persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Tentang Satria Bergitar dan Persaingan yang Terasa Norak
Rabu pagi datang dengan suasana yang sedikit lebih tegang dari biasanya. Entah kenapa, berita tentang Kayla yang menangis di perpustakaan kemarin sudah menyebar ke seantero kelas secepat aroma gorengan di kantin saat jam istirahat. Saya masuk ke kelas dengan wajah datar, tapi saya bisa merasakan tatapan teman-teman yang seolah-olah sedang menonton drama Korea secara langsung di hadapan mereka.
Arkan tidak ada di bangkunya. Kayla juga tidak terlihat. Di meja saya, Dara sedang asyik menandai peta bintang dengan spidol fosfornya.
"Matahari dan bulannya sedang tidak terbit bersamaan hari ini, Bumi," gumam Dara tanpa melihat saya.
"Mungkin mereka sedang gerhana di suatu tempat, Dara," jawab saya sambil menaruh tas.
"Hati-hati. Biasanya setelah gerhana, akan ada pasang surut yang ekstrem. Dan Arkan bukan tipe orang yang suka kalah dalam hal popularitas," kata Dara lagi.
Benar saja. Saat bel istirahat berbunyi, sebuah kerumunan terbentuk di taman tengah sekolah. Suara petikan gitar akustik terdengar menggema, sangat bersih dan melodius. Saya, yang awalnya mau ke belakang sekolah untuk mencari Bangka, terpaksa berhenti karena jalanan terhalang oleh lautan seragam.
Di tengah taman, Arkan sedang duduk di atas bangku beton. Dia memegang gitar dengan posisi yang sangat artistik. Di depannya, ada Kayla yang tampak bingung tapi juga tersipu. Arkan mulai bernyanyi. Suaranya bagus, jenis suara bariton yang bikin siswi-siswi kelas sepuluh langsung lupa nama bapaknya sendiri di rumah.
Dia menyanyikan lagu tentang permintaan maaf dan menjaga seseorang yang berharga. Sangat puitis, sangat manis, dan menurut saya, sangat norak kalau dilakukan di sekolah saat jam istirahat hanya untuk pamer kehebatan.
"Norak ya?"
Saya menoleh. Senja sudah berdiri di samping saya. Dia membawa sebuah sketsa kecil yang baru separuh jadi.
"Sangat norak, Senja. Seperti menonton sinetron jam tujuh malam yang episodenya tidak habis-habis," kata saya jujur.
Senja tersenyum tipis. "Tapi Kayla sepertinya suka. Lihat wajahnya."
Saya melihat ke arah Kayla. Dia memang tersenyum, tapi ada sesuatu di matanya yang tidak sinkron dengan senyum itu. Dia sesekali melirik ke arah kerumunan, seolah-olah sedang mencari seseorang. Saat matanya bertemu dengan mata saya, saya langsung membuang muka dan mengajak Senja pergi.
"Ayo ke kantin, Senja. Di sini udaranya terlalu banyak mengandung gula, saya takut kena diabetes," ajak saya.
Kami berjalan menuju kantin belakang. Di sana, Bangka sudah menunggu dengan dua gelas es teh plastik.
"Eh, Bumi! Si Arkan lagi konser ya di depan? Gila, itu orang niat banget mau jadi pahlawan kesiangan," Bangka tertawa sambil menyerahkan es teh ke saya.
"Biarkan saja, Bangka. Orang yang butuh panggung biasanya memang karena di kehidupan aslinya dia tidak punya dasar yang kuat," jawab saya sambil duduk di kursi panjang.
Tiba-tiba, Arkan datang ke kantin belakang. Dia masih menenteng gitarnya di punggung, berjalan dengan langkah yang sangat percaya diri. Kayla mengikuti di belakangnya, wajahnya tampak sedikit lelah.
"Bumi, bisa bicara sebentar?" tanya Arkan. Suaranya masih tenang, tapi ada nada menantang di sana.
"Bicara saja, Kan. Di sini udaranya bebas, tidak perlu bayar tiket konser," kata saya tanpa berdiri.
Arkan duduk di depan saya. Kayla berdiri di sampingnya. "Saya tahu kamu keberatan soal tulisan di mading. Dan saya tahu kamu merasa saya mengambil posisi kamu di dekat Kayla. Tapi tolong, jangan bersikap seperti anak kecil yang main tarik-tarikan mainan. Kalau kamu punya masalah, selesaikan secara laki-laki."
Bangka berdiri, wajahnya mulai sangar. "Maksud lo apa, hah? Mau ngajak berantem?"
Saya memegang lengan Bangka, menyuruhnya duduk kembali. "Laki-laki itu bukan soal siapa yang paling jago main gitar atau siapa yang motornya paling merah, Kan. Laki-laki itu soal konsistensi. Saya tidak punya masalah dengan kamu. Masalah saya adalah dengan cara kamu memperlakukan kejujuran sebagai sesuatu yang bisa diedit."
Arkan tersenyum sinis. "Dunia ini butuh keindahan, Bumi. Bukan cuma kejujuran yang pahit. Kayla lebih bahagia dengan keindahan yang saya berikan."
"Bahagia atau cuma merasa silau, Kan?" tanya saya balik.
Kayla tiba-tiba bicara. "Sudah cukup! Kalian berdua kenapa sih? Bumi, kamu kenapa jadi begini? Dan Arkan, tidak perlu begini juga."
"Aku cuma mau meluruskan posisi, Kay," kata Arkan sambil berdiri. Dia menatap saya sekali lagi. "Bumi, nanti sore ada pertandingan basket persahabatan antar kelas. Kalau kamu merasa laki-laki, tunjukkan di lapangan. Jangan cuma jago bicara di belakang sekolah."
Saya tertawa pendek. "Basket? Saya lebih suka main catur atau menghitung bintang, Kan. Tapi kalau kamu mau lihat saya di lapangan, saya akan datang. Bukan untuk menang, tapi untuk melihat seberapa cepat keringat kamu melunturkan parfum mahalmu itu."
Arkan pergi dengan gaya pemenangnya. Kayla menatap saya sebentar, ingin bicara sesuatu tapi Arkan sudah memanggil namanya.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa saat seseorang merasa terancam, mereka akan menggunakan segala cara untuk terlihat lebih tinggi. Arkan mungkin punya panggung, punya gitar, dan punya skor basket yang bagus. Tapi dia lupa, Bumi tidak butuh panggung untuk tetap berada di tempatnya.
saya yang melihat langit dari kantin belakang, menyadari bahwa sore ini akan menjadi sangat melelahkan, bukan karena bola basket, tapi karena harus melayani ego orang yang terlalu haus akan tepuk tangan.