NovelToon NovelToon
THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Dunia Masa Depan / Mata Batin
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

​"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
​Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
​Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
​Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 The Heroism

Hujan di luar semakin menggila, menciptakan orkestra alam yang seolah ingin menelan suara kekerasan yang terjadi di dalam apartemen mewah seberang tembok. Jungkook bergerak cepat, langkahnya ringan namun bertenaga, melintasi taman yang basah dan memanjat balkon lantai dua dengan ketangkasan yang mengerikan. Di belakangnya, RM menyusul—pria itu mungkin seorang asisten intelektual, tapi pengalamannya mendampingi keluarga Kim selama bertahun-tahun telah melatih insting bertahannya di atas rata-rata.

"Jungkook, tunggu! Kita tidak bisa masuk tanpa rencana!" RM berbisik dengan napas terengah, mencoba menahan bahu Jungkook saat mereka sampai di pintu geser balkon yang terkunci.

"Rencana akan membunuh wanita itu, Namjoon-ssi," desis Jungkook. Matanya tidak lagi menunjukkan keraguan. "Shine sudah melihat darah. Jika Shine melihatnya, artinya itu sudah terjadi atau sedang terjadi. Aku tidak punya waktu untuk bernegosiasi dengan protokol."

Brak!

Dengan satu tendangan telak yang memusatkan seluruh kekuatan di tumitnya, kaca pintu geser itu retak seribu sebelum akhirnya jebol. Jungkook melompat masuk ke dalam kegelapan ruangan yang hanya diterangi oleh lampu remang dari lorong.

Bau amis darah langsung menyengat indra penciuman mereka.

"Di sana," Jungkook menunjuk ke arah ruang tengah yang luas, di mana bayangan seorang pria berdiri menjulang di atas sesosok tubuh yang meringkuk.

Pria itu adalah Sang Konduktor. Wajahnya yang biasanya tertata rapi kini tampak menyeramkan dengan rambut berantakan dan kemeja putih yang ternoda merah di bagian lengannya. Di tangan kanannya, ia tidak lagi memegang tongkat baton logam, melainkan sebilah pisau dapur panjang yang berkilat tertimpa cahaya lampu.

"Kau... siapa kalian?!" teriak sang konduktor. Suaranya pecah, ada nada histeria yang tidak stabil di sana. "Ini rumahku! Keluar!"

"Letakkan pisaunya," Jungkook melangkah maju perlahan. Tangannya tetap berada di depan, terbuka, mencoba memancing perhatian sang predator agar menjauh dari korbannya. "Kau sudah cukup merusak tempo malam ini. Jangan buat akhir yang berdarah."

"Dia yang memulainya! Dia selalu merusak nada-nadaku! Dia tidak pantas berada di sisiku!" Pria itu berteriak gila, mengacungkan pisau ke arah istrinya yang sudah tidak berdaya, wajahnya bengkak dan napasnya tersengal-sengal di lantai.

RM bergerak memutar, mencoba mendekati sang istri dari sudut buta. "Tuan, tolong tenang. Kami hanya ingin membantu."

"BANTU?!" Sang konduktor tertawa melengking, lalu dengan gerakan tiba-tiba, ia mengayunkan pisau itu ke bawah, berniat mengakhiri hidup istrinya.

"TIDAK!"

Jungkook menerjang. Ia tidak menggunakan senjata yang ia bawa di balik pinggangnya; ia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai. Dalam satu gerakan kilat, Jungkook mencengkeram pergelangan tangan pria itu tepat sebelum ujung pisau menyentuh leher si wanita.

Pertarungan jarak dekat itu berlangsung brutal. Sang konduktor, meskipun tidak memiliki pelatihan bela diri, didorong oleh kegilaan adrenalin yang luar biasa. Ia memberontak, mencoba menusukkan pisau itu ke dada Jungkook.

"Namjoon! Ambil wanitanya!" teriak Jungkook sambil menahan tekanan kuat dari tangan sang konduktor.

RM segera menarik tubuh wanita yang nyaris pingsan itu menjauh, membawanya ke balik sofa besar yang aman.

Jungkook memutar pergelangan tangan sang konduktor, sebuah teknik kuncian yang seharusnya membuat orang biasa menyerah. Namun, pria itu justru menggigit lengan Jungkook dengan keras. Jungkook mengerang, namun ia tidak melepaskan cengkeramannya. Ia membalas dengan hantaman lutut ke perut pria itu, disusul dengan sebuah upper-cut yang telak mendarat di rahang sang konduktor.

Bruk!

Sang konduktor tersungkur ke atas meja kopi kaca hingga hancur berkeping-keping. Pisaunya terlepas, berdenting jauh ke sudut ruangan.

Jungkook tidak berhenti. Ia menindih tubuh pria itu, mencengkeram kerahnya dan mendaratkan satu pukulan lagi yang penuh dengan kemarahan atas setiap tetes air mata yang dikeluarkan Shine tadi di paviliun.

"Ini untuk jeritan yang harus didengar Shine!"

Bug!

"Ini untuk rasa takut yang kau tanamkan pada wanitamu!"

Bug!

"Jungkook, cukup! Dia bisa mati!" RM berteriak, menarik bahu Jungkook dari belakang.

Jungkook terengah-engah, kepalan tangannya bersimbah darah—darahnya sendiri bercampur dengan darah sang konduktor. Napasnya memburu, matanya masih berkilat penuh kegelapan sebelum akhirnya ia perlahan tersadar saat mendengar suara sirine polisi di kejauhan.

RM sudah menghubungi polisi dan ambulans keluarga Kim sejak mereka pertama kali memanjat tembok tadi.

"Dia sudah tidak berdaya," ucap RM lembut, mencoba menenangkan Jungkook yang masih terlihat seperti serigala yang siap menerkam. "Kita harus kembali ke Shine. Dia merasakan setiap detik dari apa yang kau lakukan di sini."

Mendengar nama Shine, kekuatan di tubuh Jungkook seolah luruh. Ia berdiri, merapikan kaos hitamnya yang sudah robek di bagian bahu. Ia melirik ke arah sang istri yang kini sedang dibantu oleh RM untuk duduk. Wanita itu menatap Jungkook dengan mata yang penuh rasa terima kasih yang tak terhingga, meski ia terlalu lemah untuk bicara.

"Jangan pernah biarkan pria ini mendekatimu lagi," ucap Jungkook dingin pada wanita itu sebelum ia berbalik menuju balkon.

Sepuluh menit kemudian, Jungkook kembali ke paviliun lewat jendela yang sama saat ia pergi. Tubuhnya basah kuyup oleh hujan, wajahnya memar di bagian pipi, dan tangannya terluka.

Shine langsung berlari dari pelukan Jin yang sempat datang untuk menjaganya. Ia tidak peduli jika baju Jungkook kotor atau berdarah. Ia menghambur ke pelukan pria itu, menyembunyikan wajahnya di dada Jungkook yang masih naik turun karena adrenalin.

"Kau kembali... kau kembali..." Shine terisak, tangannya meraba-raba wajah Jungkook, memastikan pria itu nyata.

Jungkook mendekapnya erat, mengabaikan tatapan tajam dan penuh selidik dari Jin yang berdiri di sudut ruangan. "Aku di sini, Shine. Semuanya sudah selesai. Dia tidak akan menyakiti siapa pun lagi."

"Tanganmu..." Shine menarik tangan Jungkook, melihat luka sayatan kecil dan memar di sana. Ia segera menggenggam tangan itu, mencoba menyalurkan sedikit energinya untuk meredakan rasa sakitnya.

"Aku tidak apa-apa," bisik Jungkook, mencium puncak kepala Shine. "Melihatmu tenang kembali jauh lebih penting daripada luka-luka ini."

Jin melangkah maju, wajahnya menunjukkan campuran antara rasa bangga dan kesal yang luar biasa. "Kau bertindak sangat gegabah, Jungkook. Memasuki properti orang lain dan melakukan penyerangan fisik... kau tahu berapa banyak pengacara yang harus kukerahkan untuk memastikan kau tidak tidur di sel malam ini?"

Jungkook menatap Jin melalui celah rambutnya yang basah. "Jika aku menunggu pengacaramu, Tuan Kim, wanita itu sekarang sudah berada di dalam kantong jenazah. Dan Shine... Shine mungkin sudah kehilangan jiwanya karena harus menyaksikan pembunuhan itu secara live di kepalanya."

Jin terdiam. Ia melihat bagaimana Shine kini bergantung sepenuhnya pada Jungkook—bukan sebagai Oracle pada baterainya, tapi sebagai seorang wanita pada pelindungnya.

"Bersihkan dirimu," perintah Jin akhirnya, suaranya melunak. "Namjoon akan mengurus laporan polisinya sebagai pembelaan diri karena menyelamatkan nyawa. Tapi jangan harap kau bisa keluar dari rumah ini selama seminggu ke depan. Kau berada di bawah pengawasan ketatku sekarang."

Jungkook tidak membantah. Baginya, "kurungan" di dalam rumah keluarga Kim bersama Shine bukanlah hukuman, melainkan hadiah.

Malam itu, setelah semua keributan mereda, Jungkook duduk di samping tempat tidur Shine. Ia sudah berganti pakaian bersih, namun aura kepahlawanannya masih tersisa di ruangan itu. Shine tertidur sambil memegang erat tangan Jungkook yang sudah diperban.

Jungkook menatap kalung "JK" di leher Shine yang berkilau tertimpa cahaya bulan yang mulai muncul dari balik awan. Ia menyadari satu hal: dunianya dan dunia Shine kini telah benar-benar menyatu. Setiap jeritan yang didengar Shine adalah panggilannya untuk bertarung. Dan setiap luka yang ia dapatkan adalah bukti bahwa ia akan selalu menjadi perisai bagi sang Oracle, sampai melodi kehidupan mereka benar-benar selaras.

"Tidurlah, rumahmu ada di sini," bisik Jungkook pelan, sebelum ia ikut memejamkan mata di kursi samping ranjangnya.

...****************...

1
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
army v nya jadi apa, JHope sama jimin blm kluar y
sabana: v jadi sepupunya shine, belum pada keluar lagi🤭. semoga berkenan
total 1 replies
sabana
ini fanfiction tentang BTS ya tapi fokus pada Jungkook semoga suka
sabana: mungkin fokusnya lebih ke Jungkook🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!