NovelToon NovelToon
Dead As A Human, Reborn As The Heir

Dead As A Human, Reborn As The Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Summon / Dunia Lain / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: ANWAR MUTAQIN

aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interlude

Interlude — The Throne That Does Not Interfere

Tidak ada waktu di tempat ini.

Tidak ada arah, tidak ada atas atau bawah. Hanya keheningan yang begitu mutlak hingga bahkan kehampaan terasa bising bila dibandingkan dengannya.

Di tengah kekosongan itu, berdiri sebuah singgasana.

Bukan emas.

Bukan perak.

Bukan materi apa pun yang dapat dipahami makhluk fana.

Singgasana itu terbentuk dari hukum—garis-garis cahaya geometris yang saling bertaut, bergerak lambat seperti denyut nadi alam semesta. Setiap garis adalah prinsip, setiap simpul adalah sebab-akibat yang telah terjadi dan yang belum.

Di atasnya duduk Kaisar Hukum Langit.

Wujudnya tidak sepenuhnya terlihat. Sosok itu lebih menyerupai bayangan yang dibungkus cahaya, eksistensi yang menolak didefinisikan oleh bentuk. Namun satu hal jelas—

Ia mengamati.

Di hadapannya terbentang cermin kosmik—jutaan fragmen realitas, masing-masing memantulkan dunia yang berbeda. Beberapa telah runtuh. Beberapa sedang bertahan. Beberapa bahkan belum lahir.

Salah satu fragmen berdenyut lebih terang dari yang lain.

Dunia biru-hijau.

Planet kelas rendah.

Peradaban yang baru saja melewati ambang kehancuran.

Bumi.

Di dalam pantulan itu, seorang manusia duduk sendirian di antara reruntuhan, menundukkan kepala.

Daniel.

Segel pertama di dadanya berkilau redup—tidak berusaha berkembang, tidak meminta kekuatan. Ia hanya bertahan, seperti tuannya.

Kaisar mengamati tanpa emosi.

“Menarik,” gumamnya, suara itu tidak menggema—ia langsung ada di setiap lapisan ruang.

Di sisi singgasana, kabut berputar, lalu membentuk wujud lain. Lebih kecil. Lebih rendah. Namun tetap bukan makhluk fana.

Seorang Arbiter.

“Dia gagal,” kata Arbiter itu, suaranya kaku seperti perhitungan. “Subjek menyimpang dari jalur optimal. Korban meningkat. Probabilitas kehancuran lokal naik 3,72%.”

Kaisar tidak menoleh.

“Kegagalan,” katanya pelan, “adalah konsep manusia.”

Arbiter terdiam sejenak. “Namun data menunjukkan—”

“Data tidak memahami makna.”

Fragmen realitas berputar. Adegan lain muncul—Daniel mengangkat puing, menyelamatkan satu nyawa, sementara yang lain jatuh.

“Jika ia memilih efisiensi,” lanjut Kaisar, “ia akan menjadi alat.”

Singgasananya berdenyut pelan.

“Jika ia memilih empati,” katanya, “ia menjadi variabel.”

Arbiter ragu. “Variabel berbahaya.”

“Justru itu.”

Kaisar akhirnya menggerakkan tangannya—gerakan sederhana yang menyebabkan ribuan dunia bergetar, meski tak satu pun menyadarinya.

“Alat dapat diganti,” katanya.

“Variabel… dapat mengubah hasil.”

Arbiter menunduk. “Apakah Segel Kedua akan diaktifkan?”

Kaisar menatap fragmen itu lebih dalam. Daniel kini berdiri, meski tubuhnya masih gemetar. Tidak ada amarah di wajahnya. Tidak ada kebencian. Hanya tekad yang pahit dan sunyi.

“Belum,” jawab Kaisar.

“Kenapa?”

“Karena ia belum memilih.”

Singgasana berkilau lebih terang, menampakkan garis hukum yang saling bertabrakan—takdir yang bersaing satu sama lain.

“Segel Pertama mengajarkan cara bertahan,” ujar Kaisar.

“Segel Kedua menuntut alasan untuk melangkah.”

Ia menutup fragmen itu dengan satu gerakan kecil.

“Biarkan ia merasakan konsekuensi,” katanya dingin.

“Biarkan dunia mengujinya.”

“Jika ia tetap berdiri—bukan karena kekuatan, melainkan karena keyakinan—”

Kaisar tersenyum tipis.

Senyum yang tidak membawa kehangatan apa pun.

“—maka ia layak melangkah lebih jauh dari sekadar manusia.”

Keheningan kembali menyelimuti segalanya.

Di dunia bawah, seorang pemuda menarik napas panjang, tanpa tahu bahwa kegagalannya baru saja diakui oleh langit itu sendiri.

Dan bahwa mulai saat ini—

ia benar-benar diawasi.

Interlude — The Throne That Hungers

Tidak ada ketertiban di sini.

Langit bukan langit—ia retak, berdenyut seperti luka yang tak pernah sembuh. Tanah tidak menopang; ia menelan. Gunung-gunung terbuat dari tulang makhluk yang telah lama dilupakan, sementara sungai mengalirkan cairan hitam yang berbisik, seolah setiap tetesnya menyimpan ingatan tentang pembantaian.

Di pusat dunia itu, berdiri sebuah istana.

Bukan dibangun—melainkan tumbuh.

Menara-menara berduri menjulang seperti cakar yang mencoba merobek realitas, dan di puncaknya, sebuah singgasana hitam mengambang tanpa penopang.

Di atasnya duduk Kaisar Iblis — Antares.

Tubuhnya tinggi, ramping, dan mustahil. Kulitnya seperti malam tanpa bintang, retak oleh cahaya merah yang mengalir seperti magma di balik daging. Enam mata terbuka di wajahnya—tidak berkedip, tidak fokus pada satu titik—melainkan melihat segalanya sekaligus.

Di hadapannya, lantai istana berlutut.

Para Jenderal Iblis.

Masing-masing adalah bencana yang diberi bentuk.

“Laporan,” perintah Antares.

Suaranya bukan suara—melainkan dorongan. Kehendak murni yang memaksa realitas untuk mendengarkan.

Salah satu Jenderal maju. Tubuhnya bersayap, namun sayap itu compang-camping, seolah pernah dicabut dan dipasang kembali dengan paksa.

“Dunia ke-Tujuh Belas telah jatuh,” katanya. “Resistensi Kaisar lokal dilenyapkan. Populasi—”

Antares mengangkat satu jari.

Jenderal itu langsung terdiam, tubuhnya bergetar, darah hitam mengalir dari matanya.

“Angka,” kata Antares dingin.

“—86% terserap. Sisanya gagal beradaptasi dan dimusnahkan.”

Antares tidak menunjukkan kepuasan.

Ia tidak membutuhkan validasi.

“Dunia kecil?” tanyanya.

Jenderal lain maju—berwujud cair, wajahnya terus berubah.

“Invasi berjalan sesuai prediksi. Namun—” ia ragu, “—terjadi anomali.”

Antares akhirnya sedikit mencondongkan tubuh.

“Ulangi.”

“Di salah satu dunia kelas rendah… terdapat manusia yang menolak runtuh.”

Keheningan menyebar seperti racun.

“Manusia,” ulang Antares pelan. Kata itu terasa asing di mulutnya. “Makhluk rapuh yang memohon perlindungan pada hukum dan doa?”

“Ya, Yang Mulia.”

Antares menggerakkan tangannya.

Sebuah gambaran muncul di udara—seorang pemuda, berlumur darah dan debu, berdiri di antara kehancuran. Matanya tidak menyala. Tubuhnya tidak memancarkan energi besar.

Namun kehendaknya—

Antares menyipitkan mata.

“Ini bukan kekuatan iblis,” katanya.

“Bukan pula berkat dunia.”

Ia mendekatkan wajahnya ke gambaran itu, keenam matanya berputar, mencoba mengurai asal-usul anomali tersebut.

“Hukum,” gumamnya.

Udara di istana bergetar.

Para Jenderal saling berpandangan, kegelisahan menyusup ke dalam ekspresi mereka yang biasanya penuh kebrutalan.

“Hukum Langit tidak ikut campur,” kata salah satu dengan suara tertahan. “Ia telah bersumpah—”

Antares tertawa.

Tertawa yang membuat menara istana retak dan beberapa Jenderal tersungkur ke lantai.

“Sumpah adalah alat bagi yang lemah,” katanya. “Dan diam… adalah pilihan.”

Ia menatap kembali gambaran Daniel.

“Jika ia memilih diam, maka ia menerima konsekuensinya.”

Antares berdiri.

Singgasananya berderak, seolah enggan melepaskan tuannya. Ketika ia melangkah, setiap langkah menciptakan retakan antar-dunia.

“Manusia ini,” lanjutnya, “belum menjadi ancaman.”

Ia menoleh ke para Jenderal.

“Namun ia bisa menjadi simbol.”

Kata itu membuat beberapa Jenderal menggigil.

“Simbol melahirkan harapan,” kata Antares dingin. “Dan harapan… adalah racun bagi penaklukan.”

Ia mengangkat tangannya, dan api hitam membungkus gambaran Daniel.

“Kirim Pemburu,” perintahnya.

“Bukan pasukan.”

“Bukan jenderal.”

Ia tersenyum—senyum yang penuh niat membantai.

“Kirim mereka yang menikmati mematahkan kehendak.”

Para Jenderal menunduk serempak.

“Dan jika manusia itu mati?” tanya salah satu dengan hati-hati.

Antares berhenti sejenak.

“Kalau ia mati,” jawabnya pelan, “maka ia hanya membuktikan bahwa hukum pun bisa berdarah.”

Ia kembali duduk di singgasana.

“Jika ia hidup…”

keenam matanya menyala bersamaan.

“—maka aku akan turun sendiri.”

Di dunia yang jauh, tanpa mengetahui keputusan itu, Daniel merasakan udara menjadi lebih berat.

Seolah sesuatu

akhirnya

melihatnya sebagai mangsa.

Interlude — The Emperor Who Could Not Look Away

Langit di sini tidak runtuh.

Ia dipaksa bertahan.

Awan-awan tergantung kaku seperti kain yang dibentangkan terlalu tegang, sementara cahaya berlapis-lapis jatuh dari atas tanpa sumber yang jelas. Setiap sinar menahan sesuatu—benua yang retak, laut yang hendak tumpah ke kehampaan, bahkan waktu yang hampir pecah.

Ini bukan dunia.

Ini adalah struktur penopang realitas.

Di tengahnya berdiri satu sosok.

Kaisar Penopang Langit.

Berbeda dengan saudaranya yang duduk diam di singgasana hukum, Kaisar ini berdiri—selalu berdiri. Tubuhnya tinggi dan kokoh, dibalut zirah bercahaya yang tampak menahan beban tak terhingga. Di punggungnya terbentang bayangan seperti sayap raksasa, bukan untuk terbang, melainkan untuk menyangga.

Tangannya terangkat, seolah memegang sesuatu yang tak terlihat.

Dan memang demikian.

Ia memegang langit itu sendiri.

Di sekelilingnya, ribuan fragmen dunia berputar—beberapa stabil, beberapa nyaris runtuh. Setiap kali satu fragmen bergetar, ia mengerahkan kehendaknya, memperkuat struktur, memaksa realitas tetap utuh.

“Belum,” gumamnya pelan, setiap kata mengandung kekuatan penopang. “Kalian belum boleh jatuh.”

Suara langkah terdengar.

Seorang entitas bercahaya mendekat—bukan arbiter, bukan jenderal. Ini adalah Warden Realitas, penjaga yang melapor langsung kepadanya.

“Kaisar,” kata Warden itu. “Invasi Antares telah melampaui ambang intervensi minimum.”

Kaisar Penopang Langit tidak menoleh.

“Aku tahu.”

“Jika kita tidak turun tangan,” lanjut Warden itu, “tiga dunia lagi akan runtuh dalam satu siklus.”

“Dan jika aku turun tangan,” balas Kaisar, “dua puluh dunia akan berhenti bertumbuh.”

Akhirnya ia menurunkan satu tangan—langit di kejauhan bergetar hebat, nyaris retak. Dengan cepat ia mengangkatnya kembali, menahan kehancuran itu dengan usaha yang jelas terlihat.

“Saudaraku memilih diam,” katanya lirih. “Dan kau bertanya mengapa aku tidak.”

Warden ragu. “Namun intervensi langsung akan melanggar keseimbangan.”

“Keseimbangan?” Kaisar tertawa kecil—tawa yang lelah. “Keseimbangan adalah kemewahan bagi dunia yang aman.”

Ia memandang satu fragmen tertentu.

Dunia biru-hijau.

Bumi.

Di sana, seorang pemuda berdiri di antara manusia lain, menahan rasa sakitnya sendiri agar tidak runtuh.

“Dia sudah mati,” kata Kaisar Penopang Langit pelan. “Namun hukum mengembalikannya.”

Warden menegang. “Kaisar Hukum Langit—”

“—melakukan apa yang selalu ia lakukan,” potongnya. “Menunggu sampai variabel muncul.”

Kaisar Penopang Langit mengepalkan tangannya. Retakan kecil muncul di udara, lalu tertutup kembali.

“Aku tidak suka menunggu,” katanya. “Setiap detik yang kulewati tanpa bertindak… adalah dunia yang runtuh.”

“Namun jika Yang Mulia turun,” Warden memperingatkan, “Antares akan menjadikan ini perang terbuka antar Kaisar.”

Kaisar terdiam lama.

Fragmen-fragmen dunia berputar semakin cepat, seolah merasakan kebimbangannya.

“Aku tidak akan turun,” akhirnya ia berkata.

Warden menghela napas lega—namun hanya sesaat.

“—belum.”

Ia mengulurkan jarinya ke arah fragmen Bumi.

“Tapi aku tidak akan membiarkan saudaraku bermain sendirian dengan pionnya.”

Sentuhan ringan itu menyebabkan sesuatu bergeser.

Bukan kekuatan.

Bukan berkah.

Melainkan penopang.

Di dunia bawah, tanpa cahaya dan tanpa suara, struktur realitas di sekitar Daniel menjadi sedikit… lebih kokoh. Retakan kecil yang seharusnya menghancurkannya saat ia memaksakan diri—tidak terjadi.

Ia tetap terluka.

Ia tetap lemah.

Namun dunia tidak runtuh di bawah kakinya.

“Aku tidak memberinya kekuatan,” gumam Kaisar Penopang Langit. “Aku hanya memastikan dunia ini cukup kuat… untuk menahan pilihannya.”

Warden menunduk dalam. “Apakah Yang Mulia berharap ia berhasil?”

Kaisar menatap jauh ke kehampaan, wajahnya keras, namun matanya menyimpan sesuatu yang nyaris menyerupai harapan.

“Aku berharap,” katanya, “ia membuktikan bahwa saudaraku salah.”

Ia kembali mengangkat kedua tangannya.

Langit mengerang.

Dunia-dunia berputar.

Dan jauh di bawah—

seorang manusia berjalan ke medan perang,

tanpa tahu bahwa dua Kaisar kini memperhatikannya dari arah yang berlawanan.

Interlude — When Eyes Begin to Turn

Di suatu tempat yang bahkan para Kaisar jarang sebut sebagai “wilayah”—

sebuah meja bundar terbentuk dari kehendak.

Tidak ada singgasana.

Tidak ada hirarki.

Hanya kesepakatan lama yang kini mulai retak.

Tiga sosok hadir sebagai proyeksi, bukan wujud sejati. Cahaya mereka berbeda, namun satu hal sama—mereka memperhatikan dunia yang sama.

“Variabel telah muncul,” kata yang pertama, suaranya seperti gema besi tua. “Dunia kelas rendah. Tidak seharusnya menarik perhatian kita.”

“Namun ia menarik,” balas yang kedua, nadanya tenang, hampir geli. “Karena hukum menyentuhnya… dan iblis menginginkannya.”

Sosok ketiga tidak langsung menjawab.

Ia memandang jauh—bukan ke dunia itu, melainkan ke masa depan yang belum mengeras.

“Yang berbahaya bukan manusia itu,” akhirnya ia berkata.

“Yang berbahaya adalah fakta bahwa… semua pihak mulai bergerak.”

Keheningan singkat tercipta.

“Kaisar Hukum Langit telah melanggar kebiasaannya,” lanjut sosok itu.

“Kaisar Penopang Langit mulai memperkuat struktur.”

“Dan Antares—”

“—telah mencium potensi perang,” sela yang pertama dengan nada masam.

Meja bundar bergetar ringan.

“Apakah kita ikut campur?” tanya yang kedua.

Jawaban datang cepat.

“Belum.”

“Namun mata kita akan tetap terbuka,” kata sosok ketiga. “Jika manusia itu runtuh—kita tidak kehilangan apa pun.”

Ia berhenti sejenak.

“Namun jika ia bertahan…”

Cahaya mereka meredup, satu per satu.

“—maka era lama tidak bisa dipertahankan.”

Meja bundar menghilang.

Dan di dunia yang jauh lebih kecil,

seorang manusia melangkah maju,

tanpa tahu bahwa kehadirannya mulai mengganggu keseimbangan para penguasa itu sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!