NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Gerobak Soto

Cinta Di Balik Gerobak Soto

Status: tamat
Genre:CEO / Romantis / Berondong / Tamat
Popularitas:33.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
​Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Sinar matahari pagi mulai menyusup masuk melalui celah gorden kamar mereka yang mewah, namun suasana di dalam kamar terasa tegang.

Saat Pratama baru saja terbangun, ia merasakan getaran hebat dari balik selimut.

Ketika ia menyentuh lengan istrinya, ia tersentak.

Tubuh Luna terasa sangat panas, namun wanita itu menggigil hebat.

"Astaghfirullah, Dik! Kamu demam tinggi," ucap Pratama panik.

Wajah Luna pucat, bibirnya sedikit membiru karena kedinginan.

Sepertinya kelelahan yang luar biasa dan tekanan emosional selama beberapa hari ini akhirnya membuat daya tahan tubuh sang CEO tumbang.

Tanpa membuang waktu, Pratama langsung meraih ponselnya.

Ia teringat pesan Papa Jati untuk selalu waspada. Ia segera menghubungi Arini.

"Halo, Arini? Cepat ke rumah baru Luna sekarang! Luna demam tinggi dan menggigil. Tolong panggilkan dokter pribadi keluarga secepat mungkin!" perintah Pratama dengan nada suara yang tegas namun tersirat kekhawatiran yang mendalam.

"Baik, Pratama! Saya dan dokter segera meluncur ke sana," sahut Arini di seberang telepon dengan nada yang tak kalah panik.

Sambil menunggu kedatangan mereka, Pratama tidak tinggal diam.

Ia bergegas ke dapur, menyalakan kompor, dan memasak air.

Ia tidak ingin istrinya semakin menderita. Dengan cekatan, ia menyiapkan baskom kecil dan handuk lembut.

Pratama kembali ke kamar membawa air hangat. Ia duduk di tepi ranjang, lalu dengan sangat hati-hati ia memeras handuk hangat itu dan meletakkannya di kening Luna.

"Sabar ya, Sayang. Mas di sini. Arini dan dokter sedang jalan ke sini," bisik Pratama sambil mengusap pipi Luna yang panas.

Luna membuka matanya sedikit, menatap suaminya dengan pandangan sayu.

"Mas, dingin sekali..."

Pratama langsung naik ke atas ranjang, ia mendekap tubuh istrinya dari balik selimut, mencoba membagi kehangatan tubuhnya sendiri untuk meredakan gigilan Luna.

Di dalam hatinya, Pratama merasa bersalah karena membiarkan Luna terlalu lelah kemarin, meskipun itu untuk momen bahagia mereka.

Kepanikan Arini tidak bisa disembunyikan. Sesaat setelah menutup telepon dari Pratama, ia langsung menghubungi Papa Jati.

Tanpa membuang waktu, Papa Jati yang masih mengenakan pakaian rumah segera memerintahkan supirnya untuk menjemput dokter pribadi keluarga, dr. Hendra, dan langsung meluncur ke kediaman baru Luna.

Deru mobil yang berhenti mendadak di depan gerbang megah itu memecah kesunyian pagi. Arini, Papa Jati, dan dr. Hendra bergegas masuk. Pratama menyambut mereka di depan pintu kamar dengan gurat kecemasan yang jelas di wajahnya.

"Bagaimana keadaannya, Pratama?" tanya Papa Jati dengan suara bergetar.

"Masih menggigil, Pa. Panasnya belum turun juga," jawab Pratama pelan.

Dokter Hendra segera mendekati ranjang dan melakukan pemeriksaan menyeluruh. I

Ia mengecek suhu tubuh, tekanan darah, dan melakukan pemeriksaan fisik pada bagian perut Luna.

Suasana kamar menjadi sangat hening, hanya terdengar suara alat medis yang beradu pelan.

Setelah beberapa menit, dr. Hendra melepas stetoskopnya dan menatap mereka semua dengan serius.

"Nyonya Luna terkena gejala tifus," ujar Dokter Hendra.

"Suhu tubuhnya mencapai 39,5 derajat. Sepertinya ini akibat kelelahan yang luar biasa, pola makan yang tidak teratur beberapa hari terakhir, dan tekanan pikiran yang menumpuk. Beliau harus istirahat total— bed rest—setidaknya selama satu minggu ke depan."

Papa Jati menghela napas panjang, ia merasa bersalah karena membiarkan putrinya bekerja terlalu keras.

Arini pun tampak layu, matanya berkaca-kaca melihat sahabatnya terbaring lemah.

"Apa perlu dibawa ke rumah sakit, Dok?" tanya Pratama sigap.

"Untuk saat ini, perawatan di rumah masih bisa dilakukan karena sudah ada peralatan medis yang cukup di sini. Saya akan memasang infus untuk memasukkan nutrisi dan antibiotik agar pemulihannya lebih cepat. Tapi ingat, tidak boleh ada urusan kantor, tidak boleh ada stres. Benar-benar harus istirahat," tegas Dokter Hendra.

Pratama mengangguk mantap. Ia menatap Luna yang tampak mulai memejamkan mata karena pengaruh obat yang disuntikkan.

"Biar saya yang jaga Luna sepenuhnya, Pa. Saya tidak akan jualan soto dulu sampai dia benar-benar pulih," ucap Pratama dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Papa Jati menepuk bahu Pratama. "Terima kasih, Pratama. Papa titip Luna. Arini, tolong batalkan semua jadwal Luna di kantor dan di sekolah TK untuk seminggu ini."

Sesuai kesepakatan, Papa Jati segera mengambil alih kendali di Jati Grup.

Ia kembali duduk di kursi kepemimpinan untuk sementara waktu agar putri tunggalnya bisa fokus pada pemulihan.

Arini pun ikut sibuk membantu Papa Jati, memastikan semua urusan kantor tidak mengganggu ketenangan di rumah.

Di dapur rumah mewah itu, Pratama tidak menggunakan peralatan masak canggih yang ada.

Ia lebih memilih menggunakan panci kecil kesayangannya untuk memasak bubur halus.

Ia meracik kaldu ayam asli dengan sedikit jahe untuk menghangatkan perut Luna.

Pratama masuk ke kamar sambil membawa semangkuk bubur hangat yang aromanya sangat menggoda.

Ia duduk di sisi tempat tidur, membantu Luna untuk bersandar pada bantal yang ditumpuk.

"Dik, ayo makan dulu sedikit ya. Biar obatnya bisa bekerja," ucap Pratama lembut sambil meniup sesendok bubur.

Luna menggelengkan kepalanya lemas, wajahnya masih tampak pucat.

"Pahit, Mas. Lidahku rasanya nggak enak semua. Nggak mau makan..."

Pratama menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta.

Ia meletakkan mangkuk itu sebentar di atas nakas.

Tanpa diduga, ia mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciuman lembut di bibir Luna, sebuah kecupan yang hangat dan penuh rasa sayang.

Setelah melepaskan tautannya, Pratama tersenyum tipis dan berbisik tepat di depan wajah Luna.

"Kalau yang ini, manis nggak?"

Wajah Luna yang tadinya pucat seketika merona merah jambu.

Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, memberikan energi kecil pada tubuhnya yang lemas.

Ia tersenyum tipis, merasa sangat dimanjakan oleh suaminya.

"Manis, Mas," jawab Luna lirih dengan suara serak.

"Nah, kalau sudah manis, sekarang mulutnya dibuka ya? Satu suapan untuk Mas, satu suapan agar cepat sembuh," bujuk Pratama lagi.

Luna akhirnya mengangguk dan membuka mulutnya perlahan.

Ia mulai menikmati suapan demi suapan bubur buatan suaminya.

Di mata Luna, Pratama bukan hanya seorang tukang soto atau pria sederhana, tapi dia adalah obat terbaik yang pernah ia miliki.

Suasana kamar yang tenang itu terasa begitu sejuk.

Sinar matahari pagi menembus kelambu tipis, menerangi wajah Luna yang mulai kembali merona setelah menghabiskan bubur buatan suaminya.

Meskipun tubuhnya masih lemas bersandar pada tumpukan bantal, tangannya sudah sibuk menggenggam ponsel, melihat ratusan notifikasi yang masuk.

"Mas..." panggil Luna dengan nada penuh sesal.

Pratama yang sedang membereskan baki makanan menoleh.

"Iya, Sayang? Ada yang sakit lagi?"

"Maaf ya, Mas. Gara-gara aku sakit, jualan soto Mas jadi libur. Aku lihat di grup pelanggan, banyak sekali yang kirim pesan tanya kenapa kedai tutup. Ada yang sudah jauh-jauh datang ke rumah lama kita juga," ucap Luna sambil menunjukkan layar ponselnya yang berisi pesan-pesan dari pelanggan setia soto Pratama.

Pratama menghentikan aktivitasnya. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan perlahan sembari duduk kembali di tepi ranjang.

Ia mengambil ponsel dari tangan Luna dan meletakkannya di nakas, lalu menggenggam jemari istrinya dengan erat.

"Biarkan saja, Dik. Jangan dipikirkan dulu," ucap Pratama tenang.

"Tapi Mas, mereka itu pelanggan tetap. Aku jadi merasa tidak enak menghambat rejeki Mas," bantah Luna pelan.

Pratama tersenyum, tatapannya begitu dalam dan teduh, membuat Luna terpaku.

"Dengarkan Mas ya. Uang itu bisa dicari lagi besok atau lusa. Pelanggan kalau memang suka masakan Mas, mereka pasti akan kembali lagi. Tapi kalau istri Mas kenapa-kenapa, Mas mau cari ke mana lagi? Tidak ada cadangannya di dunia ini."

Luna tertegun sejenak, hatinya bergetar mendengar ketulusan suaminya yang begitu murni.

Meski kata-katanya sederhana, namun terasa sangat nyata di tengah kemewahan rumah yang mengelilingi mereka.

"Isshh, Mas! Gombal saja dari tadi! Mentang-mentang aku lagi lemas, terus digombalin terus," seru Luna sambil mencubit pelan lengan suaminya, mencoba menutupi rasa haru yang membuncah.

Pratama tertawa renyah, tawa yang sangat dirindukan Luna.

"Lho, ini bukan gombal, ini fakta. Jadi sekarang tugasmu cuma satu: tutup mata, istirahat, dan biarkan suamimu ini jadi perawat pribadi paling setia."

Pratama kemudian membenarkan letak selimut Luna dan mengecup keningnya lama, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya agar sang istri segera pulih.

Setelah suapan bubur terakhir tandas, Pratama mengambil beberapa butir obat yang telah disiapkan oleh Dokter Hendra.

Ia membantu Luna meminumnya dengan sangat hati-hati, memastikan sang istri tidak tersedak.

"Nah, sekarang waktunya obatnya bekerja. Kamu harus istirahat supaya daya tahan tubuhmu cepat kembali," bisik Pratama seraya mengusap sisa air di sudut bibir Luna.

Efek obat penurun panas dan antibiotik itu rupanya bereaksi dengan cepat.

Dalam hitungan detik, kelopak mata Luna mulai terasa berat. Kehangatan bubur dan rasa aman di samping suaminya membuat rasa kantuk itu datang tak terbendung.

Luna sempat menggumamkan sesuatu yang tidak jelas sebelum akhirnya napasnya menjadi teratur dan tenang dalam tidur lelap.

Melihat istrinya sudah tertidur, Pratama tidak lantas pergi.

Ia mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang temaram, menciptakan suasana yang semakin nyaman.

Pratama perlahan menaiki tempat tidur besar itu. Ia berbaring di samping Luna, namun tetap menjaga jarak agar tidak mengusik selang infus yang terpasang di tangan istrinya.

Ia memposisikan dirinya sebagai sandaran, membiarkan kepala Luna bersandar di lengannya yang kokoh.

Dalam kesunyian kamar mewah itu, Pratama menatap wajah istrinya lekat-lekat.

Ia teringat masa-masa sulit saat mereka masih tinggal di kontrakan sempit, hingga kini berada di rumah megah ini.

Baginya, kemewahan ini tidak ada artinya jika Luna tidak sehat.

Ia menarik selimut hingga sebatas dada Luna, lalu ikut memejamkan mata.

Tangannya yang kasar karena terbiasa memegang sodet dan pisau dapur, kini mendekap lembut tangan halus istrinya.

"Tidur yang nyenyak, Dik. Mas akan selalu menjagamu, baik di gubuk maupun di istana," batin Pratama sebelum akhirnya ia pun ikut terlelap di samping belahan jiwanya.

1
Yuli Yulianti
cerita nya bagus 👍👍
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Ellya Muchdiana
kenapa ga talak 3 aja sekalian, biar Pratama ga bisa balikan lagi sama si Juwita
🇮🇹 25
❤️❤️❤️❤️❤️
Murni Binti sulaiman
cerita yg menyentuh serta menginspirasi
👍👍👍👍
my name is pho: terima kasih 🥰
total 1 replies
tiara
terima kasih karyanya thor sehat selalu semangat berkarya
my name is pho: terima kasih 🥰
total 1 replies
awesome moment
marathon y, thor. but...thx a lot. udh nukis cerita bgitu indah. menghurakan
my name is pho: terima kasih sudah menjadi pembaca setia 🥰🥰
total 1 replies
awesome moment
2 bulan yg menguji kesabaran
awesome moment
hangatnya mrk
tiara
bahagianya Pratama dan Luna,apakah papa Jati punya anak dari mama baru🤭🤭
awesome moment
jd pengusaha soto yg dri hilir smp akhir
tiara
wah Pratama mau jadi bos soto nih,lanjuut thor semangat upnya
awesome moment
knpnisinya hnya terhuar mulu c smp😭 kn jd.nya
tiara
akhirnya Pratama ditemukan
tiara
wah bener-bener pa Wandi samaJuwita ga punya hati nurani.semoga mereka lekas tertangkap dan Pratama cepat ditemukan
awesome moment
luna serius dgn keinginan bhw anaknya lahir hrs di lingk yg baik
awesome moment
msh brp chapter lg utk edisi terhura, thor. smg pahala g berkurang n gegara terhura mulu. es moci kek diblender. /Grimace/
awesome moment
bacanya sambil 😭😭😭betapa kuat ikatan batin luna dan pratama. betapa hebat cara papa jati menghargai pertolongan org. betapa sopannya ucapan terima kaish yg diberikan
awesome moment
smg sgra ktemu. jgn diisengi lg y, thor. ikutan gempa n
Erna Wati
akhirnya mrka bisa brkumpul kmbali. prtama pasti senang kalo tau Luna hamil.
awesome moment
gmn klo juwita dan wandi dihukim mati dicelupin dlu ke sungai smp megap2 butuh oksigen, angkat, biar napas dlu 60 dtk, lalu ulangi lagi. smp juwita dan wandi pilih meninggoy drpd hidup. jd dia bisa ngerasain kesakitan pratama. alternatif lain, seblm smp saatnya dihukum mokat, biarkan mrk mengalami p yg dialami pratama dri napi lain. setiap hari. jgn smp mokat. ckp dihajar. udh hmp mokat, tinggal, biar shat, abis tu layak dihajar, hajar lg. jgn napi yg sama tp napi yg ganti2. biar mrk milih sgra meninggoy drpd diprodeo. gmn? keyen kn?😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!