SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Romi VS Preman Bedil dan Jabrik part 2
"Aneh sekali ya... kenapa seluruh badan kamu tidak ada satu bagian pun yang terluka atau bahkan sedikit saja mengalami memar padahal kamu baru saja berkelahi dengan Toha dan Sadeli yang wajahnya sangat seram dan menyeramkan seperti dedemit yang keluar dari neraka?!" tanya Mpok Wati dengan suara yang penuh dengan rasa heran dan kebingungan, melihat tubuh Romi yang tetap terlihat segar dan tidak ada tanda-tanda cedera sedikit pun padahal ia baru saja melalui perkelahian yang cukup sengit tersebut.
"Kagak ada yang bisa membuat badan si Romi terluka atau cedera mpok, karena badan dia itu KEBAL seperti baja yang sangat kuat dan kokoh!" ucap pedagang ayam potong yang berjualan di sudut kanan area pasar dengan suara yang penuh dengan kegembiraan dan semangat, sambil tertawa terbahak-bahak karena melihat ekspresi heran dan kebingungan yang muncul di wajah Mpok Wati tersebut.
"Ya Allah Tuhan saya Romi, kenapa kamu harus sampai terlibat dalam perkelahian atau kekerasan dengan anak buah dari Bang Bedil dan Jabrik tersebut? Bukankah kamu tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat berbahaya dan tidak akan pernah segan untuk menyakiti atau bahkan membunuh orang yang berani menentang mereka?" ucap Emak Susi dengan wajah yang masih penuh dengan kekhawatiran dan rasa khawatir yang mendalam terhadap anaknya, sambil mengusap pipi Romi dengan tangan yang penuh dengan kasih sayang dan perhatian.
"Jangan khawatir terlalu banyak ya emaak, karena ada Allah SWT yang selalu melindungi dan menjaga saya dari segala bentuk bahaya atau masalah yang mungkin terjadi," jawab Romi dengan suara yang sangat santai dan tenang, seolah ia ...tidak pernah mengalami sesuatu yang mengkhawatirkan atau berbahaya sama sekali, "Saya juga sudah belajar cara mempertahankan diri dari ayah saya ketika dia masih hidup, jadi saya tahu bagaimana cara menghadapi orang-orang yang ingin menyakiti saya atau orang lain di sekitar saya."
"Maafkan saya ya Mpok Susi, sebenarnya semua ini terjadi karena saya yang menjadi penyebabnya," ucap Bang Rokib dengan suara yang penuh dengan rasa bersalah dan maaf, mendekati Emak Susi dan Romi dengan langkah yang sudah semakin stabil, "Romi berkelahi dan melindungi saya karena saya sedang di serang dan di keroyok oleh Toha dan Sadeli – bukan Sabeni seperti yang salah saya sebutkan tadi ya mpok. Jika bukan karena Romi yang dengan cepat datang membantu saya, saya tidak tahu apa yang akan terjadi padaku saat itu."
"Waduuh betapa bahayanya keadaan ini ya Tuhan saya, sungguh saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika anak saya mengalami sesuatu yang tidak diinginkan akibat membantu orang lain seperti ini," gumam Mpok Wati dengan suara yang penuh dengan rasa prihatin dan kekhawatiran, melihat kondisi Romi yang masih tetap ceria dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan atau rasa takut sedikit pun.
"Bahaya apa yang kamu maksudkan ya mpok Wati?" tanya Emak Susi dengan suara yang sedikit bingung dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Mpok Wati tersebut.
"Pastilah Bang Bedil dan juga Bang Jabrik akan merasa sangat marah dan ingin membalas dendam setelah tahu bahwa anak buah mereka telah dikalahkan dengan mudah oleh seorang anak muda seperti Romi ini!" jelas Mpok Wati dengan suara yang semakin tinggi dan penuh dengan rasa khawatir yang mendalam, "Mereka pasti akan datang kembali ke Pasar Sewon dengan pasukan yang lebih banyak dan lebih kuat, serta membawa senjata yang lebih berbahaya untuk melakukan pembalasan – mereka bahkan mungkin akan memporak-porandakan seluruh pasar dan menghancurkan semua dagangan kita yang sudah susah payah kita dapatkan!"
"Tenang saja jangan khawatir terlalu banyak ya mpok Wati, karena Romi masih ada di sini dan dia pasti mampu menghadapi serta mengalahkan Bang Bedil dan Jabrik jika mereka benar-benar berani datang ke pasar untuk membuat kerusuhan!" ucap pedagang ayam potong tersebut lagi dengan suara yang penuh dengan keyakinan dan semangat, sambil tersenyum lebar kepada Romi yang sedang berdiri di dekat Emak Susi.
"Enteng amat kamu bicara bang! Jangan sampai kamu mengadu-adukan anak saya dengan orang-orang preman yang sangat berbahaya seperti itu seenaknya saja!" marah Emak Susi dengan wajah yang berubah drastis seperti singa betina yang sedang melindungi anaknya dari bahaya, matanya yang biasanya lembut kini menjadi sangat tegas dan penuh dengan kemarahan terhadap pedagang ayam potong tersebut, "Jika nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan atau anak saya terluka bahkan lebih parah lagi karena kamu yang mengajaknya untuk berkelahi dengan orang-orang tersebut, siapkah kamu untuk menanggung jawabnya sepenuhnya haaaaa?! Jawab jangan diam saja seperti itu!"
Pedagang ayam potong tersebut langsung merasa takut dan khawatir mendengar suara marah dari Emak Susi – tubuhnya sedikit merengket dan menggoyangkan akibat rasa ketakutan yang muncul di dalam hatinya. "Sabar ya emaak... tolong jangan marah begitu saja ya... saya tidak bermaksud untuk mengadu-adukan anak kamu dengan orang lain kok emaak," ucapnya dengan suara yang sangat pelan dan penuh dengan rasa takut, "Cukup saja jangan kamu dengarkan omong kosong saya yang tidak berharga ini ya emaak – saya hanya seorang tukang ayam congor yang suka berkata-kata tanpa berpikir panjang saja maaak!"
Mpok Wati yang melihat kondisi ini dengan jelas segera datang untuk menenangkan Emak Susi yang masih dalam kondisi marah tersebut. "Sudahlah ya Mpok Susi, jangan terlalu marah karena itu tidak baik untuk kesehatan kita juga kan?" bujuk Mpok Wati dengan suara yang lembut dan penuh dengan pemahaman, sambil menepuk bahu Emak Susi dengan lembut untuk membuatnya lebih tenang, "Yang penting anak kita Romi baik-baik saja dan tidak ada yang terluka kan? Itu sudah lebih dari cukup bagi kita semua."
Setelah merasa sedikit lebih tenang dan tidak lagi marah seperti sebelumnya, Emak Susi akhirnya menghela nafas panjang dan memutuskan untuk kembali ke lapaknya yang terletak tidak jauh dari lokasi kejadian tersebut. Romi dan Mpok Wati segera mengikuti langkahnya dari belakang, dengan wajah masing-masing yang menunjukkan ekspresi yang berbeda – Romi dengan wajah yang masih penuh dengan kesederhanaan dan kemurahan hati, sementara Mpok Wati dengan wajah yang masih sedikit menunjukkan rasa khawatir terhadap kondisi yang mungkin terjadi di masa depan.
Para pedagang yang melihat mereka berjalan melewati lapak-lapak mereka langsung menyapa dengan suara yang penuh dengan rasa hormat dan penghargaan kepada Romi: "Pagi bang Romi! Semoga kamu selalu sehat dan diberkahi ya nak!" atau "Terima kasih banyak ya Romi karena sudah membantu kita semua dan menjaga ketertiban di pasar ini!"
"Hahaha sungguh rasanya seperti saya sendiri yang jadi pejabat penting atau orang terkenal yang disambut dengan hangat oleh banyak orang ya!" canda Mpok Wati dengan suara yang penuh dengan kegembiraan dan rasa lega karena Emak Susi sudah tidak lagi marah seperti sebelumnya, sambil tertawa terbahak-bahak yang membuat beberapa pedagang di sekitarnya juga ikut tersenyum melihat kelucuannya.
"Bukan kamu yang jadi sorotan atau orang penting di sini mpok, tapi anak saya Romi yang menjadi pahlawan bagi kita semua di Pasar Sewon ini!" ucap Emak Susi dengan wajah yang kini sudah penuh dengan rasa kebanggaan yang luar biasa terhadap anaknya, sambil melihat ke arah Romi yang sedang berjalan di sebelahnya dengan mata yang penuh dengan kasih sayang dan cinta yang mendalam.
Romi yang mendengar kata-kata tersebut langsung merasa sedikit malu dan tidak nyaman dengan perhatian yang diberikan kepadanya. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya dengan wajah yang sedikit memerah akibat rasa malu tersebut, namun tetap tersenyum ramah kepada setiap orang yang menyapa atau memberikan pujian kepadanya saat mereka berjalan melewati lapak-lapak pedagang yang ada di dalam pasar.
Di tempat lain, jauh dari lokasi Pasar Sewon, di sebuah kontrakan yang terletak di pinggiran kota dan digunakan sebagai markas atau pos oleh para preman yang dipimpin oleh Bang Bedil dan Bang Jabrik, suasana di dalamnya sangat tegang dan penuh dengan kemarahan. Ruangan yang cukup luas namun penuh dengan barang-barang yang berantakan tersebut dipenuhi oleh sekitar sepuluh hingga lima belas orang pria dengan penampilan kasar dan tidak sedap dipandang, semuanya dengan wajah yang penuh dengan kemarahan dan hasrat untuk membalas dendam terhadap orang yang telah membuat anak buah mereka tersandung dan mengalami kekalahan yang memalukan.
Bang Bedil sendiri sedang duduk di atas sebuah kursi kayu besar yang tampak sangat kokoh dan kuat, seperti ingin menunjukkan statusnya sebagai pemimpin atau bos dari kelompok preman tersebut. Tangan kanannya dengan erat memegang dan terus memutar-mutar sebuah pistol kuno yang memiliki bentuk yang cukup unik dan berbeda dari pistol pada umumnya – ia menyebut senjata tersebut sebagai "Bongkok", sebuah senjata keramat yang pernah menjadi milik gurunya yang telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu dan dianggap memiliki kekuatan magis yang bisa melumpuhkan atau bahkan membunuh lawan dengan hanya satu tembakan saja. Di tangan kirinya, beberapa butir peluru kecil dengan warna keemasan yang bersinar terang di bawah sinar lampu bohlam yang berkedip-kedip di atas kepalanya terlihat jelas – peluru tersebut dikatakan terbuat dari emas murni dan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada peluru biasa yang terbuat dari timah atau besi.