Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran
Najma dan Luapan Emosinya
Kami bertiga sudah berada di kereta api yang cukup ramai dengan segmentasi keluarga kecil yang membawa anak-anak. Berhubung hari sabtu, kereta api tampak seperti kereta wisata karena banyak anak kecil yang hilir mudik saking antusiasnya berada di kereta api. Aku yakin kedua orang ini juga memiliki perasaan antusias yang sama berhubung pertama kalinya naik kereta api, hanya saja mereka memilih menyembunyikannya.
“Kalian sama sekali belum pernah naik kereta?”
Dua-duanya menengok ke arahku dan menggeleng bersamaan. Aku mengangguk mengerti.
“Kalau kalian ingin merasakan sensasi naik kereta yang sebenarnya, naiklah pada saat rush hour alias jam 5 sore sampai jam 8 malam setiap hari kerja, Mantap.”
Vanya hanya menatapku bingung, sementara Fedi terkekeh dan berujar, “Mantap ya? Oke, nanti kita coba berdua ya, Najma. Berdua aja.”
Giliran aku yang menatap bingung pada Fedi. Apa tidak kelewatan ucapannya barusan? Jelas-jelas kita bertiga, kenapa cuma bilang berdua saja? Ih, dasar SMK (Si Mulut Kejam, jangan lupa dengan singkatannya).
“Vanya, lo nggak mau ikut?” tanyaku karena tidak enak padanya.
“Nggak, gue dijemput sopir kalau pulang kerja.”
“Oh.”
“Kalau lo, Najma?” tanya Fedi langsung. Berhubung ia berbadan super tinggi, keberadaannya kini berada di belakang Vanya bisa kulihat jelas wajah oval dan senyum gigi kikirnya itu.
“Gue kadang naik ojol, kadang bawa skuter.”
“Keren! Gini dong kalau perempuan, mandiri!” sahutnya yang antusias membuat orang-orang di sekitarku menatap ingin tahu. Aku super risih dibuatnya.
“Mbak, silakan duduk.” Ujar Bapak yang berdiri di dekat kami. Tawarannya berlaku kepadaku, namun aku menolaknya sehingga tawaran berikutnya berlaku untuk Vanya. Ia menatapku gundah.
“Duduk aja, Vanya.” Suruhku.
Vanya memandangku sekali lagi, lalu memandang Fedi yang hanya diam saja, “Nggak deh, gue masih kuat.”
Fedi terkekeh lagi, “Duduk aja, nggak apa-apa. Kekuatan bukan berarti lo harus menolak tawaran duduk dari seseorang.”
Pernyataan Fedi barusan tak pelak membuatku melihat ke matanya, dan membuatku tersenyum kecil. Sialnya ia menangkap lirikan dan senyumanku sekaligus sehingga aku mati rasa. Ia membalasku dengan senyum penuh gigi kikirnya yang rata dan putih. Hih, dasar cowok perawatan!
“Pegel kan pakai high heels? Duduk aja.” Sahutku seramah mungkin.
Akhirnya Vanya duduk dan menaruh tas mahal di pangkuannya. Setelannya yang super elegan membuatnya seperti superstar yang sedang melakukan tantangan naik kereta di ibukota, dan aku adalah kameramennya, dan Fedi adalah pembawa acaranya. Dunia tidak adil.
Kami sudah turun dari kereta dan berjalan kaki menuju rumahku. Jika kalian bingung kenapa tiba-tiba aku diantar oleh pasangan membingungkan ini, jangan tanya aku sebab aku pun tak tahu. Jangankan untuk bertanya tentang hubungan mereka berdua, bertanya tentang apa yang membuat mereka kepikiran naik kereta dan turun bersamaku saja sulit. Kini, karena Vanya merupakan salah satu klien proyek yang sedang aku pegang, aku jadi tidak bisa sembarangan memperlakukannya sebagai perempuan sinting gila miring karena memiliki kepribadian tak terdeteksi sehingga aku harus begitu hati-hati. Karena jika tidak, aku ngeri sekali suatu hari Vanya bisa melakukan hal yang tidak aku inginkan dan berdampak pada pekerjaannku di kemudian hari.
“Oke, sudah sampai. Ini rumah gue.”
“Keren!” Lagi-lagi hanya Fedi yang antusias melihat rumahku.
“Mm, kalian mau masuk? Gue bisa buatin kopi di dalam.”
“Rumah lo kok lucu sih? Pagarnya pendek dan penuh bunga rambat, jendelanya juga banyak pot bunga. Gue berasa liat village house di Inggris. Asik banget!”
“Oh, itu. Gue sama Ibu suka banget bunga soalnya.”
“Keren abis.”
“Jadi, mau masuk?”
“Boleh.” Vanya mengiyakan dan berjalan menuju pintu rumahku, namun dicegah oleh Fedi sesegera mungkin.
“Kenapa?” Vanya tak mengerti, aku juga.
“Kita langsung pulang aja. Najma kayaknya harus istirahat.”
“Nggak kok, santai aja.”
“Nggak, Najma. Gue dan Vanya sebaiknya pulang. Ayok!” sahutnya langsung pergi meninggalkan aku. Vanya sempat melihatku sejenak dan tersenyum kecil lalu ikut melangkah bersama Fedi.
Ada apa ya dengan mereka? Sebenarnya Fedi membenci Vanya atau tidak? Sebenarnya Fedi dan Vanya ada hubungan apa? Aku merasa mereka memiliki hubungan yang tidak biasa.
Ah, sudahlah. Aku masuk saja dan tidur hingga pagi menjelang.
**
Pagi kini sudah tiba dan aku bersiap menuju kantor dengan setelan khusus hari senin. Di antara hari-hari kerja lainnya, aku memfokuskan penampilanku lebih spesial di hari senin. Mengapa? Karena hari senin adalah hari transisi antara imajinasi dan kenyataan. Aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapi hidup yang keras dan karakter banyak orang yang tak terduga setiap saat. Sebagai seorang pekerja kreatif, aku selalu mengantisipasi sikap yang kuberikan kepada orang-orang yang aku temui, salah satunya adalah dengan pakaian yang aku kenakan karena setelan dapat mempengaruhi suasana hati.
Kupatut diri di cermin seluruh tubuh yang membuatku tampak langsing. Dengan setelan jumpsuit hitam dan sabuk putih kecil yang melingkar di perut membuatku merasa lebih baik. Kupakai lip tint kesukaan dan kupakai di kedua pipi dan bibir, serta kurapikan poni dan kusisir rambut panjang lurusku dengan tangan sekenanya. Oke, selesai. Tinggal kupakai sepatu gazelle OG abu muda dan aku siap mengguncang dunia.
Kututup pintu dan kugendong tas kulit hitam kecilku untuk bersiap menyalakan skuter vespa kuning yang kuparkir di halaman rumah, tapi seseorang memanggilku dari luar dan membuatku diam sesaat. Aku harus melihat sekali lagi untuk meyakinkan bahwa aku tidak salah melihat orang tersebut.
Vanya, sedang apa di depan rumahku pagi-pagi begini?
“Vanya, kok lo di sini?”
Ia berdiri di samping mobil sedan silvernya yang begitu mengkilat karena terkena sinar matahari pagi. Aku menghampirinya keheranan.
“Gue pernah mengingatkan lo sebelumnya kalau Fedi punya gue, lo nggak denger? Atau nggak paham?”
Aku menatapnya kebingungan, maksudnya apa?
“Gimana, Vanya? Sori?”
“Gue lihat lo akrab banget sama dia. Setiap di kampus lo pasti berduaan sama dia. Udah gue bilang kan sebaiknya lo jauh-jauh dari dia. Dia punya gue.”
“Hah? Apa sih gue nggak ngerti.”
“Berarti lo nggak cukup pintar ya jadi perempuan. Atau kebiasaan lo yang suka ngambil cowok orang?”
Aku terkesiap dengan ucapan Vanya barusan. Apa? Ngambil cowok orang katanya?
“Gue sama sekali nggak ngerti tujuan pembicaraan ini kemana.”
“Gue tahu segalanya tentang lo, jadi lo harus hati-hati.” Ancamnya lirih dan tersenyum kepadaku, “minggir, gue mau masuk ke mobil.” Lalu aku pun menyingkir pelan ke pinggir jalan.
Apa itu tadi? Aku dilabrak oleh seorang perempuan yang baru saja mengantarku pulang dua hari yang lalu? Apa maksudnya dia bilang aku ngambil cowok orang?
**
Najma saat menjadi mahasiswa.
Pukul satu siang dan matahari sedang terik-teriknya. Aku menahan diri untuk tidak menyeberang ke cafe di depanku yang terhalang jalan raya. Di sana ada seorang perempuan yang sedang menungguku, dan aku tahu akan bilang apa ia padaku kemudian.
Ia adalah Rosie, pacar resmi Aga. Ia tak hentinya menelepon setiap malam, hingga akhirnya aku angkat dan ia memutuskan untuk bertemu denganku. Ia akan menemuiku di sini setelah bepergian selama 364 kilometer jauhnya. Semuanya demi Aga dan agar aku segera menjauh darinya. Maka tibalah ia kini di sini, di depan mataku sebentar lagi.
Aku masuk dan menutup pintu café dengan hati-hati. Kulihat ada seorang wanita berambut sebahu yang memakai blouse biru muda dan celana panjang warna putih. Ia menatapku tidak ramah dan menginstruksikan agar aku segera menghampirinya. Aku duduk di depannya.
Rosie menatapku tajam, seperti sedang memeriksa dengan detil setiap anggota tubuhku. Aku pun begitu padanya.
“Aga nggak ikut?” tanyaku mengawali pembicaraan.
“Apa urusan lo?”
Dari cara bicaranya, aku tahu ia tak biasa menggunakan kosakata lo-gue sehingga kini ia menunjukkan bahwa ia sedang berbicara kasar kepadaku.
“Mungkin aja lo mau menyelesaikan masalah ini bertiga. Biar lo tahu aja perspektif Aga tentang lo dan gue.”
“Dia tahu gue di sini, tapi dia nggak tahu gue minta ketemu sama lo. Biarkan aja dia tahu sendiri.”
“Caranya?”
“Dengan lo nggak akan mendekati pacar gue lagi, ngerti?”
Aku menunduk untuk menyembunyikan perasaan gugup dan kesal secara bersamaan. Aku tahu ia punya hak sepenuhnya untuk berkata padaku seperti ini, tapi aku juga punya hak untuk menyanggahnya. Ia punya alasan kenapa ia begitu marah atas hubungan aku dan Aga, begitu juga aku yang memiliki alasan kuat kenapa hingga kini aku dan Aga masih terus berdekatan.
“Kalau gue nggak mau?”
“Apa? Nggak mau?!” nada bicara Rosie meninggi sehingga sekitar kami langsung berpandangan dan menunggu aksi selanjutnya.
“Nggak. Gue suka sama Aga. Gue suka banget sama dia. Jadi, seberapa kuatnya lo berusaha menahan dia dari gue, nggak ada pengaruhnya sama sekali.”
“Wah, lo beneran jalang, ya?”
“Oh, ya? Kalau gitu lo apa dong?”
“Apa?!”
“Yang udah berbuat jauh siapa? Gue atau lo? Yang masih pacaran tapi berbuat zina siapa? Gue atau lo?”
Rosie pun berdiri dan melemparkan air di gelas ke arahku. Aku memejamkan mataku dan berusaha untuk tetap tenang sehingga yang bisa kulakukan hanya mengelap wajahku dengan tangan.
“Rosie, duduk. Gue tahu lo marah sama gue. It’s okay kalau lo nyiram gue. Gue memang salah sama lo. Tapi denger apa yang akan gue bilang sama lo, okay?”
“Cewek kayak lo emang nggak punya otak tahu, nggak?!” gusarnya tetap berdiri.
“Jika gue nggak punya otak gue akan balas siram lo pakai air, ngerti?!” Aku pun sontak berdiri dan menatap tajam ke arahnya.
Kami hanya saling berpandangan dalam diam, begitu juga seisi café. Tak ada yang berani mendekat dan lebih memilih menunggu adegan selanjutnya.
“Rosie, apa lo nggak pernah berpikir kenapa gue datang ke kehidupan kalian? Apa nggak pernah sekali aja lo menyalahkan Aga karena ia mengizinkan gue datang? Apakah lo nggak pernah kepikiran kenapa Aga bisa menyukai perempuan lain yang punya kepribadian berbeda dengan lo?” tanyaku pelan sambil tetap berdiri menghadapnya.
“Apakah lo pernah bertanya sama dia bagaimana ia menceritakan lo ke gue dan bagaimana gue merespon itu semua? Dia banyak cerita tentang lo dan gue tahu seluruh isi hatinya tentang lo. Apakah lo sadar gue juga punya prasangka buruk bagaimana lo telah memperlakukan Aga selama kalian pacaran? Pernah mikir dan penasaran kenapa Aga bisa jatuh cinta lagi, nggak?!”
Rosie diam saja, ia begitu marah dan ingin membunuhku. Tapi aku tahu ia menahannya sekuat tenaga. Bibirnya bergetar hebat.
“Aga pernah bilang dia kasihan sama lo makanya kalian bertahan, itu benar?”
“Apa lo bilang?”
“Dia kasihan sama lo.”
Rosie akhirnya terduduk dan menangis. Seisi café hening dan menonton kami dengan khidmat. Aku tak peduli.
“Nggak usah bohong. Lo nggak usah bohong untuk dapetin Aga dari gue. Gue nggak pernah percaya sama lo. Sekali jalang, lo tetap jalang. Jadi, nggak usah bikin cerita yang nggak jelas, ngerti?!”
Rosie? Sebuta itukah kamu menghadapi cinta yang kamu miliki?
“Terserah. Tapi satu hal yang ingin gue kasih tahu sama lo, hubungan gue dan Aga nggak pernah bertahan lama jika hanya gue yang berjuang. Kisah sedrama ini nggak akan terus berjalan jika cuma gue yang berharap.”
Rosie menatapku dengan tatapan penuh benci, aku lebih baik pergi karena aku merasa sudah memberikannya penjelasan semampuku. Aku tak peduli jika ia menganggapku jalang dan sebagainya. Bagaimanapun ia adalah seorang perempuan, aku tahu di lubuk hatinya ia mengerti kondisiku, jika sedikit saja ia berpikir bagaimana cinta tak bisa memilih dan bagaimana cinta bisa berkembang tanpa paksaan. Ia pasti lebih mengenal Aga daripada aku. Jika sedikit saja ia ingin melihat sudut pandangku tentang perjuanganku menjauhinya dan bagaimana ia mengejarku hingga ke ujung dunia, Rosie pasti mengerti.
Sayangnya, ia terlalu buta untuk memahami bahwa ada jenis cinta yang lain di dunia ini. Aku terlalu apatis untuk bersimpati kepadanya saat ini.
**
Kembali ke masa kini.
Aku dan Gian sedang makan siang berdua di kafetaria langganan, namun makanan yang kupesan belum kusentuh sama sekali sehingga membuat Gian penasaran.
“Nggak enak, ya? Dicuekin gitu makanannya.”
“Hah? Kenapa?” tanyaku tak fokus.
“Makanan, Najma. Nasi goreng telor mata sapi di depan mata lo. Dilaletin tuh.”
Aku menyendok nasi goreng tanpa nafsu makan yang mendukung. Kukunyah suapan pertama seadanya dan aku kembali melamun.
“Kerjaan nggak lancar, ya? Atau lo ditolak cowok? Atau nggak punya uang buat beli sepatu baru?”
Aku mendelik sebal pada Gian, namun kupilih menyendok suapan kedua dibanding harus membalasnya.
“Najma, lo harusnya happy dong karena lo menang AMD project. Akhirnya perjuangan lembur dan begadang lo yang menimbulkan mata panda menghasilkan buah yang manis. Pak Bos pun senang, Najma harusnya riang.”
Gian benar. Aku seharusnya gembira karena akhirnya ideku yang sempat ditolak mentah-mentah oleh Pak Bos berujung bahagia. Kami memenangkan project AMD dan menjadi official BTL (Below The Line) Agency untuk produk AMD Sambung. Aku turut andil dalam mewujudkan mimpi Pak Bos untuk memiliki klien Sambung. Semua senang, semua riang.
Tapi, serangan fajar dari Vanya membuatku merasa tak nafsu melakukan apapun. Bukan ancamannya yang membuatku tak berkutik, tapi alasan dibalik perlakuan Vanya kepadaku yang bertolak belakang. Di saat bersama Fedi, ia begitu manis dan tak berdaya, namun di saat tak ada Fedi, ia seperti penyihir yang paling kejam di dunia. Dan aku, hanya kebingungan setengah mati atas apa yang terjadi pada hidupku kini.
Kenapa Fedi suka sekali mengangguku di setiap kesempatan?
Kenapa Vanya begitu insecure dan mengira Fedi sedang kurebut dari tangannya?
Jika Vanya memang menyukai Fedi dan mengklaim bahwa Fedi miliknya, kenapa perlakuan Fedi begitu dingin kepadanya? Kenapa Fedi menolaknya dengan kejam?
Apa yang membuatku terseret pada hubungan mereka yang begitu kusut dan kenapa harus aku yang menjadi korbannya?
Terutama, kenapa Vanya bisa berkata bahwa aku mengambil cowok orang sebagai kebiasaan? Fakta apa yang ia temukan tentang diriku?
Vanya sungguh menakutkan.
“Lo mau ke Sambung hari ini?” tanya Gian sambil memotong telur di piringku. Kubantu Gian dengan memberikan seluruh telur ke piringnya. Ia tersenyum kegirangan.
“Iya, nanti jam tiga. Ada meeting koordinasi dan fiksasi konsep.”
“Seru! Ada klien yang cakep disitu, nggak?”
“Ada, tapi gila.”
“Gimana?” tanya Gian balik tak mengerti.
Aku enggan menceritakan apa yang terjadi kepadaku tadi pagi dengan Vanya. Kubiarkan itu menjadi rahasiaku saja, bahkan Fedi tak boleh mengetahuinya.
**
Berlarian di gedung besar nan megah bersama dua orang tim yang selalu menemaniku ke kantor Sambung adalah hal baru. Kami tak peduli jika banyak orang yang memandangi sikap rusuh kami menuju lift yang posisinya agak menjauh dari lobby. Ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar berlarian dan dikejar Pak Satpam karena kami seperti sedang mengejar jambret.
“Kok bisa salah lihat, sih?” tanya temanku yang memegang bagian produksi, Mas Isa.
“Aku nggak tahu, di email invitationnya kan jam tiga. Tapi, tiba-tiba Mbak Esya malah marah-marah di telepon karena kita belum datang padahal baru jam satu.” Terang Icana, lalu menoleh ke arahku, “Kamu juga lihat kan kalau jam di invitationnya jam tiga, Mbak Naj?”
Aku hanya mengangguk pasrah. Aku tidak mau berdebat dan ingin secepatnya kembali pulang ke kantor. Aku tak pernah menyangka pertemuan pertama bersama klien setelah kemenangan kami harus seperti ini. Kenapa malah jadi masalah, sih?
Kami berlari menuju pintu masuk kantor Sambung, lalu Pak Satpam khusus penjaga kantor Sambung mempersilakan kami masuk dan memanggil Mbak Esya di dalam. Dengan nafas tersengal kami berusaha sekeras mungkin tersenyum pada Mbak Esya, meminta maaf padanya setulus mungkin. Karena kan sebenarnya kami tidak salah, tapi kenapa seolah-olah kami sudah membuat kesalahan yang fatal?
“Kalian tuh kok telat, sih? Aku udah bikin invitation dari hari jumat, tulisannya jam satu siang. Beneran dibaca, nggak?” sahutnya setengah gusar.
“Maaf, Mbak. Di email yang Mbak kirim tulisannya jam tiga. Aku bisa tunjukkin kalau mau.”
“Percuma juga. Bosku udah berangkat ke Korea. Dia berangkat tadi jam dua, kalian udah telat banget jadi percuma.”
Aku benar-benar tak mengerti kenapa bisa begini.
“Kalau gitu, Mbak Esya, kapan kita bisa meeting lagi?” tanyaku agar bisa segera pergi dari sini.
“Bosku balik ke Indo hari Jumat. Untuk timeline pastinya kelamaan kalau harus nunggu dia pulang, biar nanti aku discuss with my team and inform to you guys later ya.”
“Maaf ya, Mbak.” Icana berkata dengan gemetar. Aku tahu ia takut sekali.
“Lain kali, kalian bisa telpon aku untuk make sure jadwal meeting. Aku nggak mau ya hal ini terulang lagi. You guys make a big mistake today.”
Aku melirik Icana yang tingginya sebatas telingaku. Matanya berkaca-kaca.
Lalu, kulihat ada tatapan petir yang begitu familiar sehingga aku tak takut untuk mencari keberadaanya. Vanya jauh di depanku menatapku dengan pandangan yang sudah kutahu bahwa ialah pelakunya. Ia yang melakukan ini semua. Vanya pun memberikan pandangan yang membuatku ingin segera menjambaknya, namun ia pergi dan memilih tertawa dengan teman-temannya sambil berlalu.
Icana mengajakku pulang ke kantor. Ia begitu ingin menangis tapi aku tahu ia menahannya. Sedangkan Mas Isa memilih menenangkan Icana karena aku terlihat tampak lebih tegar daripada dia.
“Guys, kalian duluan aja deh. Nanti gue nyusul ke kantor.”
“Mau kemana?” tanya Mas Isa.
“Somewhere over the rainbow\~” Dendangku ceria guna membuat mereka lebih baik.
“Dasar. Jangan lama-lama, ya.”
Aku pun berbalik dan berlalu meninggalkan mereka. Aku bergerak cepat menuju foodcourt gedung dan mencari keberadaan Vanya yang sekejap kulihat menuju tempat ini. Harus ada yang aku tanya padanya, sekarang atau tidak sama sekali.
“Vanya.” Akhirnya aku menemukannya.
Ia berseru kaget, namun begitu riang. “Hai, Najma. How are you?”
Aku hanya diam menatapnya,
“Kenapa? Ada apa? Lo mau kopi? Mau gue beliin?”
“Nggak, makasih.”
“It’s okay. Gue abis order Machiatto. Lo mau apa?”
Fix, Vanya sakit jiwa.
“Vanya, apa ini ada hubungannya sama Fedi? Apa ini ada hubungannya sama apa yang lo bilang ke gue tadi pagi?”
“What? Ahaha, what are you talking about?” serunya sambil tertawa dan menoleh kepada teman-temannya, “gue nggak ngerti maksud lo, Darl.”
“Gue yang nggak ngerti.”
“Coba deh kita duduk dulu. Terus, lo bisa deh jelasin sebenarnya ada apa. Kalau urusan AMD project, gue sebenarnya nggak terlalu powerful karena Mbak Esya lebih megang dan juga ada Mr. Jang sebagai Decision Maker.”
“Hah?”
“Loh, lo mau ngomongin masalah AMD, kan? Tadi kalian terlambat, kan?”
Aku ingin sekali, super ingin menjambak rambutnya saat ini juga. Vanya sudah membuatku terlihat begitu nafsu untuk membela diri karena datang terlambat dan menyalahkannya. Semua teman-temannya menatapku aneh dan aku yakin betul bahwa pandangan penghakiman mereka sedang menyerangku bersamaan.
Tiba-tiba di depanku muncul Fedi sedang membeli sesuatu di kedai penuh buah-buahan. Spontan aku pun hanya tersenyum pada Vanya dan meminta maaf padanya telah mengganggu waktu ngopi bersama teman-temannya. Aku pun meminta izin padanya untuk pergi menemui Fedi.
Aku berjalan cepat menuju Fedi yang seketika bisa melihatku berjalan ke arahnya dan tersenyum melambaikan tangannya. Kutarik tangannya dan mengajaknya pergi saat itu juga. Fedi sedikit terkejut tapi tidak menolak tarikan tanganku. Aku menarik tangannya dan berjalan menjauhi Vanya. Kutengok wajah Vanya yang memerah dan terkejut atas sikapku yang berani menarik tangan Fedi dan berlalu. Aku tersenyum menang kepadanya sebagai tantangan, persis seperti apa yang ia lakukan padaku sebelumnya.
Vanya, now you pick the wrong girl. Eat that.
**
Aku dan Fedi duduk di pelataran lobi yang menghadap air mancur. Setelah diam beberapa menit, akhirnya tangisku pecah juga. Aku menutup muka karena tak tahan lagi, juga sedikit malu kenapa tangisanku malah bersuara nyaring. Fedi yang berada di sampingku kini mendekat dan mengecek keadaanku.
“Maaf nih ganggu nangisnya, tapi semua orang bakal pikir lo nangis karena gue loh.”
“Iya, maaf ya. Nggak apa-apa, kan?”
“Nggak masalah sih. Lo mau gue peluk, nggak?”
Aku membuka wajahku yang kututup dengan kedua tanganku, “Nggak!”
“Oke, fine.”
“Gue minta maaf juga ya udah narik lo ke sini.”
“Yeaa, gue jadi nggak beli jus deh.”
“Nanti gue ganti, setelah merasa lebih baik.”
Fedi hanya diam, tapi aku tahu ia terus memandangiku.
Akhirnya aku membuka mataku, “Biasanya di saat seperti ini, gue akan merasa baik-baik aja karena ada dua sahabat gue yang akan mendengarkan. Sekarang, gue sendirian. Gue nggak tahu harus gimana.”
“Well, sendirian memang menyedihkan. Gue tahu banget rasanya.”
“Hanya, gue merasa begitu menyedihkan karena orang-orang yang begitu gue sayangi, semuanya meninggalkan gue. Yang lebih menyedihkan lagi, semua itu karena gue yang memulainya.”
Fedi hanya diam dan terus menatapku, aku tak bisa menerka apa yang ia pikirkan.
“Gue nggak punya petunjuk apapun untuk membuat hidup gue lebih baik di saat banyak orang menentang gue. Gue begitu clueless dan hopeless sehingga rasanya tujuan hidup gue ikut pergi entah kemana.”
“Jadi itu?”
“Apa?”
“Alasan bahwa lo nggak ingin menggunakan ide yang lo punya untuk membuat hidup lo lebih ceria?”
Aku kembali menghapus air mataku yang terus berlinang dengan derasnya secara sembarangan.
“Najma, gue mau terus terang sama lo, ya. Gue iri berat sama hidup lo, tahu nggak?”
“Kok gitu?” tanyaku keheranan. Tangisanku mulai berhenti perlahan.
“Karena hidup lo berada dalam kuasa lo sendiri. Lo bisa bekerja di bidang kreatif, pakai baju warna apapun yang lo suka, dan jujur aja cuma lo yang tampak cantik dengan topi cowok dan sepatu boots hitam yang selalu lo pakai saat kursus. Walau di depan gue lo nggak pernah tersenyum sedikitpun, tapi sama kucing yang lewat lo malah senyum ceria dan ngajak mereka ngobrol, I saw that, you know. Lo selalu punya ide unik untuk presentasi di kelas dan cuma lo yang punya referensi film sekeren itu. Tanpa perlu usaha lebih lo bisa punya teman yang banyak dan senang menyapa lo di mana aja. Buat gue, hidup lo adalah hidup yang gue impikan, begitu menarik.”
“Memang hidup lo gimana?”
“Boring, biasa aja. Penuh ancaman dan pengawasan.”
“Gimana maksudnya?”
“Males ah, ceritanya.”
“Vanya suka banget sama lo, tahu! Lo sadar nggak akan hal itu?”
“Yeaa. She’s so obsessed with me. That’s a curse.”
“Hah?”
“Hati-hati ya sama dia. Bilang sama gue kalau lo kenapa-napa.”
“Kenapa?”
“Just in case.”
“Kenapa???”
“Please just ask me anything but her. Bisa kan? Bisa dong?”
Kenapa siiiih? Aku sungguh penasaran.
Fedi pun berdiri dan mengulurkan tangannya kepadaku. Aku bertanya dengan ekspresi wajahku yang sembab dan sudah tak berbentuk.
“Kita cari es krim sambil jalan-jalan. Yuk!”
“Hah?”
“Hah mulu hidup lo, Najma! Gue antar lo pulang!”
“Hahaha. Okay.”
Fedi menatapku takjub, aku kembali keheranan. “Kenapa sih?”
“Finally you laughed. Thank God doaku sudah dikabulkan!” ungkapnya berteriak sehingga satu lobi menatap kami. Lagi-lagi Fedi bikin onar.
**