NovelToon NovelToon
Ternyata, Bukan Figuran

Ternyata, Bukan Figuran

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Percintaan Konglomerat / Kencan Online / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Pantai yang Menipu

Pagi itu, pengumuman di papan digital fakultas membuat heboh. Profesor Han mendadak mengumumkan riset lapangan wajib untuk mata kuliah Ekonomi Industri. Tujuannya: Pesisir Utara, lokasi yang direncanakan sebagai kawasan ekonomi khusus sekaligus pelabuhan logistik tekstil.

"Gila! Riset atau liburan ini?" seru Henry sambil sibuk mengepak kacamata hitam mahalnya ke dalam tas. "Jules, lo yang nyaranin ini ke Prof Han, kan? Ngaku lo!"

Julius hanya memperbaiki letak kacamata hitamnya, bersandar pada mobil SUV mewahnya. "Aku hanya memberikan data bahwa sektor maritim sedang berkembang. Sisanya keputusan Profesor."

Aku berdiri agak jauh, memegang tas ranselku. Pantai. Mr. A baru saja menanyakan soal pantai semalam, dan sekarang aku benar-benar akan pergi ke sana. Kebetulan ini terlalu indah untuk jadi kenyataan.

"Jane! Sini!" panggil Lucia sambil melambai. "Lo semobil sama kita. Julius yang nyetir. Clark sama Patrick di belakang."

Aku membeku. Semobil dengan Julius selama empat jam perjalanan? Ini adalah mimpi buruk sekaligus fantasi yang mengerikan.

Di dalam mobil, suasana sangat kontras. Henry dan Patrick di baris paling belakang sibuk berdebat soal game terbaru. Lucia di kursi tengah mencoba mengajak Julius bicara, namun sang Matahari tetap fokus pada kemudi.

Aku duduk di baris tengah, tepat di belakang kursi pengemudi. Melalui kaca spion tengah, sesekali mataku bertemu dengan mata Julius. Setiap kali itu terjadi, aku langsung membuang muka, jantungku berpacu tidak keruan.

Tiba-tiba, ponselku bergetar.

Mr. A: Jangan tegang begitu. Nikmati pemandangannya. Kau terlihat sangat cantik dengan rambut yang diikat seperti itu.

Aku tersentak. Aku refleks meraba rambutku yang memang kuikat pony tail karena udara panas. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Siapa yang melihatku? Di mobil ini hanya ada mereka. Tidak mungkin Mr. A ada di mobil ini, kan?

Aku melirik Julius. Dia sedang memutar setir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya diletakkan di sandaran tengah. Ponselnya terletak di sana, layarnya gelap. Bukan dia, pikirku yakin. Mungkin Mr. A sedang mengikutiku dengan mobil lain di belakang?

Sore harinya, kami sampai di sebuah resort pribadi milik keluarga Randle. Profesor Han memberi kami waktu bebas sebelum pengumpulan data dimulai besok pagi.

Aku memutuskan untuk menjauh dari keramaian geng Lucia yang sedang berpesta di tepi kolam renang. Aku berjalan menuju bibir pantai yang sepi, tempat di mana ombak membasuh pasir dengan lembut. Aku mengenakan dress pantai berwarna biru pucat, bukan yang difoto itu, tapi tetap saja cukup terbuka di bagian bahu.

"Aku tahu kau akan ke sini."

Suara bariton itu membuatku hampir melompat. Julius berdiri beberapa langkah di belakangku. Ia sudah melepas kemeja formalnya, menyisakan kaus putih polos yang melekat pas di tubuh atletisnya. Angin pantai memainkan rambutnya yang biasanya tertata rapi.

"Tuan... Julius. Kenapa tidak bergabung dengan yang lain?"

Julius berjalan mendekat, berdiri tepat di sampingku. Ia menatap hamparan laut yang luas. "Terlalu bising. Aku lebih suka suara ombak. Lebih... jujur."

Ia kemudian menoleh padaku. Tatapan itu kembali lagi. Tatapan intens yang tidak bisa kuartikan. "Kau suka tempat ini, Jane?"

"Suka sekali. Di sini aku merasa... relevan," jawabku tanpa sadar.

Julius tersenyum tipis. Sangat tipis. "Kau selalu relevan, Jane. Hanya saja kau sering memilih untuk memadamkan cahayamu sendiri."

Tiba-tiba, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Di saat yang sama, ponselku di kantong dress-ku bergetar.

Ting!

Aku melihat layar ponselku: [1 New Message from Mr. A].

Aku ragu untuk membukanya di depan Julius. Namun, Julius justru berkata dengan suara yang sangat rendah, hampir menyerupai suara yang kudengar di telepon semalam.

"Kenapa tidak dibaca, Jane? Mungkin peramalmu punya sesuatu yang penting untuk dikatakan."

Jantungku berhenti berdetak sesaat. Suara itu. Nada bicaranya. Aku menatap ponselku dengan tangan gemetar dan membaca pesannya.

Mr. A: Coba lihat ke arah pria di sampingmu sekarang. Dan tanyakan padanya, kenapa dia lebih suka menatapmu daripada menatap laut.

Aku mendongak. Julius tidak lagi menatap laut. Dia sedang menatapku, tepat di mataku, dengan ponsel yang masih menyala di tangannya.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍😍😍

1
Endang Sulistia
bagus...
Endang Sulistia
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Endang Sulistia
clark...🤪🤦🤦
Endang Sulistia
mantap hery
Endang Sulistia
sukurin kau jules
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Endang Sulistia
🤭🤣🤣
Lismawati Salam
bagus
Endang Sulistia
😊😊
Endang Sulistia
suka
Endang Sulistia
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!