NovelToon NovelToon
Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengikat Kembali Cinta

Matahari pagi menyinari kos Bima di Demak dengan hangat. Setelah semalam diguyur hujan, udara pagi terasa segar—bau tanah basah bercampur aroma kopi dari warung sebelah. Burung-burung berkicau riang di pohon randu dekat gerbang, seolah turut merayakan sesuatu.

Bima duduk di teras kos, memegang secangkir kopi hitam buatan sendiri. Matanya menatap langit yang baru saja cerah, tapi pikirannya ada pada semalam—pada pelukan Kay di tengah hujan, pada tangis bahagianya, pada janji yang mereka ucapkan untuk tidak saling meninggalkan lagi.

"Udah dari tadi melamun terus"

Suara itu membuatnya menoleh. Kay berdiri di depan gerbang, tersenyum lebar. Hari ini ia mengenakan dress bahan warna kuning pastel yang membuat kulitnya tampak bercahaya, rambut panjangnya tergerai bebas dengan sedikit gelombang alami. Di tangannya, ia membawa dua bungkus plastik—sarapan, mungkin.

"Lo dari mana pagi-pagi?" tanya Bima, berusaha terdengar biasa tapi sudut bibirnya naik membentuk senyum kecil.

"Beli bubur ayam langganan gue. Lo pasti belum sarapan kan?" Kay masuk tanpa sungkan, meletakkan bungkusan itu di meja kecil teras. "Makan bareng, yuk."

Bima mengamati Kay yang sibuk membuka bungkus bubur. Gerakannya lincah, matanya berbinar, bibirnya tersenyum terus. Ia seperti matahari yang tiba-tiba muncul setelah badai.

"Lo dateng pagi-pagi cuma buat bawain bubur?" tanya Bima.

Kay menoleh, matanya bertemu dengan Bima. "Bukan cuma itu. Gue kangen."

Kata-kata sederhana yang membuat dada Bima hangat. Ia duduk di samping Kay, menerima sendok yang disodorkan.

"Makan dulu. Nanti dingin."

Mereka makan dalam diam, tapi bukan diam yang canggung. Diam yang nyaman, seperti dua orang yang sudah saling mengerti tanpa perlu banyak kata. Sesekali mata mereka bertemu, lalu tersenyum kecil, lalu kembali ke bubur masing-masing.

Setelah selesai, Kay membereskan sampah. Matanya menangkap sesuatu di meja Bima—sebuah buku tabungan dan lembaran kertas berisi catatan angka.

"Apa ini?" tanya Kay, penasaran.

Bima menghela napas. Ia tahu ini akan datang. "Tabungan gue."

Kay mengambil buku tabungan itu, membukanya. Matanya membelalak. "Bima, ini udah hampir sepuluh juta! Lo dari mana dapet segini?"

"Dari jasa website. Udah enam bulan gue jalanin, lumayan." Bima meraih buku itu, menutupnya. "Gue juga nabung dari hasil ojek dulu, sebelum kejadian itu."

Kay menatapnya dengan pandangan campur aduk—kagum, haru, tapi juga sedikit marah. "Lo nabung buat apa?"

"Buat bayar utang ke lo."

"Utang apa?"

Bima menghela napas panjang. "Kay, gue tahu waktu itu lo yang bayarin rumah sakit gue. Lo yang bayarin semua. Ibu lo juga sempat bilang—"

"Ibu gue?" potong Kay, keningnya berkerut. "Ibu gue ngomong apa?"

Bima terdiam. Ia tidak sengaja membuka topik itu.

"Bima, jawab." Suara Kay berubah serius. "Ibu gue ngomong apa sama lo?"

Pertemuan di restoran itu kembali terbayang di benak Bima—Lydia dengan anggur merahnya, tatapan sinisnya, kata-kata tajamnya. Tapi ia tidak mau menambah beban Kay.

"Nggak penting," jawab Bima akhirnya.

"Bima Wijaya!"

"Cuma bilang... gue nggak pantas buat lo."

Kay mengepalkan tangannya. Matanya berkaca-kaca, tapi bukan karena sedih—karena marah. "Ibu gue datengin lo diam-diam? Nyuruh lo ninggalin gue?"

Bima tidak menjawab, tapi diamnya adalah jawaban.

"Bima, denger." Kay meraih tangan Bima, menggenggamnya erat. "Gue nggak peduli apa kata ibu gue. Gue nggak peduli apa kata orang. Yang gue peduli cuma lo. Ngerti?"

"Tapi—"

"Nggak ada tapi." Kay memotong tegas. "Lo udah ninggalin gue sekali. Jangan coba-coba lagi. Kalo lo pergi lagi, gue bakal nyari lo ke ujung dunia. Dan pas ketemu, gue bakal pukul lo."

Bima menatapnya lama, lalu tersenyum. "Lo galak."

"Makanya jangan bikin gue galak."

Mereka tertawa kecil. Suasana kembali hangat.

---

Dua jam kemudian, mereka duduk di sebuah kafe sederhana di daerah Kotabaru. Kafe ini pilihan Kay—tempatnya tenang, tidak terlalu ramai, dengan interior industrial dan banyak tanaman hijau. Mereka memesan kopi dan duduk di pojok dekat jendela.

"Bima, ada yang mau gue omongin," kata Kay serius.

"Apa?"

"Gue mau lo ketemu Laras."

Bima mengerutkan kening. "Laras?"

"Iya. Lo tahu, selama enam bulan itu, dia yang jagain lo. Dia yang nolong lo waktu dikeroyok, dia yang rawat lo sampai sembuh. Lo punya utang budi sama dia. Dan gue... gue mau berterima kasih langsung. Sekaligus..."

Kay berhenti, mencari kata yang tepat. "Sekaligus gue mau dia tahu, kalo lo dan gue udah baikan. Bukan karena gue nggak percaya sama lo, tapi karena gue nggak mau ada yang mengganjal. Laras orang baik. Dia pantas dapet kejelasan."

Bima mengamati Kay dengan pandangan kagum. "Lo dewasa banget, Kay."

"Gue belajar dari kesalahan. Dulu gue cemburu buta sama Tasya, malah bikin lo pergi. Sekarang gue nggak mau gitu lagi."

Bima meraih tangan Kay di atas meja. "Oke. Ayo ketemu Laras."

---

Laras datang satu jam kemudian. Ia mengenakan kaos oblong putih dipadukan dengan cardigan panjang warna abu-abu, rambut sebahu yang biasanya diikat kini dibiarkan tergerai. Saat melihat Kay dan Bima duduk bersama, ia tersenyum—senyum yang sedikit getir tapi tulus.

"Hai," sapa Laras, duduk di hadapan mereka.

"Laras, makasih udah mau datang," kata Kay sopan.

"Iya, gapapa. Bima cerita sedikit di telepon." Laras menatap Kay. "Lo mau ngomong apa?"

Kay mengambil napas dalam. "Laras, gue mau berterima kasih. Lo udah jagain Bima selama dia sakit. Lo udah nolong dia waktu dikeroyok. Lo udah jadi temen baik buat dia. Gue... nggak tahu harus balas apa."

Laras tersenyum. "Nggak usah balas apa-apa. Gue senang bisa bantu."

"Tapi gue juga mau minta maaf."

Laras mengerutkan kening. "Minta maaf kenapa?"

"Karena waktu itu, pas gue dateng ke Sanata Dharma, gue liat lo lagi dilukis Bima. Gue langsung lari. Gue nggak sempet ngomong atau jelasin apa-apa. Gue egois."

Laras tertawa kecil—tawa yang melegakan. "Kay, justru gue yang harus minta maaf. Waktu itu, gue tahu Bima masih mikirin lo. Tapi gue tetap... berharap. Gue pikir, mungkin dengan waktu, dia bisa liat gue. Tapi ternyata hati nggak bisa dipaksakan."

Kay merasakan dadanya sesak. Bukan karena cemburu, tapi karena ia bisa merasakan sakit yang dialami Laras.

"Lo sayang sama dia?" tanya Kay pelan.

Laras menatap Bima sebentar, lalu kembali ke Kay. "Iya. Tapi gue juga sayang sama dia sebagai temen. Dan gue nggak mau kehilangan dia. Jadi kalo lo dan dia balikan, gue ikhlas. Asal lo janji satu hal."

"Apa?"

"Jagain dia. Jangan sakiti dia. Bima itu orang baik, Kay. Dia pantas bahagia."

Air mata Kay jatuh. Ia meraih tangan Laras di atas meja. "Makasih, Laras. Makasih banyak."

Laras tersenyum, matanya juga berkaca-kaca. "Sama-sama."

Bima yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Laras, gue juga mau minta maaf. Kalo selama ini gue—"

"Udah, Bim." Laras memotong. "Nggak usah. Gue tahu kok perasaan lo dari awal. Lo jujur, dan itu yang gue hargai. Sekarang, jagain Kay baik-baik. Kalo lo nyakitin dia, gue yang akan marah."

Bima tersenyum. "Janji."

Mereka bertiga tertawa. Suasana yang semula tegang kini hangat. Mereka memesan makanan, mengobrol tentang banyak hal—kuliah, rencana masa depan, film favorit. Laras bercerita tentang keluarganya di Semarang, Kay bercerita tentang Bi Inem yang selalu setia, Bima bercerita tentang ibunya di kampung.

Saat Laras pamit sore harinya, ia memeluk Kay erat. "Jaga dia, ya."

"Pasti."

Laras lalu menatap Bima. "Bim, kalo lo butuh apa-apa, kabarin aja. Gue masih temen lo."

"Iya. Makasih, Las."

Laras pergi dengan senyum. Kay menatap kepergiannya dengan rasa haru. "Dia baik banget, Bim."

"Iya. Gue beruntung kenal dia."

Kay menatap Bima. "Lo tahu, gue sempet takut dia bakal marah. Atau benci gue."

Bima menggeleng. "Laras nggak akan gitu. Dia tahu arti keikhlasan."

Mereka berjalan bergandengan tangan meninggalkan kafe. Sore itu, Kay merasa beban besar terangkat dari hatinya.

---

Dua hari kemudian, pertemuan lain harus dilakukan. Kali ini dengan Tasya.

Tasya setuju bertemu di kampus Sanata Dharma—di taman dekat perpustakaan, tempat yang netral. Ia datang dengan jilbab pink kesayangannya, wajahnya pucat dan matanya sembab. Ia sudah tahu apa yang akan dibahas.

"Kay, Bim, makasih udah mau ketemu," sapa Tasya pelan.

Kay duduk di samping Bima, di bangku taman. "Tas, kita nggak akan lama. Gue cuma mau tanya satu hal: lo yang kirim video itu?"

Tasya menunduk, lalu mengangguk pelan. "Iya."

"Kenapa?"

Tasya mengangkat kepala, matanya berkaca-kaca. "Karena gue khawatir, Kay. Bukan karena gue mau pisahin lo sama Bima. Tapi karena... karena gue liat Bima deket sama Laras. Dan lo di UGM kayak nggak tahu apa-apa. Gue pikir, lo harus tahu."

"Tapi lo nggak jelasin konteksnya," kata Kay, nadanya tidak marah tapi kecewa. "Lo cuma kirim video tanpa keterangan. Lo tahu gue sedih banget waktu itu?"

Tasya menangis pelan. "Maaf, Kay. Gue salah. Gue nggak mikir panjang. Gue cuma... gue pengen lo tahu, tapi gue takut kalo ngomong langsung. Maaf."

Bima yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Tas, gue tahu lo niat baik. Tapi cara lo salah."

"Iya, gue tahu. Gue minta maaf." Tasya menatap Kay. "Kay, gue nggak akan minta lo maafin gue sekarang. Tapi gue janji, ke depannya gue bakal jadi temen yang baik buat lo berdua. Gue udah belajar dari kesalahan."

Kay menghela napas. Ia mengingat semua yang terjadi—Tasya yang dulu mendekati Bima, Tasya yang menyebar gosip, Tasya yang kini menangis di hadapannya. Tapi ia juga ingat bahwa Tasya-lah yang membantu Bima mendapat pekerjaan asisten penelitian dulu. Tasya yang mengantar Bima ke Sanata Dharma.

"Gue maafin lo, Tas."

Tasya terperanjat. "Beneran?"

"Iya. Tapi ada syaratnya."

"Apa?"

"Lo harus jadi temen gue. Beneran. Nggak ada lagi gosip, nggak ada lagi drama. Dan lo harus dateng kalo gue ulang tahun."

Tasya tertawa di tengah tangis. "Janji."

Mereka berpelukan. Bima menyaksikan dengan senyum tipis. Dua wanita yang dulu bersaing, kini berpelukan seperti sahabat lama.

---

Malam harinya, Kay dan Bima duduk di kos Bima. Di luar, hujan mulai turun lagi—tapi kali tidak ada yang perlu ditakuti.

"Bim, lo udah mikir tentang masa depan?" tanya Kay tiba-tiba.

Bima menoleh. "Maksud lo?"

"Kuliah. Setelah ini lo mau apa?"

Bima terdiam beberapa saat. "Gue mau lanjut di Sanata Dharma."

Kay mengangguk. "Gue tahu."

Tapi ada nada kecewa yang tidak bisa disembunyikan. Bima merasakannya.

"Lo pengen gue balik ke UGM?" tanya Bima.

Kay menghela napas. "Jujur? Iya. Gue pengen lo balik. Biar kita bisa bareng lagi, kuliah di kampus yang sama, ketemu tiap hari. Tapi..."

"Tapi?"

"Tapi gue nggak mau egois. Lo udah nyaman di sana. Lo punya Dr. Hartono yang bimbing lo. Lo punya temen-temen baru. Jasa website lo juga jalan. Kalo lo balik, lo harus mulai dari awal lagi."

Bima meraih tangan Kay. "Lo bukan egois, Kay. Lo cuma sayang."

Kay tersenyum tipis. "Gue sayang banget sama lo. Makanya gue nggak mau maksa. Tapi gue juga kangen. Enam bulan itu lama, Bim."

Bima menghela napas. Ia mengerti perasaan Kay. Tapi di sisi lain, ia juga punya tanggung jawab pada dirinya sendiri, pada Dr. Hartono yang sudah membantunya, pada usaha yang mulai ia bangun.

"Kasih gue waktu, Kay," pinta Bima. "Gue mikirin ini baik-baik. Janji."

Kay mengangguk. "Oke. Tapi jangan lama-lama, ya."

Bima tersenyum. "Janji."

Hujan semakin deras. Mereka duduk berdampingan di teras kos, menikmati suara air dan dinginnya malam. Tidak banyak kata yang terucap, tapi kehadiran satu sama lain sudah cukup.

Kay menyandarkan kepala di bahu Bima. "Bim, lo tahu nggak? Gue bersyukur banget akhirnya kita bisa kayak gini lagi."

"Gue juga."

"Lo nggak bakal pergi lagi kan?"

"Nggak."

"Janji?"

"Janji." Bima mencium puncak kepala Kay. "Gue nggak akan pergi lagi. Gue udah belajar, kalo gue pergi, lo cuma tambah sedih. Dan gue nggak mau liat lo sedih."

Kay tersenyum bahagia. "Dasar cuek tapi romantis."

"Cuek tapi sayang."

Mereka tertawa kecil, berpelukan lebih erat. Di kejauhan, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu. Malam itu, di kos sederhana di Demak, dua insan yang sempat terpisah akhirnya bersatu kembali. Bukan tanpa luka, bukan tanpa air mata. Tapi justru itulah yang membuat cinta mereka semakin kuat.

1
falea sezi
lanjut anpe nikah
Bp. Juenk: siaap
total 1 replies
falea sezi
laki. plin plan amat kayaknya dia uda. mulai. suka. laras cowok. g tau diri
Bp. Juenk: 🤭 iya nih emang parah
total 1 replies
Nani Rahayu
semoga bisa diluruskan semuanya..paham sama sikap bima tp Kay juga gak salah...
Bp. Juenk: aamiin 🙏
total 1 replies
Jing_Jing22
Suka banget ceritanya thor🥰🥰🥰 akhirnya nemu cerita yang aku suka🫶🫶🫶
Bp. Juenk: thanks kaka, selamat menikmati
total 1 replies
OMG!!!!!/Applaud/
/Blush/
aku bisa ngebayangin sih..../Good/
Halwah 4g
😍😍😍😍😍😍 pelit bener update nya Thor..sebiji doang . hemmmm..Bimo mengingatkan q pada laki q yg pelit ngomng syag juga .🤣🤣🤣..lanjutkan Thor..lanjutkan...💪💪
Bp. Juenk: 🤭🤭🤭 bisa gitu ya
total 1 replies
Halwah 4g
😍 berlabuh jugaaa ....
Bp. Juenk: iya donk 😍
total 1 replies
Halwah 4g
aelah Bim..blm juga berlayar kapal nya..dah patah dluan .. zzzzzzzzzzzz..si Bimo nih cueknya kek othor pasti 🤣
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae
total 1 replies
Halwah 4g
sueeee kbyang salting ny 🤭
Halwah 4g
aaahhhhhhh....karya baru lagi ya Thor..q suka..q sukaaaaaa.. romansa percintaan yang ringan tapi manis....jangan monoton plis ceritanya Thor..biar kita naik rollercoaster bareng 😄..semngat trs Thor..kencengin updatenya 💪
Bp. Juenk: 🙏 thanks supportnya kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!