NovelToon NovelToon
THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Mata Batin / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

​"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
​Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
​Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
​Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 The Trance

Lampu neon di langit-langit Sektor 4 berkedip dengan ritme yang menyakitkan mata, menciptakan suasana steril yang mencekam. Ruangan itu tidak terlihat seperti sel penjara biasa; lebih mirip laboratorium bedah yang dingin, di mana kemanusiaan ditukar dengan data. Di tengah ruangan, Shine terduduk lemas di sebuah kursi logam statis. Kabel-kabel sensor menempel di pelipisnya, menjulur ke monitor besar yang menampilkan grafik aktivitas otaknya dalam warna biru elektrik yang tajam.

Di depannya, berdiri seorang pria paruh baya dengan jas laboratorium putih yang licin. Dr. Han, kepala riset Project Delphi, menatap layar itu dengan ketidaksabaran yang membara.

"Nona Kim, jangan buang-buang waktu kami," suara Dr. Han terdengar datar, teredam oleh masker medisnya. "Gas bius itu seharusnya sudah mereda. Sekarang, fokuslah pada grafik saham yang kami tampilkan di layar depan. Beri kami satu saja lonjakan merah untuk penutupan besok, dan kau bisa tidur."

Shine mendongak. Matanya yang biasanya jernih kini tampak merah dan berkaca-kaca, dikelilingi lingkaran hitam akibat kelelahan mental. Bibirnya pecah-pecah, namun ia tetap bungkam. Ia bisa merasakan energi Jungkook yang menjauh di luar sana, namun ia juga merasakan kegelapan yang mencoba merayap masuk ke dalam pikirannya setiap kali ia mencoba memejamkan mata.

"Aku... tidak akan memberikan apa pun pada kalian," bisik Shine, suaranya nyaris hilang di antara deru mesin pendingin ruangan.

"Kau tidak punya pilihan," Dr. Han menekan sebuah tombol di tabletnya.

Seketika, arus listrik kecil frekuensi rendah mengalir melalui sensor di pelipis Shine. Itu bukan untuk menyiksa fisiknya, melainkan untuk memicu kelenjar pinealnya agar masuk ke fase trans secara paksa. Ini adalah pemerkosaan terhadap kesadaran seorang Oracle.

Zapp!

Shine tersentak. Kepalanya seolah ditarik ke dalam pusaran air yang gelap. Bayangan-bayangan masa depan mulai berkelebat liar—bukan tentang orang yang ia cintai, melainkan angka-angka dingin, logo perusahaan Hansung, dan wajah-pria-pria serakah yang tertawa di atas tumpukan uang.

Tidak... jangan lihat... batin Shine menjerit.

Ia tahu jika ia membiarkan penglihatan ini mengalir, ia akan menjadi mesin yang mereka inginkan. Ia akan menjadi budak korporasi yang membunuh nuraninya sendiri. Lebih buruk lagi, ia tahu bahwa setiap penglihatan yang ia berikan pada mereka akan menguras habis sisa hidupnya.

Dalam keputusasaannya, Shine mengingat sebuah mantra pelindung yang pernah dibisikkan ibunya dalam mimpi—sebuah mantra yang hanya boleh digunakan dalam keadaan paling terdesak, karena risikonya adalah kerusakan jiwa yang permanen.

Mantra Obscura.

Shine memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mulai merapalkan kata-kata itu di dalam pikirannya, memutar balik energinya sendiri agar tidak keluar ke monitor, melainkan meledak di dalam batinnya sendiri. Ia sengaja menciptakan badai mental untuk memutus sirkuit sarafnya.

"Apa yang terjadi?! Aktivitas otaknya melonjak ke zona merah!" teriak seorang asisten peneliti di depan monitor. "Dia mengalami feedback negatif! Tuan, jika ini terus berlanjut, otaknya akan hangus!"

"Biarkan saja! Dia hanya sedang melawan! Tekan terus!" perintah Dr. Han gila.

Shine merasakan sakit yang luar biasa, seolah ada ribuan jarum yang menusuk otaknya sekaligus. Darah mulai mengalir perlahan dari hidungnya. Namun, alih-alih menyerah pada penglihatan saham itu, ia justru memaksa jiwanya untuk terjun ke dalam kegelapan total. Ia lebih memilih pingsan dalam siksaan daripada memberikan satu detik masa depan pada para monster ini.

"Jungkook..." bisiknya dalam hati, tepat sebelum kesadarannya padam sepenuhnya.

Bruk.

Kepala Shine terkulai. Monitor di ruangan itu mengeluarkan bunyi statis yang panjang. Semua grafik mendatar.

"Dia pingsan lagi!" asisten itu panik. "Ini ketiga kalinya dalam satu jam! Jika kita menyuntikkan stimulan lagi, jantungnya akan berhenti!"

Dr. Han memukul meja dengan keras. "Wanita sialan! Dia lebih baik mati daripada bekerja untuk kita? Beri dia dosis adrenalin. Kita tidak butuh dia hidup lama, kita hanya butuh satu penglihatan sebelum pagi!"

Saat jarum suntik berisi cairan bening itu hendak ditusukkan ke lengan Shine, sebuah ledakan hebat mengguncang seluruh Sektor 4. Dinding beton di ujung lorong hancur berantakan, debu dan asap memenuhi ruangan.

Dari balik kepulan asap, sebuah bayangan melangkah masuk. Bukan tentara, bukan polisi. Hanya seorang pria dengan kaos yang robek, tangan yang bersimbah darah, dan tatapan mata yang seolah-olah berasal dari neraka paling dalam.

Jungkook berdiri di sana, memegang sebilah pisau taktis yang ujungnya masih meneteskan darah para pengawal di luar. Ia melihat Shine yang terikat, pucat, dengan darah yang mengalir dari hidungnya.

"Lepaskan. Dia."

Suara Jungkook tidak keras, namun frekuensinya membuat gelas-gelas kimia di ruangan itu bergetar.

Dr. Han mundur ketakutan, ia mengambil pistol dari laci mejanya dengan tangan gemetar. "Jangan mendekat! Pria liar! Satu langkah lagi dan aku akan menembak kepalanya!"

Jungkook tidak berhenti. Ia terus berjalan, bahkan saat Dr. Han mengarahkan moncong pistolnya. Setiap langkah Jungkook adalah janji kematian. Ia tidak lagi peduli pada keselamatannya sendiri. Saat ia melihat Shine yang menderita karena "siksaan mandiri" demi menjaganya, sesuatu di dalam diri Jungkook benar-benar patah.

"Kau menyentuhnya dengan kabel-kabel itu," desis Jungkook, matanya terpaku pada sensor di pelipis Shine. "Kau memaksanya melihat dunia yang kotor ini."

DOR!

Dr. Han melepaskan tembakan. Peluru menyerempet bahu Jungkook, namun pria itu bahkan tidak berkedip. Dalam satu gerakan yang mustahil diikuti mata, Jungkook melemparkan pisaunya.

Jleb!

Pisau itu menancap tepat di punggung tangan Dr. Han yang memegang pistol, memakukannya ke meja kerja. Jeritan melengking memenuhi laboratorium.

Jungkook mengabaikan pria yang merintih itu. Ia segera menghampiri Shine. Dengan tangan gemetar, ia mencabut semua kabel dari kepala gadis itu. Ia memotong tali yang mengikat tangannya dan merengkuh tubuh dingin Shine ke dalam pelukannya.

"Shine... bangun, Sayang... aku di sini," bisik Jungkook, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan. Ia menempelkan telapak tangannya ke dada Shine, mencoba menyalurkan setiap tetes energi terakhir yang ia miliki. "Maafkan aku... maafkan aku karena terlambat..."

Shine tidak bangun. Tubuhnya tetap lemas, namun setetes air mata jatuh dari sudut matanya yang terpejam—sebuah respons bawah sadar bahwa sang pelindung telah tiba.

Di luar, suara J-Hope dan pasukan Distrik Bawah terdengar semakin dekat, menghancurkan sisa-sisa pertahanan Hansung Group. Namun bagi Jungkook, dunia hanya ada di dalam pelukannya. Ia mengangkat Shine, membawanya pergi dari laboratorium terkutuk itu, melewati tumpukan mayat dan puing-puing, menuju cahaya pagi yang mulai menyingsing di ufuk Incheon.

Malam itu, Sektor 4 berakhir menjadi abu. Dan di dalam mobil yang melaju kencang kembali ke Seoul, Jungkook tidak melepaskan dekapan pada Shine. Ia tahu, pertempuran ini telah mengubah mereka. Shine telah mengorbankan jiwanya untuk menolak penglihatan itu, dan kini giliran Jungkook untuk memastikan bahwa mulai detik ini, tidak akan ada satu pun bayangan masa depan yang bisa menyentuh Shine tanpa seijinnya.

...****************...

1
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
army v nya jadi apa, JHope sama jimin blm kluar y
sabana: v jadi sepupunya shine, belum pada keluar lagi🤭. semoga berkenan
total 1 replies
sabana
ini fanfiction tentang BTS ya tapi fokus pada Jungkook semoga suka
sabana: mungkin fokusnya lebih ke Jungkook🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!