NovelToon NovelToon
Tuan Higienis Dan Titipan Tak Tahu Diri

Tuan Higienis Dan Titipan Tak Tahu Diri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Enemy to Lovers / Slice of Life
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Kulkas Mewah di Tengah Lumpur

Pagi itu, Calvin sudah rapi dengan kemeja putih tulang dan celana kain mahalnya. Namun, wajahnya mendadak pucat saat melihat Varro berdiri di ruang tamu sambil memakai kaos oblong dan celana kargo, lengkap dengan sepatu bot karet.

"Siap, Vin?" tanya Varro dengan seringai licik.

Calvin menaikkan alisnya. "Siap untuk apa? Saya ada pertemuan dengan direktur bank jam sepuluh nanti."

"Pertemuan itu batal. Gue udah bilang ke asisten lo," Varro menepuk bahu Calvin (yang langsung membuat Calvin meringis). "Lo bilang lo serius sama adek gue? Lo bilang lo bisa jaga dia di mana pun? Oke. Hari ini, lo ikut gue blusukan ke Pasar Induk. Gue butuh nyari supplier sayur dan daging buat rintisan bisnis katering gue."

Calvin terdiam sejenak. "Pasar... Induk?"

"Iya. Yang becek, yang bau amis, yang banyak lalatnya, dan yang orang-orangnya saling senggol tanpa pake hand sanitizer," Varro tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Calvin yang seolah baru saja divonis hukuman mati.

Nirbi keluar dari kamar sambil mengunyah roti, matanya berbinar. "Wah! Ikut! Nirbi mau beli jajanan pasar!"

"Enggak," seru Calvin dan Varro bersamaan.

"Nirbi di rumah aja. Ini urusan laki-laki," tegas Varro. "Ayo, Vin. Kalau lo nggak berani, berarti lo nggak pantes buat Nirbi yang tahan banting ini."

Tiba di pasar, Calvin turun dari mobil seolah-olah sedang mendarat di planet asing yang beracun. Ia memakai masker medis dua lapis, sarung tangan latex tipis yang nyaris transparan, dan ia terus memegang botol semprotan disinfektan ukuran jumbo di tangan kanannya.

"Navarro... kenapa ada air berwarna hitam di sana?" tanya Calvin dengan suara gemetar, menunjuk genangan air selokan yang meluap.

"Itu namanya becek, Vin. Ayo jalan! Jangan kayak perawan mau lamaran!" Varro menarik lengan Calvin masuk ke kerumunan.

Calvin merasa dunianya runtuh. Setiap kali ada keranjang sayur yang lewat, ia berteriak, "Awas! Jarak aman satu meter!"

Saat mereka sampai di los daging, bau amis menyengat langsung menyerang indra penciuman Calvin yang sensitif.

"Mas! Daging sapinya yang bagus yang mana?" tanya Varro pada pedagang daging yang bajunya penuh noda darah.

"Ini Mas, baru potong tadi subuh! Seger!" Si pedagang memegang bongkahan daging besar dan... plak! Ia meletakkannya di atas meja kayu yang sudah sangat berumur.

Calvin hampir pingsan. "Meja itu... berapa kali disterilkan dalam sehari?" tanya Calvin dengan suara parau.

Si pedagang menoleh, bingung. "Disteril? Paling disiram air keran aja tiap sore, Mas. Kenapa? Masnya dokter?"

"Vin, diem!" bisik Varro. "Pak, saya ambil sepuluh kilo. Coba lo cek kualitas dagingnya, Vin. Pegang."

"Pegang?!" Calvin mundur dua langkah. "Tanpa alat pelindung diri? Anda gila, Navarro!"

"Tangan lo kan udah pake sarung tangan, manja banget sih!" Varro menarik tangan Calvin dan menempelkannya ke daging mentah itu.

Calvin mematung. Matanya melotot. Di dalam otaknya, ia membayangkan jutaan bakteri Salmonella dan E. coli sedang melakukan parade militer di atas tangannya. "S-saya... saya butuh alkohol 90 persen... sekarang..."

"Lo liat kan?" ujar Varro sambil berjalan menuju penjual bumbu dapur. "Hidup itu nggak selamanya wangi parfum sandalwood lo, Vin. Adek gue, Nirbi, dia tumbuh di lingkungan yang keras setelah kita bangkrut. Dia nggak butuh cowok yang cuma bisa kasih perhiasan, tapi cowok yang mau kotor-kotoran demi dia."

Calvin terdiam, meski tangannya sibuk menyemprot seluruh permukaan sepatunya dengan disinfektan setiap lima langkah. "Saya tahu dia tangguh, Navarro. Justru karena itu, saya ingin memberikan dunia yang lebih bersih untuknya. Bukan karena saya lemah, tapi karena saya ingin dia tidak perlu lagi menyentuh lumpur seperti ini."

Varro berhenti melangkah, menatap Calvin dengan tatapan sedikit lebih hormat. "Tapi kalau suatu saat lo jatuh lagi, apa lo bakal ninggalin dia karena dunia lo nggak steril lagi?"

Calvin melepas maskernya, menatap Varro dengan serius di tengah kebisingan pasar. "Jika saya jatuh, saya akan memastikan Nirbita berdiri di atas pundak saya agar bajunya tidak terkena noda sedikit pun. Kemandiriannya adalah kebanggaan saya, tapi perlindungan saya adalah janji saya."

Varro tertegun sejenak, lalu tertawa kecil sambil menepuk punggung Calvin dengan keras—kali ini Calvin tidak menghindar.

"Oke, oke. Pidato lo bagus. Tapi sekarang, bantuin gue bawa karung bawang ini ke mobil. Buruan!"

"Apa?! Karung ini kotor sekali, Navarro!"

"Bawa atau gue kenalin Nirbi sama sepupu si tukang daging ini!"

Calvin mendesah pasrah. Dengan wajah menderita, ia mengangkat karung bawang itu, membiarkan noda tanah menempel di kemeja sutranya. Di dalam hati, ia hanya membayangkan satu hal: Mandi uap selama tiga jam setelah ini.

Saat sampai di rumah, Nirbi langsung berlari menyambut mereka. Ia tertawa terpingkal-pingkal melihat Calvin yang biasanya klimis kini kotor, bau bawang, dan kemejanya sobek sedikit.

"Ya ampun! Kak Calvin bau pasar!" Nirbi mencoba memeluk Calvin.

"Jangan! Nirbita, menjauh!" Calvin mengangkat tangannya. "Saya terkontaminasi! Saya adalah sarang kuman berjalan!"

"Enggak apa-apa! Aku suka bau bawang!" Nirbi tetap memeluk Calvin erat.

Calvin yang tadinya ingin lari ke kamar mandi, tiba-tiba terdiam. Ia merasakan kehangatan pelukan Nirbi yang tulus. Ia menghela napas, lalu dengan tangan yang masih kotor, ia mengusap pipi Nirbi.

"Hanya kamu... satu-satunya kuman yang boleh memeluk saya saat saya sekotor ini," bisik Calvin.

Varro yang melihat dari kejauhan hanya bisa tersenyum tipis sambil memegang karung cabe. "Kayaknya si Kulkas emang beneran mau meledak demi lo, Bi," batinnya.

1
umie chaby_ba
😍😍😍😍
umie chaby_ba
ga takut di gigit nyamuk bulan madu di hutan 🤣
Rian Moontero
mampiiirrr/Bye-Bye/👍😍
umie chaby_ba
amazon ga tuh... 🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
🤣🤣🤣🤣🤣
An
amit" pake penggaris??diukur segala?? kang bangunan kah🤭🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: Terimakasih kak, sudah mampir 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
yaelah Caplin...
umie chaby_ba
kirain syekh puji... 😄😄😄🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
Vario Vario.. 🤣
umie chaby_ba
buset...🤭🤭🤭🤭
umie chaby_ba
alah sia cemburu... 😄
umie chaby_ba
duh... si Caplin udh kedemenan itu 😍🤣🤣
Ariska Kamisa: Calvin kak... /Facepalm/
tapi lucu sih kenapa jadi Caplin /Chuckle/
Semoga kak umi menikmati cerita saya yaa... /Kiss/
total 1 replies
umie chaby_ba
sumpah lucu😄
umie chaby_ba
Dih.. Varro Kocagghh....
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
ini ceritanya romansa komedian nih... asik kayanya .. kakaknya kocakk.
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!