"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Pengakuan Raymond.
"Bang Ray!" teriak Khaty tertahan saat melihat Raymond sedang mencium Ribka. Bu Nora sendiri juga kaget setengah mati melihat ulah Ribka. Entah setan mana yang merasuki menantunya itu.
Raymond menarik diri saat mendengar suara Khaty. Ribka menatap sinis ke arah Khaty. Sedang Khaty sendiri menjadi salah tingkah karena terlanjur berteriak.
"Khaty? Kamu kok protes? Bang Ray kan suami aku?" ucap Ribka sok polos.
"Kamu gak ada sopan, Ribka. Pamer kemesraan di ruang publik." ucap Bu Nora kheki.
"Bang Ray yang nyosor, Bu." ucap Ribka dengan wajah memelas.
"Aku juga istri Bang Ray!" sebut Khaty keceplosan dengan sikap angkuh!
Raymond dan Bu Nora kembali tersentak kaget. Keduanya menatap Ribka. Lalu berpindah ke arah Khaty.
Dunia seolah berhenti berputar. Pandangan Ribka tajam menguliti Khaty."Hah! Pengakuan macam apa ini? Bang, apa aku tidak salah dengar? Kok mendadak ada perempuan lain yang mengaku-ngaku jadi istrimu!" tatap Ribka penuh luka.
Sementara dalam hati dia bersorak riang karena telah berhasil, memancing Khaty membuat pengakuan.
Meskipun dia sudah mengetahui cerita yang sebenarnya. Namun, jauh di palung hatinya, Ribka terluka. Penghianatan suaminya telah menoreh luka yang menyakitkan. Luka tanpa darah.
Raymond salah tingkah saat ditatap. Mulutnya terkunci rapat. Sedang Bu Nora berpura-pura kaget. Khaty masih berdiri kaku. Kepalanya tegak, menunjukkan keangkuhan.
"Iya, benar? Aku dan Khaty memang sudah menikah!" aku Raymond. Membuat Khaty merasa di atas angin. Senyumnya melebar. Mengejek Ribka.
"Sekalian saja aku jujur sebab ....!" belum sempat Raymond menyelesaikan ucapannya. Sebuah tamparan mendarat telak di wajahnya.
"Dasar suami ba**ngan!" nafas Ribka memburu menahan gejolak emosi.
"Jangan kurang ajar kamu ya!" teriak Khaty menghampiri Raymond yang barusan ditampar Ribka.
"Plak! Kamu yang kurang ajar. Perempuan jalang!" maki Ribka juga melayangkan tamparan ke wajah Khaty. Saking kuatnya tamparan itu. Tubuhnya terhuyung dan hampir saja menabrak kursi.
"Cukup Ribka!" teriak Raymond seraya memapah Khaty yang terduduk di lantai. Sudut bibir Khaty mengeluarkan darah. Khaty mengusapnya dengan punggung tangannya.
"Kalian berdua, bedebah!" umpat Ribka mencoba meredakan emosinya. Suaminya tidak menyangkal, malah membuat pengakuan. "Sejak kapan kamu membohongiku Bang? Kapan!" teriak Ribka.
Raymond tertunduk diam. Keadaan semakin mencekik. Bu Nora menahan nafas. Tanpa berani berucap sepatah kata.
"Baiklah kalau begitu. Mari kita bercerai!" Bu Nora tersentak kaget. Khaty tersenyum miring. Raymond menatap tak percaya. Kalau Ribka berani mengucapkan kata itu.
"Apa aku tidak salah dengar, Rib? Kamu meminta cerai? Hah!" Raymond berkata penuh ejekan.
"Apakah menurutmu aku akan tunduk, kamu menghianati aku?" tatap Ribka angkuh.
"Kamu akan tinggal dimana? Kamu tidak punya pekerjaan. Tabungan. Lantas dengan apa kamu akan hidup? Jangan gegabah. Mending kamu menerima dimadu."
"Aku memang tidak punya rumah. Uang dan pekerjaan. Tapi aku punya otak dan hati. Aku tidak takut kelaparan diluar sana. Daripada kamu perbudak!" sentak Ribka tajam.
"Jangan sombong lah Rib. Diusiamu yang tidak muda lagi. Pekerjaan apa yang menantimu di luar sana. Palingan berakhir jadi pembantu juga." ejek Raymond lagi.
"Jadi pembantu pun aku akan tetap makan. Daripada jadi pembantu dirumahmu tanpa digaji apa-apa. Aku mau lihat, seperti apa kehidupanmu setelah aku keluar dari keluargamu. Selamat datang di dunia nyata Nyonya Khaty. Terima kasih telah mengambil alih tugasku!" Ribka menudingkan jari telunjuknya ke dada Khaty sebelum pergi.
"Tunggu!" Bu Nora menahan langkah Ribka." Kamu tidak bisa meminta cerai begitu saja, Ribka."
"Kenapa Bu? Ibu sudah melihat dengan jelas kelakuan anak Ibu kan? Anak Ibu telah selingkuh."
"Biar saja dia pergi, Bu. Nanti juga akan kembali. Dia tidak ada tujuan mau kemana pergi."
"Jika kamu pergi, ikatanmu sama Mirza juga putus!" seru Khaty. Langkah kaki Ribka kembali terhenti. Tubuhnya menegang! Ribka berbalik. Dan menghampiri Khaty. Berhenti tepat didepannya. Khaty sedikit kaget, dan memundurkan tubuhnya.
"Kamu boleh merebut Raymond! Tapi tidak dengan Mirzaku, paham!" seru Ribka penuh penekanan. Kata-katanya begitu dingin menusuk jantung, Khaty.
*
*
Pulang dari rumah sakit, Ribka heran melihat sepasang sepatu di teras pintu. Sepatu milik Mirza. Apa Mirza pulang? Kenapa mendadak dan tidak ngasih khabar lebih dulu.
Bergegas Ribka menuju kamar Mirza. Apa benar anaknya pulang tanpa mengabari lebih dulu. Tiba-tiba langkah Ribka terhenti. Ucapan suaminya tempo hari di rumah sakit, membuat tubuhnya menegang. Mirza bukan anaknya. Mirza adalah anak Raymond dengan selingkuhannya yang sudah dinikahinya.
Betapa menyakitkan mengetahui kenyataan itu. Anak yang dia asuh selama ini hingga dewasa adalah anak orang lain. Dengan mengorbankan anaknya sendiri.
Hati kecil Ribka bertempur! Antara mau masuk kamar dan menyapa Mirza seperti biasanya. Namun, terhalang oleh dendam dan kebencian. Hati kecilnya bersuara. Mirza tidak tau apa-apa soal itu. Mirza juga adalah korban. Ditolak oleh ibu kandungnya sendiri.
Selama ini tingkah Mirza tidak ada yang aneh. Mirza menyayanginya dengan tulus. Sama seperti dirinya yang juga mengasihi Mirza. Haruskah kasih sayangnya itu juga terenggut setelah dia mengetahui kenyataan sebenarnya?
Kecuali kalau sikap Mirza berubah dan menolaknya.
"Mama? Mama ngapain berdiri disitu. Ngagetin Mirza saja." tegur Mirza yang sudah keluar dari kamarnya.
"Astaga! Jadi kamu benaran pulang ya? Mama lihat sepatu kamu di teras. Kenapa gak bilang lebih dulu?" serobot Ribka dengan pertanyaan.
"Ofs, Mama tenang dulu. Tenang!" ucap Mirza kocak menahan senyum. "Mirza akan jawab satu persatu, oke?" Mirza menuntun Ribka ke ruang tamu.
"Mirza sengaja mau ngasih surprise buat, Mama." Mirza memeluk Ribka penuh rindu.
"Dasar anak nakal. Nih, ada apa dengan rambutmu?" Ribka mengusap rambut anaknya yang terlihat kacau. Merapikannya poninya yang berantakan.
"Ini namanya trend anak muda, Ma. Dih, Mamaku jangan kolot begitu lo." kekeh Mirza menggoda ibunya. Ribka merenggut. Membuat tawa Mirza semakin berderai.
Ribka menatap Mirza yang tertawa lepas tiada beban. Bagaimana kalau anak yang diasuh selama ini mengetahui kalau dirinya bukan ibu kandungnya. Apakah tawa itu masih tersisa untuknya. Apakah antara mereka masih terhubung seperti ini. Tanpa jarak tanpa sekat. Tanpa ada rasa yang menggantung.
"Eh, Ma. Nenek kemana? Rumah kok sepi?" Mirza celingukan menggeledah seisi ruang dengan pandangannya.
"Nenek di rumah sakit. Sudah dua hari. Apa kamu pulang karena ultah Nenek?" selidik Ribka.
"Gak! Mirza pulang karena kangen Mama. Mirza liburan seminggu Ma."
"Mau liburan tapi tidak ngomong sama Mama. Kan biar Mama siapkan makanan kesukaanmu."
"Kan bisa nanti, Ma. Setelah Mirza di rumah."Mirza curiga melihat wajah ibunya. Tatapan ibunya terlihat sendu, walaupun ibunya berusaha menyembunyikannya.
"Mama kenapa?"***