Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUNGGAKAN BANK
Laras membuang napas panjang, mencoba mengusir sesak yang menggelayuti dadanya. Setibanya di destinasi impian ini, ia bertekad melupakan sejenak segala penat. Liburan kali ini harus ia nikmati sepenuhnya, tanpa gangguan.
"Ras, lapar nih. Yuk, makan duluan," rengek Rani dengan gaya bicaranya yang manja. "Biarkan saja Andin dan Erika tidur. Nanti kita take away saja buat mereka."
Laras menggeleng pelan, tetap pada pendiriannya. "Nanti mereka marah, Ran. Kamu tahu sendiri kan, mereka tadi wanti-wanti kalau makan harus bareng. Rani sudah punya rekomendasi restoran yang enak di sini."
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Andin muncul dengan mata mengantuk khas orang baru bangun tidur, tangannya refleks mengusap perut.
"Emh... lapar, Ras. Kalian sudah lapar belum?" tanya Andin lirih.
"Lapar banget. " sahut Laras gemas. "Dari tadi kami nungguin kalian bangun, tapi nggak bangun-bangun juga. Lihat tuh, Rani sudah hampir pingsan kelaparan. Erika mana?"
"Dia masih di kamar mandi, baru bangun juga," jawab Andin sambil menarik kursi dan bergabung dengan mereka.
**
Sementara itu, suasana jauh dari kata damai. Tiara menatap layar ponselnya dengan geram. Bibirnya mengerucut tajam, sisa amarah karena panggilannya diabaikan.
"Menyebalkan sekali. Tidak diangkat juga." gerutu Tiara.
Ia kemudian beralih membuka aplikasi WhatsApp. Matanya membelalak saat melihat status terbaru yang diunggah Laras lima menit lalu. Sebuah foto pemandangan pantai Lombok yang sangat indah terpampang nyata di sana.
"Bu....Lihat ini, Mbak Laras liburan ke Lombok." pekik Tiara sambil menyodorkan ponselnya ke hadapan Bu Ajeng. "Dia bikin story pantai. Bisa-bisanya dia foya-foya ke Lombok? Ke sana itu tidak cukup cuma bawa uang sepuluh juta, Bu."
Wajah Bu Ajeng seketika merah padam. Rasa iri dan amarah bercampur menjadi satu. "Bisa-bisanya dia ke Lombok? Ibu saja dari dulu kepingin ke sana belum kesampaian, ini malah dia yang berangkat. Dasar menantu durhaka. Awas saja kalau pulang, akan Ibu buat perhitungan."
Konflik ibu dan anak itu terinterupsi oleh ketukan pintu yang bertubi-tubi dari luar.
Tok! Tok! Tok!
Bu Ajeng beranjak dengan sisa kekesalannya. Saat pintu terbuka, ia tertegun melihat dua pria asing berdiri di depannya. Meski ia bisa menebak dari instansinya, Bu Ajeng tidak tahu apa motif mereka mendatangi rumahnya siang bolong begini.
"Assalamualaikum, Bu." sapa salah satu pria yang bernama Toni dengan sopan.
"Waalaikumsalam. Maaf, ada keperluan apa ya?" tanya Bu Ajeng dengan nada curiga.
"Kita bicara di dalam saja ya, Bu, biar lebih nyaman dan jelas. " saran Toni tenang.
Dengan perasaan tak menentu, Bu Ajeng mempersilakan mereka masuk. Mereka duduk berhadapan di ruang tamu yang mendadak terasa sesak oleh ketegangan.
"Mas ini dari Bank Orange, kan? Ada apa datang ke sini?" Bu Ajeng langsung ke inti persoalan.
"Benar, Bu. Kedatangan kami terkait dengan pinjaman Ibu tujuh bulan yang lalu. Kami mencatat Ibu menjaminkan sertifikat rumah ini dengan jangka waktu dua tahun." Toni menjelaskan secara profesional. "Ini sudah masuk bulan keempat dan jatuh temponya seharusnya kemarin. Karena kemarin Minggu, maka pembayarannya bisa dilakukan hari ini."
"Terus?" Bu Ajeng menyahut singkat, jantungnya mulai berdegup kencang.
"Begini, Bu... pinjaman ini sudah jalan tujuh bulan, tapi mengapa tiga bulan terakhir Ibu tidak membayar cicilannya? Pesan pemberitahuan kami pun Ibu abaikan. Sekarang sudah masuk bulan ketiga tunggakan dan totalnya sudah hampir mencapai 47 juta rupiah." papar Toni yang seketika membuat dunia seolah runtuh bagi Bu Ajeng.
"Apa? 47 juta???" Bu Ajeng terpekik syok.
Napasnya memburu. Ia benar-benar buta soal urusan uang pinjaman dan tunggakan itu. Selama ini, ia hanya memberikan nama, sementara Maya-lah yang menggunakan uang tersebut untuk modal dagang.
"Soal cicilan bank itu, anak saya yang mengurusnya karena dia yang memakai uangnya. Tapi tidak mungkin dia tidak bayar, pasti Mas salah lihat." seru Bu Ajeng, masih mencoba menyangkal kenyataan pahit tersebut.
"Tidak mungkin kami salah, Bu. Semua data tercatat dengan jelas dan valid di dalam sistem kami." tegas Toni tanpa keraguan.
Di tengah ketegangan itu, Tiara yang sedari tadi menguping, malah merengek tanpa tahu situasi. "Terus uang kuliahku bagaimana, Bu?"
Bu Ajeng memijat pelipisnya yang berdenyut. "Hh... nanti Ibu bicara sama Masmu, Arga. Sana kamu beli makan dulu, perut Ibu lapar." Ia menyerahkan selembar uang 25 ribu rupiah.
Tiara menyambar uang itu dengan kasar. Matanya melebar melihat nominalnya. "Apa ini, Bu? 25 ribu dapat apa? Cuma dapat gorengan saja ini!"
"Terserah beli apa saja! Mau nasi goreng atau mie ayam, yang penting perut terisi!" bentak Bu Ajeng, emosinya tumpah sudah.
Tiara menyentak kakinya kesal, namun tetap melangkah keluar rumah menuju tukang mie ayam dekat pos ronda, meninggalkan ibunya yang kini terjepit di antara bayang-bayang kehilangan rumah dan pengkhianatan anak sendiri.
"Kalian tidak boleh menyita rumah ini." seru Bu Ajeng dengan suara bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca menatap sekeliling ruangan yang telah melindunginya selama puluhan tahun. "Ini rumah saya. Kalian tidak berhak menyitanya!"
Toni menghela napas panjang, mencoba mempertahankan profesionalismenya di tengah situasi yang emosional. "Kami tidak akan melakukan penyitaan, Bu, asalkan dalam waktu satu minggu ini Ibu bisa melunasi seluruh tunggakan cicilan selama tiga bulan tersebut."
Bu Ajeng menggeleng lemah, meremas jemarinya sendiri. "Pinjaman itu memang atas nama saya, tapi bukan saya yang memakai uangnya!"
"Maaf sekali, Bu." sela Toni dengan nada tegas namun tetap sopan. "Kami hanya menjalankan tugas sesuai prosedur perjanjian yang sah. Sejak awal, rumah inilah yang menjadi jaminan dan Ibu sendiri yang menandatangani semua berkas serta perjanjiannya. Secara hukum, rumah inilah yang harus kami sita jika kewajiban tidak dipenuhi."
Tubuh Bu Ajeng mendadak lemas. Ia nyaris ambruk ke kursi di belakangnya. Rasa tidak berdaya menghimpit dadanya seperti batu besar. Ia tak pernah menyangka Maya tega mengabaikan pinjaman itu, padahal putrinya itu telah berjanji berkali-kali akan membayar cicilan tepat waktu.
Pikirannya melayang pada aset yang tersisa. Sawah satu-satunya sudah ludes dijual dan hasilnya telah dibagikan kepada anak-anaknya. Rumah ini adalah benteng terakhir, bagian yang ia persiapkan untuk masa depan Tiara. Kini, benteng itu terancam runtuh.
"Apa Ibu bisa melakukan pembayaran hari ini?" tanya Toni lagi, memutus lamunan pahit sang ibu.
"Saya tidak punya uang sebanyak itu, Mas." bisik Bu Ajeng lirih. Suaranya nyaris hilang. "Nanti saya hubungi anak saya terlebih dahulu. Biar dia ke sini untuk menjelaskan semuanya."
Toni dan rekannya mengangguk setuju. Mereka memberikan ruang bagi Bu Ajeng untuk menyelesaikan masalah internal keluarganya. Dengan tangan yang gemetar hebat, Bu Ajeng meraih ponselnya dan mencari kontak Maya.
Begitu sambungan terhubung, ia tidak lagi bisa menahan ledakan emosinya.
"Halo, Maya. Ke rumah Ibu sekarang juga! Ini penting banget." teriak Bu Ajeng, langsung pada intinya tanpa basa-basi.
Di seberang telepon, suara Maya terdengar santai, kontras dengan kepanikan ibunya. "Ada apa sih, Bu? Maya lagi sibuk di toko ini."
"Pokoknya ke rumah Ibu, SEKARANG!!!" tegas Bu Ajeng dengan nada yang tidak menerima bantahan.
"Hhuft .. iya, Bu, iya" jawab Maya akhirnya dengan nada malas.
Klik.
Sambungan terputus. Bu Ajeng menatap layar ponselnya yang gelap dengan perasaan campur aduk. Ia kini hanya bisa menunggu, berharap ada keajaiban atau setidaknya penjelasan yang masuk akal dari putri yang selama ini ia percayai.