Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
“Berapa harga yang kau minta untuk melenyapkan wajah itu dari Jakarta?”
Suara itu setajam silet yang mengiris kain sutra. Alisha membeku di depan rak pajangan tas kulit di butik eksklusif yang sedang sepi pengunjung. Ia tidak perlu menoleh untuk mengenali pemilik suara tinggi yang penuh nada penghinaan itu.
Clarissa Aditama berdiri di sana dengan balutan gaun merah membara yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Di tangannya, ia memegang sebuah foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari gerbang kediaman Sagara. Foto itu memperlihatkan Arka yang sedang melangkah masuk ke dalam mobil.
“Aku tidak sedang menjual apa pun, Nona Aditama,” jawab Alisha sambil membalikkan tubuh perlahan.
Clarissa melangkah maju hingga aroma parfum mahalnya yang menyengat memenuhi rongga hidung Alisha. Ia menatap Alisha dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. Senyum sinis terukir di bibirnya yang dipulas lipstik gelap.
“Jangan berlagak suci di depanku,” desis Clarissa. “Wanita sepertimu hanya punya satu motif saat membawa anak haram ke rumah pria kaya.”
“Jaga bicaramu tentang putraku.” Suara Alisha merendah namun penuh ancaman.
“Putramu?” Clarissa tertawa pendek yang terdengar sangat dingin. “Dia adalah kesalahan yang seharusnya tidak pernah ada.”
Clarissa merogoh tas tangannya yang seharga satu unit rumah di pinggiran kota. Ia mengeluarkan sebuah buku cek dan sebuah pulpen emas. Dengan gerakan yang angkuh, ia menuliskan deretan angka nol yang sangat panjang di atas kertas putih itu.
“Ini sepuluh miliar rupiah,”.ujar Clarissa sambil menyodorkan cek itu ke depan dada Alisha. “Ambil uang ini. Bawa anak itu pergi sejauh mungkin dari Indonesia. Hilanglah seperti kau menghilang enam tahun yang lalu.”
Alisha menatap kertas di depannya tanpa emosi. Angka itu bisa membeli seluruh desa di Pesisir X dan menjamin masa depan Arka hingga kuliah di luar negeri. Namun, ia hanya menarik nafas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan.
“Uang ini tidak akan mengubah apa pun, Clarissa,” kata Alisha datar.
“Kau kurang puas dengan angka itu?” Clarissa menaikkan satu alisnya. “Sebutkan nominalnya. Aku bisa menggandakannya asalkan kau tidak merusak pertunanganku dengan Damian.”
“Kau salah paham.” Alisha melangkah satu tindak lebih dekat.
“Aku menolak bukan karena aku ingin lebih banyak uang. Aku menolak karena aku tahu siapa pria yang menjadi tunanganmu itu.”
Clarissa mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
“Kau pikir jika aku mengambil uang ini dan lari ke ujung dunia, Damian akan membiarkanku?” Alisha tersenyum pahit.
“Kau sudah mengenalnya bertahun-tahun. Kau pasti tahu bahwa Damian Sagara tidak pernah melepaskan apa yang ia anggap miliknya.”
“Dia hanya terobsesi karena anak itu mirip dengannya!” seru Clarissa dengan suara yang mulai meninggi.
“Tidak,” sahut Alisha tegas. “Dia tidak akan melepaskan Arka. Jika aku pergi membawa Arka, dia akan memburu kami ke lubang semut sekalipun. Dan saat dia menemukan kami, dia akan menghancurkan siapa pun yang membantu pelarianku. Termasuk kau.”
Clarissa terdiam sejenak. Tangannya yang memegang buku cek tampak sedikit bergetar. Ia tahu Alisha mengatakan kebenaran yang pahit. Damian memiliki sisi gelap yang posesif dan tak kenal ampun jika menyangkut sesuatu yang ia klaim sebagai miliknya.
“Kau hanya pengecut yang berlindung di balik nama besar Sagara,” tuduh Clarissa.
“Aku hanya realistis,” balas Alisha.
“Aku terjebak di sini sama seperti kau yang terjebak dalam obsesimu untuk menjadi Nyonya Sagara.”
Ruangan butik yang sunyi itu terasa semakin mencekam. Para pelayan butik sudah menjauh ke area belakang, tidak berani mencampuri urusan dua wanita yang sedang bersitegang itu. Cahaya lampu kristal memantul di lantai marmer, menciptakan suasana yang mewah namun menyesakkan.
Clarissa merobek cek itu menjadi serpihan kecil dan melemparkannya ke lantai. “Jika kau tidak mau pergi dengan cara halus, maka aku akan menggunakan cara yang kasar.”
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Alisha tenang.
“Aku punya koneksi di seluruh media utama negeri ini.” Clarissa melipat tangannya di dada. “Satu telepon dariku, dan besok pagi seluruh dunia akan tahu bahwa Damian Sagara memiliki anak haram dari seorang wanita kelas bawah.”
Alisha mengepalkan tangannya di samping tubuh. “Kau akan menghancurkan reputasi pria yang kau cintai?”
“Aku tidak akan menghancurkannya.” Clarissa menyeringai jahat. “Aku akan menekannya. Jika skandal ini pecah, harga saham Sagara Group akan anjlok. Dewan direksi akan memaksa Damian untuk menyingkirkan kalian demi menyelamatkan perusahaan.”
“Kau sangat menyedihkan,” bisik Alisha. “Kau ingin menikah dengan pria yang bahkan tidak mau menatapmu dengan rasa hormat.”
“Diam kau!” teriak Clarissa sambil mengangkat tangannya, hendak menampar Alisha.
Alisha tidak menghindar. Ia menangkap pergelangan tangan Clarissa dengan kuat sebelum tangan itu mendarat di pipinya. Matanya berkilat dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan selama di Jakarta.
“Jangan pernah sentuh aku!” desis Alisha. “Kau pikir aku masih gadis lugu yang bisa kau tindas? Aku sudah bertahan hidup di tengah badai laut yang lebih ganas daripada amarahmu.”
Alisha menyentakkan tangan Clarissa hingga wanita itu limbung.
Clarissa menatap Alisha dengan tatapan tidak percaya. Ia terkejut melihat kekuatan fisik dan mental yang terpancar dari wanita yang ia anggap remeh itu.
“Kau pikir Damian akan melindungimu selamanya?” Clarissa merapikan gaunnya dengan tangan gemetar.
“Aku tidak butuh perlindungannya untuk menghadapimu,” jawab Alisha dingin. “Jika kau berani menyebarkan skandal itu, lakukanlah. Tapi ingat satu hal. Begitu dunia tahu Arka adalah putra Damian, posisi Arka sebagai pewaris tunggal Sagara akan terkunci secara hukum. Dan kau? Kau hanya akan menjadi janda tunangan yang dilupakan sejarah."
Clarissa menarik nafas tajam. Kata-kata Alisha menghujam tepat di titik terlemahnya. Jika skandal itu meledak, maka keberadaan Arka tidak bisa lagi disembunyikan. Arka akan menjadi sorotan publik sebagai pangeran mahkota Sagara Group.
Hal itu justru akan memperkuat posisi Alisha di dalam keluarga tersebut.
“Kau pikir kau sudah menang?” tanya Clarissa dengan suara parau.
“Tidak ada yang menang di sini, Clarissa,” sahut Alisha sambil melangkah menuju pintu keluar.
“Kita berdua hanya sedang berdiri di atas puing kebohongan keluarga Sagara.”
Alisha terus melangkah tanpa menoleh lagi. Ia bisa merasakan tatapan kebencian Clarissa menusuk punggungnya.
Saat ia keluar dari butik, udara sore Jakarta yang panas menyambutnya. Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha meredakan debaran jantungnya yang menggila.
Di dalam mobil yang menunggu di lobi, Arka sedang duduk tenang sambil membaca sebuah buku. Bocah itu mendongak saat melihat ibunya masuk dengan wajah yang tampak pucat.
“Ibu habis bertemu naga merah tadi?” tanya Arka tiba-tiba.
Alisha tersenyum pahit sambil mengusap kepala putranya. “Hanya orang yang sedang bingung, Arka.”
“Secara statistik, orang yang bingung dan memiliki kekuasaan adalah kombinasi yang berbahaya,” sahut Arka datar. “Ibu harus berhati-hati. Orang itu tidak akan berhenti hanya dengan kata-kata.”
Alisha tertegun mendengar analisis putranya. Ia menyadari bahwa ancaman Clarissa bukan hanya sekadar gertakan kosong. Wanita itu memiliki dendam yang bisa membakar siapa saja yang menghalangi jalannya.
“Arka,” panggil Alisha lembut.
“Apapun yang terjadi besok di berita, Ibu ingin kau tahu bahwa Ibu sangat menyayangimu.”
“Aku tahu, Ibu,” jawab Arka tanpa mendongak dari bukunya. Dan aku sudah menyiapkan protokol keamanan untuk tabletku kalau-kalau ada orang asing yang mencoba meretas data pribadi kita.”
Alisha bersandar di kursi mobil yang empuk. Ia menatap gedung-gedung tinggi yang menjulang angkuh di sekelilingnya. Bayang-bayang Clarissa mungkin sudah menjauh untuk saat ini, tapi ia tahu bahwa perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Besok pagi, mungkin Jakarta tidak akan lagi sama baginya dan Arka.