"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."
Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.
Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.
Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.
Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Kriteria Surga
Pagi ini, udara terasa lebih berat bagi Nida. Setiap tarikan napasnya terasa seperti harus melewati saringan yang penuh dengan kerikil tajam. Rasa nyeri di panggul bawahnya sudah bukan lagi tamu yang datang sesekali, melainkan penghuni tetap yang menuntut perhatian setiap detik. Namun, Nida menolak untuk menyerah pada ranjang. Baginya, setiap jam yang terbuang tanpa rencana adalah pengkhianatan terhadap masa depan Syabila dan Syauqi. Di atas meja kerjanya yang penuh dengan naskah-naskah lama, sebuah buku catatan bersampul cokelat kini menjadi fokus utamanya. Ia menyebutnya "Buku Putih," namun isinya adalah daftar yang paling hitam bagi ego seorang wanita.
Nida mulai menulis. Jemarinya yang kurus memegang pena dengan gemetar, namun goresan tintanya tampak sangat tegas. Ia tidak menulis tentang kriteria fisik; baginya, kecantikan adalah atribut yang akan luruh dimakan waktu. Ia mencari sesuatu yang lebih abadi.
*Kriteria Pertama: Memiliki hubungan yang mesra dengan Allah.* Nida menuliskan poin ini dengan huruf kapital. Ia mencari wanita yang tidak hanya salat karena kewajiban, tapi yang menjadikan sujud sebagai kebutuhan. Seseorang yang bibirnya basah oleh zikir di tengah kesibukan dunia, karena hanya wanita seperti itulah yang mampu menjaga cahaya iman di rumah ini saat Nida tak lagi menjadi lenteranya.
*Kriteria Kedua: Mencintai anak-anak bukan karena mereka darah dagingnya, tapi karena mereka adalah titipan Sang Khalik.* Nida memejamkan mata sejenak, membayangkan seorang wanita yang mampu memeluk Syauqi saat bocah itu menangis merindukan ibu kandungnya. Ia butuh seseorang yang memiliki stok kesabaran seluas samudra untuk menghadapi masa remaja Syabila yang mungkin akan penuh dengan gejolak emosi pasca ditinggal pergi.
*Kriteria Ketiga: Sederhana dalam gaya hidup, namun kaya dalam ilmu.* Ini adalah antithesis dari Anita. Nida ingin suaminya didampingi oleh wanita yang tidak akan menuntut kemewahan dunia yang fana, melainkan wanita yang mampu menjadi teman diskusi bagi Fandy, yang mampu mengingatkan suaminya jika langkahnya mulai melenceng dari koridor rida-Nya.
"Nida, apa yang sedang kamu lakukan?" Suara Fandy terdengar dari ambang pintu. Ia baru saja kembali dari mengantar anak-anak sekolah. Fandy mendekat, matanya langsung tertuju pada buku catatan itu.
Nida tidak mencoba menyembunyikannya. Ia justru menggeser buku itu agar Fandy bisa membacanya. "Ini kriteriaku, Mas. Aku tidak ingin kita membeli kucing dalam karung. Aku ingin wanita yang masuk ke rumah ini adalah wanita yang sudah kukenal hatinya."
Fandy membaca poin-poin itu dengan dada yang terasa sesak. Setiap kriteria yang ditulis Nida sebenarnya adalah cermin dari sosok Nida sendiri. "Nida... kamu sedang mendeskripsikan dirimu sendiri. Tidak akan ada wanita yang bisa memenuhi kriteria ini selain kamu," bisik Fandy, suaranya parau menahan duka.
"Ada, Mas. Bumi Allah itu luas. Banyak mutiara yang tersembunyi di dalam cangkang kesederhanaan. Kita hanya perlu membuka mata dan hati," jawab Nida tenang. Ia meraih tangan Fandy, menatap suaminya dengan penuh kasih. "Mas, aku sudah memikirkan satu nama. Dia adalah penulis muda yang dulu sering mengirimkan cerpen ke kantorku. Namanya Hana. Dia seorang guru mengaji di pinggiran kota, hidupnya sangat bersahaja, dan tulisannya... tulisannya selalu membuatku merasa lebih dekat dengan Tuhan."
Fandy membuang muka. "Aku tidak ingin mendengar nama wanita lain, Nida. Aku merasa seperti sedang merencanakan pengkhianatan paling besar dalam sejarah hidupku."
"Maka anggaplah ini bukan untukmu, Mas. Tapi untuk aku yang ingin pulang dengan tenang," sela Nida cepat.
Siang itu, Nida memutuskan untuk melakukan langkah berani. Melalui asistennya di kantor, ia meminta jadwal pertemuan dengan Hana dengan alasan ingin mendiskusikan naskah baru. Nida tidak ingin Hana tahu niat aslinya sejak awal. Ia ingin mengobservasi Hana dalam keadaan sealami mungkin.
Pertemuan itu diatur di sebuah kafe kecil yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Nida datang lebih awal. Ia mengenakan gamis berwarna abu-abu dengan kerudung lebar, berusaha menutupi tubuhnya yang kian ringkih. Ketika pintu kafe berdenting, seorang wanita muda masuk. Wajahnya bersih tanpa riasan tebal, hanya ada binar ketulusan di matanya. Ia mengenakan pakaian yang sangat rapi namun sederhana. Inilah Hana.
"Mbak Nida... Masya Allah, sebuah kehormatan bisa bertemu langsung dengan penulis idola saya," ujar Hana sambil mencium tangan Nida dengan takzim.
Nida merasakan aliran kehangatan dari sentuhan itu. Ada rasa hormat yang murni, bukan dibuat-buat. Selama satu jam berikutnya, mereka berbicara tentang literasi, tentang bagaimana dakwah bisa disampaikan melalui kata-kata, hingga tentang filosofi pengabdian seorang wanita. Nida mendengarkan dengan saksama setiap jawaban Hana. Ia memperhatikan bagaimana Hana berbicara tentang anak-anak didiknya di TPA dengan mata yang berbinar-binar penuh kasih.
"Bagi saya, Mbak, mengajar anak-anak mengaji adalah cara saya menjaga hati sendiri. Mereka itu kertas putih, dan kita yang memegang tintanya. Tanggung jawabnya besar sekali di hadapan Allah," ucap Hana lembut.
Hati Nida bergetar. Kalimat itu adalah jawaban dari doa-doanya di sepertiga malam. Di dalam kepalanya, Nida mulai memvisualisasikan Hana sedang membimbing Syauqi membaca Iqra, atau duduk bersama Syabila mendiskusikan sirah nabawiyah. Hana memiliki ketenangan yang tidak dimiliki Anita. Hana memiliki kedalaman yang mungkin bisa mengimbangi intelektualitas Fandy.
Namun, di tengah perbincangan itu, rasa sakit di perut Nida kembali menyerang. Kali ini begitu hebat hingga Nida harus memegang pinggiran meja dengan sangat kuat. Wajahnya mendadak bersimbah peluh dingin.
"Mbak Nida? Mbak Nida kenapa?" Hana tampak panik. Ia segera berpindah duduk ke samping Nida, merangkul bahunya dan membantu Nida mengatur napas. "Kita ke rumah sakit ya, Mbak?"
Nida menggeleng pelan, mencoba tersenyum di tengah ringisannya. "Tidak apa-apa, Hana. Hanya sedikit lemas. Boleh minta tolong ambilkan air hangat?"
Saat Hana beranjak menuju konter, Nida menatap punggung wanita itu. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba menyeruak—rasa cemburu manusiawi seorang istri melihat calon penggantinya begitu baik dan sempurna. *Ya Allah, apakah aku cukup kuat untuk melihat wanita ini bersandar di bahu suamiku nanti?* bisik Nida dalam hati. Air matanya menetes, namun segera ia hapus. Ia harus membunuh egonya. Cinta yang dewasa adalah cinta yang mampu mendahulukan kemaslahatan orang yang dicintai di atas perasaan sendiri.
Sepulangnya dari pertemuan itu, Nida mendapati Anita sedang berada di rumahnya, sedang mencoba merayu Syabila dengan membelikan tas bermerek yang sangat mahal. Nida melihat bagaimana Syabila tampak tidak nyaman, namun tak enak hati untuk menolak.
"Oh, Kak Nida baru pulang? Dari mana? Kok pucat sekali, seperti orang mau pingsan?" tanya Anita dengan nada yang seolah-olah prihatin namun terdengar seperti sindiran.
Nida tidak menjawab. Ia langsung masuk ke kamar, diikuti oleh Fandy yang baru saja keluar dari ruang kerja. Di dalam kamar, Nida merebahkan dirinya. Ia merasa lelah yang luar biasa, lelah fisik dan lelah batin.
"Mas... aku sudah bertemu dengannya. Namanya Hana," ujar Nida saat Fandy duduk di sampingnya. "Dia lebih dari sekadar kriteriaku. Dia adalah jawaban atas ketakutanku pada Anita."
Fandy hanya terdiam, ia memegang tangan Nida yang terasa semakin dingin. "Nida, aku tidak tahu apakah aku harus berterima kasih atau marah padamu. Kamu sedang mempersiapkan dunia yang tidak melibatkan dirimu di dalamnya. Kamu sedang memintaku untuk belajar mencintai orang lain saat aku masih sangat memujamu."
"Karena aku ingin cintaku padamu berlanjut sampai ke surga, Mas. Dan jalannya adalah dengan memastikan rumah kita tetap dalam rida-Nya," Nida berbisik, matanya perlahan terpejam karena efek obat yang mulai bekerja.
Di luar kamar, Anita masih mencoba mendekati Syabila, namun ia tidak sadar bahwa Nida telah memulai sebuah pergerakan yang akan membendung ambisinya. Kriteria surga itu bukan lagi sekadar tulisan di buku catatan cokelat, melainkan sebuah misi yang telah menemukan sosoknya dalam diri Hana. Nida tahu, jalan di depan akan semakin terjal. Ia harus meyakinkan Fandy, ia harus menghadapi Mama Rosa, dan yang terberat, ia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia rida untuk digantikan.
Malam itu, dalam tidurnya yang tidak nyenyak, Nida bermimpi melihat sebuah taman yang sangat indah. Di sana, Fandy dan anak-anak sedang tertawa, dan ada seorang wanita yang berdiri sedikit di belakang mereka, menjaga dengan tatapan teduh. Nida terbangun dengan air mata yang membasahi bantal, menyadari bahwa di dalam taman mimpinya itu, ia sendiri hanya menjadi penonton dari kejauhan. Sebuah harga yang sangat mahal untuk sebuah ketenangan abadi.
---