PROLOG
-MENENTANG SEGALA DUNIA
-MENENTUKAN TAKDIR SENDIRI
-MERANGKAI TAKDIR YANG DIINGINKAN
-BILA LANGIT JADI PENGHALANGKU KU ROBEKAN LANGIT
-BILA BUMI MENAHAN KAKIKU KU HANCURKAN BUMI
-AKU ADALAH PEMILIK TAKDIR KU SENDIRI-
Di Kota Yinhu, di bawah langit kelabu Kerajaan Bela Diri Selatan, seorang pemuda bernama Shen Tianyang tumbuh dalam bayang-bayang kehinaan.
Terlahir dari keluarga bela diri, ia justru dianggap sebagai noda—tak berbakat, tak berguna, dan tak layak mewarisi darah leluhur.
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Shen Tianyang hidup lebih rendah dari orang biasa.
Tatapan meremehkan dan bisikan hinaan menjadi kesehariannya, perlahan mengikis martabat dan harapannya. Namun dari jurang keputusasaan itulah, takdir yang lebih kejam mulai bergerak.
Sebuah pertemuan terlarang mengubah segalanya. Akar Spiritual yang menentang hukum langit terbangun di dalam tubuhnya, menyeretnya ke jalan yang tak dapat ditinggalkan—jalan yang dipenuhi darah, penderitaan, dan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beruang Terbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Keluarga Yao.
Shen Tianyang berdiri tegak di puncak Tebing Iblis Abadi, perlahan menarik kembali Sayap Api Burung Vermilion yang terwujud dari Qi Sejatinya.
Mengubah Qi Sejati menjadi sepasang sayap bukanlah perkara sepele—itu menuntut teknik kultivasi tingkat sangat tinggi.
Namun Seni Ilahi Burung Vermilion yang ia latih sejak lama memang secara alami mengandung kemampuan bela diri semacam itu, seolah langit sendiri telah mengizinkannya terbang melampaui batas fana.
Begitu kakinya menapak di puncak tebing, gelombang suara benturan dan raungan energi terdengar dari kejauhan. Jaraknya tidak dekat, namun setelah melangkah ke Ranah Kesadaran Ilahi, pendengarannya telah menembus batas ruang.
Setiap dentang senjata dan ledakan Qi tertangkap jelas di benaknya. Tanpa ragu, ia segera melesat ke arah sumber keributan.
Jika itu sekadar perkelahian biasa, ia takkan peduli. Namun dari hiruk-pikuk yang mengguncang udara, ia tahu—ini bukan pertarungan antara praktisi biasa.
Di dalam sebuah hutan lebat, Shen Tianyang menyaksikan pemandangan yang membuat alisnya mengernyit. Dua pemuda berwajah tampan, berpenampilan seperti sarjana, tengah terjerat pertarungan sengit melawan lima pria berpakaian hitam.
Gerakan pedang kedua pemuda itu anggun namun tajam, menahan tebasan ganas para pria hitam. Sayangnya, kedalaman Qi Sejati mereka jelas kalah. Jika pertarungan berlarut, kelelahan akan merenggut nyawa mereka lebih dahulu.
“Itu… Teknik Pedang Ilusi Keluarga Xue,” gumam Shen Tianyang dalam hati.
Cahaya pedang berkilau, menciptakan bayangan semu yang menipu penglihatan lawan. Berkat pengetahuannya yang luas tentang seni bela diri, ia mengenali teknik itu seketika.
Mengetahui bahwa mereka berasal dari Keluarga Xue, Shen Tianyang tak lagi ragu. Xue Lingxiao—tunangan yang terikat oleh janji lama—adalah putri kebanggaan keluarga itu. Lebih dari itu, hubungan antara Keluarga Shen dan Keluarga Xue telah terjalin sejak lama, seperti sungai yang mengalir tanpa putus.
“TERIMALAH INI..!!!” serunya lantang.
Tubuh Shen Tianyang melesat bagai pelangi hijau, menembus udara tanpa suara.
Tangannya berubah menjadi Cakar Naga, menyambar kepala salah satu pria berpakaian hitam.
"ROOOOOOOOOAAAAR..!!"
Di saat yang sama, raungan rendah keluar dari dadanya—Qi Sejati Naga Hijau meledak dari mulutnya, menyelimuti lawan itu. Raungan Naga Hijau mengguncang hutan, dan bersamaan dengannya, cakar itu menghantam. Dalam sekejap, kepala pria berpakaian hitam itu hancur menjadi kabut darah...!!
Kekuatan yang demikian mengerikan membuat keempat pria berpakaian hitam tersisa dan dua murid Keluarga Xue terpaku. Aura Qi Sejati Naga Hijau yang agung menekan jiwa mereka, menimbulkan ketakutan yang sulit dijelaskan.
Yang paling mengguncang hati mereka bukan hanya daya hancurnya, melainkan teknik bela diri itu sendiri—sesuatu yang belum pernah mereka dengar, apalagi saksikan.
Tak memberi waktu bernapas, Shen Tianyang menarik kembali Cakar Naganya, mengepal menjadi tinju. Ia menghantam pria berpakaian hitam lainnya.
Dalam kedipan mata, puluhan tinju dilepaskan. Bayangan tinju berderu seperti badai, menghujani lawan yang masih tertegun.
"BOOOOOOMMM..!!"
"BOOOOOOMMM..!!"
"BAAAAMMM..!!!"
Ledakan demi ledakan bergema—itulah Tinju Pembantaian Brutal!
Dengan Qi Sejati yang dalam dan kokoh, Shen Tianyang mengerahkan teknik itu tanpa kekhawatiran kehabisan tenaga. Setiap tinju mengandung daya ledak mengerikan... apalagi puluhan tinju dilontarkan hampir bersamaan.
Pertahanan apa pun runtuh di hadapan serangan semacam itu.
Dalam sekejap berikutnya, satu lagi pria berpakaian hitam tumbang. Baru saat itulah kedua pemuda Keluarga Xue tersadar dan kembali mengayunkan pedang mereka, memanfaatkan celah yang tercipta.
Dengan bergabungnya Shen Tianyang, keseimbangan pertempuran langsung runtuh. Para pria berpakaian hitam terdesak mundur, terluka parah satu demi satu—hasil yang sama sekali tak mereka perkirakan.
“Terima kasih, Kakak, telah menyelamatkan kami,” ucap pemuda yang lebih tinggi sambil mengepalkan tangan hormat. “Namaku Xue Ming.”
“Xue Zhiliang,” sahut pemuda lainnya dengan sikap serupa. “Terima kasih atas pertolonganmu yang tepat waktu.”
Meski baru berusia enam belas tahun, postur Shen Tianyang tegap dan aura yang ia pancarkan membuatnya tampak jauh lebih dewasa.
“Tak perlu sungkan. Namaku Shen Tianyang,” jawabnya tenang. “Keluarga Shen dan Keluarga Xue adalah sahabat lama. Sudah sepatutnya aku membantu.”
Jawaban itu menggetarkan hati Xue Ming dan Xue Zhiliang. Mereka tak pernah menyangka bahwa penyelamat mereka adalah Shen Tianyang.
Di Keluarga Xue, nama itu dikenal luas—sebagai tunangan Xue Lingxiao, putri kesayangan keluarga. Namun selama ini, banyak murid Keluarga Xue memandang rendah dirinya, karena ia dikenal sebagai praktisi tanpa Akar Spiritual.
Kini, pandangan itu runtuh seketika.
Kekuatan yang baru saja mereka saksikan bukanlah milik seorang yang lemah. Itu adalah kekuatan yang mendekati keajaiban, menyalahi pemahaman lama mereka tentang Shen Tianyang.
Perihal pemilihan Kepala Klan Keluarga Shen belum tersebar keluar. Dunia luar masih belum tahu bahwa pemuda yang dahulu dianggap biasa itu telah berubah—menjadi sosok yang oleh sebagian orang kelak akan disebut… monster.
------
“Apakah kau benar-benar Shen Tianyang?” Xue Ming bertanya dengan nada ragu, seakan apa yang baru ia saksikan masih sulit dipercaya oleh akal sehatnya.
Shen Tianyang mengangguk sambil tersenyum tenang. “Tentu saja. Kalian berdua pasti datang untuk menghadiri jamuan Keluarga Shen, bukan..?”
Xue Ming dan Xue Zhiliang mengangguk bersamaan. Hati mereka dipenuhi segudang pertanyaan, namun tak satu pun terucap. Setelah diselamatkan nyawanya, bertanya terlalu jauh justru terasa tidak sopan.
Pandangan Shen Tianyang kemudian beralih pada tiga pria berpakaian hitam yang tergeletak sekarat di tanah. “Siapa sebenarnya mereka..? Mengapa berani mencoba membunuh kalian..?”
Xue Ming menarik napas dalam-dalam. “Mereka pembunuh bayaran. Kami tidak tahu berasal dari organisasi mana, tetapi kekuatan mereka semua berada di Ranah Bela Diri Fana tingkat kelima. Ini bukan pertemuan pertama—di perjalanan kemari, kami sudah sekali bertemu dengan mereka.”
Tak lama kemudian, Xue Ming dan Xue Zhiliang menghabisi tiga orang terakhir itu. Mereka menggeledah tubuh para pembunuh, namun tak menemukan apa pun. Para algojo semacam ini telah dilatih untuk lebih memilih mati daripada membuka mulut.
“Kakak Shen…” suara Xue Ming sedikit bergetar ketika ia teringat kembali pemandangan tadi, “…kau pasti sudah menembus tingkat keenam Ranah Bela Diri Fana. Kalau tidak, mustahil kau bisa membunuh dua orang itu dengan begitu mudah.”
Kini, di matanya tak tersisa sedikit pun keraguan—yang ada hanyalah rasa hormat mendalam. Usia Shen Tianyang tak jauh berbeda dari mereka, namun jurang kekuatannya bagai langit dan bumi.
Shen Tianyang hanya tersenyum dan mengangguk ringan. “Baru saja menembusnya.”
Ia kemudian mengerahkan Api Qi Sejati, membakar jasad para pembunuh hingga menjadi abu.
Pemandangan itu membuat Xue Ming dan Xue Zhiliang sedikit terkejut. Api Qi Sejati—api yang biasa digunakan untuk alkimia. Saat itulah mereka akhirnya mengerti mengapa Shen Tianyang berani menerima tantangan dari jenius Keluarga Yao.
Wajah Xue Zhiliang memerah karena malu. “Kakak Shen… aku tak pernah menyangka kau selama ini menyembunyikan kekuatanmu. Dahulu aku memandang rendah dirimu. Mohon maafkan aku.”
Shen Tianyang menggeleng sambil tersenyum. “Tak apa. Di dunia ini, kekuatan memang segalanya.” Ia berhenti sejenak, lalu bertanya, “Ngomong-ngomong, apakah Xue Lingxiao akan menghadiri jamuan itu?”
Xue Ming tertawa kecil. “Dialah yang memulai kompetisi antara dirimu dan jenius Keluarga Yao. Mana mungkin dia tidak datang..?? Pantas saja gadis itu begitu yakin dan selalu membela Kakak Shen.”
Shen Tianyang terdiam sejenak, kehabisan kata. Ia tak menyangka Xue Lingxiao benar-benar mendorong jenius Keluarga Yao untuk menantangnya. Ia memang pernah mengucapkannya, namun tak pernah menyangka semuanya akan terjadi secepat ini.
Bertiga, mereka berjalan menuju Kota Yinhu, sambil bercakap-cakap ringan.
“Kakak Shen,” ujar Xue Ming dengan nada serius, “jenius Keluarga Yao itu sangat licik. Karena dia yang menantang, kemungkinan besar dia akan memilih bertanding dalam alkimia. Namun kekuatannya dalam bela diri juga tak bisa diremehkan—kekuatan aslinya selalu menjadi misteri.”
Xue Zhiliang mengangguk. “Aku pernah melihatnya. Sombongnya luar biasa. Saat terakhir kali diundang ke Keluarga Xue, dia memandangi Adik Xianxian dengan tatapan menjijikkan, seolah tak ada orang lain di matanya..!!"
".... Namun karena kemampuan alkimianya sangat hebat, Kepala Klan dan para tetua menoleransinya. Itulah sebabnya mereka ingin menjodohkan Xianxian dengannya.”
Nama jenius Keluarga Yao memang sudah lama terdengar di telinga Shen Tianyang—seorang pemuda angkuh dan congkak, namun diakui banyak orang sebagai alkemis langka di generasinya.
Tak lama kemudian, Kota Yinhu yang ramai tampak di depan mata. Pada saat yang sama, Shen Tianyang dan Xue Ming melihat sebuah iring-iringan kereta perlahan mendekat dari kejauhan.
Pemandangannya megah—lima kereta mewah, masing-masing ditarik oleh delapan kuda gagah.
Di depan dan belakang iring-iringan, para pria bertubuh kekar menunggang kuda dengan aura pembunuhan yang pekat. Sekilas saja sudah jelas, mereka adalah pengawal.
“Itu Keluarga Yao… sungguh luar biasa,” ujar Shen Tianyang. Matanya menangkap satu huruf besar “Yao” terukir jelas di kereta dan pakaian para pengawal. Gaya Keluarga Yao memang selalu mencolok dan penuh pamer.
Tiba-tiba, sebuah teriakan dingin menggema dari arah iring-iringan.
“Kalian bertiga di sana! Sebutkan nama kalian sekarang juga! Jika tidak, kami akan menganggap kalian sebagai pembunuh!”
Nada arogan itu menimbulkan rasa tidak senang di hati Shen Tianyang dan Xue Ming.
Baru saja mereka hendak menjawab—
WHHHHHOOSSHH...!!!
Sebuah pedang panjang melesat bagai anak panah, menembus udara. Qi Sejati yang dalam bergetar hebat di sekelilingnya, dan ujung pedang itu meluncur lurus… menuju Shen Tianyang.
Bersambung Ke Bab 17
Terima kasih telah berkunjung dan menemani perjalanan literasi ini
Tinggalkan komentar Anda mengenai cerita ini
Terima kasih
Komentar Anda adalah penyemangat kami para writers