang aneh di tengah hiruk-pikuk manusia.
Namun, ketenangan itu hancur saat sosok Bianca d'Angelo muncul dari kerumunan. Ia mengenakan gaun merah darah yang provokatif, memegang gelas kristal dengan jemari yang dihiasi berlian sebesar biji jagung. Bianca berjalan mendekat, menyunggingkan senyum yang lebih mirip seringai pemangsa.
"Maximilian, kau terlihat ... cukup sehat untuk seseorang yang baru saja merayap dari liang lahat," sapa Bianca, suaranya sengaja dikeraskan agar menarik perhatian tamu-tamu di sekitar mereka.
Maximilian tidak membalas sapaan itu, hanya menatapnya dengan mata obsidian yang dingin. Bianca kemudian beralih sepenuhnya kepada Rebecca. Ia menatap safir di leher Rebecca dengan tatapan merendahkan.
"Lalu, bagaimana kabar sang 'aset'?" tanya Bianca sinis. "Aku terkejut kau membawanya ke acara formal seperti ini. Kupikir kau hanya menaruhnya di mansion sebagai hiasan ranjang."
Rebecca menarik napas dalam, mencoba menjaga rahangnya agar tetap relaks. "Setidaknya aku adalah hiasan yang nyata, Bianca. Bukan sekadar tamu tak diundang yang terus mencoba mengemis perhatian."
Bianca tertawa—suara yang terdengar seperti gesekan pisau. Ia melangkah satu inci lebih dekat, masuk ke dalam ruang pribadi Rebecca. "Kau bicara seolah-olah kau punya tempat di meja ini, Sayang. Mari kita bicara jujur. Apa statusmu sebenarnya di keluarga Moretti?"
Rebecca terdiam. Pertanyaan itu menggantung di udara seperti awan mendung yang berat.
"Semua orang memanggilmu 'Nona Moretti', tapi dunia tahu siapa ayahmu. Kau adalah Sinclair yang bangkrut," lanjut Bianca, suaranya kini setajam belati yang dihunus. "Di dunia kami, wanita penguasa diakui lewat ikatan darah atau ikatan sah. Jadi, katakan padaku, kapan pemberkatan pernikahannya? Kapan surat sah ditandatangani? Oh, tunggu ... aku lupa. Tidak ada pernikahan, bukan?"
Darah di wajah Rebecca seolah tersedot keluar. Ia bisa merasakan tatapan mata-mata di sekeliling mereka mulai menghakimi.
"Tanpa cincin di jarimu dan sumpah di depan altar, kau hanyalah ... apa ya istilahnya? Sampah yang dipungut dari jalanan," desis Bianca tepat di depan wajah Rebecca. "Kau tidur di ranjangnya, kau memakai permatanya, tapi kau tetap bukan siapa-siapa. Kau hanyalah selir yang diberi senjata agar merasa penting. Seorang Moretti sejati tidak akan pernah menikahi sampah sepertimu."
"Cukup, Bianca," suara Maximilian menggelegar, namun Bianca hanya mengangkat bahu dengan santai sebelum berlalu pergi, meninggalkan luka yang menganga di batin Rebecca.
Sepanjang sisa acara, Rebecca merasa seperti mayat hidup. Suara tawa Bianca terus terngiang di telinganya, berputar-putar seperti gagak yang lapar. Ucapan itu menusuk tepat di bagian hatinya yang paling rapuh. Selama ini, Rebecca terlalu sibuk berlatih menembak, memanah, dan bertahan hidup hingga ia lupa memikirkan satu hal mendasar: apa sebenarnya dia bagi Maximilian?
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, keheningan terasa mencekik. Maximilian mencoba meraih tangan Rebecca, namun gadis itu menarik tangannya dengan halus.
"Rebecca, jangan dengarkan jalang itu. Dia hanya ingin memancingmu," ucap Maximilian lembut.
"Tapi dia benar, kan, Om?" Rebecca menoleh ke arah jendela, menatap lampu jalanan yang kabur oleh air mata yang ia tahan. "Aku bukan istrimu. Aku tidak punya status sah. Jiwa mudaku ... aku bahkan belum pernah terpikir tentang pernikahan seumur hidupku. Tapi di dunia ini, status adalah segalanya."
Maximilian terdiam. Ia tidak bisa menyangkal fakta itu. Di dunianya, kekuatan hukum dan tradisi sering kali lebih kuat daripada sekadar janji lisan.
"Kita tidur di satu ranjang yang sama setiap malam," suara Rebecca bergetar oleh konflik batin yang hebat. "Kau memelukku, kau melindungiku, kau memberiku otoritas. Tapi kau tidak pernah melamarku secara resmi. Apakah aku hanya ... pengganti yang sementara sampai kau menemukan wanita dari keluarga mafia besar yang pantas kau nikahi?"
"Jangan bicara gila, Rebecca!" Maximilian membentak, bukan karena marah pada Rebecca, melainkan karena frustrasi. "Kau tahu persis apa arti kau bagiku."
"Aku tidak tahu, Om! Itu masalahnya!" Rebecca meledak, air matanya akhirnya tumpah. "Aku galau dengan posisiku sendiri. Aku bukan lagi Rebecca Sinclair yang polos, tapi aku juga bukan sepenuhnya Moretti. Aku berada di antara dua dunia, menggantung tanpa kepastian. Aku merasa seperti sampah yang diberi gaun indah, persis seperti yang Bianca katakan."
Maximilian menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. "Pernikahan bukan sekadar upacara bagiku, Rebecca. Itu adalah komitmen yang akan mengikatmu selamanya dalam bahaya yang lebih besar. Aku ingin melindungimu—"
"Melindungi atau menyembunyikanku?" potong Rebecca pedih. "Jika kau benar-benar ingin aku menjadi ratumu, kau tidak akan membiarkan Bianca d'Angelo memperlakukanku seperti sampah di depan semua orang."
Malam itu, saat mereka tiba di mansion, Rebecca tidak langsung menuju kamar utama. Ia berdiri di balkon lantai dua, menatap hutan gelap yang mengelilingi rumah itu. Konflik batin berkecamuk hebat. Di satu sisi, ia mencintai Maximilian dengan seluruh jiwanya yang tersisa. Pria itu adalah penyelamatnya, mentornya, dan separuh jiwanya. Namun di sisi lain, ia merasa terhina oleh ketidakjelasan statusnya.
Ia memikirkan usia mudanya. Teman-teman sebayanya mungkin sedang memikirkan ujian semester atau kencan pertama, sementara dia sedang memikirkan apakah dia pantas menjadi istri seorang Alpha Mafia. Ia belum siap untuk janji seumur hidup, namun ia juga tidak sanggup jika harus dianggap sebagai "sampah" atau "selir".
Maximilian muncul di belakangnya, berdiri di ambang pintu balkon. Ia tidak mendekat, seolah tahu bahwa Rebecca butuh ruang.
"Aku memberikan kalung safir itu sebagai janji, Rebecca," suara Max terdengar berat. "Tapi jika kau butuh lebih dari itu untuk merasa utuh ... jika kau butuh dunia tahu bahwa kau adalah milikku secara sah ...."
"Aku hanya ingin tahu apakah aku cukup berharga untuk posisi itu, Om," bisik Rebecca tanpa berbalik. "Atau apakah kau hanya menungguku sampai aku 'cukup kuat' untuk dibuang?"
Maximilian menutup matanya sejenak, merasakan rasa sakit yang sama tajamnya dengan luka peluru di perutnya. Ia tidak menyadari bahwa diamnya selama ini, keinginannya untuk tidak "mengikat" Rebecca terlalu cepat karena usianya yang masih muda, justru menjadi racun bagi batin gadis itu.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal bersama, Rebecca tidur di sisi ranjang yang paling jauh dari Maximilian. Meskipun mereka berada di bawah satu selimut, ada jurang pemisah yang tercipta oleh kata-kata Bianca d'Angelo. Rebecca terus terjaga, menatap kegelapan, mempertanyakan setiap inci keberadaannya di rumah itu.
Ia ingin menjadi kuat, ia ingin membalas dendam, tapi ia juga ingin diakui. Dan di dunia Moretti, pengakuan adalah mata uang yang paling mahal. Rebecca menyadari, selama ia belum menjadi "Nyonya Moretti" yang sah, ia akan selalu menjadi sasaran empuk bagi lidah-lidah beracun seperti Bianca.
Konflik batin itu terus menggerogotinya, membuat Rebecca menyadari bahwa perang yang ia hadapi bukan lagi hanya tentang senjata dan darah, melainkan tentang legitimasi dan harga diri seorang wanita di puncak kekuasaan yang penuh duri.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣