Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi tiba-tiba selesai
Wawan panik ketika ia di tanya apa usahanya selama ini.
Wawan yang tidak punya usaha apa-apa kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Arman.
Kalau Wawan menjawab sembarangan ia tentu akan langsung di curigai, tapi kalau tidak menjawab apa-apa ia malah lebih mencurigakan.
Karena tak punya pilihan, Wawan pun memutuskan untuk menjawab pertanyaan tadi dengan jawaban yang tiba-tiba saja muncul di otaknya.
"Saya... Hanya menjalankan bisnis kembang api kecil-kecilan!" Semua orang yang mendengar itu terbelalak.
Wawan yang menyadari reaksi semua orang itu mengira kalau ia telah ketahuan. 'Yah, mati dah ini mah.'
Dalam hati Wawan telah pasrah kalau pun ia akan di tembak mati di tempat ini.
Tapi, siapa sangka.
Bukannya curiga orang-orang ini malah terlihat agak segan dan langsung merendahkan suaranya.
"Begitu, ya...!" Ucap salah satu orang yang duduk satu meja dengan Arman Setiawan.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu hanya berdiri saja? Ayo duduk sama kami!" Timpal orang lain yang masih duduk di meja yang sama.
"Oh, benar juga. Kamu itu tamu, mana boleh tamu berdiri terlalu lama!" Arman Setiawan sendiri yang mempersilahkan Wawan duduk.
Ia dengan sopan menggeser kursi untuk Wawan.
Tentu hal itu membuat Wawan bingung.
'Hah?... Apa orang yang punya bisnis kembang api itu sepopuler itu ya?... Kok aku gak tau?..' Gumamnya dalam hati.
Tentu saja orang yang menjalankan bisnis kembang api tidak sepopuler itu dan tidak semengagumkan itu.
Hanya saja, orang-orang yang duduk di meja itu mengira kalau perkataan Wawan itu mengacu pada kembang api dengan skala yang mematikan.
Yaitu bahan peledak.
Singkatnya, mereka mengira kalau bisnis kembang api itu adalah bisnis bahan peledak atau bahkan senjata api.
Tentu, itu membuat mereka semua yang ada di sana segan dan tak berani bersikap tidak sopan pada Wawan.
Ia di perhatikan dengan sangat baik di sana seakan ia adalah tamu istimewa.
Sementara itu di sisi lain.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama akhirnya agen Lukman tiba di lokasi tempat Wawan menjalankan misi.
"Seharusnya ini tempatnya!?..." Lukman tampak melihat sekiranya untuk mencari keberadaan Raisya.
Tak lama, ia menemukan Raisya sedang duduk di mobil sambil membantu sesuatu di layar laptopnya.
"Sepertinya mereka sudah mulai sedari tadi... Sebaiknya aku tidak menganggu dia dan masuk sama ke dalam untuk membantu Wawan!" Lukman pun masuk ke dalam dengan cara yang berbeda dari Wawan.
Ia menyusup masuk secara diam-diam tanpa ada satupun penjaga yang menyadarinya.
Lukman berdiri di dekat jendela dan mencari-cari keberadaan Wawan.
Akhirnya, Lukman menemukan Wawan. "Wah... Hebat sekali dia!"
"Baru juga menyusup tapi sudah bisa berada sedekat itu dengan target... Tapi kenapa targetnya malah terlihat segan selalu pada Wawan?..." Dalam hatinya Lukman merasa ada yang janggal.
Tapi karena ia tak punya waktu untuk memikirkan hal semacam itu jadinya ia abaikan. "Lupakan saja, itu tidak penting!"
"Sekarang aku harus memikirkan cara untuk menghubungi Lukman dan memberinya instruksi...!" Tiba-tiba saja secara kebetulan ada lalat yang terbang di sekitar kepala Wawan.
Itu membuat mata Wawan secara reflek mengikuti pergerakan lalat itu hingga secara tidak sengaja melirik ke arah Lukman.
Lukman yang melihat itu menyangka kalau Wawan telah menyadari keberadaannya dan mengirimkan isyarat kalau Wawan akan menerima instruksi.
"Anak ini jauh lebih mengesankan dari yang aku kira!" Padahal mah, Wawan sama sekali tidak menyadari keberadaan Lukman.
Lukman yang salah mengira segera memberikan instruksi dengan isyarat tangan meksipun pandangan Wawan tidak tertuju padanya.
Lukman masih mengira kalau Wawan akan tetap menangkap apa yang ia instruksikan meskipun pandangan Wawan tidak fokus padanya.
Setelah beberapa saat melakukan isyarat-isyarat tangan Lukman pun pergi dan menyerahkan semuanya pada Wawan.
Wawan yang sebenarnya tidak mengerti apa-apa tentu saja tidak melakukan apa-apa pada awalnya.
Tapi, secara tiba-tiba saja Wawan merasa harus pergi ke toilet.
"Um... Sepertinya saya harus pergi ke toilet. Jadi di mana toiletnya!?" Arman tiba-tiba saja berdiri dan berkata...
"Biar saya antar ke toilet. Lagipula saya juga kau ke sana!" Keduanya pun pergi untuk ke toilet.
Tibalah mereka berdua di toilet.
"Ini toiletnya. Anda bisa gunakan toilet yang itu sedangkan saya yang ini!" Wawan hanya mengangguk sebelum ia masuk ke toilet untuk buang air kecil.
Sedangkan Arman Setiawan masuk ke toilet satunya untuk buang air besar.
Karena Wawan hanya buang air kecil jadinya ia tidak terlalu lama di toilet dan segera kembali untuk berkumpul dengan yang lainnya.
Beberapa saat kemudian Arman Setiawan keluar dari toilet karena ia telah selesai buang air besar.
Namun, hal yang sangat tidak terduga tiba-tiba saja terjadi dimana Arman terpeleset karena ada genangan air di lantai.
"Eh!?..." Ia terjatuh dengan kepala yang terbentuk keras ke dinding kemudian jatuh pingsan.
Tak ada satupun orang di sana jadi tidak ada yang menyadari kalau Arman terbentur hingga tak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian, Lukman tiba-tiba saja muncul di toilet dan di sana ia terkejut karena melihat Arman telah pingsan.
Ia mengira kalau ini perbuat Wawan.
"Wah. Anak ini kerjanya cepat sekali!"
"Bahkan ia sudah melumpuhkan target sebelum aku datang!" Ia merasa puas pada kinerja Wawan yang cepat dan tidak bertele-tele.
Padahal mah, Wawan tidak tahu apa-apa di sini.
Segera Lukman membawa Arman keluar dari rumah ini dengan melewati jalan yang sama yang ia gunakan untuk masuk ke dalam rumah.
Tak ada satupun orang yang menyadari pergerakan Lukman hingga perjalanan Lukman benar-benar lancar tanpa kendal.
Arman pun di bawa masuk ke dalam mobil tempat Raisya memantau dan memandu gerak-gerik Wawan.
Ia tentu terkejut karena tiba-tiba saja seniornya muncul sambil membawa target mereka. "Loh! Kok target kami ada sama senior, sih!?" Tanya Raisya.
"Aku datang untuk membantu karena di suruh oleh komandan!"
"Aku kira pada awalnya kalian akan kesulitan karena masih pemula, tapi. Ternyata semuanya sudah Wawan tangani dengan rapih!"
"Wawan juga melumpuhkan musuh dengan cepat tanpa ada yang menyadarinya hingga aku hanya perlu membawa orang ini keluar!" Jelas Lukman sambil mengikat Arman dengan sangat erat.
"Begitu ya!" Raisya tentu merasa sangat kebingungan karena sedari tadi ia tidak mendengar kabar apapun dari Wawan.
Apalagi kabar kalau ia telah melumpuhkan musuh.
Raisya sebenarnya merasa ada yang janggal, tapi karena mereka sedang ada dalam misi jadinya ia memaklumi apapun itu.
'Mungkin kondisinya tidak memungkinkan untuk memberiku kabar.' Itulah yang Raisya pikirkan pada saat itu.
Dan karena misi telah selesai jadi Raisya segera memberikan instruksi pada Wawan untuk mundur.
"Misi selesai. Ayo kita mundur sekarang!" Suara Raisya terdengar jelas di alat yang terpasang di telinga Wawan.
Wawan yang mendengar itu terdiam sejenak karena bingung. 'Hah?... Kita belum melakukan apa-apa, kenapa tiba-tiba selesai?...'