Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Pesta Sosialita
"Mas, bisa berhenti mondar-mandir nggak? Pusing lihatnya. Lantai marmer ini baru dipoles, nanti lecet kena sepatu pantofel Mas."
Suara Zoya terdengar samar dari balik pintu walk-in closet yang tertutup rapat.
Kalandra mendengus kasar, menarik kerah tuksedo hitamnya yang terasa mencekik leher. Dia benci pesta. Dia benci basa-basi sosialita. Dan yang paling dia benci adalah fakta bahwa ibunya—Nyonya Besar Dirgantara—mengancam akan mencoret nama Kalandra dari keluarga kalau mereka tidak datang ke acara Gala Charity malam ini.
"Dandan kok lama banget sih? Ini bukan mau operasi bedah plastik, Zoya. Cuma makan malam, salaman, senyum palsu, terus pulang," omel Kalandra tidak sabar. Dia melirik jam tangannya. "Lima menit lagi kamu nggak keluar, aku tinggal."
"Tinggal saja kalau berani. Nanti Mama ngamuk ke Mas, bukan ke aku."
Pintu lemari terbuka perlahan.
Kalandra sudah siap melontarkan komentar pedas soal betapa lambatnya wanita berdandan. Mulutnya sudah terbuka, lidahnya sudah siap menyembur.
Tapi tidak ada suara yang keluar.
Kalandra membeku. Rahangnya jatuh, benar-benar jatuh sampai dia terlihat bodoh.
Zoya melangkah keluar.
Malam ini, tidak ada piyama beruang. Tidak ada kaos oblong kedodoran. Tidak ada kacamata baca tebal.
Zoya mengenakan gaun malam berwarna merah darah—scarlet red—yang memeluk lekuk tubuh rampingnya dengan sempurna. Gaun itu berbahan sutra licin, model backless yang memamerkan punggung mulusnya yang seputih pualam. Belahan roknya tinggi, nyaris mencapai paha atas, memperlihatkan kaki jenjang yang melangkah anggun di atas heels kristal setinggi tujuh senti.
Rambut hitamnya digelung modern dengan menyisakan sedikit anak rambut yang jatuh membingkai leher jenjangnya. Anting berlian panjang menjuntai, berkilauan ditimpa cahaya lampu kamar.
Zoya berhenti di depan Kalandra, lalu mengibaskan tangannya di depan wajah suaminya yang bengong.
"Halo? Mas Kalandra? Masih napas?"
Kalandra tersentak kaget, buru-buru menutup mulutnya dan berdehem keras untuk menutupi rasa malunya. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena takut lift macet, tapi karena serangan visual yang brutal.
"B-biasa aja," komentar Kalandra gagap, matanya tidak berani menatap belahan dada gaun Zoya yang rendah. "Terlalu merah. Kayak cabe."
"Bagus dong. Biar pedas," sahut Zoya santai sambil mengambil tas clutch kecil dari meja rias. "Ayo berangkat. Katanya Mas takut telat."
Di ballroom Hotel Grand Cempaka, suasana sangat meriah. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, musik klasik mengalun lembut, dan wangi parfum mahal bercampur aduk di udara.
Begitu Kalandra dan Zoya melangkah masuk ke karpet merah, puluhan pasang mata langsung tertuju pada mereka. Atau lebih tepatnya, pada Zoya.
Kalandra merasakan tatapan lapar dari para pria berjas mahal di ruangan itu. Ada CEO muda yang menatap kaki Zoya, ada pejabat tua yang menatap punggung Zoya. Kalandra mendadak merasa ingin mencolok mata mereka satu per satu.
Refleks posesifnya menyala. Kalandra langsung merangkul pinggang Zoya erat-erat, menarik tubuh istrinya menempel ke sisi tubuhnya.
"Jangan jauh-jauh," bisik Kalandra tajam di telinga Zoya. "Banyak buaya darat."
"Mas juga buaya," balas Zoya geli, tapi dia membiarkan suaminya memeluk pinggangnya.
"Kalandra! Zoya! Akhirnya datang juga!"
Seorang wanita paruh baya dengan kebaya glamor penuh payet berlari kecil menghampiri mereka. Itu Mama Kalandra, wajahnya berseri-seri bangga.
"Ya ampun, menantu Mama cantik sekali!" Mama langsung memeluk Zoya, lalu menatap Kalandra sinis. "Tuh kan, Kalan. Istrimu itu berlian. Makanya jangan dikurung di rumah terus. Sekali-kali dibawa pamer begini biar orang tahu selera keluarga Dirgantara itu kelas atas."
"Iya, Ma, iya," jawab Kalandra malas.
"Ayo, Zoya. Ikut Mama ke meja Tante Siska. Dia bawa anaknya yang baru pulang dari London, katanya mau dikenalin ke Kalan kalau Kalan masih single. Kita bikin dia panas hati lihat kamu!"
Tanpa persetujuan Kalandra, Mama langsung menarik tangan Zoya, menyeretnya membelah kerumunan ibu-ibu sosialita.
"Ma! Jangan dibawa jauh-jauh!" protes Kalandra, hendak menyusul. Tapi langkahnya terhadang oleh seorang pelayan yang membawa nampan minuman.
Kalandra mendengus kesal, kehilangan jejak istrinya di lautan manusia. Dia berdiri gelisah di pinggir ruangan, matanya menyapu sekeliling seperti radar, memastikan tidak ada ancaman.
Di seberang ruangan, Zoya tersenyum sopan menanggapi pujian basa-basi teman-teman mertuanya. Tenggorokannya mulai terasa kering karena terus-menerus menjawab pertanyaan "kapan punya momongan?".
Zoya memisahkan diri sebentar, berdiri di dekat pilar besar untuk mencari udara segar.
"Minumannya, Nyonya?"
Seorang pelayan pria berseragam rompi hitam muncul di sampingnya, menyodorkan nampan berisi gelas-gelas kristal yang berembun dingin. Pelayan itu menunduk sopan, memakai masker kesehatan hitam dan kacamata berbingkai tebal yang menutupi sebagian besar wajahnya.
"Ah, terima kasih. Kebetulan saya haus," ucap Zoya sambil tersenyum tipis.
Tangannya terulur hendak mengambil gelas mocktail berwarna biru laut yang terlihat segar.
Pelayan itu tidak beranjak. Di balik kacamata tebalnya, matanya menatap leher jenjang Zoya dengan sorot yang aneh. Sorot mata yang bukan mengagumi kecantikan, melainkan seperti sedang mengukur letak pembuluh darah arteri carotis.
"Silakan, Nyonya. Ini racikan spesial malam ini," suara pelayan itu terdengar serak dan rendah, teredam masker. "Namanya The Last Breath."
Zoya memegang kaki gelas itu. Dinginnya es menjalar ke ujung jarinya. Dia belum menyadari bahwa pria yang berdiri setengah meter di depannya, yang sedang memegang nampan dengan tangan terbungkus sarung tangan putih bersih, adalah mimpi buruk yang sedang dicari suaminya ke seluruh penjuru kota.
Hanggara tersenyum lebar di balik maskernya. Jarum suntik mikro yang dia sembunyikan di balik serbet nampan sudah siap menembus kulit halus itu begitu Zoya lengah meneguk minumannya.