Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAHTERA DIUJUNG REALITAS
Samudra Pasifik biasanya jadi tempat yang tenang, tapi di titik koordinat yang dikasih si bangkai Xander, laut ini kelihatan kayak kuburan massal. Kabut abu-abunya tebal banget, baunya kayak telur busuk nyampur logam karatan.
Radar satelit mana pun pasti bakal ketipu sama ilusi di sini, tapi buat kenzo yang lagi berdiri di atas Leviathan yang sekarang wujudnya udah jadi kapal selam bayangan raksasa kabut ini cuma tirai murah yang nutupin borok IHA.
"Bos, sensor ruang waktu di sini udah nggak masuk akal," suara Elara kedengeran kresek kresek di telinga kenzo. "Sepertinya 'The Ark' itu nggak bener bener ada di dimensi kita. Dia kayak parasit yang berlabuh di celah realitas."
Kenzo nggak jawab. Kenzo cuma natap ke depan. Di sampingnya, Hana mukanya pucat pasi. Matanya yang perak terus terusan berdenyut, nyoba nembus kegelapan di depan kita.
"Guru... aku liat strukturnya," bisik Hana. Suaranya gemeter. "Itu bukan bangunan. Itu monster besi yang lagi ngenyot energi dari inti bumi. Sirkuit Mana nya... ya Tuhan, gue nggak bisa liat ujungnya."
"Fokus, Han," Kenzo pegang pundaknya, nyalurin sedikit Mana biar dia nggak pingsan karena syok.
"Valeria, Freya, Xander. Siapin senjata kalian. Sekali kita masuk, nggak ada jalan buat balik lagi. Pilihannya cuma dua kita hancurin tempat ini, atau kita jadi bagian dari rongsokannya."
Tiba tiba, kabut itu robek. Muncul struktur logam yang gedenya nggak masuk akal, melayang beberapa meter di atas air. The Ark. Lampu lampu neon ungunya berkedip kedip kayak mata iblis. Nggak pake nunggu, ratusan meriam otomatis di dinding bajanya langsung muter dan ngunci ke arah kita.
BOOM!
BOOM!
BOOM!
Ratusan rudal Mana meluncur, bikin langit malam itu jadi terang benderang. Tapi Kenzo nggak ada niat buat lari.
"Siegfried! Pasang badan!" teriak kenzo.
Bayangan ksatria raksasa itu muncul di depan Leviathan, ngangkat perisai hitamnya yang segede lapangan bola. Rudal rudal itu meledak di depannya, tapi Leviathan tetep maju kayak banteng gila.
"Xander, sekarang! Bajak pintu mereka!" teriak Kenzo.
Bayangan Xander melesat kayak kilat ungu, nembus frekuensi pertahanan The Ark.
"Membuka sektor 09... Sekarang!" perintah Kenzo.
Leviathan nggak berhenti. Kapal itu langsung nabrak dinding logam The Ark dengan kecepatan penuh. Tapi bukannya hancur, kapal gue malah "meleleh" masuk ke dalem bayangan yang udah disiapin Xander. Kita masuk.
Di dalem The Ark, suasananya makin gila. Dinding dindingnya dari kristal transparan, dan di baliknya, ada ribuan tabung berisi manusia. Mereka semua tidur, tapi badan mereka ditempelin kabel kabel yang lagi ngalirkan cairan Mana item pekat.
"Berengsek... mereka lagi ngenyot jiwa manusia buat ngasih makan Heart of Chaos," Freya nutup mulutnya, mukanya ijo kayak mau muntah. "Ini bukan eksperimen, ini pembantaian massal."
"Jangan bengong! Terus maju!" perintah kenzo.
Langkah kita berhenti pas tiga sosok muncul di ujung koridor. Mereka pake jubah perak, topeng emas tanpa ekspresi. Auranya stabil banget, tapi baunya bau tanah, bau sesuatu yang harusnya udah mati ratusan tahun lalu. The Founders.
"Anak muda yang berisik," salah satu dari mereka ngomong. Suaranya kayak ribuan orang lagi bisik bisik barengan di kuping kenzo. "Kenzo... lo mau nyuri apa yang bukan milik lo? Sistem itu warisan kami, dan lo cuma wadah sementara yang udah retak."
Tiga fosil itu ngangkat tangan barengan. Mendadak, dunia gue kebalik. Gravitasi ilang, dan dinding dinding koridor mulai nutup kayak rahang pemangsa yang mau ngunyah kita.
"Hana! Cari celahnya!" kenzo teriak sambil nahan tekanan ruang itu pake Dominator’s Touch. Rasanya kayak dadanya lagi diteken truk tronton.
Hana mejemin mata. "Di sana! Di antara si tua bangka kedua sama ketiga! Ada frekuensi yang goyang! Guru, sikat di 440 hertz!"
Kenzo langsung manggil Sato. "Sato, tebas dimensi itu! Jangan kasih sisa!"
Sato melesat, pedangnya motong udara dengan suara melengking.
KRAAAKK!
Ilusi mereka pecah kayak kaca. Sebelum tiga orang tua itu sempet napas, Kenzo udah ada di depan muka mereka. Kenzo nggak bakal kasih mereka mati cepet.
"EXTRACTION!" teriak Kenzo.
Kenzo nggak mau jadiin mereka bayangan. dia cuma mau ngenyot semua Mana yang mereka kumpulin selama ratusan tahun. Badan tiga Founders itu langsung keriput, menciut, terus berubah jadi debu di depan mata kenzo.
Energi mereka langsung masuk ke Jantung Naga kenzo. Rasanya panas, tapi nikmat.
Pintu raksasa di ujung koridor kebuka. Di dalemnya, ada ruangan bentuk bola yang gedenya minta ampun. Di tengah tengah, ada kristal hitam segede rumah yang lagi berdenyut ungu gelap. Heart of Chaos.
Di depan kristal itu, ada bapak bapak paruh baya yang kelihatannya santai banget. Dia pake kacamata, lagi baca buku tua seolah olah nggak ada perang di luaran sana. Dialah si Archivist.
"Kenzo," katanya tanpa nengok. "Sistem lo itu aslinya cuma buku catatan kematian. Catatan tentang spesies yang punah sebelum kalian. Gue cuma tukang perpusnya."
kenzo jalan maju, tangannya udah ketutup sisik naga item. "Lo khianatin dunia lo sendiri cuma buat jadi tukang perpus?"
"Pengkhianatan itu cuma soal sudut pandang," dia berdiri, nutup bukunya. Pas dia natap kenzo matanya isinya kode kode sistem yang ngalir kenceng banget. "Manusia nggak bakal bisa menang lawan Outer Gods. Pilihannya cuma dua jadi debu, atau jadi bagian dari mereka. Gue pilih jadi ingatan mereka."
Dia ngibas tangannya. Tiba tiba, mata kenzo pedes. Notifikasi sistem gue glitch parah.
ERROR! ERROR! ACCESS DENIED!
"Apa apaan nih?!" Kenzo berlutut. Tenaga gue mendadak dikuras abis. Sato, Siegfried, Leviathan... semuanya teriak kesakitan terus ilang jadi asep hitam.
"Gue yang nemu sistem ini di rongsokan The Ark," si Archivist senyum tipis, dingin banget. "Gue punya kunci cadangan buat tiap unit yang nyambung ke sistem ini. Termasuk lo, Kenzo."
Kenzo ngerasa balik lagi jadi pemulung kecil di Jakarta yang nggak punya apa apa. Kenzo ngerasa sendirian. Tapi pas kegelapan mau nalen dia, kenzo ngerasa ada tangan kecil yang megang pundaknya.
Hana.
Dia berdiri tegak, nggak kena efek hack si Archivist. "Guru, jangan dengerin dia! Sistem itu emang punya dia, tapi Jantung Naga itu punya lo! Lo dapet itu pake darah sama keringat lo sendiri! Dia nggak bisa nge hack darah lo!"
Kenzo tersentak. Bener. Jantung Naga ini asimilasi biologis. Bukan barisan kode sampah.
kenzo mulai ketawa. Awalnya pelan, lama lama jadi raungan naga yang bikin seluruh The Ark geter. kenzo berdiri pelan pelan, bodo amat sama notifikasi ERROR yang nutupin pandangan gue.
"Lo bener, Hana," Kenzo nyengir, nampilin taring naga gue. "Archivist... lo mungkin punya kodenya, tapi gue pemilik tenaganya!"
Kenzo bakar sisa umurnya. Kenzo lepasin Dragon Sovereign Mode 100% tanpa bantuan sistem. Mananya meledak, panasnya sampe bikin logam di sekitar kenzo meleleh.
"Gue bukan lagi karakter di buku lo, berengsek!"
Kenzo terjang dia. Pedang hitamnya sekarang
panjangnya sepuluh meter, isinya api hitam murni. kenzo tebas tepat ke jantung si Heart of Chaos.
BOOOOOOOOOOMMMM!!!
Ledakannya jauh lebih gila daripada di Jeju. The Ark mulai pecah. Energi ungu dari kristal itu bocor dan Kenzo serap paksa ke dalem pedang nya.Levelnua naik gila gilaan sampe nyentuh angka 100.
Si Archivist kepental, buku bukunya kebakar. Dia natap kenzo dengan muka ketakutan yang belum pernah dia tunjukin. "Lo... lo baru aja nyalain api yang bakal bikin 'mereka' dateng lebih cepet!"
"Biarin aja mereka dateng," kata Kenzo .Suaranya sekarang kayak guntur. "Gue bakal nunggu di atas takhta yang gue buat dari bangkai mereka."
The Ark pelan pelan tenggelam ke dasar laut. kenzo bawa Hana sama yang lain keluar lewat gerbang bayangan tepat sebelum semuanya meledak. IHA udah tamat dalam satu malam.
kenzo berdiri di pinggir pantai pulau kecil, natap matahari terbit. Badan g rasanya beda. Level 100 itu bukan cuma angka Kenzo bisa denger bisikan bisikan dari bintang di langit. Perang lawan manusia emang udah selesai. Tapi perang lawan "dewa" baru aja mulai.
Kenzo nengok ke timnya yang lagi tepar di pasir. "Balik ke Jakarta. Kita punya waktu sebulan sebelum 'mereka' nyampe sini. Dan dalam sebulan itu, gue bakal pastiin tiap manusia di Bumi siap buat jadi tentara bayangan gue."