kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Desas-Desus di Perbatasan dan Bayangan yang Tak Terduga
Aethelgard perlahan bangkit dari bayang-bayang Kekosongan. Di bawah bimbingan Raja dan Ryo, yang kini sering terlihat berbagi pandangan dan strategi, kehidupan mulai berdenyut kembali. Ryo tidak lagi hanya seorang Dalang Jiwa di balik layar, melainkan seorang pangeran yang aktif, mengimplementasikan program pemulihan mental dan spiritual bagi rakyat yang traumatis. Dengan Lyra di sisinya, yang kini memimpin sebuah tim tabib dan ahli spiritual dari Ordo Penjaga Benang, mereka menciptakan jaringan dukungan yang belum pernah ada sebelumnya. Ryo merasakan benang harapan dan ketahanan yang tumbuh, perlahan mengenyahkan benang-benang ketakutan yang dulunya merajalela.
Namun, kedamaian di Aethelgard terasa rapuh. Terlalu banyak kerugian, terlalu banyak jiwa yang masih merasakan gema kehampaan. Dan Ryo, dengan kepekaan Dalang Jiwa-nya, merasakan adanya gelombang aneh yang bergerak di perbatasan, bukan Kekosongan, tapi sesuatu yang lain, sesuatu yang baru dan mengganggu.
Beberapa minggu setelah Mulut Jurang diikat, laporan-laporan aneh mulai berdatangan dari pos-pos terpencil di pegunungan timur. Gembala melaporkan melihat cahaya aneh di malam hari. Pemburu berbicara tentang bisikan-bisikan aneh di hutan yang dalam, suara-suara yang menarik jiwa. Awalnya, itu dianggap sebagai efek sisa dari Kekosongan, namun Ryo merasakan benang eterik yang berbeda. Ia tidak dingin dan hampa seperti Kekosongan, melainkan panas dan memutar, seolah ada yang mencoba membengkokkan benang-benang itu secara paksa.
"Ini bukan Mulut Jurang," Ryo menjelaskan kepada Lyra di perpustakaan istana, di antara tumpukan peta dan gulungan kuno. "Mulut Jurang adalah ketiadaan yang menarik. Ini... ini adalah kehadiran yang mendorong. Yang mendistorsi."
Lyra mengernyitkan kening, menelusuri gulungan-gulungan yang berbicara tentang bentuk-bentuk sihir terlarang. "Gulungan Chronica Animarum juga membahas tentang Dalang Jiwa yang 'menyimpang'. Mereka yang tidak hanya mengikat, tetapi juga mengubah benang jiwa orang lain untuk keuntungan pribadi, atau untuk menciptakan kekuatan mereka sendiri. Dalang-dalang ini menggunakan 'Sihir Benang Darah', memanipulasi benang kehidupan dengan cara yang tidak wajar."
"Sihir Benang Darah," Ryo menggumam, merasakan getaran tidak menyenangkan dari nama itu. "Aku merasakan benang-benang yang terdistorsi itu. Mereka bukan tercabut, tapi terpelintir, dipaksa ke bentuk yang tidak semestinya. Dan ada sebuah benang inti di balik semua itu, yang terasa asing, namun sangat kuat."
Lyra menemukan sebuah bagian di gulungan. "Dikatakan bahwa Dalang yang menyimpang cenderung meninggalkan jejak 'simpul bengkok'—titik-titik di mana benang-benang terdistorsi berkumpul, dan di sana mereka akan mengumpulkan 'esensi' dari benang-benang yang mereka manipulasi. Esensi itu bisa menjadi kekuatan, energi, atau bahkan kesadaran."
"Seperti Dalang yang mencoba membentuk Dalang lain dari esensi jiwa," Ryo menyimpulkan, matanya melebar. "Jika ini benar, maka ini jauh lebih berbahaya dari Kekosongan. Kekosongan hanya melahap. Ini... ini menciptakan."
Kabar dari timur semakin mengkhawatirkan. Para prajurit yang dikirim untuk menyelidiki kembali dengan kondisi mental yang kacau, atau lebih buruk, dengan perubahan aneh dalam kepribadian mereka. Mereka menjadi lebih agresif, lebih patuh, seolah kehendak mereka sendiri telah ditundukkan.
"Ini adalah kejahatan yang tidak dapat diterima," kata Raja, setelah mendengar laporan terbaru. "Ryo, kau harus menyelidiki ini. Bawa Lyra dan Kapten Kael. Cari tahu siapa yang melakukan ini, dan hentikan mereka."
Ryo mengangguk. Ia merasakan benang takdir Aethelgard kembali tegang. Ia merasakan panggilan. "Baik, Ayahanda. Kami akan pergi ke timur."
Perjalanan ke pegunungan timur terasa berbeda dari perjalanan ke Mulut Jurang. Atmosfernya tidak dingin dan hampa, melainkan panas, menyesakkan, dan dipenuhi oleh resonansi yang salah, seperti melodi yang dimainkan di luar kunci. Ryo harus terus-menerus memfokuskan benang intinya untuk tidak ikut terdistorsi oleh gelombang energi yang salah ini.
Kapten Kael dan pasukannya, meskipun tangguh, merasakan tekanan yang berbeda. Bisikan di hutan kini terdengar lebih jelas, mencoba mengganggu pikiran mereka, memanipulasi emosi mereka. Lyra, dengan ramuan-ramuan penenang dan meditasinya, membantu menjaga mental para prajurit tetap stabil.
Semakin dalam mereka melangkah, semakin sering mereka menemukan jejak-jejak aneh. Pohon-pohon dengan dahan yang tumbuh melilit tidak wajar, sungai yang mengalir dengan warna-warna aneh, dan jejak kaki yang terlalu besar untuk hewan normal. Ryo merasakan benang kehidupan dari alam itu sendiri telah dipelintir, dipaksa ke dalam bentuk yang tidak wajar.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah lembah tersembunyi yang diselimuti kabut hijau keunguan. Di tengah lembah itu, berdiri sebuah struktur aneh yang tampaknya terbuat dari kayu yang dipelintir dan batu yang berdenyut, membentuk sebuah menara spiral yang menjulang tinggi ke langit. Dari menara itu, terpancar benang-benang eterik yang terdistorsi, menyebar ke seluruh lembah, memanipulasi segala sesuatu di sekitarnya.
"Simpul Bengkok," Lyra berbisik, mengacu pada gulungan kuno. "Ini adalah pusatnya."
Ryo memejamkan mata, memproyeksikan kesadarannya ke arah menara. Ia merasakan keberadaan di puncaknya, sebuah benang inti yang sangat kuat, namun asing dan gelap. Ia merasakan kehendak yang mendominasi, yang mencoba membentuk benang-benang orang lain untuk tujuan yang mengerikan.
"Ada seorang Dalang di sana," kata Ryo, matanya merah menyala. "Seorang Dalang yang menyimpang. Dan ia mencoba menciptakan sesuatu."
Tiba-tiba, dari dalam menara, sebuah suara bergema di seluruh lembah, bukan suara yang datang dari tenggorokan, melainkan suara yang langsung berbicara ke benak mereka, memelintir pikiran.
"Selamat datang, Pangeran Aethelgard," suara itu berkata, dipenuhi dengan ejekan dan kekuasaan. "Aku sudah menunggumu. Dan aku sudah merasakan benangmu yang indah. Bergabunglah denganku. Bersama-sama, kita bisa menenun takdir dunia ini, seperti yang seharusnya."
Ryo merasakan benang Kael dan para prajurit mulai gemetar, terpengaruh oleh bisikan yang memanipulasi itu. Ia harus bertindak cepat.
"Ini adalah Dalang yang menguasai Sihir Benang Darah," Lyra berbisik, membaca dari gulungan. "Ia menggunakan 'resonansi terbalik' untuk memelintir kehendak. Anda harus melawannya dengan Anyaman Suci, Ryo, tapi kali ini, Anyaman Anda harus memancarkan keberadaan yang begitu kuat sehingga ia tidak bisa didistorsi."
Ryo mengangguk, memegang erat boneka Elara. Ini bukan pertarungan melawan kehampaan. Ini adalah pertarungan melawan Dalang lain, Dalang yang menyimpang, yang akan menguji batas-batas kekuatan dan etika seorang Dalang Jiwa yang menjaga keseimbangan.
---