Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.
Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.
Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: EKLIPS DI RUANG TATA USAHA
Pagi itu, Surabaya tidak terasa hangat seperti biasanya. Langit mendung menggantung rendah, seolah merefleksikan awan badai yang berkecamuk di dalam dada Keyla Aluna. Di meja makan yang kecil dan rapuh, denting sendok beradu dengan piring keramik terdengar terlalu nyaring.
Ibu Keyla duduk di seberangnya, matanya masih menyisakan jejak bengkak sisa tangisan semalam. Wanita paruh baya itu berusaha tersenyum, menyodorkan segelas susu hangat, tapi getaran di tangannya tidak bisa disembunyikan. Ketakutan itu nyata. Ketakutan akan kehilangan satu-satunya jembatan masa depan bagi putrinya: beasiswa pendidikan.
"Key..." suara Ibu serak. "Kamu yakin nggak ada masalah di sekolah? Ibu bisa datang kalau perlu bicara sama Kepala Sekolah."
Keyla menelan roti tawarnya dengan susah payah. Rasanya seperti menelan kerikil. "Nggak usah, Bu. Itu cuma... cuma salah paham administrasi. Keyla bakal urus hari ini. Ibu tenang aja, ya?"
Kebohongan itu meluncur mulus, namun terasa asam di lidah. Keyla tahu ini bukan sekadar administrasi. Ini adalah eksekusi. Vanya Clarissa tidak sedang menggertak; dia sedang menarik pelatuk.
Keyla berpamitan, mencium tangan ibunya lebih lama dari biasanya, seolah menyerap kekuatan dari kulit keriput yang telah bekerja keras membesarkannya. Saat ia melangkah keluar rumah dan menutup pagar, wajah sendu Keyla lenyap. Digantikan oleh topeng dingin yang baru pertama kali ia kenakan.
Ia tidak lagi berjalan menunduk. Ia menatap aspal dengan sorot tajam. Jika Vanya ingin perang, Keyla tidak akan membawa bendera putih.
***
SMA Cakrawala Terpadu riuh seperti biasa. Mobil-mobil mewah menurunkan siswa-siswi beruntung di lobi utama. Keyla berjalan dari gerbang samping, tempat pejalan kaki dan pengguna angkutan umum masuk. Biasanya, ia akan mencoba membaur dengan tembok, menjadi tidak terlihat. Tapi hari ini, langkahnya cepat dan terarah.
"Pagi, Cas... maksudku, Keyla."
Suara bariton itu menghentikan langkahnya. Bintang Rigel berdiri di dekat loker, senyum manis terukir di wajahnya yang tampan. Ia terlihat segar, kontras dengan Keyla yang merasa seperti memikul beban seluruh tata surya di pundaknya.
Bintang mendekat, hendak meraih tangan Keyla, tapi Keyla secara refleks memundurkan bahunya. Gerakan kecil, namun penolakannya terasa jelas.
Senyum Bintang memudar sedikit. "Hei? Kamu oke? Matamu bengkak."
"Kurang tidur. Belajar Fisika," jawab Keyla singkat. Ia tidak berani menatap mata Bintang. Jika ia melihat ketulusan di sana, pertahanannya bisa runtuh. Dan jika ia runtuh, ia akan menangis, menceritakan soal ancaman pada ibunya, dan Bintang akan bertindak gegabah. Keyla tidak mau dikasihani. Ia tidak mau Bintang melihat kemiskinannya sebagai 'masalah yang harus dibereskan dengan uang'.
"Key, soal kemarin..." Bintang merendahkan suaranya, melirik sekitar koridor yang ramai. "Anak-anak udah mulai lupa soal insiden tas itu. Vanya nggak berkutik."
*Vanya nggak berkutik?* Keyla ingin tertawa miris. *Dia justru sedang mencekik leherku di tempat yang nggak bisa kamu lihat, Bin.*
"Baguslah," sahut Keyla datar. "Aku harus ke perpus. Dinda nunggu."
"Aku anter?"
"Nggak usah!" Tolakan itu terlalu keras. Beberapa siswa menoleh. Keyla menggigit bibir, melihat ekspresi terluka di wajah Bintang. "Maksudku... aku perlu lari sebentar. Ada buku yang harus dikembalikan. Nanti ketemu di kantin aja, ya?"
Tanpa menunggu jawaban, Keyla berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Bintang yang terpaku di tengah koridor. Hatinya mencelos. Menyakiti Bintang adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan, tapi saat ini, jarak adalah satu-satunya perisai yang ia punya.
***
"Jancuk!" umpatan khas Surabaya itu meluncur mulus dari mulut Dinda begitu Keyla selesai menceritakan telepon ancaman itu di sudut tersembunyi perpustakaan, di balik rak ensiklopedia yang berdebu.
Dinda memukul meja pelan namun penuh emosi. Wajahnya merah padam. "Dia beneran neror Nyokap lo? Wah, gendeng iku arek (gila itu anak). Ini udah kriminal, Key! Kita laporin aja ke Pak Gunadi!"
"Nggak bisa, Din," potong Keyla cepat, tangannya meremas rok abu-abunya. "Vanya nggak ngomong langsung. Yang nelpon Ibu itu orang yayasan. Mereka bilang ada 'peninjauan ulang' beasiswa karena laporan perilaku tidak terpuji. Vanya main bersih. Dia pakai tangan orang lain."
Dinda memijat pelipisnya, mendengus kasar. "Licik tenan ular sanca satu itu. Jadi sekarang status lo gimana?"
"Itu yang mau gue cek," Keyla menatap lurus ke arah pintu perpustakaan. "Gue mau ke Tata Usaha pas istirahat pertama. Gue harus tahu seberapa parah kerusakannya. Kalau beasiswa gue dicabut... gue harus keluar dari sekolah ini, Din."
Suasana hening seketika. Kemungkinan Keyla keluar dari SMA Cakrawala membuat udara terasa berat. Dinda menatap sahabatnya dengan tatapan nyalang.
"Nggak. Gak bakal gue biarin," desis Dinda. "Heh, dengerin gue. Lo pinter, lo punya otak. Vanya cuma punya duit sama koneksi bapaknya. Kita cari celahnya. Beasiswa itu ada kontraknya, kan? Nggak bisa dicabut sepihak cuma karena 'katanya'. Harus ada bukti."
"Itu masalahnya," Keyla menunduk. "Klausul 'menjaga nama baik sekolah' itu karet banget. Rumor gue jadi pelakor, insiden tas kemarin... meskipun nggak terbukti, itu udah bikin nama gue jelek di mata guru-guru konservatif."
"Terus lo mau diem aja?"
"Nggak," Keyla mengangkat wajahnya. Sorot matanya yang biasanya redup kini memancarkan kilat yang asing. "Gue bakal minta surat resminya. Gue mau lihat tanda tangan siapa di situ. Begitu gue tahu siapa orang dalam yayasan yang disuap Vanya, gue bakal cari cara buat neken balik."
Dinda menyeringai, menepuk bahu Keyla keras-keras. "Nah, iki baru konco plek-ku! (Nah, ini baru sahabatku!). Ayo, kita labrak TU. Gue temenin."
***
Jam istirahat pertama terasa seperti berjalan di medan ranjau. Keyla dan Dinda berjalan menuju gedung administrasi. Di sepanjang koridor, bisik-bisik masih terdengar. Tatapan sinis dari anggota geng cheerleader Vanya mengikuti setiap langkah mereka, tapi Vanya sendiri tidak terlihat batang hidungnya.
"Itu strategi dia," bisik Dinda. "Dia nggak mau kelihatan ada di sekitar lo pas bomnya meledak."
Ruang Tata Usaha (TU) berpendingin udara maksimal, tapi keringat dingin tetap mengalir di punggung Keyla. Ia mendekati loket kaca. Di baliknya, Bu Ratna, staf administrasi yang biasanya ramah, kini menatapnya dengan kacamata melorot dan ekspresi kaku.
"Saya mau cek status beasiswa prestasi saya, Bu," ucap Keyla, suaranya berusaha terdengar tegas meski jantungnya berdegup seperti drum.
Bu Ratna menghela napas panjang, tidak segera menjawab. Ia mengetik sesuatu di komputernya, lalu mengambil sebuah amplop cokelat dari tumpukan berkas di sampingnya. Ia tidak menyodorkannya lewat celah loket, melainkan keluar dari pintu samping dan menyerahkannya langsung ke tangan Keyla.
"Ibu baru mau panggil kamu," suara Bu Ratna pelan, nyaris berbisik. "Ini Surat Peringatan Pertama (SP1) sekaligus notifikasi penangguhan dana beasiswa bulan depan. Ada laporan masuk ke komite etik yayasan."
Dinda langsung menyambar, "Laporan apa, Bu? Keyla juara umum pararel! Dia nggak pernah bolos!"
"Laporan asusila dan gangguan ketertiban," jawab Bu Ratna singkat, matanya menghindari tatapan Keyla. "Saya cuma staf, Keyla. Keputusan ada di Pak Haris, Bendahara Yayasan. Katanya kamu... terlibat hubungan yang merusak citra siswa teladan."
*Hubungan yang merusak citra.* Kalimat itu seperti tamparan keras. Hubungannya dengan Bintang. Vanya membidik tepat di jantung masalahnya. Jika Keyla pacaran dengan Bintang, ia kehilangan beasiswa. Jika ia putus, Vanya menang.
"Terima kasih, Bu," suara Keyla gemetar. Ia mencengkeram amplop itu erat-erat.
Keyla berbalik, kakinya terasa lemas. Ia berjalan keluar dari ruang TU seperti zombie. Dinda mengumpat panjang lebar di sampingnya, tapi telinga Keyla berdenging. *Penangguhan dana bulan depan.* Itu artinya ibunya harus membayar SPP bulan depan. Uang dari mana? Gaji ibunya sebagai buruh cuci hanya cukup untuk makan dan kontrakan.
"Key! Keyla!"
Keyla tersentak. Ia baru sadar ia sudah berdiri di koridor utama, dan Bintang Rigel sedang berlari kecil ke arahnya. Wajah cowok itu terlihat khawatir.
"Kamu dari mana? Aku cariin di kantin nggak ada," Bintang sampai di hadapannya, napasnya sedikit terengah. Matanya langsung tertuju pada amplop cokelat berlogo sekolah di tangan Keyla. "Itu apa?"
Keyla panik. Ia menyembunyikan amplop itu di balik punggungnya. "Bukan apa-apa. Cuma... cuma hasil try out."
"Hasil try out nggak pake amplop segel yayasan, Key," Bintang menyipitkan mata. Instingnya tajam. "Ada masalah apa? Dinda?"
Bintang menoleh ke Dinda, meminta jawaban. Dinda tampak serba salah. Ia membuka mulut, ingin membela sahabatnya, tapi tatapan memohon dari Keyla membuatnya bungkam.
"Bintang, please. Jangan sekarang," pinta Keyla, suaranya bergetar hebat. Ia ingin kabur. Ia ingin menghilang ke lubang hitam.
"Kamu kenapa sih seharian ini ngehindar?" Bintang maju selangkah, mengikis jarak. Nada suaranya bukan marah, tapi frustrasi. "Kita udah sepakat buat jalanin ini bareng-bareng. Kalau ada yang ganggu kamu, itu urusan aku juga. Vanya ngapain lagi?"
"Nggak semua hal tentang kamu, Bin!" Keyla meledak. Tekanan emosi dari pagi akhirnya jebol. "Nggak semua masalah di dunia ini bisa selesai cuma karena kamu Bintang Rigel!"
Bintang tertegun. Ia mundur selangkah, kaget dengan bentakan Keyla. Suasana koridor yang ramai mendadak hening. Semua mata tertuju pada mereka.
Saat itulah, Keyla melihat Vanya. Gadis itu berdiri di lantai dua, bersandar pada pagar pembatas, menatap ke bawah dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Vanya memegang ponselnya, seolah berkata: *'Lanjutin dramanya, Keyla. Semakin kamu emosi, semakin jelek citramu.'*
Keyla sadar ia masuk perangkap lagi. Ia baru saja membentak kapten basket sekolah di depan umum, memperkuat narasi bahwa ia adalah cewek emosional yang tidak pantas.
"Key..." Bintang mencoba meraih bahunya lagi, lebih lembut.
"Jangan sentuh aku," desis Keyla, air mata mulai menggenang. "Aku butuh sendiri."
Keyla berbalik dan berlari. Ia menabrak bahu beberapa siswa, tidak peduli. Ia berlari menuju satu-satunya tempat di mana ia bisa bernapas: atap gedung sekolah lama.
Namun, saat ia berbelok di tangga, tangannya ditarik kasar. Bukan oleh Bintang.
Keyla terhuyung dan mendapati dirinya berhadapan dengan Vanya yang entah bagaimana sudah turun dari lantai dua. Vanya tidak lagi tersenyum. Wajahnya dingin, matanya berkilat jahat.
"Udah terima surat cintanya, Cassiopeia?" bisik Vanya, menekan Keyla ke dinding. Bau parfum mahal Vanya terasa mencekik.
Keyla menepis tangan Vanya. "Lo licik. Lo nyerang Ibu gue karena lo nggak mampu ngadepin gue secara adil."
"Adil?" Vanya tertawa kecil, suara tawa yang mengerikan. "Dunia ini nggak pernah adil, Keyla. Bintang itu ditakdirkan buat bersinar di langit atas, bareng gue. Bukan ditarik ke selokan sama tikus kayak lo. Pilihan lo cuma dua: Putusin Bintang hari ini dan bilang ke semua orang kalau lo cuma manfaatin dia, atau... Ibu lo bakal terima surat Drop Out lo minggu depan."
"Gue nggak bakal mundur," tantang Keyla, meski lututnya gemetar.
"Oh ya?" Vanya mendekatkan wajahnya ke telinga Keyla. "Pak Haris itu Om gue. Lo pikir tanda tangan siapa yang ada di surat itu?"
Keyla membeku.
"Gue kasih waktu 24 jam," Vanya mundur, merapikan rambutnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Besok malam ada pesta ulang tahun sekolah. Bintang pasti ngajak lo. Kalau lo datang sama dia... selamat tinggal beasiswa."
Vanya melenggang pergi, meninggalkan Keyla yang merosot ke lantai. Amplop cokelat di tangannya sudah kusut, seakan merepresentasikan masa depannya yang kini berada di ujung tanduk.
Keyla membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Membaca baris demi baris vonis yang tertulis di sana. Air matanya menetes jatuh di atas kop surat yayasan.
Ia harus memilih. Cinta pertamanya, atau masa depan ibunya.
Namun, di tengah keputusasaan itu, otak Keyla yang terbiasa memecahkan teka-teki fisika mulai bekerja. Ia menatap tanda tangan Pak Haris. Ia ingat sesuatu. Sebuah rumor lama yang pernah didengarnya dari anak-anak klub jurnalistik tentang penyelewengan dana yayasan.
Keyla menyeka air matanya kasar. Jika Vanya menggunakan koneksi kotor, mungkin sudah saatnya Keyla berhenti menjadi bintang yang diam dan mulai menjadi meteor yang menghantam bumi. Menghancurkan segalanya untuk membangun ulang.
Keyla mengeluarkan ponselnya, tapi kali ini bukan untuk menelepon Bintang. Ia mengetik pesan kepada satu orang yang paling tahu seluk-beluk gosip kotor sekolah ini, orang yang bahkan ditakuti oleh Dinda.
*To: Reza (Ketua Klub Jurnalistik)*
*"Za, lo masih nyimpen bukti kwitansi fiktif renovasi gedung tahun lalu? Gue butuh. Gue punya bahan barter yang lo mau soal Vanya."*
Tombol kirim ditekan. Perang sesungguhnya baru saja dimulai.