Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANGGILAN PAKSA DARI BALAI PENEGAK HUKUM
Udara di sekitar Paviliun Teratai Hitam mendadak menjadi pekat dan dingin, seolah-olah seluruh oksigen telah digantikan oleh tinta hitam yang mencekik. Dari dalam retakan tanah yang menganga lebar, merayap keluar kabut hitam pekat yang membentuk siluet raksasa menyerupai bunga teratai yang mekar dengan kelopak setajam silet.
Ketua Balai Penegak Hukum, sang Daulat Pedang, yang tadinya siap menebas Feng, mendadak menghentikan gerakannya di udara. Matanya yang dingin kini membelalak penuh kewaspadaan. Pedang kegelapannya bergetar, merespons aura yang jauh lebih jahat dan purba dari bawah sana.
"Segel Teratai Hitam... Benar-benar hancur?" gumam Ketua Balai dengan suara yang tidak lagi stabil.
"Sistem, tolong carikan saya alasan logis kenapa setiap kali saya mau kaya, dunia malah mau kiamat?" batin Feng sambil melompat mundur sejauh lima meter, menghindari uap hitam yang mulai menggerogoti ubin batu paviliun hingga hancur menjadi abu.
SISTEM MERESPON DENGAN ALARM DINAMIS: ANALISIS MATERIAL SELESAI. INI ADALAH SISA ENERGI SPIRITUAL DARI PENYIHIR TERATAI HITAM YANG DISEGEL TIGA RATUS TAHUN LALU. RAUNGAN BUNTEL BERTINDAK SEBAGAI KUNCI FREKUENSI YANG MERUSAK STRUKTUR SEGEL.
ESTIMASI BAHAYA: SERATUS PERSEN.
SARAN: JANGAN MENYENTUH KABUT ITU KECUALI TUAN INGIN MENJADI PUPUK ORGANIK DALAM TIGA DETIK.
"Buntel! Sini!" teriak Feng.
Buntel, yang wujudnya kini sudah gagah dengan sisik perak metalik, tidak lari ketakutan. Sebaliknya, naga buncit itu justru mendesis tajam ke arah lubang hitam tersebut. Bulu peraknya berdiri tegak, memancarkan panas yang mencoba menetralkan hawa dingin di sekitarnya.
"Feng!" teriak Ketua Balai dari atas langit, suaranya menggelegar menembus kabut hitam. "Kau telah melepaskan bencana yang seharusnya terkubur selamanya! Ikut denganku ke Balai Penegak Hukum sekarang, atau aku akan membiarkanmu membusuk bersama iblis ini!"
Feng menatap Ketua Balai, lalu menatap lubang hitam, kemudian melirik ke arah sisa sate babinya yang kini tertutup kabut hitam dan mulai mencair. Wajah Feng yang tadinya jenaka mendadak berubah menjadi sangat masam.
"Ketua Balai yang terhormat," sahut Feng sambil menunjuk ke arah panggangan satenya yang hancur. "Sate saya hancur. Rumah saya retak. Dan sekarang Bapak mau mengajak saya 'jalan-jalan' ke penjara tanpa memberikan kompensasi? Di mana keadilan sekte ini?"
"Beraninya kau bicara soal sate di saat nyawamu di ujung tanduk!" raung salah satu Tetua Hakim yang baru saja bangkit dari tanah. "Cepat menyerah sebelum Ketua Balai kehilangan kesabaran!"
Tiba-tiba, dari dalam lubang hitam, sebuah tangan kerangka yang dibungkus energi ungu gelap melesat keluar. Tangan itu memanjang seperti karet dan mengincar kaki Feng dengan kecepatan yang melampaui refleks manusia biasa.
"Waduh, mau kenalan ya?"
Feng melakukan salto ke belakang, menghindari cengkeraman tangan kerangka itu. Di saat yang sama, dia merasakan tarikan gravitasi yang luar biasa dari atas. Ketua Balai Penegak Hukum rupanya sudah kehilangan kesabaran. Pria tua itu mengayunkan tangannya, melepaskan rantai cahaya biru yang langsung melilit tubuh Feng dan Buntel.
"Formasi Penangkapan Daulat!" seru Ketua Balai. "Bawa dia pergi dari sini! Biarkan para Tetua Penyegel menangani lubang ini!"
Feng tidak melawan saat rantai itu melilitnya. Dia justru membiarkan dirinya ditarik ke udara. Strateginya sederhana: keluar dari zona kabut hitam yang mematikan itu dulu, urusan kabur nanti bisa dipikirkan sambil mencari makan.
"Buntel, tenang dulu. Jangan digigit rantainya, ini bukan camilan logam biasa," bisik Feng pada naga kecilnya yang mulai membuka rahang untuk mengunyah rantai cahaya biru itu.
"Kyuk... Grrr..." Buntel mendengus, asap perak keluar dari hidungnya, tapi dia menurut dan melipat sayapnya.
Dalam sekejap, Feng, Buntel, dan seratus lima puluh pasukan eksekutor ditarik menjauh dari Paviliun Teratai Hitam menggunakan formasi pemindahan ruang darurat. Hanya butuh beberapa detik bagi mereka untuk mendarat di halaman depan Balai Penegak Hukum—sebuah kompleks bangunan megah yang terbuat dari batu hitam dan dikelilingi oleh ribuan pedang yang menancap di tanah sebagai peringatan.
Brak!
Feng dijatuhkan dengan tidak sopan di tengah lapangan terbuka. Rantai cahaya biru masih melilit tubuhnya, menekannya agar tetap berlutut.
"Selamat datang di pengadilanmu, Feng," ucap Ketua Balai yang kini mendarat di depannya dengan wajah tanpa ekspresi.
Ribuan murid sekte luar dan dalam sudah berkerumun di luar pagar balai, berbisik-bisik melihat pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya: Seorang murid Level Nol ditangkap secara pribadi oleh Ketua Balai Penegak Hukum.
"Tempatnya bagus, banyak pedang buat asahan batu," komentar Feng sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, mengabaikan ribuan tatapan menghina. "Tapi kok suasananya gersang ya? Tidak ada warung nasi di sekitar sini?"
"Diam!" bentak Kapten Rano yang muncul dari barisan dengan wajah penuh perban. "Ketua, izinkan saya memotong lidahnya! Dia telah merampok kami dan menghina otoritas Balai!"
Ketua Balai mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Rano diam. Dia menatap Feng dengan tatapan menyelidik. "Feng, aku akan memberimu satu kesempatan. Serahkan naga purba itu dan teknik fisik yang kau gunakan untuk menghancurkan Batu Pengukur Bakat. Jika kau patuh, aku akan meringankan hukumanmu menjadi kerja paksa di tambang selama lima puluh tahun."
Feng tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat nyaring di lapangan yang sunyi itu.
"Lima puluh tahun? Mas, saya ini orangnya gampang bosan. Seminggu saja tidak tidur siang saya bisa sakit kepala, apalagi lima puluh tahun di tambang," jawab Feng santai. "Dan soal teknik saya... itu rahasia perusahaan. Kalau Bapak mau, saya bisa kasih demonya gratis sekarang. Mau bagian wajah atau dada yang ditampar?"
Kemarahan yang tertahan di lapangan itu meledak. Tekanan aura dari para Tetua yang hadir membuat udara seakan membeku.
"Kau benar-benar memilih jalan kematian!" Ketua Balai menghunuskan pedang kegelapannya kembali. "Masukkan dia ke Penjara Kedalaman Sembilan. Biarkan dia merasakan dinginnya besi spiritual sampai dia memohon untuk bicara!"
"Tunggu dulu, Pak Ketua," sela Feng sambil menatap Buntel di bahunya yang mulai kembali bergetar, sisik peraknya berpendar semakin terang. "Bapak yakin mau memasukkan saya ke penjara?"
"Kenapa? Kau takut?" ejek Kapten Rano.
"Bukan takut," Feng menyeringai lebar, sebuah seringai yang membuat Ketua Balai merasa ada sesuatu yang salah. "Masalahnya, Buntel ini kalau stres suka makan sembarangan. Dan saya lihat... gedung penjara Bapak itu dibangun pakai logam spiritual Kelas A, kan? Itu adalah makanan favorit naga saya kalau lagi ngambek."
"Bawa dia pergi!" perintah Ketua Balai, tidak mempedulikan peringatan Feng.
Dua eksekutor menyeret Feng menuju pintu besi raksasa yang menuju ke bawah tanah. Buntel mengeluarkan suara 'kyuk' yang terdengar seperti suara tawa licik.
Tepat saat Feng melangkah masuk ke dalam kegelapan penjara, SISTEM memberikan notifikasi yang membuat senyum Feng semakin lebar.
SISTEM: DETEKSI LOGAM SPIRITUAL DALAM JUMLAH MASIF. ESTIMASI ENERGI YANG BISA DISERAP BUNTEL: CUKUP UNTUK MENCAPAI EVOLUSI TAHAP DUA.
CATATAN: JIKA BUNTEL MAKAN DINDING PENJARA INI, SELURUH GEDUNG BALAI PENEGAK HUKUM AKAN RUNTUH DALAM WAKTU TIGA PULUH MENIT.
"Nah, Pak Ketua," gumam Feng di dalam kegelapan lorong penjara. "Jangan salahkan saya kalau besok Bapak harus tidur di bawah tenda pramuka."
Namun, saat pintu penjara tertutup rapat, Feng menyadari sesuatu yang aneh. Di dalam sel yang paling gelap, duduk seorang pria tua dengan rantai yang menembus tulang belikatnya. Pria itu mengangkat kepalanya, matanya bersinar merah seperti kabut di Paviliun Teratai Hitam.
"Akhirnya..." bisik pria tua itu, suaranya membuat rambut kuduk Feng berdiri. "Kunci yang kutunggu... telah datang membawa naga kecilnya."