NovelToon NovelToon
ISTRI GENDUT MILIK DUKE

ISTRI GENDUT MILIK DUKE

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Balas Dendam / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.

Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.

Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.

Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.

"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."

Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.

Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15. ISTANA

Sejak matahari belum sepenuhnya naik, kamar Liora sudah berubah menjadi sarang keramaian.

Pintu dibuka-tutup tanpa henti, langkah kaki berlalu-lalang, dan suara berbisik bercampur tawa kecil memenuhi udara. Beberapa pelayan membawa kotak perhiasan, yang lain menggotong gantungan gaun, sementara Sasa berdiri di tengah ruangan dengan tangan di pinggang, wajahnya tegang penuh tekad.

"Hari ini bukan hari biasa. Hari ini Nyonya Duchess akan menginjak istana! Kita harus membuat Nyonya Duchess menjadi perempuan tercantik hari ini!" kata Sasa lantang.

Seorang pelayan lain mengangguk cepat. "Dan tidak boleh ada satu pun bangsawan yang berani meremehkan Nyonya!"

"Betul!" sahut yang lain. "Kita harus memastikan Duchess kita terlihat cantik, nyaman, dan-"

"Mempesona," Sasa memotong dengan penuh semangat.

Liora duduk di depan cermin besar, rambutnya masih tergerai alami, wajahnya polos tanpa riasan. Ia menatap pantulan dirinya dan para pelayan yang sibuk di belakangnya, lalu tersenyum kecil. Kericuhan itu ... hangat.

"Tidak perlu semangat itu. Aku hanya bertemu dengan kaisar dan permaisuri bukannya ke pesta kerajaan," kata Liora dengan senyum hangat.

"Itu sama saja, Nyonya. Tetap saja di sana akan ada banyak bangsawan dan orang-orang yang akan melihat Anda," kata Sasa.

"Benar, dan jangan berikan mereka celah untuk bicara buruk dengan Nyonya!" sahut pelayan lainnya.

"Baik, baik. Kuserahkan semuanya pada kalian kali ini," kata Liora yang menyerah dengan semangat para pelayannya ini.

"Gaun biru safir ini, jatuhnya anggun dan tidak menekan pinggang," kata seorang pelayan sambil mengangkat kain lembut, "

"Tidak!" bantah pelayan lain. "Yang hijau zamrud lebih lembut dan membuat kulit Nyonya terlihat cerah."

"Gaun merah mud ini bagaimana?" usul yang ketiga ragu-ragu.

Sasa langsung menggeleng keras. "Terlalu lembut. Kita mau mereka melihat Duchess Ravens, bukan perempuan sembarangan yang bisa diinjak-injak!"

Perdebatan memanas. Gaun diangkat, dibandingkan, lalu diturunkan lagi. Perhiasan ikut diperdebatkan, kalung mutiara atau liontin safir? Anting panjang atau kecil?

Liora hanya duduk diam, membiarkan mereka berdebat dengan penuh semangat. Ada sesuatu yang menggetarkan dadanya, perasaan diperjuangkan. Perasaan ... dipedulikan. Sangat kontras dengan pelayan di kediaman Count.

Di sela keributan itu, seorang pelayan datang membawa nampan kecil berisi potongan buah, kacang, dan roti gandum.

"Nyonya Duchess, silakan makan sedikit. Anda butuh tenaga," kata pelayan itu lembut.

Liora terkejut. "Ah, terima kasih."

"Tabib Aldren berpesan, agar Anda tidak melewatkan makan hari ini, kami tidak ingin Nyonya kelaparan. Istana itu seperti medan tempur," tambah pelayan itu cepat,

Beberapa pelayan mengangguk setuju.

"Benar! Lebih kejam dari medan perang!" sahut yang lain

Akhirnya, setelah perdebatan panjang, keputusan diambil.

Gaun berwarna biru gelap dengan potongan sederhana namun jatuh anggun, kainnya lembut dan ringan, tidak menekan tubuh Liora. Pinggangnya tidak diketatkan, justru dirancang untuk mengikuti lekuk tubuh dengan nyaman. Perhiasan dipilih secukupnya, sebuah kalung kecil dengan liontin safir dan anting sederhana yang berkilau lembut.

Rambut Liora ditata rapi, tidak berlebihan. Wajahnya dirias tipis, menonjolkan mata dan senyumnya yang lembut.

Ketika semuanya selesai, ruangan mendadak hening.

Para pelayan menatap Liora dengan mata berbinar.

"Sempurna," ucap Sasa.

"Aku sangat puas dengan ini," kata yang lainnya.

Liora berdiri perlahan, menatap dirinya di cermin. Ia terpana.

"Kalian ... melakukan sihir apa padaku, sampai aku terlihat secantik ini?" kata Liora pelan, nyaris tak percaya.

Tawa langsung pecah di antara pelayan. Bukan tawa mengejek tapi tawa senang.

Sasa mendekat, tersenyum bangga dan berkata, "Itu karena Nyonya Duchess memang sudah cantik. Kami hanya sedikit memoles dan memilih pakaian yang membuat Anda nyaman."

"Benar, karena Nyonya sudah cantik jadi kami hanya perlu membuat Nyonya semakin cantik lagi," sahut pelayan lainnya.

Liora menoleh ke mereka satu per satu, matanya hangat. "Terima kasih. Terima kasih banyak atas kerja keras kalian."

Para pelayan terdiam sejenak.

Ucapan sederhana seperti terima kasih terdengar begitu langka dari seorang bangsawan.

Wajah-wajah mereka langsung berseri.

Sasa kemudian mengantar Liora keluar kamar, menuju halaman depan tempat kereta kuda menunggu.

"Pastikan Nyonya selalu bersama Duke saat di istana. Jadi jika sesuatu terjadi, Duke akan melindungi Anda," ucap Sasa karena ia tidak bisa menemani Liora ke istana, mengingat ini undangan privasi.

Begitu Liora melangkah keluar ... gadis itu terpana.

Alaric berdiri di sana, mengenakan pakaian formal berwarna gelap, rambutnya tertata rapi, bahunya tegap. Aura dingin yang biasa menyelimutinya kini berpadu dengan wibawa yang menenangkan.

Dan Alaric sendiri membeku ketika melihat Liora datang.

Pandangan matanya jatuh pada Liora, dari ujung rambut hingga ujung gaunnya. Untuk sesaat, dunia seolah berhenti. Ia melangkah maju, menyambut tangan Liora, lalu mengecup punggung tangan itu dengan penuh hormat.

"Kau terlalu cantik hari ini," katanya dengan senyum yang jarang terlihat. "Aku takut semua pria di istana akan menatapmu."

Liora tertawa kecil. "Aku tidak tahu kalau kau bisa menggombal, Duke."

Alaric tersenyum tipis. "Aku tidak menggombal. Aku serius."

Liora membalas senyum suaminya. "Kau justru yang terlihat sangat tampan. Kurasa aku yang harus khawatir kalau akan banyak wanita yang menggodamu nanti."

"Tenang, bagiku mereka hanya serangga," jawab Alaric ringan.

Liora tertawa mendengarnya.

Alaric membantu Liora naik ke kereta, lalu duduk berseberangan.

Dan mereka pun berangkat menuju istana.

"Aku lihat kau sedikit cemas. Kalau kau tidak nyaman, kita bisa membatalkan ini," ucap Alaric khawatir.

Liora cepat menggeleng. "Tidak. Aku hanya memikirkan Kaisar dan Permaisuri. Apa kira-kira yang membuat mereka mengundang kita ke istana."

Alaric menatapnya lembut. "Mereka mungkin hanya ingin membicarakan kehidupan setelah pernikahan kita. Jika nanti kau ingin pulang, kita akan pulang."

Perjalanan berlangsung dalam diam, hening namun tidak canggung.

Ketika kereta berhenti di istana, pelayan menyambut mereka dengan sikap hormat.

"Kaisar dan Permaisuri sudah menunggu," kata seorang pelayan pria.

Sepanjang koridor, Liora bisa merasakan tatapan dan bisik-bisik. Namun ia tetap melangkah tenang. Hal seperti itu sudah biasa ia dapatkan.

Alaric menatap mereka dengan dingin tanpa Liora sadari. Satu per satu suara bisik itu padam. Mereka memalingkan wajah karena takut.

Akhirnya mereka berdua tiba di ruang pertemuan.

"Alaric, senang akhirnya bisa melihatmu," sapa Kaisar langsung.

Kaisar duduk tegak dengan penuh wibawa.

Permaisuri duduk di samping kaisar, kipas menutupi setengah wajahnya, tatapannya tajam menembus Liora.

Alaric dan Liora memberi salam formal kepada Kaisar dan permaisuri.

Lalu ... Permaisuri berdiri dari duduknya dan melangkah maju.

Berhenti tepat di depan Liora. Menatap gadis itu dengan pandangan tajam yang membuat Liora menelan ludah karena canggung.

Liora tersenyum sebisa mungkin, menahan napas.

Ia tahu bahwa dirinya sedang dalam masalah.

1
𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄
cie sayang cie 🤣
𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄
waww, banyak sekali rahasia dan kejutan rupanya...
𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄
mampossss🤣
𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄
wawww, kurang ajar sekali ya mereka
Rosita Tumbelaka
Aq...juga terharu spt merasakan aq dulu..
Rosita Tumbelaka
Saat pertama ku melahirkan bayi pertama hanya Mertua yg mengantarkan dan aq sendirian di ruangan dengan dua suster dan satu dokter laki2... sungguh aq nggk ngerti Keajaiban terjadi saat itu..aq memegang tangan dokter laki2 itu agar dia tetap di sisi ranjang ku...
Dyta Kusnani
kok gtw arram nikah tb2 Uda punya ank gde aja ,, Gideon dtnggu nkhnya kpn y
Dyta Kusnani
Gideon cari jodoh donk , ksian ga nikah2.
Dyta Kusnani
perasaan dlu Marques tmn waktu kcil akaric kok ud punya ank gede ,, umur bro si akaric sbnrnya? apkh UD tua?
Rosita Tumbelaka
Suami Idaman...tdk mau kalah dgn Istri...
Rosita Tumbelaka
Mggk USA heran klo Suami lama nggk bertemu...
Rosita Tumbelaka
Tekad yg bulat dan sangat diharapkan perubahan Liora yg Menggemadkan... Cantik dan Anggun
Dyta Kusnani
EMG dkrjaan kamar suami istri pisah ,, suami dtang k kamar istri KLO mau gtuan doank y😄
Irsyad
keren sekali
Dyta Kusnani
haha lucu sekali
Tangsah Jagad
Liora hamil
Rosita Tumbelaka
Sering baca di cerita2 novel2 gelar2 Bangsawan di Negara2 Kerajaan tapi tapi baru tau disini susunan nya...terima kasih Thor..
Archiemorarty: Terima kasih kembali udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
Tangsah Jagad
mamposs kau penghianat
Tangsah Jagad
kebiasaan bpk² kalah sm pelakor, enak aja sekarang km tak berhak atas Liora
Tangsah Jagad
q yakin Liora pasti datang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!