Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pabrik teh
Ke-esokan harinya Chen Li bangun karena teriakan ibunya.
Cahaya matahari hangat masuk dari jendela dan mendarat di ranjang. Chen Li memperhatikannya dan semenjak ayahnya menghilang, cahaya matahari selalu terlihat membosankan dan gelap. Dia tidak tahu mengapa itu bisa terjadi tapi juga tidak ingin terlalu tahu.
Ibunya sudah mempersiapkan makanan. Chen Li hanya perlu makan saja tanpa berbicara sedikit pun.
Tapi ibunya membuka suara, “Sepertinya kelompok pembunuh melakukan pembunuhan sekali lagi. Sekarang korbannya salah satu anggota keluarga Yun yang termasyhur. Apa yang membuat pembunuh itu nekat membunuh seorang ya?”
Chen Li berhenti mengunyah. “Keluarga Yun adalah keluarga ningrat, jelas sekali mereka memiliki banyak musuh. Tidak ada yang perlu di herankan ibu, pembunuhan tanpa alasan dan dengan alasan sudah umun terjadi, bahkan orang baik pun tidak luput dari hal semacam itu. Tapi ada beberapa momen ketika pembunuhan itu dilegalkan, ketika peperangan pecah, pembunuhan atas nama hukum dan pembunuhan yang halus.”
“Kamu seperti ayahmu dengan kata-kata berat. Ibu berharap kamu tidak mengikuti ayahmu untuk menjadi penjahat.”
Chen Li tidak menjawab dan makan dengan lahapnya. Ibunya berhenti berbicara.
Setelah itu, ibunya pergi bekerja dan Chen Li seperti biasa datang ke perkebunan teh tuan Sun yang agung untuk memetik teh atau mengelolanya menjadi teh siap jual.
Dia bekerja seharian untuk mengolah daun teh menjadi teh siap jual. Dan tidak ada yang tahu jika dia bekerja di sana.
Ketika tiba di kediaman Tuan Sun, dia langsung memberi hormat.
Tuan Sun Sedang duduk di ruangan tamu. Teh hangat masih mengeluarkan asapnya dari dalam.
Ketika melihat Chen Li datang dia langsung meminumnya. Memperhatikan teh yang berwarna kekuningan dengan sedikit ampasnya dia berkata, “Chen Li, apa kamu lagi-lagi berulah?”
“Apa maksud anda tuan?”
Tuan Sun meletakkan cangkirnya. “Chen Li, Kamu selalu berkata orang miskin selalu di tindas, tetapi perbuatanmu sering berlawanan dengan itu. Cepat atau lambat, kamu akan di tangkap.”
“Tuan Sun tidak akan membiarkannya bukan?”
Tuan Sun memandangnya dan Chen Li masih sedikit membungkuk memberi hormat. Melihatnya, Pak tua itu menghela nafas. “Apa yang kau inginkan?”
“Tidak ada, aku hanya harus bekerja, mendapatkan cukup uang, melamar wanita cantik dan hidup bersamanya hingga tua. Tuan Sun, aku harus bekerja.”
Dengan demikian dia menegakkan tubuhnya dan berjalan melintasi Tuan Sun tanpa menatapnya.
Caranya melangkah, itu seperti seorang yang telah mengalami banyak penderitaan dan memahami kebahagiaan.
Tuan Sun sedikit menghembuskan nafasnya ketika melihat punggung pemuda itu. Dia juga ingat bagaimana kehidupannya di masa muda dan mulai menertawakannya. “Aku juga begitu,” katanya, “Tapi aku juga sadar sedang bermain api.”
Dia lalu tertawa, sementara orang-orang dengan topi jerami sibuk memanen teh di pagi buta itu, yang bahkan hanya sedikit cahaya matahari yang terlihat.
****
Tempat pengolahan teh ada di dalam tanah dengan Baskom yang besar sekitar dua puluh meter, yang keseluruhannya terbuat dari kayu.
Ada gear kayu dengan rantai untuk membuat baskom besar itu bergerak memutar, menimbulkan suara seperti abad pertengahan.
Untuk mengaduknya, ada Sendok kayu besar yang di pegang satu orang yang berdiri di papan yang menjorok ke baskom, mirip bagaimana seperti papan bajak laut yang menyuruh tawanannya melompat.
Dari sini, uap panas seperti larva dapat di lihat dan itu panas.
Berdiri di atasnya, itu seperti di kukus dan hanya sedikit orang yang mau melakukannya.
Chen Li Sudah terbiasa melakukan pekerjaan ini. Dan menurutnya, inilah pekerjaan orang miskin : keras.
Gelembung-gelembung dan teh yang di panaskan membuatnya selalu ingin mengaduknya.
Perlahan-lahan Daun-daun Teh yang banyak itu mulai layu dan mengeluarkan warna kuningnya.
Proses itu berlangsung beberapa jam sesuai dengan banyak daun teh dan kayu bakar yang di gunakan untuk menyalakan api.
Chen Li yang lama di sana membuat tubuhnya sering kebanjiran keringat. Dan oleh karena panasnya itulah, sering kali tubuhnya seperti di cuci, membuat kulitnya jauh lebih cerah dan bersih.
Setelah beberapa jam, tubuhnya benar-benar di banjiri keringat dan Chen Li menghentikan proses pengadukan.
Dia mengambil saringan besar dan mulai memisahkan ampas daun teh.
Otot-ototnya sangat berguna saat ini. Dia melakukan dengan sekuat tenaga.
Selama proses itu pintu di belakangnya terbuka dan seorang berotot muncul. Dia tersenyum kemudian bersandar di dinding kayu.
“Adik Junior, kamu melakukannya jauh lebih baik,” Dia memuji sambil tersenyum.
Chen Li tidak mempedulikannya dan terus menyaring.
Pria itu tahu Chen Li tidak mempedulikannya dan hanya sedikit tersenyum. Dia terus menonton hingga cairan teh bersih dari ampas.
Chen Li mengusap keringatnya lalu berhenti dan berjalan mendekati kakak seniornya lalu berkata, “Senior, sekarang giliranmu.”
Tanpa jawaban, dia berjalan untuk mencapai pintu. Namun kakak seniornya berkata, “Adik, apa kamu membunuh?”
Chen Li diam sebentar tanpa menjawab dan berjalan menuruni tangga di sana.
Kakak seniornya juga tidak terlalu mempedulikan jawabannya dan dengan cepat berjalan menaiki tangga untuk menuangkan gula pada cairan Teh. Sementara Chen Li turun untuk memeriksa kebersihan teh dan mengamati apa kandungan di dalamnya sudah sesuai takaran.
Sementara jauh, jauh di atas, Tuan Sun memperhatikan mereka berdua dan memastikan pekerjaan mereka berjalan dengan baik. Dia memperhatikan Chen Li dan berpikir anak itu sangat berbakat lalu kakak seniornya yang tidak kalah dengannya.
Mereka berdua adalah pegawai kepercayaannya, tidak peduli bagaimana latar belakangnya, keduanya asal memiliki kemampuan yang baik, dia tidak peduli.
Perlahan-lahan butiran-butiran gula mulai di jatuhkan seperti pasir ke dalam baskom raksasa. Itu langsung larut dalam air panas Teh dan menimbulkan suara gaduh. Dan walaupun terdengar dari luar, orang-orang pasti tidak akan peduli, kemudian mengira ada gempa bumi kecil.
Pabrik teh tuan Sun sangat rahasia, tapi bukan ilegal. Dia menaruhnya di dalam perut bumi untuk melindungi bisnisnya agar tidak di curangi, terutama pabrik teh bagian utara yang selalu ingin menghancurkannya.
Sudah banyak sekali mata-mata yang datang untuk melakukan penyelidikan, namun Chen Li dan kakak seniornya benar-benar terlalu pandai dan mulai mengayunkan pedang mereka untuk membunuh orang-orang itu. Baik si kecil ataupun yang lebih dewasa tahu jika dunia masih tetap kejam meskipun dunia relatif jauh lebih tenang dengan sedikitnya orang-orang yang berkeinginan untuk mencapai puncak kultivasi dan menjadi abadi.
Generasi sekarang, orang-orang lebih suka berkultivasi untuk mendapatkan kekuatan dan pengetahuan yang luar biasa demi banyak uang dan kontribusinya yang besar bagi kehidupan fana. Beberapa orang meyakini, dengan hidup seperti ini, mereka merasa lebih jauh menghargai kehidupan daripada harus terus bertarung dan menumpahkan darah demi mencapai puncak.
Walaupun zaman relatif tenang, masih juga ada beberapa orang yang mengejar kultivasi yang tinggi. Dan untuk Daerah kekaisaran, ada dunia yang khusus dibuat untuk para peri yang ingin bertarung. Di sana mereka bebas melakukan apa saja dan menghancurkan segalanya tanpa takut merusak apa pun.
Untuk wilayah kekaisaran yang di lindungi, kehancuran berati kerugian dan orang-orang fana sering mendapatkan musibah yang berat. Sistem kekaisaran yang berbasis fana jelas sangat melarangnya dan sering menjatuhkan hukum bagi orang yang melakukan kerusakan. Namun ini akan jauh lebih sulit jika orang itu memiliki kultivasi yang sangat tinggi.
Tidak lama cairan teh jauh lebih kental dan lebih jernih. Dan karena gula itu, warnanya jauh lebih gelap.
Chen Li menarik tuas dan menghentikan seluruh proses, begitu juga dengan kakak seniornya.
Mereka berdua saling pandang dan mengangguk sebelum akhirnya pergi.
Tuan Sun yang memperhatikannya juga ikut pergi dari sana.
Sementara di luar, ada beberapa bangunan kayu sederhana dengan lapangan yang luas. Para buruh tuan Sun memotong teh di sini dan langsung mengeringkan dengan cahaya matahari dan beberapa dengan kultivasi agar prosesnya jauh lebih cepat.
Orang-orang yang memiliki kultivasi akan mendapatkan uang yang jauh lebih banyak dan tentunya mereka juga mengeluarkan kekuatan lebih untuk itu.
Hari ini cahaya matahari tidak terlalu baik dan ada beberapa orang melambai tangannya, mengucapkan mantra dalam hati untuk mengeringkan daun-daun teh yang sudah di potong-potong.
Ada uap panas yang muncul di antara teh, sementara teh itu perlahan-lahan berubah warna; dari biru, menjadi kuning hingga gelap.
Teh-teh yang sudah siap segera di angkut dan di kemas dengan kotak kayu, yang di dalamnya lengkap dengan teko, dua cangkir kayu lalu di tambahkan jimat penyegelan dan segera siap di kirim atau di jual.
Yang membedakan teh ini dengan teh dari Utara adalah kesehatannya. Pengelolaannya yang baik bisa meningkatkan energi Qi dan memperpanjang umur seorang, Sehingga wajar sekali orang-orang mau membelinya walaupun itu agak mahal.
Setiap pabrik tentu punya rahasianya sendiri, dan Karenanya, banyak orang yang ingin tahu bagaimana teh ini dibuat.
*****
Siangnya Chen Li duduk di antara bangunan dan melihat teh-teh yang di jemur. Dia dapat menghirup aroma teh yang bercampur dengan aroma matahari. Aromanya membuatnya sedikit mual dan merasa aneh.
Awal-awal ini sangat mengganggu, tapi kemudian dia perlahan-lahan mulai terbiasa.
Dia beristirahat selama satu jam dan mulai bekerja untuk pengemasan teh cair di bawah tanah.
Teh-teh ini akan di masukkan dalam botol panjang dengan lukisan daun teh dan di segel dengan Jimat-jimat.
Para petugas yang akan mengantar kebanyakan orang-orang yang punya kultivasi untuk terbang sehingga sangat memudahkan untuk menyebarkan produknya.
Di sore harinya, Chen Li sering melihat wanita-wanita dengan topi jerami di kepalanya, memegang keranjang dan terbang pergi. Dia bisa sedekat mungkin mengintipnya dan menggeleng. Dia kemudian berpisah dengan kakak seniornya lalu pergi pulang.
Hari-harinya selalu diisi dengan itu dan setiap liburan, dia selalu mengintip si cantik yang ada di akademi desa dan mendengarkan orang tua itu berceloteh hingga mulutnya kering.